Connect with us

Menginspirasi

Kisah Guru Dan Hitungan Yang Salah

Published

on


Suatu hari, murid seorang guru terkenal terlibat perdebatan dengan seorang pejabat yang bodoh.

Mereka terlibat dalam perdebatan soal berapakah hasil kali 8 X 0.

Menurut pejabat bodoh itu, hasilnya adalah 8.

Sementara si murid guru terkenal berusaha mengajarkan bahwa 8 X 0 adalah Nol!.

Mereka pun mulai berdebat.

Dan dalam perdebatan itu, akhirnya, si murid itu pun mengajaknya menemui gurunya yang terkenal sangat pintar dan sangat bijaksana.

Banyak orang yang kemudian tertarik untuk melihat apa yang terjadi. 

Dan saat bertemu gurunya, si murid itu pun berkata,

Guru, tolong kasih tahu si bapak pejabat ini. Masak dia bilang 8 X 0 hasilnya 8”.

Sementara itu, si pejabat yang sudah kesel dan marah itu berkata, “Tolong kasih tahu muridmu, bahwa 8 X 0 itu 8! Tidak usah berdebat dengan saya soal kebenaran ini!”. 

Akhirnya, si guru itupun menampar kepala si muridnya dan berkata, “Kamu bodoh! Si bapak pejabat itu yang benar! Sudah, kamu pulang saja!

Lalu, murid itu disuruhnya pulang dan orang pun bubar.

Si pejabat itu pun, tampaknya puas dengan si guru lalu pergi meninggalkan tempat mereka.

Si murid itu mau protes. Tapi, karena perintahnya sudah jelas, maka ia pun pulang ke perguruan. Tapi, masih dengan hati yang jengkel.

Lalu, malam harinya, karena tidak terima, maka si murid itu datang menemui gurunya. Lalu si murid itu buka mulut!

Guru pasti tahu 8 X 0 itu ya hasilnya nol! Kenapa guru membela pejabat itu?

Si guru yang bijak itupun berkata, “Tentu saja saya tahu. Tapi, apa untungnya kalau kamu menang dalam perdebatan itu. Pertama, ada begitu banyak orang yang akan melihat si pejabat itu dipermalukan. Kedua, si pejabat itu bisa membalas dengan cara yang berbeda, hanya untuk urusan yang sepele. Kalau pun mau kasih tahu, caranya bukan dengan berdebat di depan umum!”. 

Poin Pembelajaran:

Selain pintar, kamu juga harus cerdik dalam melihat situasi. Itulah kecerdasan emosi yang sesungguhnya.

Buat apa menang berdebat dengan seseorang tapi, ujung-ujungnya justru jadi perkelahian dan pertengkaran bahkan menciptakan musuh di masa depan.

Belajar untuk “memberi muka” pada seseorang, maka kamu pun terhindar dari kebencian orang-orang kepadamu, itulah manusia yang cerdas emosi.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menginspirasi

Nasruddin Dan Sepotong Roti | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on

By


Alkisah, para filsuf, ahli ilmu mantiq, dan ahli hukum semuanya berkumpul di istana. Mereka bergabung untuk menginterogasi Nasruddin Hoja. Perkaranya, Nasruddin telah berbuat kesalahan yang amat serius.

Nasruddin sering kali datang ke berbagai tempat meneriakkan satu khotbah yang sama. Dalam khotbahnya beliau menyebut para ahli ilmu, seperti para ulama, sebagai orang yang bodoh. Tentu saja, khotbah Nasruddin ini dianggap mengganggu ketertiban negara karena mencela para ahli ilmu.

Singkat cerita, mereka yang merasa tersinggung meminta Raja untuk mengadili Nasruddin Hoja. Kemudian digelarlah sebuah pengadilan dengan Nasruddin sebagai terdakwa tunggal.

“Hai, Nasruddin,” ucap Raja.

“Ya, Baginda,” sahut Nasruddin.

“Aku bermurah hati padamu, Engkau mendapat giliran untuk bicara terlebih dahulu sebagai pembelaan atas tindakanmu. Apa alasan dari khotbahmu itu?”

Nasruddin lalu meminta dibawakan beberapa lembar kertas dan pena. Setelah itu beliau berkata, “Tolong bagikan kepada para pakar yang ada di ruangan ini, masing-masing secarik kertas dan sebilah pena.”

Setelah setiap pakar mendapatkan kertas dan pena, Nasruddin berkata lagi, “Aku mohon kepada setiap ahli untuk menuliskan di kertas itu jawaban untuk pertanyaanku ini. Apa yang dimaksud dengan roti?”

Para ahli ilmu, cendekiawan, dan ulama yang ada di tempat itu lalu menuliskan apa yang mereka ketahui tentang roti. Jawaban para pakar itu lalu dikumpulkan dan diserahkan kepada Raja. Raja pun membacanya satu demi satu.

Ahli ilmu pertama menulis, “Roti adalah sebuah makanan.” Ulama kedua menjawab, “Roti adalah tepung bercampur dengan air.” Si filsuf menulis, “Roti adalah karunia Tuhan.” Ahli mantiq selanjutnya menjawab, “Roti adalah terigu yang telah dimasak.” Cendekiawan berikutnya menulis, “Roti merupakan makanan bergizi.” Demikian seterusnya.

Setiap orang yang terkenal ahli ilmu itu menulis jawaban yang berbeda-beda, masing-masing bergantung pada pemaknaan mereka akan sebuah roti.

Setelah mendengar semua jawaban itu, Nasruddin berkata kepada Sang Raja, “Kalian yang hadir di sini adalah ahli ilmu namun tak ada seorang pun yang memiliki jawaban yang sama dari sebuah pertanyaanku tentang roti.”

“Wahai Baginda, ketika mereka tidak dapat memiliki jawaban yang sama tentang apa yang dimaksud dengan roti, apakah mereka berhak menentukan khotbahku benar atau salah? Inilah maksudku, mereka adalah orang-orang yang bodoh.”

Beliau melanjutkan, “Dapatkah Baginda memercayakan urusan penilaian atau keputusan kepada orang-orang seperti ini? Bukankah amat aneh bila mereka tidak sepakat akan sesuatu yang mereka makan setiap hari, tetapi sepakat untuk menentukan bahwa khotbahku salah?”

Nasruddin Hoja memberikan pelajaran filsuf sufi kepada kita semua, bahwa di atas keberagamaan yang terpecah-pecah ke dalam berbagai mazhab itu, terdapat satu keberagamaan yang disepakati.

Seseorang akan menjadi lebih arif apabila ia meninggalkan hal yang dipertengkarkan dan memasuki satu hal yang disetujui bersama.

Tidaklah mungkin bagi kita untuk membuat semua orang memiliki pendapat yang sama tentang bagaimana cara menjalankan keberagamaan yang berbeda dengan benar.



Sumber Berita

Continue Reading

Menginspirasi

Semangat Berbagi Dalam Sepatu | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on

By


Pada 2006, Blake Mycoskie, seorang pengusaha sekolah mengemudi melakukan perjalanan ke negara yang sudah lama menjadi incarannya untuk melancong, Argentina.

Sesampainya di sana, dia mengamati rata-rata orang memakai sepatu khas nasional mereka yang dinamai alpargata. Sepatu yang kasual, ringan, dan simpel.

Terlintas ide dalam pikirannya: kalau model sepatu seperti ini dibawa ke pasar Amerika dan sedikit dimodifikasi mungkin akan laku, tetapi dia segera meomotong ide tersebut. Pikirnya, dia sedang ingin berlibur dan tidak sedang ingin berbisnis.

Namun, situasi berubah begitu liburannya akan berakhir. Menjelang akhir liburannya, dia melihat kelompok orang yang sedang mengumpulkan donasi berupa sepatu yang akan diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan. Ternyata di Amerika Latin banyak anak-anak yang tidak bersepatu, termasuk di negara berkembang seperti Argentina.

Hari-hari berikutnya dia keluar masuk desa di sana, dia menyaksikan sendiri memang banyak anak-anak yang tidak bersepatu. Akibatnya banyak yang menderita infeksi, kaki lecet dan melepuh, serta penyakit lain.

Pulang ke Amerika, dia merasa terpanggil untuk mengatasi masalah ini. Dalam pikirannya, mengumpulkan donasi tidaklah efisien dan memiliki banyak keterbatasan.

Muncullah ide di kepalanya: mengapa tidak membuat produsen sepatu for-profit yang akan menjamin keberlangsungan donasi sepatu ini, tapi tetap berjiwa sosial? Idenya adalah dari sepasang sepatu yang terjual, perusahaan akan memberi sepasang sepatu untuk anak yang membutuhkan.

Dia memberi label terhadap idenya ini dengan sebutan One for One.

Perusahannya pun diberi nama TOMS, yang merupakan akronim dari Tomorrow’s Shoes, sepatu untuk esok yang lebih baik.

Selanjutnya sepatu ini pun mendapat sambutan luas. TOMS berkembang pesat karena pilihan bisnisnya yang sangat membawa nilai spiritualitas, membantu orang yang membutuhkan.

Blake ingin orang lain berumbuh kembang. Dia ingin mendapatkan laba, dengan tetap memberi manfaat bagi banyak orang. Sifat cinta kasih dan berbelas kasih begitu terasa.

Belakangan, tidak hanya sepatu, TOMS juga menjual kacamata. Dari setiap kacamata yang terjual TOMS mendonasikan satu kacamata untuk anak yang membutuhkan.

Para pelanggan dan penggemar TOMS juga antusias menyukseskan ajang tahunan yang digelar perusahaan ini, One Day Withous Shoes. Satu hari tanpa sepatu. Ajang ini dibuat agar kita bisa sedikit merasakan kondisi anak-anak kurang beruntung yang sehari-harinya bertelanjang kaki.

Blake telah menentukan pilihan bisnisnya, yang berangkat dari nilai-nilai spiritualitas: membantu sesama. Semua niat baik akan menjadi baik hasilnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Menginspirasi

Tewas Karena Gosip | Cerita Motivasi @ Inspirasi

Published

on

By


Sepulang dari sawah, seekor kerbau rebahan di kandang dengan wajah lelah dan nafas yang berat. Lalu datanglah seekor anjing, kemudian kerbau berkata kepada anjing: “Ah, temanku, aku sangat lelah, kalau boleh besok aku mau istirahat sehari saja.”

Si anjing pergi dan di tengah jalan dia berjumpa dengan kucing, lalu anjing berkata kepada kucing: “Tadi, saya bertemu kerbau, katanya dia besok mau istirahat dulu. Sudah sepantasnya sebab boss kasih kerjaan terlalu berat.”

Si kucing lalu bercerita kepada kambing: “Kerbau komplain boss kasih kerjaan terlalu banyak dan berat, besok dia tidak mau kerja lagi.”

Kambing pun bertemu ayam dan dia bilang: “Kerbau tidak senang kerja dengan boss lagi, mungkin dia sudah ada kerjaan yang lebih baik.”

Ayam pun berjumpa dengan monyet dan dia bercerita: “Kerbau tidak akan kerja lagi untuk boss, dan mau kerja di tempat lain.”

Saat malam tiba, monyet bertemu dengan si boss, dan berkata: “Boss, si kerbau akhir-akhir ini sudah berubah sifatnya, dan mau meninggalkan boss untuk bekerja di tempat boss yang lain.”

Mendengar ucapan monyet, sang boss marah besar. Dan tanpa konfirmasi lagi, dia langsung menyembelih si kerbau karena dinilai telah berkhianat kepadanya.

Padahal ucapan asli si kerbau adalah: “Saya lelah dan besok mau istirahat sehari saja.”

Lewat beberapa teman ucapan ini telah berubah dan sampai kepada sang boss menjadi: “Si kerbau akhir-akhir ini sudah berubah sifatnya, dan mau meninggalkan boss untuk bekerja di tempat boss yang lain.”

  • Sebaiknya satu pembicaraan berhenti cukup sampai di telinga kita saja dan tidak perlu sampai ke telinga orang lain.
  • Jangan menelan mentah atau percaya begitu saja setiap berita atau perkataan orang lain meski itu keluar dari mulut orang terdekat. Kita perlu cek kebenaran sebelum bertindak atau memutuskan sesuatu, konfirmasikan dulu ke sumbernya langsung.
  • Kebiasaan meneruskan perkataan (berita) dari orang lain dengan menambah atau menguranginya bahkan menggantinya dengan persepsi dan asumsi kita sendiri bisa berakibat fatal.
  • Jika ragu dengan ucapan (berita) dari seseorang, sebaiknya kita bertanya langsung kepada yang bersangkutan untuk mengkonfirmasi kebenarannya.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved