Connect with us

Kajian

Kenapa Mufassir Perempuan itu Jumlahnya Sedikit Banget?

Published

on


Jalaluddin al-Suyuthi (Mesir, w.1505M), Ibnu Katsir (Suriah,w.1373M), al-Thabari (Irak, w.923M), al-Qurthubi (Mesir, w.1273M), tokoh-tokoh itulah yang akan sering terdengar dalam telinga orang ketika mengutip penafsiran sebuah ayat, atau dalam konteks keindonesiaan nama-nama seperti buya Hamka, KH. Bisri Mustofa, Prof. DR. M. Quraish Shihab masih menjadi tokoh yang bisa dikatakan tidak ada yang menandingi dalam dunia tafsir.

Laki-laki masih memiliki dominasi kuat dalam dunia tafsir, seseorang muslim yang tidak berkecimpung dalam dunia tafsir, mungkin akan memiliki anggapan bahwa penafsiran al-Quran memiliki persyaratan harus laki-laki, karena mereka lebih banyak mendengar tokoh-tokoh mufasir yang dikutip oleh ustaz-ustaz atau ustazah mereka kebanyakan berjenis kelamin laki-laki, lantas apakah memang mufasir itu laki-laki semua?

Memang kita tidak bisa memungkiri bahwa tokoh-tokoh tafsir kebanyakan berjenis kelamin laki-laki, anda bisa membuka buku al-tafsîr wa al-mufassirûn, seluruh kitab-kitab tafsir yang dibedah metodologinya oleh Syeikh Husein al-Zahabi penulisnya adalah laki-laki, begitu juga buku al-tafsîr wa al-mufassirûn yang edisi Islam bagian barat, Maroko, Tunisia dan seterusnya, anda tidak akan menemukan satupun tokoh perempuan didalamnya.

Namun ternyata ada peran yang tidak bisa dianggap kecil oleh tokoh-tokoh perempuan dalam dunia tafsir, misalnya saja penafsiran oleh Sayyidah Aisyah yang baru didokumentasikan oleh Abdullah Abu Saud Badr pada tahun 1996 dengan judul Tafsîr Ummi Al-Mu’minîn Âisyah Radliya Allahu ‘Anhâ, kemudian baru muncul diabad 20 tokoh-tokoh tafsir dari perempuan seperti, Zaynab al-Ghazali, Karina Hamzah, Aisyah bint Syathi’ dan sebagainya.

Kemunculan tokoh-tokoh tafsir dalam dunia perempuan (mufassirah) akhir-akhir ini, ternyata tidak sebanyak tokoh laki-laki, dalam kurun waktu satu abad saja misalnya banyak tokoh tafsir laki-laki yang melahirkan karyanya dalam bidang tafsir, sebut saja Muhammad Abu Zahra (Mesir/w. 1974M.), Muhammad al-Thahir Ibn ‘Ashur (Tunisia/w. 1973 M.), Muhammad Asad (Austria/w. 1992 M), Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi (Mesir/w. 1998 M), Wahbah Zuhayli (Suriah/w. 2005 M.), Muhammad Sayyid al-Thanthawi (Mesir/w. 2010 M.), Muhammad Ali al-Shabuni (Suriah/w. 2021 M.), di Indonesia ada buya Hamka (w. 1981 M), KH. Bisri Mustofa (w. 1977 M.), KH. Mustofa Bisri, Prof. M. Quraish Shihab, dan yang masih dalam penyempurnaan Syeikh Ali Jum’ah (mantan Mufti Mesir).

Setidaknya ada beberapa mufasirah yang bisa terlacak karya tulisnya, diantaranya ada Sayyidah Nushrat al-Amiin (Iran, w. 1943M), Zaynab al-Ghazali (Mesir, w. 2005), Nailah Hasyim Shabri (Palestina, lahir 1944), Aisyah Abdurrahman bint Syathi’ (Mesir, w. 1998), Kariman Hamzah (pengkaji tafsir/presenter TV, Mesir 1977-1999), dr. Fatin Mahmud al-Falak (Mesir, lahir 1954), dan Hannan Lahâm.

Fenomena seperti ini pernah diulas oleh Dr. Afaf Abdul Ghafur Hamid (Damaskus/Suriah) seorang dosen pembantu di Universitas Syariqah dalam sebuah artikel berjudul min juhûd al-mar’ah fi tafsîr al-Qurân al-karîm fî ashr al-hadits, dan memang kenyataannya sedikit, tidak banyak, hal ini tentu sangat disayangkan, karena isu-isu perempuan akan lebih terakomodasi jika dalam bidang tafsir, perempuan juga memberikan perhatian dan didukung untuk berkecimpung di dunia tafsir.

Selain sedikitnya keterlibatan perempuan dalam dunia penafsiran, ada hal-hal lain yang sangat disayangkan, beberapa diantara mereka ada yang tidak menafsirkan al-Quran secara penuh, atau ada yang penuh namun terafiliasi dengan kelompok yang dianggap berbahaya, atau berseberangan dengan kelompok Sunni, misalnya Sayyidah Nushrat Al-Amin seorang mufassir asal Iran yang paling produktif dengan karya tafsir Al-Quran 30 juz mencapai 15 jilid, namun kemudian tidak dipandang oleh kelompok Sunni – tradisional, karena dia seorang ulama besar Syiah.

Setidaknya terdapat tiga penyebab fenomena tersebut; Pertama, para pengkaji tafsir dari kalangan perempuan tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkonsentrasi menulis tafsir, karena tradisi domestifikasi perempuan, yang hanya diberi peran sebagai ibu rumah tangga; kedua, kebanyakan para ulama perempuan hanya memiliki ketertarikan bicara (dalam pengajian perempuan) dan mendengar dibanding menulis, itu sebabnya jumlah mufasirah (perempuan ahli tafsir) akan lebih sedikit jika dibanding dengan perempuan ahli hadis, sastrawan, ahli bahasa dan sebagainya; ketiga, seandainyapun ada, tidak banyak orang yang memperhatikan dan mengapresiasi hasil karyanya, karena ditulis oleh perempuan (pandangan bias gender).

Faktor ketiga inilah yang sangat besar pengaruhnya dalam melempemnya kemunculan mufasirah, seandainyapun ada yang mengapresiasi, apresiasi tersebut tidak sebesar yang dilakukan seseorang pengkaji tafsir terhadap tafsir-tafsir yang ditelurkan mufasir, dalam kajian-kajian kita hampir tidak pernah ada ustazah yang mengkaji tafsir dengan menggunakan rujukan mufasirah dan sebagainya, ini berbanding terbalik dengan tafsir-tafsir yang lain yang sudah mulai digaungkan oleh pesantren atau tokoh-tokoh Islam.

Sebenarnya sangat disayangkan jika para mufasir perempuan tidak didukung oleh minimal kalangan perempuan sendiri, dari beberapa tokoh yang ada, ada yang menggunakan pendekatan baru yang bagus untuk dikaji, seperti Aisyah bint Syathi’(Mesir,1913-1998M) yang memadukan metode isyraqi dan aqliy, tafsir yang ditawarkan bercorak adabi bayani, yang dia adopsi dari guru sekaligus suaminya, Prof. Dr. Amin al-Khulli (Mesir,1895-1966M), ada juga yang memiliki latar belakang aktivis organisasi perempuan seperti Zaynab al-Ghazali (Mesir,1917-2005M).

Penafsiran yang dilakukan oleh perempuan setidaknya akan memberikan pandangan dari sisi perempuan yang setidaknya bisa dijadikan titik berfikir bersama, bahwa ada beberapa ayat mengenai perempuan yang harus ditafsir kembali secara objektif, berikut beberapa penafsiran yang akan jarang ditemukan dalam tafsir yang ditulis oleh mufasir, misalnya Zaynab al-Ghazali memantik sebuah problem tentang dua kondisi yang dialami oleh perempuan, hamil dan suaminya meninggal sebelum dia melahirkan hanya berjarak beberapa hari, maka menurut hemat Zaynab al-Ghazali iddahnya sudah selesai dengan proses persalinan, pada saat itu juga perempuan memiliki hak-haknya kembali tanpa ada iddah kembali, pendapat ini beliau sandarkan dengan “hadis Sabi’ah” yang kemudian dijadikan penafsiran ayat:

وَٱلَّذِینَ یُتَوَفَّوۡنَ مِنكُمۡ وَیَذَرُونَ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا یَتَرَبَّصۡنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرࣲ وَعَشۡرࣰاۖ فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡكُمۡ فِیمَا فَعَلۡنَ فِیۤ أَنفُسِهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِیرࣱ

Jadi setidaknya sebagaimana meminjam judul buku ibu Lies Marcoes, MA. Merebut tafsir, setidaknya perempuanpun harus juga mulai berkonsentrasi menuliskan pemikiran-pemikirannya, dan harus didukung oleh minimal sesama perempuannya, hal yang terjadi selama ini karya-karya yang dihasilkan oleh para mufasirah tidak pernah bertahan lama, atau belum mendapat perhatian banyak, padahal dengan maraknya karya tafsir yang ditulis oleh perempuan akan membuka wacana umat muslim.

Kehadiran mufassirah sangat penting pada zaman sekarang, terutama mereka memiliki peran kunci dalam menjawab kebutuhan pandangan keagamaan di kalangan perempuan. Terlebih realitas masa kini sama sekali berbeda dengan realitas yang menjadi ruang bagi para mufassir laki-laki dulu seperti Ibnu Katsir, Al-Maraghi, maka harusnya komunitas keagamaan saat ini dapat menghadirkan ruang aman dan terbuka bagi perempuan yang telah memiliki kapasitas sebagai penafsir kitab suci. Dengan kapasitas pengetahuan yang sama dengan para ulama laki-laki, maka perempuan juga memiliki otoritas keilmuan yang sama dan sejajar.[]

 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Jika Allah Maha Penyayang, Mengapa Masih Ada Penderitaan?

Published

on

By


Allah SWT ‘digambarkan’ sebagai Yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Penyayang, sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Hijr (15): 86.)

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Mulk (67): 1.)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. al-Hasyr (59): 22.)

Dengan demikian, berarti Allah yang Maha Mengetahui, maka Allah tahu bahwa kita menderita. Allah yang Maha Kuasa, berarti Allah bisa menghentikan penderitaan kita. Allah yang Maha Penyayang, berarti Allah tidak ingin kita menderita. Namun, pada kenyataannya, kita masih menderita. Apakah Allah tidak benar-benar memiliki sifat-sifat tersebut?

Tidak sedikit orang yang religius, shalatnya rajin, akan tetapi nasibnya apes melulu, sementara dia yang berfoya-foya hingga lupa shalat malahan tajir melintir dan merasa senang sekali kehidupannya. Seorang mahasiswa yang jujur jadinya tidak lulus-lulus, sementara dia yang menyontek bisa lulus malahan dapat A. Apa salahnya orang Palestina sehingga dari dulu hingga sekarang masih saja diberi serangan-serangan yang amat kejam dari Israel? Tega sekali.

Pembahasan mengenai problem-problem tersebut dalam dunia filsafat dinamakan “Teodisi”. Istilah tersebut dimunculkan pada tahun 1710 oleh filsuf Jerman, Gotfried von Leibniz, dalam sebuah karya berbahasa Prancis. Tujuan esai itu untuk menunjukkan bahwa kejahatan di dunia yang menjadikan lahirnya penderitaan itu tidak bertentangan dengan kebaikan Allah. Meskipun banyak kejahatan, dunia tetap dalam kondisi paling indah dan menyenangkan, begitulah ungkapnya.

Problem mengenai kejahatan tersebut diinspirasi oleh filsuf dari zaman Hellenistik yaitu Epicurus dengan ungkapkannya sebagaimana berikut.

“Apakah Tuhan mau, tapi tidak mampu melenyapkan kejahatan? Berarti Tuhan tidak Maha Kuasa. Apakah Tuhan mampu, tapi tidak mau melenyapkan kejahatan? Berarti Tuhan tidak Maha Penyayang atau Maha Baik. Jika Tuhan mampu dan mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih ada kejahatan? Atau jika Tuhan tidak mampu dan tidak mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih disebut Tuhan?”

Untuk menunjukkan bahwa kejahatan di dunia yang menjadikan lahirnya penderitaan itu tidak bertentangan dengan kebaikan Allah, Leibniz berasumsi bahwa Allah itu tidak akan menciptakan dunia yang sempurna sebab hanya Dia-lah yang sempurna. Sedangkan yang diciptakan Allah adalah “Dunia terbaik yang mungkin ada”. Dunia ini sudah pas bagi manusia, sudah porsional dan proporsional, lebih atau kurang dari ini sudah tidak baik lagi. Baginya, tidak ada sesuatu yang benar-benar jahat, segala hal ada alasannya. Selalu ada hikmah dibalik segala sesuatu yang terjadi di dunia ini yang menjadikan kita lebih baik lagi ke depannya.

David Hume, filsuf Inggris masa pencerahan, membantah argumen tersebut. Model Leibniz, dengan keimanannya, kalau Allah Maha Baik diasumsikan kalau Allah pasti punya dasar baik, punya alasan yang baik. Mungkin seolah-olah logis, padahal tidak. Kejahatan dengan sifat-sifat Tuhan itu jelas sangat kontras. Kalau kita meyakini kejahatan itu ada, berarti kita harus menerima kalau Tuhan itu Tidak Maha Kuasa atau Tidak Maha Penyayang.

Tokoh filsuf sekaligus teolog di era skolatik, Thomas Aquinas, setuju akan adanya kejahatan secara logis membawa kepada kesimpulan tidak kuasanya Allah tidak penyayangnya Allah. Meskipun demikian, kalau Hume menjadi ateis, Aquinas tetap beriman kepada Tuhan. Alasannya, argument logis itu hanya valid kalau kita menerima konsep kebaikan Tuhan yang tidak terbatas sebagai bagian dari definisi tentang Tuhan, dan saat kita berbicara tentang kebaikan Tuhan, kita menunjuk kepada kebaikan manusia.

Kita meyakini Allah itu Maha Baik, kebaikan Allah itu seperti apa? Itu lah kata kuncinya. Kita memahami kebaikan, itu ya versi manusia. Versi Allah sendiri mungkin berbeda. Lihatlah pada sesuatu yang versi kita tidak baik, sementara versi hewan baik, juga berlaku sebaliknya. Contohnya bagi kita, membunuh itu tidak baik, akan tetapi laba-laba setelah kawin pasti yang jantan dibunuh, itu hukum alamnya dan mungkin memang baik bagi laba-laba itu sendiri.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah (2): 216)

Allah Sang Pencipta segalanya, Dia Maha Kuasa lagi Maha Penyayang, mengapa ada kejahatan yang menderitakan, pertanyaannya adalah manusia itu bebas, bukan? Saat dia memilih untuk melakukan kejahatan, mengapa Allah harus bertanggung jawab? Kalau manusia diberi kebebasan memilih, maka harus ada pilihan. Sungguh tidak mungkin hanya yang baik saja yang tersedia. Kebebasan untuk memilih mau yang baik, yang sangat baik, yang biasa-biasa saja, yang buruk, atau yang keji. Kalau kebebasan dikatakan ada, tanpa adanya opsi untuk dipilih, ya, sama saja bohong. Bukan begitu?

Tanpa adanya kejahatan, tidak akan ada yang namanya kebaikan. Berterimakasihlah pada yang jelek sehingga menjadikan kita cakep; andaikata tidak ada mereka, kita ya biasa saja; kasarannya semacam itu. Ketika bohong tidak ada, maka kejujuran tidak ada nilainya. Kejujuran, ketulusan, kedermawanan, dan lain sebagainya yang dikonotasikan sebagai yang baik menjadi berharga sehingga kita diusahakan untuk bisa bersifat demikian itu baik oleh diri sendiri atau tekanan norma dalam hidup bersama, karena ada sebaliknya. Lantas bagaimana dengan bencana alam, sehalnya COVID-19 yang tak kunjung tuntas?

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Baqarah (2): 29.)

Alam semesta didedikasikan untuk manusia dan sebagai media menuju kesempurnaan moral manusia. Hadirnya COVID-19, merupakan ujian menuju kesempurnaan moral bagi yang mengalami. Karena ketika kita sedang enak mungkin dengan mudahnya kita mengklaim lillahi ta’ala dan qona’ah atas segala yang diberikan Allah, namun saat kita susah apakah kita tetap teguh atau malah akan merengek-rengek?

Selain itu, secara umum hadirnya bencana alam merupakan moral-warning, peringatan dan pembelajaran bagi yang tidak mengalaminya. Kadang kala bencana alam datang sebagai hukuman bagi mereka yang durhaka dan tidak bermoral.

Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam kehidupan itu harus ada kekacauan, kejahatan, yang semua itu membawa pada penderitaan bahkan kesengsaraan, setelah semua itu selesai maka lahirlah keseimbangan yang menuju kebaikan yang lebih dari sebelumnya. Dan karena manusia terbatas dengan aksesnya, Allah-lah yang bisa melihatnya secara holistik. Dunia ini pun berawal dari kekacauan, bukan? Atau maukah kita hidup berbarengan dengan dinosaurus?

Allah tahu, berkuasa, dan sayang kepada kita semua atas penderitaan itu, akan tetapi jangan lupa bahwa Allah itu bijaksana. Dengan hukum alam atau sunatullah yang diciptakan-Nya semua itu menggambarkan keteraturan dan keharmonisan yang indah. Tetap adanya penderitaan itu supaya manusia dengan kesadarannya menyadari bahwa dirinya itu terbatas. Allah bisa sewaktu-waktu intervensi terhadap hukumnya itu. Maka, ayolah lebih-lebih mendekat lagi pada Allah!  (AN)

Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Panduan Ringkas Memahami Konsep Tawakal

Published

on

By


Di dalam Alquran surat Al-Hudd ayat 6 Allah berfirman, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,

Kata Dãbbatin dalam ayat tersebut, di dalam beberapa tafsir, biasanya diterjemahkan menjadi hewan melata. Beberapa saat lalu saat sowan ke KH. Ahmad Fatah, pengasuh pesantren Sunni Darussalam dan dosen di Jurusan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, mengartikan kata tersebut dengan ‘makhluk yang bergerak’. Dengan pengertian seperti ini, lanjutnya, meskipun setiap makhluk telah ditetapkan kadar rezekinya oleh Allah, tetapi sang makhluk wajib untuk bergerak menjemput rezeki tersebut. Sehingga rezeki tidak akan menyapa bagi mereka yang hanya berpangku tangan.

Beliau kemudian menghubungkan ayat tersebut dengan hadis Nabi:

Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezekinya burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang

Dalam hal ini, Nabi mencontohkan agar kita bertawakal sebagaimana burung yang berangkat pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang. Tawakal, dengan demikian, tidak seperti yang dipahami sebagian orang selama ini bahwa tawakal dilakukan  setelah berusaha, bukan. Melainkan semenjak kita berniat melakukan sebuah usaha, ketika berusaha, dan setelah berusaha.

Pada kesempatan lain beliau mencontohkannya dengan ayam. Pada pagi hari sang induk ayam mulai keluar dari kandang bersama anak-anaknya, berjalan ke halaman dan kebun, menceker-ceker tanah, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.

Dan Allah, sambungnya, akan menilai proses selama kita berusaha tersebut. Seringkali, banyak di antara kita yang mengabaikan hal ini. Tidak jarang dari kita yang bekerja berorientasi target atau hasil sehingga melakukan berbagai cara, termasuk yang diharamkan, dalam prosesnya.

Beliau kemudian mencontohkan. Seorang guru pada acara halal bihalal mengisahkan tentang perjalanan karirnya. Sang guru besar itu mengatakan bahwa dirinya hanya melakukan yang terbaik atas apa yang ditugaskan kepadanya. Ketika ada undangan untuk konferensi, dia menulis dengan sungguh-sungguh papernya. Mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Begitu juga ketika ada jadwal untuk memberikan khutbah Jumat. Dia tidak pernah menyangka bahwa cara kerjanya itu kemudian membawanya mengisi perkuliahan di Amerika dan Eropa, mewakili Indonesia dalam dialog lintas-iman, dan menempati berbagai jabatan di kementerian.

Singkat kata, sang guru besar itu telah memiliki dua kriteria penting dalam dunia kerja: kinerja yang prima dan trust, kepercayaan alias dapat dipercaya. Jika kamu ingin bekerja sama dengan orang lain bukankah kedua hal itu yang diperlukan? Buat apa kinerjanya bagus tapi tidak dapat dipercaya bukan? Tidak sedikit juga orang yang bisa memegang teguh kepercayaan, tetapi kerjanya asal-asalan.

Contoh lain: Seorang tukang bangunan dengan gaji seratus ribu sehari. Ya, dia telah mengetahui bahwa dia akan dibayar dengan nominal segitu. Namun, karena telah mengetahui jumlah bayarannya, dia berangkat ke tempat kerja dengan performa asal-asalan saja. Yang penting adalah kehadiran, prinsipnya. Parahnya lagi, ada juga pekerja yang justru mengulur waktu agar bisa mendapatkan uang yang lebih banyak. Mengerjakannya diperlambat agar ada tambahan waktu yang itu berarti akan semakin menambah penghasilannya. Ya, itulah yang dinilai oleh Allah. Kinerjanya tidak baik dan nilai trust-nya juga rendah.

Wes to, hidup ini Tuhan yang mengatur. Tugas kita adalah melakukan kinerja terbaik dalam setiap helaan nafas kita. Beliau lalu menceritakan perjalanan kawannya yang mendapatkan beasiswa ke Mesir. Layaknya proses seleksi beasiswa, maka nilai tertinggilah yang akan lolos dalam seleksi tersebut. Sang kawan itu berada di nomor empat sehingga tidak ada kemungkinan untuk diberangkatkan ke Mesir. Namun, inilah skenario Tuhan tersebut:

Kandidat yang mendapatkan nilai terbaik pertama tidak jadi berangkat. Sebab, istrinya sedang hamil besar dan tidak memberikan izin kepadanya. Peringkat terbaik kedua diajukan. Sayangnya, kalau dia berangkat maka dia tidak jadi menikah karena keluarga mempelai istri tidak menginginkan pernikahan putrinya ditunda dalam jangka waktu yang lama. Peringkat ketiga maju. Eh, ternyata umurnya sudah 50 tahun ke atas. Maka, berangkatlah dia ke Mesir! Siapa yang menyangka skenario seperti ini bakal terjadi kan?

Lalu bagaimana dengan cara kita menjemput rezeki?



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Adakah Sahabat Nabi yang Masih Hidup Hingga Sekarang?

Published

on

By


Terdapat banyak sekali keutamaan para sahabat Rasulullah Saw. Mereka adalah orang-orang generasi awal yang menegakkan Islam, menemani Nabi Muhammad ketika dihina, disiksa, dan direndahkan oleh kafir Quraisy. Mereka mengorbankan harta benda, kedudukan, dan meninggalkan keluarga mereka demi perjuangan Islam.

Saking mulianya kedudukan para sahabat, Allah Swt menempatkan posisi mereka sebagai generasi terbaik dan dijanjikan surga di akhirat. Kendati telah berlalu ratusan tahun lampau, sebenarnya masih ada satu sahabat Rasulullah Saw yang masih hidup dan belum meninggal hingga sekarang. Siapakah dia?

Kemuliaan para sahabat ini tergambar dalam firman Allah surah Al-Anfal ayat 62: “Dan jika mereka hendak menipumu [Muhammad], maka sesungguhnya cukuplah Allah [menjadi pelindung] bagimu. Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan [dukungan] orang-orang mukmin,”(QS. Al-Anfal [8]: 62).

Kata “orang-orang mukmin” di ayat di atas merujuk pada para sahabat Rasulullah. Allah Swt menjadikan mereka pendukung dan penopang dakwah Islam, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa demi tegaknya kalimat Allah Swt.

Lantas, siapa itu sahabat Rasulullah? Secara definitif, sahabat Nabi Muhammad Saw adalah “orang yang pernah berjumpa dengan Nabi Saw dalam keadaan beriman kepadanya, serta meninggal dalam keadaan Islam,” sebagaimana dikutip dari kitab Al-Ishabah fi Tamyizi As-Sahabah (1995) yang ditulis oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Berdasarkan definisi di atas, terdapat tiga kategori seseorang dapat dianggap sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw.

Pertama, orang itu harus pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw secara nyata, minimal sekali seumur hidupnya. Orang-orang yang menyatakan bermimpi bertemu beliau Saw tidak bisa dikategorikan sebagai sahabat karena pertemuan itu terjadi di alam bawah sadar (mimpi), serta tidak berlaku dalam kategori ini.

Kedua, para sahabat harus dalam keadaan beriman. Karena itulah, orang-orang yang mempunyai simpati ke Islam dan mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw, namun tidak beriman, tidak bisa dianggap sebagai sahabat.

Sebagai misal, pamannya Nabi Muhammad, Abu Thalib adalah sosok pelindung dakwah beliau Saw. Ia bersimpati dan mendukung langkah Rasulullah. Sayangnya, hingga Abu Thalib meninggal, ia tidak mengucapkan kalimat syahadat dan belum beriman kepada Allah Swt.

Ketiga, seorang sahabat harus meninggal dalam keadaan muslim. Di masa kenabian, terdapat sejumlah orang yang memeluk Islam dan berjuang bersama Rasulullah, namun di akhirnya hayatnya, mereka keluar dari Islam. Di antara mereka yang murtad adalah Ubaidullah bin Jahsy dan istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan.

Keduanya merupakan bagian dari orang-orang yang memeluk Islam di periode Makkah dan berhijrah ke Habasyah atau Etiopia. Sayangnya, sesampainya di Habasyah, keduanya malah berpindah keyakinan dan memeluk agama Nasrani. Kendati pernah berjuang bersama Nabi Muhammad Saw, namun karena murtad dan meninggal dalam keadaan kafir, maka mereka tidak bisa disebut sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw.

Sahabat Rasulullah Saw yang Masih Hidup Hingga Sekarang

Berdasarkan definisi sahabat di atas, terdapat seorang mukmin mulia yang bisa dikategorikan sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw, yaitu Nabi Isa AS. Sebab, Nabi Isa pernah bertemu Rasulullah di peristiwa Isra dan Mi’raj dan belum meninggal sampai sekarang.

Ketika diangkat ke langit dalam kejadian Isra dan Mi’raj, Rasulullah Saw bertemu dengan para nabi sebelum beliau, kemudian para nabi dan rasul itu juga menjadi makmum ketika Rasulullah mengimami salat dua rakaat. Selanjutnya, ketika Malaikat Jibril mengajak Rasulullah mengunjungi surga, beliau Saw juga berjumpa langsung dengan Nabi Isa.

Hal ini tergambar dalam hadis riwayat Abdullah bin Abbas, ia bercerita mengenai kisah Isra dan Mi’raj Rasulullah:

“Malam saat Nabi Muhammad Saw Isra, beliau diajak [Malaikat Jibril] memasuki surga. Beliau mendengar ada suara di sampingnya. Nabi bertanya, ‘Hai Jibril, apa itu?’. ‘Itu adalah Bilal sang muadzin,’ jawab Jibril. Nabi Saw. bersabda di tengah khalayak, ‘Sungguh beruntung Bilal. Aku melihatnya demikian dan demikian.’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Kemudian beliau berjumpa dengan Musa AS. Musa menyambut beliau dengan gembira. Ia berkata, ‘Selamat datang Wahai Nabi yang Buta Huruf’. Kata Ibnu Abbas, ‘Musa adalah seorang yang sedang tingginya. Rambutnya lurus terurai hingga kedua telinganya, atau di atasnya. Nabi bertanya, ‘Siapa ini hai Jibril?’ ‘Ini adalah Musa AS’, jawab Jibril,’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Beliau berlalu. Kemudian berjumpa dengan Isa. Nabi Isa menyambut beliau dengan gembira. Nabi bertanya, ‘Siapa ini Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini Isa’. Kemudian beliau berlalu. Beliau berjumpa dengan orang tua yang berwibawa. Ia menyambut nabi dengan gembira. Mengucapkan salam kepadanya. Dan mereka semua mengucapkan salam padanya. Nabi bertanya, ‘Siapa ini Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah ayahmu, Ibrahim’,” (HR. Ahmad).

Penyebutan julukan sahabat Rasulullah atas Nabi Isa ini tertuang dalam kitab Tajrid Asma As-Sahabah (2008) yang ditulis oleh Imam Az-Zahabi. Nabi Isa diangkat oleh Allah Swt ke langit dan belum meninggal hingga sekarang, ia beriman kepada ajaran Nabi Muhammad, bertemu langsung dengan beliau Saw, dan kelak akan diturunkan lagi ke bumi sebelum hari Kiamat.

Ketika Nabi Isa turun ke bumi, ia akan menyampaikan syariat Islam dari ajaran Nabi Muhammad Saw. Penurunan Nabi Isa ke bumi adalah salah satu tanda kiamat besar. Nabi Isa akan membunuh Dajjal dan membersihkan penyimpangan agama Islam di muka bumi ini. Wallahua’lam



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved