Ini Doa Abu Hanifah yang Selalu Diulang-ulang Saat Sholat Malam - Bagyanews.com
Connect with us

Kalam

Ini Doa Abu Hanifah yang Selalu Diulang-ulang Saat Sholat Malam

Published

on



loading…

Nu’man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah dikenal sangat rajin beribadah. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa tatkala salat malam secara berulang-ulang Abu Hanifah membaca membaca firman Allah Ta’ala:

“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pasti,” ( Al-Qamar: 46 ).

Baca juga: Dia Tabiin yang Tak Pernah Tidur Malam, Ini Penyebabnya

Beliau menangis karena takut kepada Allah dengan tangisan yang menyayat hati.

Telah diketahui banyak orang selama lebih dari empat puluh tahun beliau melakukan salat fajar dengan wudhu salat isya’. Hingga akhir wafat beliau pernah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 7000 kali.

Setiap kali beliau membaca surat Al-Zalzalah, gemetar jasadnya, beretar hatinya. Dengan memegang jenggotnya, beliau berkata, “Wahai yang membalas sebesar dzarrah kebaikan dengan kebaikan dan sebesar dzarrah keburukan dengan keburukan, selamatkanlah hamba-Mu Nu’man dari api neraka dan jauhkan ia dari apa-apa yang bisa mendekatkan dengan neraka, masukkanlah ia ke dalam luasnya rahmat-Mu, ya Arhamarrahimin.

Baca juga: Kisah Imam Syafi’i Ngalap Berkah di Kuburan Imam Abu Hanifah

Bukti Kepandaiannya
Suatu ketika Abu Hanifah menjumpai Imam Malik yang tengah duduk bersama beberapa sahabatnya. Setelah Abu Hanifah keluar, Imam Malik menoleh kepada mereka dan berkata, “Tahukah kalian, siapa dia?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Beliau berkata, “Dialah Nu’man bin Tsabit, yang seandainya berkata bahwa tiang masjid itu emas, niscaya perkataannya menjadi dipakai orang sebagai argumen.”

Tidaklah dikatakan berlebihan apa yang dikatakan Imam Malik dalam menggambarkan diri Abu Hanifah, sebab beliau memang memiliki kekuatan dalam berhujjah, cepat daya tangkapnya, cerdas, dan tajam wawasannya.

Buku sejarah dan kisah sangat banyak menggambarkan kekuatan argumentasinya dalam menghadapi lawan bicaranya ketika adu argumen, begitu pula ketika menghadapi penentang akidah.

Semuanya membuktikan kebenaran pujian Imam Malik: “Seandainya dia mengatakan bahwa tanah di tanganmu itu emas, maka engkau akan membenarkannya karena alasannya yang tepat dan mengikuti pernyataannya.”

Bagaimana pula jika yang dipertahankan adalah kebenaran, dan adu argumentasi untuk membela kebenaran?”

Sebagai bukti, ada seorang laki-laki dari Kufah yang disesatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia termasuk orang terpandang dan didengar omongannya. Laki-laki itu menuduh di hadapan orang-orang bahwa Utsman bin Affan asalnya adalah Yahudi, lalu menganut Yahudi lagi setelah Islamnya.

Demi mendengar berita tersebut, Abu Hanifah bergegas menjumpainya dan berkata, “Aku datang kepadamu untuk meminang putrimu yang bernama fulanah untuk seorang sahabatku.”

Baca juga: Imam Syafi’i, Meramu Pendapat Fikih Imam Malik dan Imam Abu Hanifah

Dia berkata, “Selamat atas kedatangan Anda. Orang seperti Anda tidak layak ditolak keperluannya wahai Abu Hanifah. Akan tetapi, siapakah peminang itu?”

Beliau menjawab, “Seorang yang terkemuka dan terhitung kaya di tengah kaumnya, dermawan dan ringan tangan, hafal Kitabullah, menghabiskan malam dengan satu rukuk dan sering menangis karena takwa dan takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Laki-laki itu berkata, “Wah.. wah.., cukup wahai Abu Hanifah, sebagian saja dari yang Anda sebutkan itu sudah cukup baginya untuk meminang seorang putri Amirul Mukminin.”

Abu Hanifah berkata, “Hanya saja ada satu hal yang perlu Anda pertimbangkan.”

Dia bertanya, “Apakah itu?”

Abu Hanifah berkata, “Dia seorang Yahudi.”

Mendengar hal itu, orang itu terperanjat dan bertanya-tanya: “Yahudi?! Apakah Anda ingin saya menikahkan putri saya dengan seorang Yahudi wahai Abu Hanifah? Demi Allah aku tidak akan menikahkan putriku dengannya, walaupun dia memiliki segalanya dari yang awal sampai yang akhir.”

Lalu Abu Hanifah berkata, “Engkau menolak menikahkan putrimu dengan seorang Yahudi dan engkau mengingkarinya dengan keras, tapi kau sebarkan berita kepada orang-orang bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan kedua putrinya dengan Yahudi (yakni Utsman)?”

Seketika orang itu gemetaran tubuhnya lalu berkata, “Astaghfirullah, Aku memohon ampun kepada Allah atas kata-kata buruk yang aku ucapkan. Aku bertaubat dari tuduhan busuk yang saya lontarkan.” (Bersambung)

(mhy)



Berita Selengkapnya

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalam

Mengenal Tugas Lain Malaikat Jibril

Published

on

By



loading…

Tugas Malaikat Jibril yang kita ketahui adalah menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Namun timbul pertanyaan, setelah Baginda Rasul wafat, apakah tugas Malaikat Jibril selesai pula?

Dan ternyata, masih ada tugas-tugas lain yang dilaksanakan Malaikat Jibril ini terkait kehidupan manusia di bumi. Apa saja tugasnya? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut tugas-tugas lain daru Malaikat Jibril yang perlu kita ketahui, antara lain:

Baca juga: Jibril Malaikat Paling Mulia, Pakaiannya Sutera, Berhiaskan Permata dan Intan

1. Menjadi pemimpin para malaikat untuk turun ke bumi.

Tugas ini dilakukan setidaknya satu tahun sekali., yakni pada malam Lailatul Qadr di bulan Ramadhan. Pada malam yang mulia tersebut, para malaikat turun ke bumi untuk memberi keselamatan dan keberkahan.

2. Memenuhi dan menahan hajat orang yang berdoa

Hal ini sebagaimana riwayat Imam Al-Baihaqi dari Tsabit, dia berkata,

“Telah sampai kepadaku bahwa Allah Swt mendelegasikan Malaikat Jibril dalam urusan memenuhi hajat hidup manusia. Apabila seorang mukmin berdoa, maka Allah pun berkata kepada Jibril; Wahai Jibril, tahan dulu untuk memenuhi hajatnya karena Aku sungguh sangat senang mendengar lantunan doanya. Apabila orang kafir berdoa, Allah pun berkata kepadanya; Wahai Jibril, penuhi apa yang menjadi hajatnya karena sesungguhnya Aku tidak suka mendengar lantunan doanya.”

3. Mendampingi orang yang sakaratul maut dalam keadaan suci

Saat seseorang mengalami sakaratul maut dan orang tersebut dalam keadaan suci, malaikat Jibril turun ke sisi orang tersebut. Dia kemudian membawa tugas dari Allah untuk membawa rahmat dan kemudahan bagi orang yang sedang sekarat tersebut.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diajarkan Kepada Anak

Hal ini juga ditegaskan oleh Syekh Nawawi dalam kitab Nuruzh Zhalam. Dia menjelaskan,

“Imam Jalaluddin Al-Suyuthi berkata bahwa Malaikat Jibril menghadiri kematian seseorang yang meninggal dalam keadaan punya wudhu.”

4. Mengurus angin

Semua urusan yang berkaitan dengan angin, maka semuanya dikendalikan oleh Malaikat Jibril. Ini sebagaimana riwayat Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syuabul Iman berikut,

“Empat Malaikat yang mengurusi urusan dunia yaitu Jibril, Mikail, Malaikat Maut, dan Israfil. Jibril diserahi untuk mengatur angin dan para tentara (malaikat). Mikail diserahi untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan. Malaikat Maut diserahi untuk mencabut nyawa, sedangkan Israfil diserahi tugas menyampaikan perintah kepada mereka.”

Itulah beberapa tugas malaikat Jibril selain menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini membuktikan bahwa Malaikat Jibril saat ini tidak menganggur. Ia masih memiliki tugas yang perlu diembannya sampai dengan hari kiamat nanti walaupun Nabi Muhammad Shalllallahu alaihi wa sallam sudah wafat.

Baca juga: Bolehkah Membaca Al-Kahfi Dicicil?

Wallahu A’lam

(wid)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Surga yang Warnanya Hijau Tua

Published

on

By


loading…

Ustaz Mukhlis Mukti Al Mughni
Yayasan Pustaka Afaf,
Lulusan Al-Azhar Mesir

Surat Ar-Rahman dijuluki sebagai pengantinnya Al-Qur’an. Surat ini bercerita tentang aneka nikmat Allah yang wajib kita syukuri.

Di dalam Surat Ar-Rahman, Allah mengingatkan manusia dengan ayat yang diulang-ulang sebanyak 31 kali: “Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzibaan” (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?).

Berikut lanjutkan Tadabur Ar-Rahman Ayat 63-70. Allah mengabarkan tentang nikmat surga dan keindahannya. Ganjaran surga ini diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa dan beramal saleh ketika di dunia.

Ayat 63:

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۙ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 63)

Ayat 64:

مُدْهَاۤمَّتٰنِۚ

“Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.” (Ar-Rahman: 64)

Pesan dan Hikmah:
1. Gambaran dua surga lainnya adalah terlihat hijau tua. Yang tentunya sedap dipandang mata dan menentramkan jiwa.

Ayat 65:

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 65)

Ayat 66:

فِيْهِمَا عَيْنٰنِ نَضَّاخَتٰنِۚ

“Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar.” (Ar-Rahman: 66)

Pesan dan Hikmah:
1. Beda dengan dua surga sebelumnya yang mata airnya mengalir. Di dua surga lainnya ini disebutkan mata air yang terus memancar namun tidak mengalir.

Ayat 67:

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 67)

Ayat 68:

فِيْهِمَا فَاكِهَةٌ وَّنَخْلٌ وَّرُمَّانٌۚ

“Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.” (Ar-Rahman: 68)

Pesan dan Hikmah:
1. Disebutkan dua nama buah tersebut menunjukkan keistimewaan, manfaat juga khasiat dari buah tersebut.

Ayat 69:

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 69)

Ayat 70:

فِيْهِنَّ خَيْرٰتٌ حِسَانٌۚ

“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahman: 70)

Pesan dan Hikmah:
1. Dalam dua surga lainnya diberikan pula layanan bidadari yang berkahlak baik dan cantik jelita.

Menurut Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H, selain dari surga itu ada dua surga lagi yang terbuat dari perak, yakni bentuk bangunan, perhiasan, bejana-bejana dan dan apa yang ada pada keduanya yang diperuntukkan bagi golongan kanan. Kedua surga tersebut (kelihatan) hijau tua warnanya. Keduanya berwarna hijau pekat karena sangat hijau dan subur.

Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar yakni memancur. Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dari berbagai macam jenis buah-buahan, khususnya kurma dan delima yang memiliki sangat banyak manfaat dan kegunaannya.

Wallahu A’lam

Baca Juga: Tadabur Ar-Rahman Ayat 47-50: Gambaran Surga dan Keindahannya

(rhs)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

5 Hal yang Perlu Diajarkan Kepada Anak

Published

on

By



loading…

Kewajiban paling utama dalam mendidik anak adalah mengenalkan Allah Ta’ala kepada mereka. Ini agar si anak mencintai Allah Ta’ala, tuhan semesta alam. Harus ditanamkan pada diri si anak bahwa Allah Ta’ala yang menciptakan dirinya dan seluruh alam semesta.

Wajib juga kepada si anak dijarkan untuk mengenal dan mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kenalkan si anak kepada Allah dan rasulNya dengan cara-cara yang baik dan sabar.

Baca juga: Pentingnya Mendidik Anak Berorientasi Akhirat

Dengan mengenal Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka si anak mengenal dan memahami syariat Islam secara benar untuk diamalkan. Maka, wajib diajarkan tauhid kepada si anak, yaitu bagaimana menanamkan dalam hati bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya tiha. Jauhkan serta laranglah anak dari berbuat syirik.

Ini sebagaimanan nasihat Luqman kepada anaknya, :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau memperskutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13).

Ulama menuntun untuk mengajarkan lima hal kepada anak anak kita, yaitu:

1. Mengenalkan nama-nama Allah Ta’ala yang Maha Agung.

2. Mengucap salam saat masuk rumah.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jika masuk rumah, maka salamlah, menjadi berkah bagimu dan ahlul baitmu.
HR Tarmidzi, hasan.

Baca juga: Bolehkah Membaca Al-Kahfi Dicicil?

3. Mengajarkan Surat Al-Fatihah

Karena akan dia baca tiap hari berkali-kali, maka pahalanya mengalir terus.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Al-Fatihah adalah surat teragung yang diberikan padaku.” (HR Bukhari).

4. Mengajarkan cara shalat yang sesuai sunnah.

Karena ia shalat tiap hari maka pahala mengalir terus. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Ajarilah anak shalat di usia 7 tahun.” (HR Tarmidzi).

5. Ajarkan tiga wirid sebelum tidur.



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved