Connect with us

Hikmah

Ini Tips Memilih Teman dari Ibnu Athaillah as-Sakabdary

Published

on


Manusia adalah makhluk sosial, artinya tidak bisa hidup dalam kesendirian, tentu membutuhkan kawan untuk berbagi dan saling berinteraksi. Dengan bergaul manusia akan bangkit rasa solidaritasnya. Oleh karenanya memilih teman itu juga tidak boleh asal-asalan. Sebab pengaruh teman itu sangat mendominasi terhadap pembentukan karakter manusia.

Jika kita bergaul dengan orang alim maka ada kemungkinan kita akan terpengaruh dengan kealimannya. Begitu juga jika kita bergaul dengan orang bodoh dan rusak maka juga tidak menutup kemungkinan kita akan menjadi bodoh dan rusak.

Lalu siapakah teman yang baik itu? Ibnu ‘Athaillah memberikan terapi kepada kita, bahwa teman yang baik itu adalah teman yang memiliki akhlak yang baik sekalipun orangnya bodoh. Dan pergaulan yang jelek adalah bergaul dengan orang pandai, tetapi aklaknya buruk dan hanya menuruti hawa nafsu.

Ibnu ‘Atha’illah berkata:

وَلَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ اَنْ تَصْحَبَ عَالمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ.

“Engkau bersahabat dengan orang bodoh tetapi tidak mengikuti hawa nafsunya, lebih baik bagi kamu daripada bersahabat dengan orang alim, tetapi gemar mengikuti hawa nafsunya. Tak mungkin ilmu itu dimiliki orang alim, apabila ia menuruti hawa nafsunya, dan orang bodoh bukanlah bodoh jika tidak menuruti nafsunya.”

Berdasarkan penjelasan Ibnu ‘Athaillah di atas, bisa difahami bahwa kualitas teman bergaul itu ditentukan oleh akhlaknya bukan kepandainya.  Terkadang orang berilmu ada yang terjerumus ke dalam lembah hawa nafsu dan kemaksiatan, karena ilmunya tidak mampu mengeluarkan dirinya dari jebakan nafsu. Sehingga kebodohan terkadang malah bisa menyelamatkan dari hawa nafsu. Orang berilmu merasa mampu dan sombong dengan ilmunya, padahal ia terjebak dengan hawa nafsunya. 

Memilih kawan itu sangat menentukan sifat dan akhlak. Bila teman kita saleh maka kita akan mendapat kesalehan. Begitu sebaliknya, bila teman kita buruk maka kita akan mendapat keburukan. Maka carilah teman bergaul yang bisa membangkitkan semangat kita untukbuntuk  Ibnu ‘Atha’illah berkata:

لَاتَصْحَبْ مَنْ لَا يَنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ, رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيْئًا فَأَرَاكَ اْلاِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ مَنْ هُوَ اَسْوَأُ حَالًا مِنْكَ

“Janganlah kalian bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan semangat ibadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati Allah Swt. Apabila kalian berbuat salah, ia mengatakan bahwa itu adalah kebaikan, sebab kalian bersahabat dengan orang yang perilakunya lebih jelek dari kalian sendiri.”

Penjelasan Ibnu ‘Athaillah ini dapat dipahami bahwa sahabat yang baik adalah sahabat yang bisa memberikan motivasi dan semangat ibadah, bukan sahabat yang membiarkan kita dalam kemaksiatan. Sahabat yang baik adalah yang mengingatkan ketika kita salah. Sahabat yang baik adalah yang sahabat yang tidak rela kita terjerumus dalam kezaliman. Sahabat yang baik adalah yang mengajak kita senantiasa taqarrub ilallah

Ibnu ‘Ajibah (w. 1266 H) ketika menjelaskan kalam hikmah ini, beliau mengatakan, “Sahabat yang baik adalah orang yang ketika kamu melihatnya, bisa mengingatkan kamu kepada Allah SWT. Jika kamu adalah orang yang ghoflah (lalai kepada Allah), begitu melihatnya kamu langsung bebas dari kelalaian. Jika kamu dalam keadaan rughbah (cintah Allah), begitu melihatnya kamu menjadi zuhud. Jika kamu sibuk maksiat, begitu melihatnya kamu termotivasi untuk segera taubat. Atau jika kamu belum mengetahui Tuhanmu, begitu melihatnya kamu sekwtika mengetahui Tuhanmu. Dan seterusnya.” 

Kesimpulannya, karakter kita bisa terbentuk oleh teman kita. Pengaruh teman memang luar biasa. Oleh karenanya selektif dalam berteman akan memperbaiki jiwa kita. (AN)

Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hikmah

Kisah Penghuni Alam Barzah yang Hidup Kembali karena Dikirimi Amalan Terbaik

Published

on

By


Ini kisah tentang penghuni alam barzah yang memberikan amalan terbaik bagi mereka yang masih hidup. Cerita ini diambil dari Imam al Zindusti tatkala mengikuti pengajian dari Abu Muhammad bin Abdillah Al Fadhal.

Dalam pengajian itu dikisahkan bahwa Maisarah bin Khunais suatu saat berjalan dan menemukan sebuah pekuburan. Ia kemudian mengucap, “Asalamualaikum, ya ahlal kubur. Kalian semua bagi kami telah dahulu, sedang bagi kalian kami masih tertinggal. Semoga Allah Ta’ala mengasihi kami dan kamu serta mengampuni dosa yang kita perbuat. Semoga Allah Taala memberkati perjalanan yang kalian tempuh.”

Sehabis berkata seperti itu, ada kejadian aneh muncul. Tiba-tiba Allah memberikan kembali ruh kepada salah satu penghuni alam barzah yang ada di pekuburan tersebut. Maka ia pun menjawab salam yang disampaikan Maisarah tadi.

“ Sungguh bahagia kalian penghuni dunia, yang sempat menunaikan haji empat kali sebulan,” katanya.

Kata-kata itu membuat Maisarah bingung dan kemudian bertanya, “Lho, bagaimana mungkin kami melakukan haji empat kali dalam sebulan? Semoga Allah melimpahkan rahmat buatmu.”

“ Jumat,” jawab penghuni alam barzah singkat. Lalu ia berkata lagi, “Tiada tahukah kalian bahwa ibadah Jumat adalah amal haji yang mabrur.”

Kemudian Maisarah bertanya lagi, “Apakah amalan yang paling bermanfaat di akhirat?”

“Istighfar, wahai penghuni dunia. Istighfar adalah perbuatan paling bermanfaat di akhirat,” katanya.

“Sampaikah salam kami kepadamu,” tanya Maisarah.

“Salam adalah perbuatan baik. Bagi kami yang telah mati, perbuatan baik telah lewat. Tidak ada kebajikan lagi yang menambah amalan kami. Tidak ada dosa lagi setelah kami mati. Namun sungguh kami akan sangat bahagia jika kalian mengucapkan kepada kami, ‘Semoga Allah menyayangi hambanya yang sudah mati.”

Itulah kisah tentang Maisarah yang bertemu dengan penghuni alam barzah. Kisah ini disadur dari kita Usfuriah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfury. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Ternyata membaca istighfar adalah sebuah amalan yang sangat bermanfaat di akhirat kelak. (AN)

Wallahu A’lam bi showab.

 



Sumber Berita

Continue Reading

Hikmah

Kenapa Hanya Nabi Ibrahim yang Disebut dalam Bacaan Shalawat Tasyahud Akhir?

Published

on

By


Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad. Hal ini sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam surat al-Ahdzab ayat 56, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Shalawat boleh dibaca kapanpun, tapi dalam shalat, shalawat wajib dibaca pada tasyahud akhir, karena bagian dari rukun shalat. Minimal shalawat yang dibaca adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ali sayyidina muhammad

Kalau mau lebih baik, diutamakan membaca shalawat ibrahimiyah. Redaksinya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيمَ، وبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyidina muhammad, kama shallaita ‘ala sayyidina ibrahima wa ‘ala ali sayyidina ibrahim wa barik ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyidina muhammad, kama barakta ‘ala sayyidina ibrahima wa ‘ala ali sayyidina ibrahim fil ‘alamina innaka hamidum majid.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa dalam shalawat itu hanya Nabi Ibrahim yang disebut, tidak Nabi yang lain. Badruddin ‘Aini, dalam karya syarahnya terhadap Sunan Abi Dawud menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa dalam shalawat itu disebut Nabi Ibrahim, di antara penjelasannya adalah karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah isra’ mi’raj, satu-satunya Nabi yang menitipkan salam kepada umat Nabi Muhammad adalah Nabi Ibrahim, karenanya kita sebagai umat Islam diharuskan Rasulullah untuk bershalawat dan menyampaikan salam kepada Nabi Ibrahim.

Kemudian, ada juga penjelasan dari riwayat lain, yang menjelaskan bahwa ketika Nabi Ibrahim membangun ka’bah beliau berdoa, dalam doa itu beliau mendoakan umat Nabi Muhammad diberi keselamatan dan keamanan. Doanya Nabi Ibrahim, “Allahumma man hajja hadzal bait min ummati Muhammad fahabhu minni salam (Ya Allah siapa dari umat Nabi Muhammad yang melakukan haji, sampaikan salamku kepadanya). Karena Nabi Ibrahim memberi salam kepada umat Nabi Muhammad, maka Nabi menganjurkan umat Islam untuk bershalawat kepada Nabi Ibrahim.



Sumber Berita

Continue Reading

Hikmah

Nyamuk yang Membuat Ibrahim al Khawash Menjerit

Published

on

By

SufiNews.com


Ibrahim al Khawash dikenal sebagai ulama ahli tasawuf yang menjadi rujukan dan panutan ulama setelahnya. Beliau hidup sezaman dengan Junaid dan Imam An Nuri. Banyak hikmah kisah tentang ulama yang dijuluki imamnya orang yang bertawakal. Salah satunya kisah nyamuk yang membuat Ibrahim al Khawash menjerit.

Dikisahkan pada suatu Syekh Ibrahim al Khawash bepergian bersama dengan temannya bernama Hamid al Aswad. Dalam perjalanan tersebut, keduanya sempat menginap satu malam di sebuah desa. Saat tengah malam tiba, segerombolan hewan buas mendatangi Syekh Ibrahim dan kawannya itu.

Karena takut, Hamid al Aswad akhirnya naik ke pohon menghindari serangan binatang tersebut. Sedangkan Syekh Ibrahim al Khawash nampak tenang-tenang saja. Sepertinya beliau tidak terpengaruh oleh segerombolan binatang buas yang mengerumuninya itu. Syekh Ibrahim malah tampak merebahkan tubuhnya dengan santai. Syekh Ibrahim kemudian tertidur dan binatang buas itu hanya bisa mencium dan menjilati tubuhnya.

Pagi pun datang. Hamid Aswad keheranan dengan apa yang dilihatnya semalam. Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga sapi ke sebuah masjid. Mereka berdua istirahat sejenak. Tiba-tiba Syekh Ibrahim menjerit dengan keras. Setelah ditelusuri ternyata beliau digigit nyamuk. Tentu kejadian ini membuat Aswad geleng kepala keheranan.

“Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa hanya digigit nyamuk engkau menjerit? Sedangkan semalam engkau dikerumuni binatang buas tidak merasa takut sedikitpun,” tanya Aswad.

“Aku tidak takut dengan kerumunan binatang buas yang mengerumuniku karena Aku bersama Allah SWT. Sedangkan aku digigit nyamuk kemudian menjerit karena aku bersama diriku sendiri,”jawabnya. Mendengar jawaban itu Aswad hanya terdiam dan merenungkan apa disampaikan Syekh Ibrahim.

Itulah kisah nyamuk yang membuat Ibrahim al Khawash menjerit. Ibrahim Al-Khawwas termasuk yang masyhur tingkat kewaliannya.Beliau wafat sekitar tahun (291 H) (Nurul Huda/ dari berbagai sumber)



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved