Connect with us

Kajian

Jika Allah Maha Penyayang, Mengapa Masih Ada Penderitaan?

Published

on


Allah SWT ‘digambarkan’ sebagai Yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Penyayang, sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Hijr (15): 86.)

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Mulk (67): 1.)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. al-Hasyr (59): 22.)

Dengan demikian, berarti Allah yang Maha Mengetahui, maka Allah tahu bahwa kita menderita. Allah yang Maha Kuasa, berarti Allah bisa menghentikan penderitaan kita. Allah yang Maha Penyayang, berarti Allah tidak ingin kita menderita. Namun, pada kenyataannya, kita masih menderita. Apakah Allah tidak benar-benar memiliki sifat-sifat tersebut?

Tidak sedikit orang yang religius, shalatnya rajin, akan tetapi nasibnya apes melulu, sementara dia yang berfoya-foya hingga lupa shalat malahan tajir melintir dan merasa senang sekali kehidupannya. Seorang mahasiswa yang jujur jadinya tidak lulus-lulus, sementara dia yang menyontek bisa lulus malahan dapat A. Apa salahnya orang Palestina sehingga dari dulu hingga sekarang masih saja diberi serangan-serangan yang amat kejam dari Israel? Tega sekali.

Pembahasan mengenai problem-problem tersebut dalam dunia filsafat dinamakan “Teodisi”. Istilah tersebut dimunculkan pada tahun 1710 oleh filsuf Jerman, Gotfried von Leibniz, dalam sebuah karya berbahasa Prancis. Tujuan esai itu untuk menunjukkan bahwa kejahatan di dunia yang menjadikan lahirnya penderitaan itu tidak bertentangan dengan kebaikan Allah. Meskipun banyak kejahatan, dunia tetap dalam kondisi paling indah dan menyenangkan, begitulah ungkapnya.

Problem mengenai kejahatan tersebut diinspirasi oleh filsuf dari zaman Hellenistik yaitu Epicurus dengan ungkapkannya sebagaimana berikut.

“Apakah Tuhan mau, tapi tidak mampu melenyapkan kejahatan? Berarti Tuhan tidak Maha Kuasa. Apakah Tuhan mampu, tapi tidak mau melenyapkan kejahatan? Berarti Tuhan tidak Maha Penyayang atau Maha Baik. Jika Tuhan mampu dan mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih ada kejahatan? Atau jika Tuhan tidak mampu dan tidak mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih disebut Tuhan?”

Untuk menunjukkan bahwa kejahatan di dunia yang menjadikan lahirnya penderitaan itu tidak bertentangan dengan kebaikan Allah, Leibniz berasumsi bahwa Allah itu tidak akan menciptakan dunia yang sempurna sebab hanya Dia-lah yang sempurna. Sedangkan yang diciptakan Allah adalah “Dunia terbaik yang mungkin ada”. Dunia ini sudah pas bagi manusia, sudah porsional dan proporsional, lebih atau kurang dari ini sudah tidak baik lagi. Baginya, tidak ada sesuatu yang benar-benar jahat, segala hal ada alasannya. Selalu ada hikmah dibalik segala sesuatu yang terjadi di dunia ini yang menjadikan kita lebih baik lagi ke depannya.

David Hume, filsuf Inggris masa pencerahan, membantah argumen tersebut. Model Leibniz, dengan keimanannya, kalau Allah Maha Baik diasumsikan kalau Allah pasti punya dasar baik, punya alasan yang baik. Mungkin seolah-olah logis, padahal tidak. Kejahatan dengan sifat-sifat Tuhan itu jelas sangat kontras. Kalau kita meyakini kejahatan itu ada, berarti kita harus menerima kalau Tuhan itu Tidak Maha Kuasa atau Tidak Maha Penyayang.

Tokoh filsuf sekaligus teolog di era skolatik, Thomas Aquinas, setuju akan adanya kejahatan secara logis membawa kepada kesimpulan tidak kuasanya Allah tidak penyayangnya Allah. Meskipun demikian, kalau Hume menjadi ateis, Aquinas tetap beriman kepada Tuhan. Alasannya, argument logis itu hanya valid kalau kita menerima konsep kebaikan Tuhan yang tidak terbatas sebagai bagian dari definisi tentang Tuhan, dan saat kita berbicara tentang kebaikan Tuhan, kita menunjuk kepada kebaikan manusia.

Kita meyakini Allah itu Maha Baik, kebaikan Allah itu seperti apa? Itu lah kata kuncinya. Kita memahami kebaikan, itu ya versi manusia. Versi Allah sendiri mungkin berbeda. Lihatlah pada sesuatu yang versi kita tidak baik, sementara versi hewan baik, juga berlaku sebaliknya. Contohnya bagi kita, membunuh itu tidak baik, akan tetapi laba-laba setelah kawin pasti yang jantan dibunuh, itu hukum alamnya dan mungkin memang baik bagi laba-laba itu sendiri.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah (2): 216)

Allah Sang Pencipta segalanya, Dia Maha Kuasa lagi Maha Penyayang, mengapa ada kejahatan yang menderitakan, pertanyaannya adalah manusia itu bebas, bukan? Saat dia memilih untuk melakukan kejahatan, mengapa Allah harus bertanggung jawab? Kalau manusia diberi kebebasan memilih, maka harus ada pilihan. Sungguh tidak mungkin hanya yang baik saja yang tersedia. Kebebasan untuk memilih mau yang baik, yang sangat baik, yang biasa-biasa saja, yang buruk, atau yang keji. Kalau kebebasan dikatakan ada, tanpa adanya opsi untuk dipilih, ya, sama saja bohong. Bukan begitu?

Tanpa adanya kejahatan, tidak akan ada yang namanya kebaikan. Berterimakasihlah pada yang jelek sehingga menjadikan kita cakep; andaikata tidak ada mereka, kita ya biasa saja; kasarannya semacam itu. Ketika bohong tidak ada, maka kejujuran tidak ada nilainya. Kejujuran, ketulusan, kedermawanan, dan lain sebagainya yang dikonotasikan sebagai yang baik menjadi berharga sehingga kita diusahakan untuk bisa bersifat demikian itu baik oleh diri sendiri atau tekanan norma dalam hidup bersama, karena ada sebaliknya. Lantas bagaimana dengan bencana alam, sehalnya COVID-19 yang tak kunjung tuntas?

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Baqarah (2): 29.)

Alam semesta didedikasikan untuk manusia dan sebagai media menuju kesempurnaan moral manusia. Hadirnya COVID-19, merupakan ujian menuju kesempurnaan moral bagi yang mengalami. Karena ketika kita sedang enak mungkin dengan mudahnya kita mengklaim lillahi ta’ala dan qona’ah atas segala yang diberikan Allah, namun saat kita susah apakah kita tetap teguh atau malah akan merengek-rengek?

Selain itu, secara umum hadirnya bencana alam merupakan moral-warning, peringatan dan pembelajaran bagi yang tidak mengalaminya. Kadang kala bencana alam datang sebagai hukuman bagi mereka yang durhaka dan tidak bermoral.

Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam kehidupan itu harus ada kekacauan, kejahatan, yang semua itu membawa pada penderitaan bahkan kesengsaraan, setelah semua itu selesai maka lahirlah keseimbangan yang menuju kebaikan yang lebih dari sebelumnya. Dan karena manusia terbatas dengan aksesnya, Allah-lah yang bisa melihatnya secara holistik. Dunia ini pun berawal dari kekacauan, bukan? Atau maukah kita hidup berbarengan dengan dinosaurus?

Allah tahu, berkuasa, dan sayang kepada kita semua atas penderitaan itu, akan tetapi jangan lupa bahwa Allah itu bijaksana. Dengan hukum alam atau sunatullah yang diciptakan-Nya semua itu menggambarkan keteraturan dan keharmonisan yang indah. Tetap adanya penderitaan itu supaya manusia dengan kesadarannya menyadari bahwa dirinya itu terbatas. Allah bisa sewaktu-waktu intervensi terhadap hukumnya itu. Maka, ayolah lebih-lebih mendekat lagi pada Allah!  (AN)

Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Spirit Qurban: Menebar Nilai-nilai Humanis

Published

on

By


Dalam Islam, ibadah qurban bukan sekadar mengalirkan darah hewan yang disembelih dan membagi-bagikan dagingnya kepada sesama manusia, tetapi juga memiliki nilai serta makna spiritual yang sangat dalam, serta dampak sosial yang sangat besar. Ditegaskan al-Qur’an, surat al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَّنَالَ اللهَ لحُوْمُهَا وَلاَ دِمَاؤهَا وَلَكِنْ يَّنَالهُ التَّقْوَى مِنْكُم ْ

Daging dan darah hewan qurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan nilai ketakwaanmu yang dapat mencapainya

Penegasan ayat di atas menggambarkan bahwa ibadah qurban mengandung dua dimensi. Pertama, dimensi spiritual-transendental sebagai wujud ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Sikap yang ditunjukkan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Nabi Ismail AS merupakan bukti konkret ketundukan dan ketulusan untuk mematuhi perintah TuhanNya, betapa pun harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga. Kedua, dimensi sosial-humanis yang tampak jelas dalam pendistribusian daging-daging hewan qurban. Di sini tersirat penanaman nilai-nilai kemanusian yang harus dimanifestasikan dalam kepedulian sosial tanpa memandang si kaya, miskin, muslim maupun non-muslim.

Praktik penyembelihan hewan qurban setiap tahun secara kuantitas cukup membanggakan dan menggembirakan. Namun seiring dengan itu, masih banyak praktik yang mengarah kepada mengorbankan sesama manusia untuk memenuhi ambisi serta keinginan hawa nafsu. Ketidakadilan hukum, penindasan terhadap kaum dhu’afa (kalangan orang-orang lemah), tindak kekerasan, pemerkosaan,  adu domba, penyebaran fitnah, dan ujaran kebencian masih tampak subur menghiasi realitas kehidupan negeri ini. Dari sinilah diperlukan reorientasi dan reinterpretasi terhadap makna ibadah qurban, yang tidak hanya memahami sisi ritual fisik semata, tetapi juga sisi filosofisnya.

Al-Imam hujjat al-Islam al-Ghazali dalam karya monumentalnya “Ihya Ulum al-Din” mengatakan, makna luhur ibadah qurban adalah “terdistribusikannya nilai-nilai kemanusiaa secara universal, bukan sekadar pembagian daging.”

Saat ini, sangat diperlukan implementasi nilai-nilai luhur tersebut, seperti: kasih sayang, kepedulian, keadilan, saling menghormati, saling menghargai, silih asih, silih asah, silih asuh yang seringkali terlupakan. Secara psikologis, ibadah qurban melambangkan sifat hewani yang melekat pada diri manusia: kejam, serakah, dan egois yang harus dibuang dengan tebusan penyembelihan hewan sebagai upaya memenuhi panggilan dan perintah Allah SWT.

Darah yang mengalir dari hewan qurban, hendaknya dapat membuat kita insyaf, bahwa hewan saja rela berkorban demi menuruti kemauan manusia karena kekuasaannya. Karena itu, sewajarnyalah bila manusia dituntut berkorban di jalan Allah, yang kekuasaanNya jelas lebih besar. Hal ini sangat relevan dengan perintah Rasulullah saw kepada Siti Fatimah agar menyaksikan hewan qurbannya yang akan disembelih, dan bersamaan dengan darah hewan yang mengalir ke tanah, hendaknya membaca:

إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين . لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين

Sesungghnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah Rabb al-‘Alamin. Tidak ada sekutu bagiNya, dan demikianlah aku diperintahkan, serta aku merupakan generasi pertama orang-orang yang berserah diri (tunduk, taat secara mutlak kepada ajaran Allah)

Dari sisi kemanusiaan, ajaran qurban memberikan pesan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang hidupnya bermanfaat bagi sesama. kebermanfaatan itu merupakan dimensi sosial dalam beragama. Ajaran qurban dengan jalan menyembelih hewan ternak, dan membagi-bagikannya kepada kaum yang berhak merupakan ajaran yang luhur tentang bagaimana berbagi dan menghargai kemanusiaan. Pesan ini sangat kuat dan penting untuk direnungkan di tengah kondisi pandemi covid 19 yang sedang melanda dunia, khususnya Indonesia tercinta.

Dalam konteks ajaran berkurban, Allah SWT juga mengajarkan bahwa pengorbanan itu sebenarnya berat untuk dilakukan. Namun, jika dihadapi dengan ikhlas, pada akhirnya akan membuahkan hasil seperti kisah Nabi Ismail AS yang tidak jadi dikorbankan, karena digantikan dengan kambing yang dibawa malaikat Jibril. Dalam konteks kebangsaan, ajaran qurban memiliki nilai-nilai yang relevan untuk diteladani saat ini. Nilai-nilai tersebut antara lain mengenai nilai pengorbanan.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS adalah pengorbanan yang luar biasa. Beliau mengesampingkan dan menegasikan egonya. Dalam berbangsa dan bernegara yang majemuk seperti Indonesia, yang pertama-tama harus dinegasikan adalah ego masing-masing antara kita. Jika masing-masing mengedepankan egonya, maka yang terjadi adalah perpecahan. Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mematuhi surat edaran pemerintah agar meniadakan sementara aktivitas shalat berjamaah di masjid dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) merupakan bagian esensial dari spirit ‘Idul Adha.

Momen ‘Idul Adha ini penting dimaknai sebagai titik pijak untuk terus merenungkan bagaimana penghargaan umat terhadap nilai-nilai universal yang diajarkan oleh agama. Tanpa perenungan dan penghayatan yang baik, agama hanya akan berhenti pada sebatas ritual yang simbolik dan tidak bermakna. Keteladanan Nabi Ibrahim AS yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke aksi nyata perjuangan kemanusiaan, menjadi spirit ‘Idul Adha yang harus membumi.

Ajaran qurban menumbuhkan sikap empati dan simpati sosial terhadap sesama, khususnya menjaga persaudaraan sesama kaum muslimin. Dengan berqurban, semangat persaudaraan dan persatuan kebangsaan (ukhuwwah sya’biyyah) dapat ditingkatkan dan dikembangkan. Melalui peneladanan pesan moral qurban yang dilakukan Nabi Ibrahim AS, umat Islam diajak belajar menghargai Hak Asasi Manusia (HAM).

Rasulullah saw menyampaikan orasi dalam haji wada’, yang intinya menyerukan aktualisasi hak-hak hidup (aman, damai, rukun, harmoni tanpa kekerasan), hak-hak properti, hak persamaan dan keadilan (di depan hukum dan di hadapan Allah SWT, anti diskriminasi), serta hak-hak mendapat kehormatan dan kemuliaan. Orasi Rasulullah saw sangat relevan dengan spirit qurban untuk menebar nilai-nilai kemanusiaan.

Peristiwa qurban yang setiap tahun dirayakan umat Islam di seluruh penjuru dunia, seharusnya tidak lagi dimaknai sebatas proses ritual, tetapi juga diletakkan dalam konteks peneguhan nilai-nilai kemanusiaan dan spirit keadilan. Dengan spirit ‘Idul Adha, diharapkan akan terwujud sifat-sifat Rabbani dalam diri kita, seperti: kasih sayang, keadilan, kedermawanan, keikhlasan, syukur, dan akhlak qur’ani yang mengkristal dalam komitmen menjunjung tinggi martabat kemanusiaan serta kepedulian sosial.

Wallahu A’lam bi al-Shawab





Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Tafsir al-Mishbah: Membaca Ibrah dari Ayat-ayat Kematian

Published

on

By


Akhir-akhir ini, berita kematian makin sering terdengar, terlebih setelah wabah Covid-19 menyebar. Kematian memang merupakan hal yang pasti terjadi. Hanya saja, tak ada manusia yang tahu kapan ajalnya akan datang. Apabila ajal datang, maka tak ada seorang pun yang dapat menundanya. Allah Swt berfirman:

وَلَنۡ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفۡسًا اِذَا جَآءَ اَجَلُهَا‌ؕ وَاللّٰهُ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ

Dan Allah tidak akan menangguhkan satu jiwa apabila telah datang ajalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Munāfiqūn: 11)

Sejak jauh hari, Allah Swt telah memperingatkan bahwa manusia tidak akan dapat menangguhkan ajalnya. Apabila ketetapan itu tiba, di mana pun ia berada, meskipun di tempat yang paling aman sekalipun, kematian akan tetap menjemputnya.

Ayat ini menjadi inspirasi bagi kita untuk menyiapkan bekal sebanyak mungkin untuk kehidupan akhirat. Jangan sampai saat maut datang, kita tidak siap dan justru sedang berbuat maksiat.

Sebuah pepatah Arab berkata “Man ‘arafa bu’das safari ista’adda” (Siapa yang mengetahui jauhnya perjalanan, hendaklah ia bersiap-siap). Perjalanan hidup manusia amatlah panjang. Dunia hanyalah tempat untuk menyiapkan bekal. Sedangkan kematian adalah start memulai perjalanan panjang menuju kehidupan abadi di akhirat. Maka dari itu, orang yang telah menyadari panjangnya perjalanan di akhirat tentu akan bersiap-siap sejak jauh hati.

Andaikan kematian bisa ditangguhkan, maka manusia akan segera bersedekah

Pada ayat sebelumnya, QS. Al-Munāfiqūn: 10, Allah Swt mengingatkan manusia untuk menyedekahkan apa yang dianugerahkan kepadanya sebelum maut menjemput.

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami rezekikan kepada kamu sebelum datang kepada salah satu dari kamu kematian, lalu dia berkata ‘Tuhanku, hendaklah kiranya Engkau tangguhkan aku ke waktu yang dekat supaya aku bersedekah dan aku menjadi orang-orang saleh” (QS. Al-Munāfiqūn: 10)

Perlu diketahui, sedekah yang dapat diberikan tak terbatas pada harta benda semata. Ia mencakup anugerah Allah yang luas, seperti ilmu pengetahuan, bantuan berupa kekuatan, air yang tersedia di bumi, dan lain sebagainya.

Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah merupakan bekal yang luar biasa untuk menghadapi alam akhirat nanti. Saking dahsyatnya, seandainya ajal bisa ditangguhkan, maka manusia akan segera bersedekah sebanyak mungkin. Di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa harta benda bisa menjadi tanggungan yang berat di akhirat kelak. Bahkan Rasulullah Saw pun berdoa agar diwafatkan dalam keadaan miskin.

Dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan bahwa saat wafat, Rasulullah Saw tidak meninggalkan satu pun dinar, dirham, budak sahaya (baik laki-laki maupun perempuan) ataupun harta lainnya. Melainkan hanya meninggalkan baghlah putih betina yang biasa ditungganginya, sebuah senjata, dan tanah yang telah beliau sedekahkan kepada ibnu Sabil.

Demikianlah, Rasulullah Saw tidak pernah menimbun hartanya. Sebab, cara terbaik untuk “membawa mati harta” adalah dengan menyedekahkannya. Dari ayat ini juga tersirat anjuran bekerja keras selama di dunia. Agar kita dapat menghasilkan rezeki dan bersedekah sebanyak-banyaknya.

Setelah mati, manusia tidak hilang, melainkan berpindah alam

Sebagaimana Allah Swt menciptakan dan menghidupkan manusia, sang Maha Kuasa pula lah yang menciptakan kematian. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mulk ayat 2:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbāh menjelaskan, kematian manusia dalam pentas bumi bukan berarti menghilang dan menjadi tiada begitu saja. Manusia masih tetap ada, akan tetapi ia berpindah ke alam lain. Oleh karena itu, ayat ini menyebutkannya dengan kata “menciptakan kematian.”

Sementara itu, ada pula ulama yang memahami kematian dalam arti “ketiadaan wujud.” Sehingga kalimat “Allah menciptakan kematian” dimaknai sebagai “Allah menciptakan sebab-sebab kematian.” Menurut Quraish Shihab, kalaupun kematian diartikan dengan ketiadaan, itu hanya berarti ketiadaan di bumi saja.

Allah Swt menciptakan kehidupan untuk menguji manusia mengenai siapa yang paling banyak amalnya. Kemudian Allah Swt menciptakan kematian untuk memberikan balasan. Dalam ayat ini, kata al-maut (kematian) disandingkan dengan kata al-hayāh (kehidupan). Uniknya, kata al-maut justru disebutkan terlebih dahulu daripada kata al-hayāh. Menurut Ibnu Asyur, kata al-maut dikedepankan lantaran tujuan yang terpenting dari penggalan ayat ini adalah hari pembalasan.

Wallahu a’lam bisshawab

Baca juga artikel lain tentang Tafsir Al-Misbah di sini.

Penjelasan lebih lengkap bisa dibaca dalam Tafsir al-Mishbah. Baca tulisan tentang tafsir Al-Misbah di sini. Kamu juga bisa order di sini Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab (diskon 10%).





Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Surat an-Nisa ayat 59: Ulil Amri dalam Penanganan Covid-19 adalah Dokter

Published

on

By


Pada masa Pandemi Covid-19, masyarakat dihebohkan dengan berbagai pemberitaan, baik pemberitaan yang akurat maupun tidak akurat. Infodemi ini memang sedang membanjiri dunia digital kita. Bagi yang bisa menyaringnya, tentu akan selamat, namun bagi yang tidak, tentu akan membuat penanganan pandemi semakin runyam.

Salah satu hal yang membuat orang percaya disinformasi Covid-19 adalah kurangnya pengetahuan terhadap sumber yang otoritatif. Bahkan sumber yang otoritatif pun terkadang terkalahkan oleh sumber-sumber ‘sumbang’ yang tidak diketahui kredibilitasnya.

Untuk mengetahui siapakah ‘sumber’ yang harus ditaati dalam hal penanganan pandemi Covid-19, kita perlu merujuk pada surat an-Nisa’ ayat 59 berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩

Yā ayyuhalladzīna āmanū athī`ullaha wa athī’urrasūli wa ūlil amri mingkum. Fa in tanāza`tum fī syai’in farudūhu ilāllahi war rasūli in kuntum tu’minūna billahi wal yaumil ākhir. Dzālika khairun wa ahsanu ta’wīla.

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S an-Nisa: 59).

Walaupun pendapat jumhur mufassir terkait kata ulil amri dalam ayat di atas adalah pemerintah. Namun ada pendapat lain yang berkembang di tengah para mufasir. Di antara para mufassir, ada satu mufassir yang menafsirkan ayat di atas dengan menarik, yaitu Imam Mujahid, salah satu tabiin senior yang dikutip oleh Imam al-Thabari dalam tafsirnya. Menurut Imam Mujahid, ulil amri dalam ayat di atas juga bisa dimaknai dengan ahlul fikhi wal ilmi (ahli ilmu). Pendapat Mujahid ini juga diafirmasi oleh Ibnu Abbas dan juga tabiin seangkatan Mujahid, yaitu Imam Atha’.

Berpegang pada pendapat Ibnu Abbas, Imam Mujahid, dan Imam Atha’ dalam menafsirkan kata ulil amri pada surat an-Nisa di atas, maka dalam penanganan pandemi Covid-19, ulil amri atau ahli ilmunya adalah dokter dan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, segala informasi tentang Covid-19 jika tidak berasal dari dokter dan tenaga kesehatan, begitu juga jika tidak dari pihak yang berwenang, maka kita tidak boleh percaya dan menaatinya.

Lalu bagaimana kategori dokter dan tenaga kesehatan yang bisa dipercaya?

Dalam bidang keilmuan, selain kredibilitas dan keahlian seorang ahli ilmu, termasuk dokter, kita juga perlu melihat kondisinya. Pertama, dokter tersebut sehat secara jasmani dan rohani. Karena salah satu hal penting terkait kesaksian dalam agama adalah dipastikan bahwa saksi atau pembawa berita itu harus sehat secara jasmani dan tidak gila. Jika bisa diqiyaskan dengan kesaksian dalam agama ini, maka dokter yang tidak memiliki kesehatan secara rohani atau memiliki penyakit jiwa, maka informasi yang didapatkan darinya tidak bisa dipercaya.

Dalam kajian hadis, mungkin kita pernah mendengar seorang perawi bernama Ibnu Lahi’ah. Ia adalah seorang perawi hadis. Namun pada suatu hari kitabnya terbakar, dan hadis-hadis yang ada di dalam kitab tersebut pun ikut hilang. Sedangkan Ibnu Lahiah sendiri adalah perawi yang tidak bisa meriwayatkan hadis tanpa kitabnya. Sehingga para ulama sepakat untuk tidak meriwayatkan hadis darinya setelah tragedi kebakaran tersebut.

Jika sekedar lupa catatan saja tidak bisa diambil pendapatnya atau dijadikan rujukan, apalagi jika ahli ilmu tersebut gila?

Kedua, dokter tersebut mengikuti perkembangan penyakit dan terjun langsung atau ikut praktek mengobati pasien. Mengapa hal ini penting, karena setiap ahli yang tidak mengikuti perkembangan keilmuannya, maka ia bisa jadi kudet (kurang update). Karena selalu ada informasi dan perkembangan keilmuan yang baru. Bisa jadi jika seorang dokter tersebut kurang update dan sudah tidak praktek, ia ketinggalan informasi dan penelitian terkait ilmu-ilmu yang baru.

Ketiga, pastikan dokter tersebut bukan seorang politisi atau terindikasi politis. Hal ini penting karena politisi cenderung pada dua hal, membela atau menyanggah pemerintah. Sehingga walaupun ia seorang dokter, ia memiliki bias penilaian.

Oleh karena itu, dalam penanganan Covid-19, kita tidak boleh meragukan dokter, apalagi membandingkan apakah informasi dan anjuran dokter itu sesuai agama atau tidak. Jika mengacu ayat di atas, maka setiap perintah dokter yang kita taati, maka itu adalah dianjurkan oleh agama dan menjadi bagian dari ajaran Islam. Untuk saat ini, mari kita hindari infodemi yang berasal dari orang-orang atau kelompok yang tidak bisa dipercaya. Apalagi percaya dengan informasi terkait konspirasi. (AN)

Wallahu a’lam.





Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved

VERIFIED & SECURED
BY: R3
SSL Valid: Jun 21, 2021 - Sep 19, 2021