Kisah Penghuni Alam Barzah yang Hidup Kembali karena Dikirimi Amalan Terbaik - Bagyanews.com
Connect with us

Hikmah

Kisah Penghuni Alam Barzah yang Hidup Kembali karena Dikirimi Amalan Terbaik

Published

on


Ini kisah tentang penghuni alam barzah yang memberikan amalan terbaik bagi mereka yang masih hidup. Cerita ini diambil dari Imam al Zindusti tatkala mengikuti pengajian dari Abu Muhammad bin Abdillah Al Fadhal.

Dalam pengajian itu dikisahkan bahwa Maisarah bin Khunais suatu saat berjalan dan menemukan sebuah pekuburan. Ia kemudian mengucap, “Asalamualaikum, ya ahlal kubur. Kalian semua bagi kami telah dahulu, sedang bagi kalian kami masih tertinggal. Semoga Allah Ta’ala mengasihi kami dan kamu serta mengampuni dosa yang kita perbuat. Semoga Allah Taala memberkati perjalanan yang kalian tempuh.”

Sehabis berkata seperti itu, ada kejadian aneh muncul. Tiba-tiba Allah memberikan kembali ruh kepada salah satu penghuni alam barzah yang ada di pekuburan tersebut. Maka ia pun menjawab salam yang disampaikan Maisarah tadi.

“ Sungguh bahagia kalian penghuni dunia, yang sempat menunaikan haji empat kali sebulan,” katanya.

Kata-kata itu membuat Maisarah bingung dan kemudian bertanya, “Lho, bagaimana mungkin kami melakukan haji empat kali dalam sebulan? Semoga Allah melimpahkan rahmat buatmu.”

“ Jumat,” jawab penghuni alam barzah singkat. Lalu ia berkata lagi, “Tiada tahukah kalian bahwa ibadah Jumat adalah amal haji yang mabrur.”

Kemudian Maisarah bertanya lagi, “Apakah amalan yang paling bermanfaat di akhirat?”

“Istighfar, wahai penghuni dunia. Istighfar adalah perbuatan paling bermanfaat di akhirat,” katanya.

“Sampaikah salam kami kepadamu,” tanya Maisarah.

“Salam adalah perbuatan baik. Bagi kami yang telah mati, perbuatan baik telah lewat. Tidak ada kebajikan lagi yang menambah amalan kami. Tidak ada dosa lagi setelah kami mati. Namun sungguh kami akan sangat bahagia jika kalian mengucapkan kepada kami, ‘Semoga Allah menyayangi hambanya yang sudah mati.”

Itulah kisah tentang Maisarah yang bertemu dengan penghuni alam barzah. Kisah ini disadur dari kita Usfuriah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfury. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Ternyata membaca istighfar adalah sebuah amalan yang sangat bermanfaat di akhirat kelak. (AN)

Wallahu A’lam bi showab.

 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hikmah

Persahabatan; Hal Penting di Masa Pandemi

Published

on

By


Apa yang paling penting dalam hidup?

Saat situasi sulit sekarang ini, kita dipaksa untuk memilah-milah mana yang penting dan yang tidak. Untuk keluar rumah saja, kita harus berpikir apakah memang benar-benar diperlukan atau bisa ditunda. Yang terinfeksi Covid harus memutuskan apakah bisa isoman di rumah atau harus ke rumah sakit. Yang isoman harus memutuskan obat-obatan apa saja yang diperlukan. Demikian seterusnya, kita dihujani serentetan pilihan-pilihan yang hampir membuat kita mati kutu.

Di sisi lain energi kita terbatas. Setiap keputusan yang kita ambil menguras energi kognitif. Seperti otot yang terus menerus dipakai akan terasa pegal, pikiran yang terus menerus aktif akan kelelahan juga. Ujungnya kita merasa tidak berdaya dan bisa putus asa.

Belum lagi, orang-orang seperti kita pengguna media sosial, terpapar oleh berbagai informasi, posting atau status updates yang seringkali membuat bingung atau malah memantik emosi negatif. Riset dari miliaran pengguna media sosial menunjukkan bahwa apa yang dilihat di media sosial memengaruhi emosi penggunanya: semakin terpapar konten negatif, maka akan semakin negatif pula emosi kita; dan sebaliknya konten positif cenderung memantik perasaan positif.

Karena Indonesia sedang tidak baik-baik saja, maka wajar timeline dan whatsapp kita dipenuhi konten yang memantik kesedihan, kebingungan maupun kemarahan. Lalu apa yang bisa kita lakukan supaya bisa tetap waras di saat seperti ini?

Dari sejauh pengalaman saya sebagai ilmuwan sosial dan praktisi spiritual, untuk urusan apa yang paling penting dalam hidup, sains dan spiritualisme memberikan jawaban yang sama.

Pertama, kita lihat apa kata sains.

Sains berurusan dengan kehidupan material di dunia ini. Dari hasil survei di berbagai negara di dunia ditemukan bahwa yang dianggap paling penting bagi manusia adalah menjadi bahagia. Apa sumber utama kebahagiaan?

Ada sebuah studi dari Harvard yang diikuti ratusan orang selama 80 tahun. Hasilnya yang paling membuat orang bahagia adalah hubungan sosial yang erat. Yang penting di sini adalah kualitas, bukan kuantitas. Misal punya satu atau dua teman dekat akan lebih bermanfaat untuk kebahagiaan daripada punya banyak teman.

Jadi sudah sangat jelas bahwa resep bahagia menurut sains adalah adanya teman/keluarga yang sangat dekat dan bermakna.

Selanjutanya mari kita lihat dari sisi spiritual.

Dalam tradisi Islam, hidup Nabi Muhammad SAW adalah blueprint bagi kehidupan manusia di dunia. Jadi untuk mengetahui apa yang paling penting dalam hidup, bisa kita lihat dari apa yang dialami beliau.

Karena misi utama Nabi adalah misi spiritual, tentu yang terpenting Allah berikan kepada beliau adalah keimanan dalam bentuk wahyu yang datang di Gua Hira. Karena kita sedang membahas urusan duniawi, mari kita perhatikan apa yang Allah berikan kepada Nabi SETELAH memberikan wahyu.

Apakah diberikan pasukan militer yang kuat? Tidak!
Apakah diberikan harta melimpah? Tidak!
Apakah diberikan kekuatan politik? Tidak!

Yang Allah berikan setelah menurunkan wahyu adalah memberikan kepada Nabi SAW sahabat-sahabat yang setia seperti Abu Bakr, Ali, Utsman, Talhah, Abdurahman dan sahabat dekat lainnya.

Allah tentunya tahu Nabi Muhammad SAW akan menghadapi tantangan berat setelah mendapatkan wahyu. Dari mulai blokade oleh Quraysh, hijrah ke Madinah, hingga berbagai jihad. Allah dengan segala HikmahNya memperlihatkan bahwa untuk menghadapi keadaan yang sangat sulit tersebut, yang diperlukan adalah sahabat-sahabat dekat yang setia.

Jika sains dan tradisi spiritual Islam memberikan saran yang sama bahwa yang paling penting dalam hidup di dunia adalah sahabat-sahabat dekat, maka dari 24 jam yang kita miliki apakah kita sudah mengalokasikan waktu yang pantas untuk sahabat-sahabat kita?

*) Roby Muhamad PhD





Sumber Berita

Continue Reading

Hikmah

Jangan Lupa Bersyukur Atas Nikmat yang Diberikan Allah Hari Ini!

Published

on

By


Allah SWT telah memberikan berbagai nikmatnya kepada kita, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Beberapa nikmat tersebut di antaranya, kesehatan, keamanan, kekuasaan, berkecukupan, ilmu yang didapatkan, bahkan kemenangan tim sepak bola yang didukung (juara Euro atau Copa Amerika, misalnya) itu pun nikmat. Oleh karena itu, jangan lupa bersyukur!

Terkadang, saat kesusahan, kantong kosong, diberhentikan dari pekerjaan, kita lalu putus asa dan menganggap bahwa Allah tidak memberikan nikmatnya pada kita. Padahal di saat bersamaan, kita masih melangkahkan kaki dengan mudah, mengecap makanan dengan nikmatnya, mencium dan melihat dengan normal. Itu semua juga bagian dari nikmat Allah SWT.

Oleh karena itu, selalu bersyukur untuk semua nikmat yang diberikan Allah hari ini. Bagaimana caranya? Pertama, berdoa kepada Allah, berterima kasih dan mengucapkan syukur atas nikmatnya hari ini.

Dalam Al-Quran, surat an-Naml ayat 15 disebutkan sebuah doa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman dan Nabi Daud.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَىٰ كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

Alhamdulillahilladzi faddhalana ala katsirin min ibadihil mu’minin.

“Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman”. (Q.S an-Naml: 15)

Dalam potongan awal ayat di atas disebutkan wa laqad ataina Dawuda wa Sulaimana ilma, yaitu Allah SWT telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman. Maksudnya doa ini secara khusus menjadi bentuk doa syukur dari Nabi Daud dan Sulaiman atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada mereka berdua.

Hal ini juga disebutkan oleh Quraish Shihab dalam bukunya Doa Pilihan yang Dianjurkan Para Nabi dan Orang Saleh bahwa doa tersebut adalah bentuk pengakuan seorang ilmuan atau ahli ilmu bahwa ilmu yang dimilikinya adalah Anugrah Allah SWT, bukan hanya hasil jerih payahnya.

Kedua, manfaatkan nikmat yang telah diberikan kepada Allah ini untuk hal-hal yang baik, termasuk berbuat baik untuk sesama, jangan malah sebaliknya. Kesehatan, kesempatan, dan uang yang kita miliki, kita gunakan untuk hal yang baik. Ilmu yang kita dapatkan, kita amalkan dengan sebaik-baiknya. Termasuk, jika ada tim favorit kita yang menang, kita juga perlu bersyukur, jangan malah sebaliknya, malah membuly orang lain.

Apapun yang kita miliki saat ini, termasuk kebahagiaan yang kita rasakan, adalah nikmat dari Allah SWT. Jangan lupa bersyukur dan gunakan nikmat itu sebaik-baiknya. (AN)

Wallahu a’lam.





Sumber Berita

Continue Reading

Hikmah

Kisah Ulama Besar Belajar Pada Tukang Cukur Rambut

Published

on

By


Junaid adalah seorang sufi dan ulama besar kelahiran Nihawand, Persia. Beliau termasuk ahli tasawuf yang sampai sekarang masih diikuti pemikiran dan diteladani perilakunya. Tidak sedikit cerita-cerita hikmah tentang Junaid al Bagdadi yang hingga sekarang masih dikenang. Salah satunya ketika ia belajar tentang keyakinan dari tukang cukur rambut.

Dikisahkan suatu hari Junaid sedang berada di Mekah al Mukarromah. Beliau saat itu ingin mencukur rambutnya. Maka dicarilah tukang pangkas rambut yang ada di kota suci itu. Hingga akhirnya ia pun menemukan tempat pangkas rambut. Junaid kemudian masuk dan melihat seorang tukang cukur rambut sedang memangkas rambut lelaki terhormat.

Kemudian Syekh Junaid menghampiri tukang pangkas rambut itu sambil berkata, “Demi Allah dapatkah engkau memangkas rambutku.”

“Tentu saja saya bisa mencukur rambut tuan,” jawabnya sambil berkaca-kaca matanya. Air matanya tampak meleleh. Tak dinyana, tukang cukur itu lalu tidak menyelesaikan tugasnya mencukur rambut lelaki terhormat itu dan digantikan dengan temannya yang lain.

“Berdirilah saat nama Allah Ta’ala yang diucapkan, maka yang lain harus menunggu,” katanya. Si tukang cukur rambut itu kemudian mencium Syekh Junaid dan memangkas rambutnya. Apa yang diperbuat tukang cukur rambut itu membuat Syekh Junaid heran. Setelah selesai tak disangka si tukang cukur tersebut memberikan uang koin kecil yang dibungkus kertas.

“Belanjakan uang ini untuk keperluanmu,” kata tukang pangkas rambut itu.

Syekh Junaid pun menerimanya. Beliau berjanji dalam dirinya akan memberikan balasan ketika menerima hadiah pertama maka akan diserahkan kepada tukang cukur tersebut. Tidak menunggu lama, syekh Junaid mendapatkan hadiah sekantong emas. Beliau ingat akan janjinya itu. Maka Syekh Junaid pergi kembali menemui si tukang cukur rambut.

Saat bertemu dengan tukang cukur itu Syekh Junaid menyerahkan hadiah tersebut. “Apa ini?” kata tukang cukur itu.

Lalu Syekh Junaid menjawab, “Setelah engkau cukur beberapa waktu yang lalu, aku berketetapan hati untuk menyerahkan hadiah pertama yang aku terima kepadaMu. Nah ini hadiah pertama yang aku dapatkan yaitu sekantong emas.”

“Saudaraku, tidaklah engkau malu kepada Allah? Engkau berkata kepadaku kala itu,” Demi Allah pangkaslah rambutku.” Lalu engkau sekarang memberiku hadiah. Apakah engku pernah mendengar seseorang yang melakukan sesuatu karena Allah lalu meminta bayaran.”

Jawaban itu membuat Syekh Junaid termenung. Perstiwa ini kemudian dikenangnya karena beliau mendapatkan pelajaran perihal keyakinan. “Aku belajar keyakinan dari seorang pemangkas rambut,” batinnya. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved