Connect with us

Budaya

Islam Jawa dalam Sebuah Dialog Sinkretisme

Published

on



Islam bukan hanya Arab, Arab tidak selalu Islam. Islam ya Islam, tapi memang tidak bisa dipisahkan dari Arab.

Bukankah Al-Qur’an berbahasa Arab dan kalau kita shalat juga harus menggunakan bahasa Arab, tidak boleh direkayasa memakai bahasa Jawa atau bahasa apa pun.

Jadi sesulit apa yang dialami, bila kita ber-Islam, maka sedikit banyak harus ber-Arab juga. Setidak-tidaknya dalam berbahasa.

Dapat kita bayangkan, betapa sulitnya agama ini ketika pertama kali datang di Jawa. Sebab ternyata hanya separuh fonem Arab (huruf Hijaiyyah) mempunyai padanan dalam fonem Jawa (dari Ha-Na-Ca-Ra-Ka).

Sedangkan transliterasi pun sungguh menjadi hal yang sulit. Bagaimana kita menulis; غ (ghayn), ظ (dhad), ض (dhla) atau ذ (dzal), misalnya, dengan aksara Jawa….?

Oleh sebab itu, para leluhur pendakwah Islam ditanah Jawa dahulu melakukan proses alih bunyi diantaranya; ض (dhla) jadi (la) ( ضوهور (dhuhur) jadi (lohor)), ( ع (‘ain) jadi (nga) ( علامين (‘alamin) jadi (ngalamin)) dan seterusnya.

Kemudian juga istilah-istilah yang sudah ada pada saat itu, masih dipergunakan sebagai padanan kata dalam Islam. Semisal sembahyang untuk salat, santri untuk murid, kiai untuk guru, langgar untuk masjid, dst…..

Bahkan, lebih jauh lagi mereka kemudian memperkenalkan Islam kepada orang dengan budaya Jawa melalui plèsètan bunyi yang disesuaikan dengan pemahaman budaya tersebut untuk disisipkan nilai-nilai tertentu.

Tujuan dari semua itu adalah agar Islam dapat diterima oleh orang Jawa dengan mudah dan nyaman.

Dan pada kenyataannya tujuan itu sangat berhasil sehingga Islam masih bertahan dan berkembang di bumi Nusantara hingga saat ini.

Sebuah dialog Kultural
antara Santri dan Sang Kiai

“Kyainé, saya ingin memastikan sesuatu, bolehkah?”

“Ada apa, Le, sepertinya ada hal yang sangat penting hendak engkau sampaikan. Ungkapkan saja jangan ragu”

“Apakah saya ini sudah Islam, Kiai…?

“Ya pasti sudah to, Le. Bukankah kamu telah mengucapkan syahadat dan bahkan telah menjalankan rukun Islam lainnya. Mengapa engkau bertanya seperti itu?”

“Tapi saya masih pakai blangkon, Kiainé. Pakaian yang saya pakai pun masih seperti yang dahulu, warisan si mbah kula.”

“Memangnya aku pernah menyuruhmu untuk ganti pakaian seperti orang Arab itu, Le?”

“Ya tidak…, Belum pernah, Kiainé. Saya hanya melihat saja kalau santri yang pakai busana Arab itu sepertinya ilmunya sudah mumpuni dan begitu menjiwai pemahaman keislamannya”

“Keimanan dan keislaman itu ada dalam hati, Le… Bukan melekat di busana di kepala, atau pun dalam tata bicara….!”

“Oooh gitu nggih, Kiai. Lha kalau mulut saya tidak bisa fasih saat melantunkan ayat Al-Quran seperti orang Arab, apakah Islam saya juga tidak sempurna, Kiainé ?”

“Memangnya aku ini Gusti Allah, Le??! yang dapat menentukan kadar iman dan islam seseorang hanya berdasarkan pendengaran dan penglihatan kasat mata saja … Kiai gurumu ini hanya menyampaikan kebaikan dan berusaha membimbing kamu untuk selalu melangkah di jalan yang benar. Sesungguhnya yang tahu kedekatan hamba dengan Tuhannya hanyalah dirinya sendiri dan Gusti Allah yang Maha Mengetahui.”

“Soalnya saya sering diketawain sama santri lain karena baca Quran-nya mêdhok banget, Kiainé… Bilang Patékah saja diketawain bahkan ada yang bilang kapir segala..!

“Lha wong lidahmu sudah di setting seperti itu kok, Le, mau dibongkar ya pasti susah. Logatmu saja mirip suara Bagong, kalau ingin kamu rubah menjadi mirip Kresna ya susah to Le”

“Hahahaha.. Kiainé bisa saja. Para punakawan itu kesukaanku lho, Kiai.”

“Tahu nggak kamu, Le. Punakawan yang berjumlah empat yaitu Semar, Garèng, Petruk dan Bagong itu penciptaannya adalah dalam rangka dakwah memperkenalkan Islam melalui budaya yang berkembang di masyarakat. Dan Punakawan itu adanya hanya di cerita wayang Jawa…”

“Oooh begitu ya, Kiai”

“Tokoh-tokoh panakawan tidak dikenal dalam cerita Mahabharata maupun Ramayana versi Hindustani. Mereka itu adalah tokoh-tokoh kreasi wali (Sunan Kalijaga). Nama-nama tokoh-tokoh itu seperti nama-nama orang Jawa, kan ? Padahal itu dibuat sedemikian rupa sehingga rangkaiannya memiliki nilai tertentu dalam bahasa Arab”

“Bagaimana itu, Kiai?”

“Semar berasal dari Syammir, Garèng dari Khairan, Pétruk dari Fatruk dan Bagong dari Baghyan. Kalau digabung kata-kata plèsètan tadi jadi mengandung makna شَامِّيرْ خَيرً فَتْرُكْ بَغْيً (Syammir khoiron fatruk baghyan) yang artinya bersegeralah (kepada) kebaikan tinggalkanlah keburukan.”

“Oooh…. begitu ya Kiainé, baru ngerti”

“Dan kamu jangan hanya sekedar ikut-ikutan kata orang. Yang kalau mau ber-Islam secara benar, harus berpakaian seperti ini itu.. , juga kalau berkata-kata dalam keseharian harus pakai istilah Arab.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kamu tahu nggak, Le, bahwa di negara-negara Arab sana; Mesir, Jordania, Syria, Emirat bahkan di Saudi Arabia sendiri, orang-orang non muslim juga mengenakan gamis, berhijab, pakai sorban. Karena itu memang adat budaya dalam berpakaian orang Arab.

Kata Bismillah, Alhamdulillah, Assalaamualaikum, Insyaallah, Jazakumullah, Syukron, Barakallah dan lain-lain itu juga diucapkan oleh seluruh masyarakat Arab baik yang Islam, Kristen maupun Yahudi di Arab sana….”

“Oooh….. begitu ya Kiainé ?”

“Jangan begita begitu thok, kamu ini. Harus dipahami, jangan hanya ikut-ikutan, terus sok tahu… nantinya keblinger kamu, Le…!”

“Nuwun inggih Kiainé….”

“Aku bisa ngomong begini karena aku pernah ke sana. Bukan dari orang lain, Le…”

“Nggih, Kiainé….”



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Adat Budaya Keumaweuh (1): Tradisi Masyarakat Aceh Jelang Kehamilan

Published

on

By



Sejarah telah mencatat bahwa masyarakat Aceh memiliki budaya adat dengan nilai-nilai religius yang identik dengan Islam. Kehidupan budaya adat Aceh dengan Islam tidak dapat dipisahkan. Harmonisasi antara adat dan Islam ini berkembang dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Masyarakat Aceh terbiasa menyesuaikan praktik agama dengan tradisi atau adat istiadat yang berlaku. Hal ini terlihat dalam kehidupan sosial budaya Aceh,  sebagai hasilnya Islam dan budaya Aceh menyatu, sehingga sukar dipisahkan.

Di sini ketentuan syariat Islam merupakan bagian dari adat atau telah diadatkan. Sebaliknya, adat merupakan bagian dari Islam, atau yang telah diislamkan.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Beragam adat Aceh tidak terlepas dari nilai-nilai syariat Islam. Tentunya dalam kaitan dengan hal tersebut, dalam masyarakat Aceh juga berlaku ketentuan bahwa adat itu ada dua yaitu, pertama ketentuan Allah Swt yang tidak berubah sepanjang masa dan kedua adat kebiasaan masyarakat berdasarkan syariat Islam.

Islam dan budaya adat Aceh menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya menyatu dan berkaitan erat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Budaya adat Aceh sangat kental dengan Islam.

Budaya kerap disebut kultur,  dari bahasa Inggris culture. Budaya adalah hasil buah pikir manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan, tempat dan waktu dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan.

Budaya yang dihasilkan manusia ada yang berbentuk sekuler, marxis, atheis, materialis, sosialis, dan sebagainya. Hasil buah pikir itu menjadi adat kebiasaan yang pada akhirnya menjadi sebuah kebudayaan.

Seorang tokoh Aceh, Badruzzaman, lebih sepakat dengan istilah budaya adat Aceh, bukan budaya Aceh. Hal ini karena istilah itu memberi dampak filosofis, historis, dan sesuai dengan cita-cita kami sebagai orang Aceh.

Budaya adat Aceh mengandung nilai-nilai religius dalam bingkai syariat Islam. Jadi, nilai syariat Islam itu mutlak harus dijiwai dalam budaya adat Aceh.

Masyarakat Aceh mempunyai tamsilan adat dengon hukum lagee zat dengon sifeut. Jadi saling ada keterikatan antara adat dengan syariat, bukan seperti budaya yang dikenal dengan istilah culture pada umumnya. (Badruzzaman Ismail, Syariat Islam Menyatu dalam Budaya Adat Aceh, 2018).

Keumaweuh,  Tradisi Tujuh Bulanan

Di antara beragam tradisi budaya adat yang berkaitan dengan nilai-nilai syariat Islam, terdapat satu tradisi budaya adat Aceh yang cukup terkenal, yaitu tradisi keumaweuh.

Tradisi Keumaweuh merupakan tradisi tujuh bulanan di Aceh. Tradisi keumaweuh dilakukan pada saat seorang istri sudah memasuki tujuh bulan atau 28 minggu usia kehamilan anak yang pertama.

Tradisi keumaweuh ini sudah dilakukan secara turun-temurun zaman dulu sampai sekarang. Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh khususnya keluarga suami pada saat acara keumaweuh untuk mengantarkan nasi dan buah-buahan bagi istri yang sedang hamil anak pertama.

Masyarakat Aceh sangat memprioritaskan kesehatan ibu hamil dan anak. Keduanya merupakan tumpuan harapan yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan generasi penerus di Aceh, karena itu setiap ibu hamil disambut gembira oleh keluarga suami istri dan diberikan spirit dan kondisi yang menyenangkan.

Masyarakat Aceh dapat memahami pengaruh besar psikologis ibu hamil terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungan. Dengan ini lahirlah petuah–petuah dan pantangan–pantangan yang bertujuan menjaga kehamilan terpelihara dan selamat sampai melahirkan.

Tradisi keumaweuh juga bisa dikatakan sebagai acara syukuran atau rasa syukur kepada Maha Pencipta karena diberi rezeki dengan bertambahnya anggota keluarga yang baru atau juga sang istri sedang mengandung. Namun tradisi keumaweuh hanya diadakan ketika istri mengandung anak pertama.

Sesuai Syariat Islam

Tradisi Keumaweuh dalam perspektif syariat Islam juga mempunyai pandangan spesifik. Allah Swt menciptakan manusia berpasangan, laki-laki dan perempuan. Keberadaan umat yang banyak di dunia menjadi sebuah kebanggaan baginda nabi Muhammad saw.

Islam juga memperbolehkan menikahi empat perempuan selama mampu berlaku adil dan ini sebuah isyarat untuk memperbanyak keturunan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda: “Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu dihadapan umat-umat (yang terdahulu)” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar).

Dalam hadis lain juga disebutkan: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik).

Satu kebahagian bagi mereka yang telah menikah adalah lahirnya buah hati yang menghiasi hidup mereka. Ini semua takdir dan rezeki dari sang Maha Kuasa. Saat seorang istri telah hamil, tentu ini menjadi sebuah kabar gembira dan anugerah bagi keluarganya.

Masyarakat Aceh dalam hal ini  sangat berpartisipasi menyelenggarkan upacara selamatan untuk memanjatkan doa kepada Allah Swt dengan mengharapkan keselamatan. Dalam upacara selamatan tersebut dibacakan Al-Qur’an, surat–surat tertentu, bacaan berzanji, atau tahlil.

Aceh memiliki adat-istiadat yang sangat menghargai dan memuliakan ibu hamil dan anaknya. Mendorong keluarga dan masyarakat saling bekerja sama membantu mengayomi ibu hamil.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Tradisi Peusijuek Masyarakat Aceh dalam Perspektif Syari’at Islam

Published

on

By



Salah satu daerah di penghujung barat Nusantara ini ditempati masyarakat Aceh yang merupakan daerah pertama masuk Islam ke negeri yang bernama Indonesia meskipun adanya kontroversi pendapat berkaitan dengan persoalan tersebut. Masyarakat Aceh dalam kehidupan sehari-hari segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan budaya tidak terlepas dari nilai-nilai Syari’at Islam.

Diantaranya seperti adanya bermacam-macam acara dan memulainya dengan doa dan sampenanya yang dikenal dengan sebutan Peusijuek. Kita mengetahui bahwa pada dasarnya Peusijuek (Tepung Tawar) merupakan salah satu adat Aceh yang tidak bisa hilang dari nenek moyang kita dulu.

Peusijuek ini biasanya dilakukan disaat ada acara di Aceh, misalkan ketika menerima tamu, membuka satu usaha, musibah, merayakan kelulusan, khitan, menempati rumah baru, menyambut dan berpergian umroh dan haji. Bahkan bagi orang Aceh, tradisi Peusijuek ini merupakan prosesi yang biasa dilakukan bahkan saat membeli kendaraan baru, namum berbeda dengan masyarakat kota yang modern sekarang Peusijuek hanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan acara besar saja, misalnya acara perkawinan dan keberangkatan haji.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Nana Noviana dalam tulisannya berjudul “Integritas Kearifan Lokal Budaya Masyarakat Aceh dalam Tradisi Peusijuek” menyebutkan bahwa tradisi Peusijuek pada dasarnya difungsikan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Namun fungsi Peusijeuk juga dibagi menjadi beberapa jenis di antaranya, pada upacara perkawinan, upacara tinggal di rumah baru, upacara hendak merantau, pergi haji, Peusijuek Keureubeuen (kurban) dan beragam jenis lainnya.

Di samping itu Peusijuek juga dilakukan oleh anggota masyarakat terhadap seseorang yang memperoleh keberuntungan, misalnya berhasil lulus sarjana, memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan masyarakat, memperoleh penghargaan anugerah bintang penghargaan tertinggi, Peusijuek kendaraan baru, dan peusijuek-peusijuek lainnya.

Dalam bukunya identitas Aceh dalam perspektif syariat dan adat mengemukakan bahwa makna dari tahap-tahap yang digunakan dalam Peusijuek adalah pertama membaca basmallah, kedua menaburkan beras dan padi, sifat padi itu semakin berisi semakin merunduk, maka diharapkan bagi yang di Peusijuek agar tidak sombong bila mendapat keberhasilan serta agar mendapatkan kesuburan, kemakmuran, dan semangat seperti taburan beras padi yang begitu semarak berjatuhan, ketiga menyuapi nasi ketan (bu leukat) dan menyuntingnya pada telinga sebelah kanan, dipilih nasi ketan karena mengandung zat perekat, sehingga jiwa raga yang di Peusijuek tetap berada dalam lingkungan keluarga atau kelompok masyarakatnya, Lalu yang terakhir adalah pemberian uang (teumutuep), secara filosofi Teumeutuep memiliki makna sedekah, sedangkan sedekah salah satu pilar dalam mencapai kemakmuran dalam masyarakat. (Nana Noviana, 2018)

Ada kelompok yang menyebut bahwa tradisi Peusijuek tidak mengandung nilai syari’at bahkan menyebutnya sebagai bid’ah yang harus dihindari, namun para ulama terdahulu dan endatu masyarakat Aceh lebih mengerti dan paham mengenai tradisi Peusijuek.

Di antara dalil yang dijadikan referensi Peusijuek itu saat Rasulullah Saw melakukan Peusijuek (tepung tawar) terhadap putrinya Fathimah dan Sayyidina ‘Ali ketika menikah. Kupasan ini sebagaimana dijelaskan salah seorang ulama terkenal bernama Imam Thabraniy dalam kitab al-Ma’jam Kabir berbunyi:

“Telah mengabarkan kepada kami oleh Muhammad bin ‘Abdullah al-Khazramiy, telah mengabarkan kepada kami oleh al-Hasan bin Hammad al-Khazramiy, telah mengabarkan kepada kami oleh Yahya bin Ya’la al Aslamiy, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qatadah dari al-Hasan dari Anas bin Malik berkata ia: Telah datang Abu Bakar kepada Nabi shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka duduk ia dihadapan Nabi, lalu berkata: Ya Rasulallah! Sungguh engkau mengetahui akan menasehatiku dan kakiku dalam Islam, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (di sini Abu Bakar tergagap-pent). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu? Maka Abu Bakar menjawab: Kawinkah aku dengan Fathimah. Maka Rasulullah diam atau berpaling dari Abu Bakar.

Maka kembalilah Abu Bakar kepada ‘Umar, lalu berkata: Celakalah aku, dan Celakalah engkau. ‘Umar berkata: apa itu?. Abu Bakar menjawab: aku meminang Fathimah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka beliau berpaling daripadaku.

Maka ‘Umar berkata: tetap engkau di sini sehingga aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam maka aku meminta seumpama permintaan engkau, maka datanglah ‘Umar kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka duduk ia dihadapan Nabi, lalu berkata:  Ya Rasulullah! Sungguh engkau mengetahui akan menasehatiku dan kakiku dalam Islam, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (di sini ‘Umar tergagap). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu? Maka ‘Umar menjawab: Kawinkan aku dengan Fathimah. Maka Rasulullah berpaling dari ‘Umar. Maka kembalilah ‘Umar kepada Abu Bakar, lalu ‘Umar berkata: sesungguhnya Rasulullah itu menunggu perintah Allah pada urusan Fathimah.

Berangkat kami kepada ‘Ali sehingga kami perintah ‘Ali untuk meminta apa yang sudah kami minta. Berkata ‘Ali: maka keduanya datang kepadaku sedang aku berada di jalan. Maka keduanya berkata: anak (cucu) perempuan paman engkau itu engkau pinang. Maka keduanya memperhatikan aku satu pekerjaan. Maka aku berdiri sambil menarik ridakku, satu ujung di atas leherku dan satunya lagi pada bumi, sehingga aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka aku duduk dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Maka aku berkata: Ya Rasulullah! Sungguh engkau mengetahui akan kakiku dalam Islam dan menasehatiku, dan bahwa sungguh aku, dan bahwa sungguh aku, (disini ‘Ali pun tergagap). Dan Rasulullah bertanya: dan apa itu wahai ‘Ali? Maka aku (‘Ali) menjawab: Kawinkah aku dengan Fathimah.

Maka Rasulullah berkata: dan apa yang ada bersamamu (sebagai mahar-pent)? Aku berkata: Kudaku dan baju besiku. Rasulullah berkata: adapun kuda engkau maka tidak boleh tidak bagi engkau daripadanya dan adapun baju besi engkau maka jual olehmu baju tersebut. Maka aku jual baju tersebut dengan 480 (dirham).

Maka aku membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka aku meletakkannya dalam pangkuan beliau, maka beliau menerimanya, lalu berkata: wahai Bilal! Beritahu olehmu kepada Fathimah secara baik, dan perintah olehmu akan mereka supaya mereka mempersiapkan Fathimah.

Maka Bilal membuat  Fathimah ranjang yang dijalin dengan pita, bantal dari sepotong kulit yang diisi didalamnya dengan sabut (jerami atau rumput kering), menimbuni kamar dengan pasir. Dan Rasulullah berkata, apabila Fathimah datang kepada engkau maka jangan engkau ucap apapun kepadanya sehingga aku datang akan engkau.

Maka datanglah Fathimah bersama Ummu Ayman, maka duduklah ia pada sisi kamar, dan aku pada sisi yang lain. Maka datanglah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu berkata: Di sini saudaraku. Maka berkata Ummu Ayman: saudara engkau (yakni ‘Ali) sungguh engkau kawinkan dengan putri engkau (yakni Fathimah).

Maka masuklah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan berkata kepada Fathimah: Bawalah olehmu kepadaku akan air! Maka Fathimah pun berdiri menuju kepada gelas besar di dalam kamar, maka menuangkan ke dalamnya akan air, maka dibawanya air tersebut kepada Rasulullah, maka  Rasulullah meludahi dalam air tersebut, kemudian berkata kepada Fathimah: Luruslah kamu, maka memercikkan ia akan air diantara dua dada Fathimah dan atas kepala Fathimah, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk Fathimah dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian Rasulullah berkata kepada Fathimah, berbaliklah engkau (yakni membelakangi Rasul), maka Fathimah pun berbalik, maka Rasulullah memercikkan air diantara dua bahunya, kemudian berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk Fathimah dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian Rasulullah berkata (kepada ‘Ali); bawakan air kepadaku!, maka aku melakukan apa yang dikehendaki oleh beliau, maka aku penuhkan gelas dengan air maka aku bawa kepada Rasulullah, maka Rasulullah mengambil air itu dengan mulutnya, kemudian meludah kembali air tersebut ke dalam gelas, kemudian menuangkan ia di atas kepalaku (kepada ‘Ali), dan di antara dua dadaku, kemudian beliau berkata: Ya Allah sesungguhnya aku memohon dengan Engkau perlindungan untuk “Ali dan juga untuk keturunannya daripada syaithan yang terkutuk.

Kemudian ia berkata: Masuklah engkau wahai ‘Ali kepada keluargamu (yakni Fathimah) dengan nama Allah dan Berkat. ( kitab al-Ma’jam Kabir karangan Imam Thabraniy).

Berdasarkan kupasan di atas, tentunya tradisi masyarakat Aceh yang terkenal dengan Peusijuek bukanlah perkara bid’ah, namun mereka yang masih berprinsip sebagai bid’ah tetap mengutamakan beragam alasan untuk pembenaran terhadap bid’ah, minimal sudah di pandang sebagai budaya Aceh saja sudah cukup, tidak perlu untuk berdebat meskipun tidak mengakui sebagai bagian dari perbuatan yang pernah dilakukan baginda Nabi Muhammad SAW. Mari kita melestarikan kearifan lokal yang bernilai religi termasuk tradisi Peusijuek, sudahkah kita melakukannya? Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Kearifan Lokal Warga Dusun Pandanderek Ponorogo: Dari Slametan hingga Cara Merawat Keberagaman

Published

on

By



Dalam Atlas Wali Songo, almarhum Kiai Agus Sunyoto mengatakan bahwa agama Islam mengalami perkembangan pesat di Nusantara khususnya di Jawa dalam waktu 50 tahun. Padahal sebelumnya selama 800 tahun agama Islam tak bisa berkembang. Berdasarkan penelusurannya, Kiai Agus memberikan kesimpulan bahwa perkembangan pesat Islamisasi di Jawa ialah dari cara metode dakwah yang dibawa oleh Wali Songo.

Bagi masyarakat jawa, khususnya penganut kejawen mereka sangat mengenal Sunan Kalijaga. Bahkan jika dirunut dalam berbagai cerita yang dituturkan nama Sunan Kalijaga tak terkesampingkan. Sunan Kalijaga membawa Islam dengan “laku”, artinya, nilai-nilai Islam dituangkan ke dalam setiap perilaku termasuk dalam kesehariannya sebagai orang jawa.

Dalam merefleksikan hal ini penulis melakukan penelusuran di Dusun Pandanderek berada di Desa Winong Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo. Permulaan Babad dusun ini dimulai pada masa Simbah Arif yang makamnya ada di Dukuh Majasem Desa Madusari. Dalam perkembangan sepuluh tahun terakhir banyak perubahan  di lingkungan Dusun Pandanderek. Roda zaman terus berputar, globalisasi kian menjadi, eksistensi pun terancam terganti. Dalam perkembangan budaya dan tradisi akhir-akhir ini sangat nampak terjadinya pembaharuan secara sadar maupun tidak.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penulis merefleksikan tradisi slametan yang masih eksis di lingkungan dusun Pandanderek. Meskipun demikian banyak sekali terjadi perubahan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Perubahan itu kini nampak dalam “berkat” yakni makanan yang disuguhkan untuk para tamu yang hadir untuk dibawa pulang. Dahulu berkat itu disuguhkan dalam makanan yang sudah siap santap sedangkan sekarang kebanyakan acara slametan sudah jarang menyuguhkan hidangan siap santap. Sebagai ganti dari hidangan siap santap tersebut diganti isinya menjadi sembako.

Demikian pula dalam tata cara penyelenggaraan slametan yang ada. Dahulu slametan prosesnya demikian rumit yang paling nampak adalah adanya sesi ngajatne. Ngajatne ialah suatu prosesi yang berisi untaian sastra jawa berisi harapan-harapan yang kini disebut doa. Proses ngajatne dipimpin oleh sesepuh. Akan dimulai dengan menyiapkan uborampe berupa macam-macam jenis makanan yang disajikan dengan tata cara tertentu. Kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan istilah istilah lebih tepatnya sanepan dari uborampe yang disiapkan. Sanepan adalah penyampaian suatu pesan dalam simbol-simbol. Misalnya yang kini masih eksis adalah apem, iwel-iwel dan ingkung. Kini proses ngajatne sudah sangat jarang ditemui kecuali pada acara-acara besar. Padahal secara filosofis pesan-pesannya sangat mendalam. Kemudian menjadi seremonial belaka lalu kini diambang kepunahan.

Begitupun pada tradisi puji-pujian yang dilaksanakan diantara adzan dan iqomat. Puji-pujian yang dilantunkan sangat beragam baik yang berbahasa arab maupun berbahasa jawa. Dalam pengamatan sepuluh tahun kebelakang puji-pujian mengalami perkembangan yang dinamis. Dahulu mulanya lebih condong dalam bahasa jawa. Hal tersebut dikarenakan agar nasihat-nasihat bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Kini puji-pujian masih eksis salah satunya di Masjid Al-Iman. Disana masih ditemui puji-pujian baik dilantunkan oleh golongan tua maupun muda. Tentunya ragamnya kini tak sebanyak dulu. Ragam puji-pujian itu diantaranya yang melegenda adalah syair Eling-Eling, yang kini sudah tak ada yang melantunkannya.

Penulis juga mengamati tata letak masjid di dusun Pandanderek. Dalam tata letak masjid kuno lokasi masjid sangat diperhatikan. Misalnya letak masjid-masjid agung diberbagai kota besar di Indonesia seperti Yogyakarta, Solo dan Demak. Masjid agung terletak satu komplek dengan area pemerintahan, pasar, dan alun-alun. Masjid mempunyai dwi fungsi bagi masyarakat sekitar terkait ibadah dan muamalah.

Di dusun Pandanderek terdapat dua masjid yakni Masjid Al-Huda dan Masjid Al-Iman. Masjid Al-Huda letaknya tepat ditengah Dusun Pandanderek. Dalam komplek masjid itu terdapat perempatan pusat, cakruk (poskamling), madrasah, warung dan rumah sesepuh. Berikut adalah gambar saat renovasi cakruk (poskamling) didepan masjid Al-Huda:

Sedangkan masjid Al-Iman berada di Jalan Nasional 3 (Ponorogo Trenggalek) berpapasan dengan jalan utama menuju Desa Ngabar Kecamatan Siman. Dalam komplek masjid Al-Iman terdapat rumah sesepuh, warung, cakruk (poskamling). Letak dari dua masjid ini menjadi sentral atas kegiatan masyarakat terutama terkait ibadah, sosial serta pusat informasi. Hal senada dengan masjid-masjid agung dikota-kota besar terutama masjid kuno di wilayah permulaan penyebaran agama islam.

Dengan menelusuri kembali sejarah terdekat dengan kita serta mengambil pola-pola kearifan para pendahulu maka kemungkinan terjadinya konflik dalam menyampaikan dakwah bisa diredupkan. Dengan begitu tidak akan mudah menyalahkan orang lain dan lebih mengutamakan penyelesaian secara seksama dengan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga peran manusia sebagai khalifah kongkrit menjadi rahmat bagi semesta raya.

Sebagai penutup penulis mengutip dua ayat yakni Tafsir Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Ibrahim ayat 4 dari karya KH Bisri Mustofa dalam kitab Tafsir Al-Ibriz

Siro Muhammad ngajak-ngajako marang agamane Pengeran iro kelawan hikmah lan pitutur kang bagus. Lan ladenono bantahe wong-wong kang podo bantah sarana coro kang bagus. Saktemene Pengeran iro iku pirso marang wong-wong kang sasar sangking dalan-dalane Allah. Lan pirso marang wong-wong kang oleh pituduh

Ingsun Allah ora ngutus utusan kejobo kelawan nganggo bahasane bongsone supoyo utusan mau biso ngertekake marang bongsone. (Bejo-bejone kang oleh pituduh, cilakane kang sasar). Allah ta’ala kuoso gawe sasar marang sopo bae kang dikersakake. Lan kuoso nuduhake marang sopo bae kang dikersakake. Allah ta’ala iku dzat kang menang tur wicaksono

Sekiranya tak bisa diwariskan secara eksistensi, setidaknya literasi cukup untuk menjadi saksi agar generasi kedepan tak terombang-ambing karena gengsi menyoal identitas tanpa mengetahui jati diri.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved