Connect with us

Budaya

Filosofi Qing Ming, Nyadran dalam Tradisi Tionghoa

Published

on


Tidak hanya kelompok Islam tradisional, etnis Tionghoa juga memiliki ritual nyadran. Nyadran dalam tradisi Tionghoa mengacu pada ritual Qing Ming atau Cheng Beng dalam dialek Hokkian. Mirip dengan nyadran ala umat Islam tradisional, dalam Qing Ming komunitas Tionghoa melakukan ziarah ke makam leluhur bersama-sama. Jika nyadran biasanya dilakukan pada akhir bulan Ruwah atau Sya’ban menjelang datangnya bulan Ramadan menurut kalender hijriah, Qing Ming dilakukan secara serentak setiap tahun pada hari pertama masa matahari kelima dalam kalender Cina atau saat dimulainya musim semi. Tahun ini, Qing Ming jatuh pada 5 April.

Qing Ming menjadi salah satu ritual penting bahkan hari libur nasional di beberapa negara seperti Tiongkok, Taiwan, Hongkong, dan Makau. Selain berziarah dan membersihkan makam, saat Qing Ming, komunitas Tionghoa juga mendoakan leluhur mereka dan memberikan persembahan. Persembahan biasanya mencakup hidangan makanan tradisional, pembakaran dupa dan kertas sembahyang .

Menurut Scott (2007), untuk makanan, keluarga biasanya menyiapkan daging babi panggang, ayam, kue, tiga cangkir teh, dan tiga cangkir anggur. Di makam, makanan-makanan tersebut dipersembahkan terlebih dahulu kepada leluhur baru kemudian dikonsumsi oleh keluarga di tempat. Selain itu, pihak keluarga juga menyediakan uang tiruan dan replika benda-benda seperti rumah, furnitur, kendaraan, bahkan pembantu dan lain-lain.

Uang tiruan dan replika tersebut akan yang dikirim kepada arwah dengan cara dibakar. Hal ini sejalan dengan konsep persembahan dalam Qing Ming yaitu pemindahan makanan, uang, dan barang, dari yang hidup ke yang mati. Sebagai sebuah ritual Qing Ming mengandung semesta filosofi dari tradisi Tionghoa yang menarik untuk dicermati.

Jiwa (soul) menjadi filosofi penting yang mendasari tradisi Qing Ming. Sebagaimana ditulis Berling (1992), sejak zaman kuno orang Tionghoa memiliki gagasan tentang dua jiwa: (1) hun (hun soul), yang bersemayam di papan nama leluhur (ancestral tablet) untuk menerima penghormatan dari keturunan, namun sesungguhnya berada atau dikembalikan ke surga; dan (2) p’o (p’o soul), yang seiring dengan kematian dan pembusukan jasadnya dikembalikan ke bumi. Jiwa yang kedua ini bersemayam di makam, dan apabila dibuat marah, diganggu, atau dianiaya, bisa menjadi hantu, setan, atau wujud yang lain.

Mayoritas orang Tionghoa merasa memiliki kewajiban moral dan agama yang kuat untuk menjaga kontak pribadi dengan leluhur. Tidak saja melalui papan nama leluhur, tetapi juga dengan menjaga kehadiran di kuburan atau menziarahi jiwa p’o. Banyak di antara mereka yang percaya bahwa kepuasan dan kebahagiaan jiwa-jiwa leluhur di dalam makam sangat penting untuk keberhasilan keluarga: kesuburan tanah mereka, kelahiran anak yang sehat, kesejahteraan ternak mereka, keberhasilan usaha besar, dan lain lain. Sehingga, Qing Ming diyakini tidak saja berfungsi memberi penghormatan kepada leluhur tetapi juga dapat memberi timbal balik secara tidak langsung kepada keluarga yang masih hidup.

Surga dan Neraka

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Filosofi penting berikutnya adalah tentang surga dan neraka. Menurut Scott (2007), dalam tradisi Tionghoa, batas antara kehidupan dan kematian relatif tipis. Kehidupan setelah kematian diartikan tak ubahnya bagai kehidupan di dunia. Oleh karena itu, isu terpenting dalam kehidupan baik di dunia maupun di akhirat pada dasarnya sama: kesehatan dan kesejahteraan. Bagaimana mereka memastikan dan mempertahankan vitalitas dalam kehidupan ini dan seterusnya.

Berling (1992) menyebutkan bahwa setelah akulturasi Buddha dengan Tao dan agama rakyat (folk religion) dalam tradisi Tiongkok, surga dan neraka dipandang sebagai dunia nyata di alam roh. Surga dibayangkan sebagai birokrasi yang mirip dengan birokrasi kekaisaran di bumi. Surga, seperti istana kekaisaran, mengawasi aktivitas manusia di bumi, dan bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban. Doa manusia memohon bantuan seringkali dalam bentuk permohonan resmi kepada para tentara surga.

Ketika seseorang meninggal, ia akan menghadapi awal perjalanan yang akan menentukan perannya di dunia akhir. Oleh karena itu para kerabat yang hidup menyediakan semua fasilitas untuk menyokong kebutuhan di dunia yang lain itu: makanan, uang, rumah, kendaraan dalam bentuk replika dari kertas yang dikirimkan dengan cara dibakar. Meski terbuat dari kertas replika namun benda-benda tersebut dipercaya punya arti penting di akhirat.

Menurut catatan sejarah, pada zaman dahulu beberapa penguasa Tiongkok bahkan dimakamkan bersama kuda, pembantu, dan harta bendanya. Penggunaan replika kertas mulai muncul pada masa Dinasti Song (960-1279).

Tatanan sosial atau li, adalah konsep inti yang ditekankan oleh Konfusius. Untuk menjalin hubungan yang baik antar manusia, setiap orang memiliki peran masing-masing yang telah diatur.

Jika setiap orang dapat mematuhi li atau aturan perilaku tersebut dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan statusnya, maka akan tercipta harmoni dalam masyarakat. Konfusius, sebagaimana disitir Liu (2004) berkata, “Jika ayah adalah ayah, anak laki-laki adalah anak laki-laki, kakak laki-laki adalah kakak laki-laki, suami adalah suami, dan istri adalah istri, maka keluarga dalam keadaan yang benar. Saat semua keluarga berada dalam urutan yang benar, semua akan baik-baik saja dengan dunia.” Qing Ming menjadi ritual penting sebagai bagian dari li, untuk menciptakan tatanan sosial yang harmonis termasuk dalam keluarga atau garis keturunan.

 



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Tradisi Ramadan di Gresik Cermin Perkembangan Islam Diterima Masyarakat

Published

on

By



Sejarawan yang juga Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (PP Lesbumi NU), KH Agus Sunyoto, mengatakan dalam bulan Ramadhan di Indonesia dikenal dengan banyak tradisi yang sifatnya berlatar keagamaan yang dimulai pada 21 Ramadan.

Sebelum tanggal tersebut, hampir tidak ada kemeriahan Ramadhan yang bersifat tradisi. “Tetapi ketika mencapai tanggal 21, sudah mulai bermunculan tradisi yang dilakukan sejak zaman Walisongo. Contoh tradisi di Gresik ada malam selikur atau malam ke-21. Orang-orang bikin lampion-lampoion atau damar kurung sepanjang jalan ke makam Sunan Giri,” katanya saat mengisi Pesantren Ramadhan yang digelar virtual oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Kamis (15/4).

Kiai Agus mengatakan, orang biasanya mengenal lampion-lampion sebagai bagian dari tradisi bangsa Tiongkok. Adanya pemasangan lampion ini bukan saja untuk kegiatan ziarah. Tetapi, juga saat khataman Al-Qur’an dan lainnya. Karena, sejak zaman dulu dilakukan bangsa Tiongkok yang beragama Islam.

Selain itu, kata dia, pada malam ke-23 ada tradisi kolak ayam. Ayam dimasak dengan santan, kemudian dicampur dengan daun bawang dan gula merah. Setelah itu, masakan dibagikan. Penyelenggara meminta santri untuk membagikan, kadang jumlahnya mencapai 2000 untuk berbuka puasa.

Ada lagi pada malam ke-25 atau selawe, yakni tradisi di daerah Giri. Tradisi ini dimulai untuk menghormati Raden Ali Murtadho, kakak dari Sunan Ampel. Saat pelaksanaan tradisi ini, orang beramai-ramai datang. Sampai tiba puncaknya ada peringatan pasar bandeng. Peringatan ini seperti lomba siapa yang bisa menyajikan bandeng yang terbesar, akan keluar sebagai pemenang.

Hasil dari pemeliharaan bandeng yang mencapai berat 12-15 kilogram itu dilelang. Orang berebut untuk membeli bandeng terbesar, sebagai penghargaan dengan membeli harga yang sangat tinggi. “Ini ada kaitannya dengan produk mayoritas di Gresik itu petambak,” kata penulis Atlas Walisongo ini.

Dia menceritakan, peringatan itu terjadi kerena adanya rangkaian pengembangan Islam di Giri. Berdasarkan Babad Gresik, pada saat Sunan Giri kedua yakni Zaenal Abidin atau Sunan Dalem menggantikan ayahnya, Giri diserang Adipati Raden Pramana, dengan membawa ribuan pasukan bergerak dari pedalaman ke Gresik untuk menyerang Giri. Semua penduduk melarikan diri karena ketakutan. Namun ada pasukan yang membela Sunan Giri, jumlahnya 40-an, dipimpin Panjilaras dan Panjiliris. Keempatpuluh orang itu adalah orang-orang China Muslim yang bersenjatakan bedil. Mereka menghadang pasukan Sengguru di daerah Lamongan.

“Tetapi mereka tetap kalah jumlah kemudian mundur lalu mengungsikan Sunan Giri 2 ke pedalaman, daerah Kidang Palih. Merasakan bahwa desa tersebut kehadiran Sunan Giri, penduduk dengan seadanya memberikan sambutan hidangan yang bisa dimakan oleh Sunan Giri dan pengawal-pengawalnya. Mereka rata-rata membawa ayam dan kemudian gula Jawa dan kelapa kemudian yang dimasak menjadi kolak ayam,” tutur Kiai Agus Sunyoto.

Tradisi yang dilakukan pada 23 Ramadan setiap tahun ini tidak banyak diketahui, sebagai salah satu tradisi islamisasi, betapa dulu menyebarkan Islam tidakla mudah. Demikian juga peringtan malam ke-25 Ramadan, sejatinya untuk memperingati Raden Ali Murtadho, seorang pejabat pertama Majapahit yang keduduknnya sebagai raja Pandita, atau hakim tinggi merangkap urusan Islam.

“Ini tradisi yang menandakan Islam masuk di Indonesia kemudian diterima masyarakat,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Kiai Agus Sunyoto mengatakan puasa Ramadhan adalah kesempatan bagi umat Islam untuk berjuang meraih Adam makrifat tepat saat tibanya Hari Raya Idul Fitri. Hal itu didasarkan pada puasa Ramadhan yang biasa dilakukan pelaku tasawuf.

Sejak awal puasa Ramadan, para ahli tasawuf sudah sudah menetapkan puasa mengikuti sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni saat berbuka cukup dengan tiga biji kurma dan segelas air.

Namun tidak semua orang berhasil meraih Adam makrifat terlebih masyarakat sekarang yang untuk berbuka puasa menyiapkan berbagai makanan bahkan saat acara buka bersama.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Agus Sunyoto: Puasa Ramadan Sarana Mencapai Adam Makrifat

Published

on

By



Sejarawan Agus Sunyoto mengatakan puasa Ramadhan adalah kesempatan bagi umat Islam untuk berjuang meraih Adam makrifat tepat saat tibanya Hari Raya Idul Fitri. Hal itu didasarkan pada puasa Ramadan yang biasa dilakukan pelaku tasawuf. Sejak awal puasa Ramadan, para ahli tasawuf sudah sudah menetapkan puasa mengikuti sunah yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni saat berbuka cukup dengan tiga biji kurma dan segelas air.

“Para salik mengamalkan itu. Tidak di masyarakat sekarang (yang menyiapkan buka puasa) aneka macam makanan, kue-kue apa saja bahkan berlebihan, seperti balas dendam karena sehari nggak makan,” kata H Agus Sunyoto saat mengisi Pesantren Ramadan yang digelar virtual oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Kamis(15/4).

Karena memakan tiga biji kurma dan segelas air, pada hari pertama, kedua dan seterusnya, membuat orang yang berpuasa di hari ketujuh merasa lemah pada bagian kaki, bahkan seperti lumpuh terutama di bagian lutut belakang. Kemudian pada menjelang hari keempat belas, punggung merasa seperti lumpuh.

“Ketika masuk hari ke-21 kesadaran indrawi mulai lemah, karena kesadaran pancaindra dari makanan. Makin mengurangi makan, kesadaran pancaindra menurun. Dimulai malam ke-18 atau 19, orang akan seperti melihat sesuatu yang abstrak, seolah-olah itu hal yang benar, ada bayangan-bayangan kelihatannya bukan hal yang sebenarnya, seperti ilusi. Itu kondisi pancaindra kita turun masuk malam ke-20 melihat sesuatu di balik fakta-fakta yang tidak dapat ditangkap oleh matahati,” beber penulis buku Atlas Walisongo.

Karena itu, jangan heran pada malam ke-21 orang yang sudah melaksananan cara puasa Rasulullah dapat melihat yang gaib. Termasuk malam lailatul kodar, tidak dengan mata indrawi. Puncakya pelaku puasa akan mencapai Idul Fitri, kembali kepada fitah. “Kenapa disebut kembali ke fitrah, dalam tasawuf adalah manusia sebagai keturuan adam kembali ke fitrah adam yang sejati yang pertama kali diciptakan Allah, yang disebut fitrah Adam makrifat,” terangnya.

Adam makrifat, kembali pada situasi ketika Nabi Adam mampu berbicara dengan malaikat, berkomunikasi dengan Allah SWT, dan melihat alam gaib. Allah SWT memberikan perintah langsung kepada Adam, termasuk jangan mendekati pohon khuldi, karena akan menjadi orang yang terhijab.

“Ternyata karena desakan nafsu, pohon itu tidak sekadar didekati tapi dimakan oleh Adam. Sejak itu Nabi Adam jatuh langsung terhijab tidak lagi berkomunikasi dengan Allah SWT, tidak melihat alam gaib di mana ada malaikat. Adam lalu beristighar menyesali apa yang dilakukan,” kata Ketua Lesbumi PBNU. Puasa dengan meniru Rasulullah, adalah cara yang diberikan kepada keturuan Nabi Adam untuk mencapai kembali Adam makrifat, mencapai kembali kepada Allah.

“Maka berpuasa kuncinya di situ, betapa sulitnya karena desakan-desakan nafsu dunia sehingga tradisi ini hanya dilakukan segelintir pesuluk, yang lain sudah tradisi buka bersama dan makan yang enak-enak,” ujarnya. “Sekarang kita sulit menemukan orang yang berusaha mencapai itu, karena berpikirnya materialis, tertutup oleh materi,” imbuh Agus Sunyoto.

Sebelumnya Kiai Agus Sunyoto juga mengatakan dalam bulan Ramadan di Indonesia, terutama setelah hari ke-21, dikenal penuh tradisi yang sifatnya berlatar keagamaan, dan ini suduah berlangsung selama ratusan tahun. Pada awal-awal har Ramadhan, hampir tidak ada ritual yang sifatnya tradisi, karena orang lebih sibuk melakukan amaliah puasa. Tradisi yang baru muncul adalah peringatan Nuzulul Quran, tetapi ketika mencapai tanggal 21, sudah mulai bermunculan sejak zaman Walisongo. Salah satu contohnya adalah malam selikuran, atau malam ke-21. Umat Islam membuat lampion atau damar kurung yang dipasang sepanjang jalan ke makam Sunan Giri. Orang menganggap lampion adalah tradisi China. Padahal, ini tradisi warga China Islam.



Sumber Berita

Continue Reading

Budaya

Ini Penjelasan Habib Agil Munawar Tentang Ayat Kewajiban Puasa

Published

on

By



Di dalam Al-Quran, terdapat 13 kali istilah puasa dengan beragam bentuk disebutkan. Istilah tersebut ditemukan di dalam 11 ayat yang tersebar di dalam 6 surah di dalam Al-Quran. Beberapa menggunakan kata shiyam, shaum, kata kerja (fi’il) seperti wa antashumu, kalimat perintah yakni fal yashumu, dan juga menyebut pelakunya yakni ash-shoimin dan ash-shoimaat.

Di dalam surah Al-Baqarah ditemukan di beberapa ayat. Di antaranya pada ayat 183, 184, 185, 187, dan 197. Di surah An-Nisa terdapat pada ayat 92. Al-Maidah (89 dan 95), Maryam (26), dan terdapat pula dalam surah Al-Mujadilah ayat 3.

Pakar Tafsir Al-Quran Habib Said Agil Husin Al Munawar mengatakan bahwa tidak semua ayat-ayat yang disebutkan itu bercerita tentang puasa dalam bulan Ramadhan, tetapi menjelaskan tentang puasa dalam segala konteksnya.

Namun menurutnya, ayat 183 surah Al-Baqarah yang menjadi landasan untuk berpuasa di bulan Ramadhan sangat memiliki pesan yang mendalam. Jika ayat tersebut dibedah dengan ilmu Al-Quran, katanya, bahkan juga dengan kaidah-kaidah penafsiran (qawaiduttafsir) maka akan didapati banyak pelajaran yang luar biasa.

“Allah memulai firmannya dengan Ya Ayyuhalladzina aamanuu. Di dalam ilmu Al-Quran, khususnya dalam ilmu qawaiduttafsir, kalimat itu disebut dengan istilah mukhatabat yakni arah perintah, arah larangan, dan arah dari firman Allah,” tutur Menteri Agama pada Kabinet Gotong-Royong periode 2001-2004 itu.

Ayat 183 dalam surah Al-Baqarah itu, Allah memulai firman-Nya dengan panggilan kehormatan, kedekatan, keistimewaan, kebesaran, dan keagungan kepada orang-orang yang beriman. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan sejati, murni, dan mandarah daging di dalam tubuhnya.

“Bukan iman yang hanya stempel saja, tidak demikian. Maka dari itu perintah yang Allah akan wajibkan itu didasari oleh keimanan seperti itu (sejati, murni, mandarah daging),” jelasnya dalam Pesantren Ramadhan Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Majelis Taklim Telkom Grup (MTTG), Selasa (13/4) siang.

“Lalu, kutiba alaikumusshiyam. Diwajibkan atas kamu berpuasa. Kalau orang-orang pondok, kutiba itu mabni li majhul, bukan mabni lil ma’lub, diwajibkan atas kamu. Orang-orang beriman yang diwajibkan puasa. Siapa yang mewajibkan? Jawabnya tidak lain, yang mewajibkan itu adalah yang memanggil kita dengan panggilan kehormatan, kedekatan, keakraban,” imbuh Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Dari situlah, kewajiban yang diperintahkan oleh Allah disebut dengan istilah puasa yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual pada waktu tertentu. Dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Jika seseorang yang menjalankan ibadah puasa berangkat dari keimanan yang murni dan sejati, maka selama perjalanan melaksanakan puasa tidak akan pernah merasakan lapar dan haus sebagaimana pada hari-hari sebelum Ramadhan.

“Biasanya, habis shalat subuh saja kita sudah merasa lapar dan langsung mencari sarapan. Tapi selama pelaksanaan ibadha puasa, kita tidak merasakan itu sama sekali,” terangnya.

Di samping itu, Allah menjelaskan bahwa puasa bukanlah ibadah yang baru melainkan sudah ada sejak dulu. Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam ayat 183 surah Al-Baqarah, kamaa kutiba alalladzina min qablikum.

“Hanya tata cara puasa saja yang berbeda. Ada yang puasa, dia tidak makan daging atau yang sifatnya hewan-hewan yang berdarah. Ada yang berpuasa untuk langsing tubuhnya. Ada juga yang berpuasa semata-mata untuk kesehatan saja. Ada lagi yang berpuasa, dan bahkan sampai menjahit mulutnya untuk tidak berbicara dalam rangka menuntut sesuatu. Ini ragam dari ibadah puasa,” jelas Habib Said.

“Pertanyannya, ibadah puasa yang bagaimana yang Allah wajibkan kepada kita? Tentu ibadah puasa yang diniatkan hanya kepada Allah. Apa tujuan ibadah puasa? Tujuannya, la allakum tataqum, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Itulah jaminan dari Allah,” lanjutnya.

Orang-orang bertakwa itu adalah mereka yang memiliki kepekaan sosial. Hal ini sebagaimana penjelasan Allah dalam surat Ali Imran ayat 134. Orang-orang yang bertakwa itu adalah mereka yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah serta memaafkan kesalahan orang lain. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Dalam surat An-Nahl ayat 128 disebutkan bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. Selain itu, dijelaskan pula bahwa orang yang bertakwa juga adalah orang yang diberikan wawasan oleh Allah, sebuah kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan salah.

“Hati nuraninya selalu memberikan pencerahan kepadanya, di samping Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahannya,” jelas Habib Said.

Di ayat yang lain juga disebutkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang selalu mendapatkan kemudahan dalam segala urusan. Orang-orang yang selalu mendapatkan jalan keluar atau solusi dari berbagai permasalahan dan kesulitan yang dihadapi.

Kemudian, orang yang bertakwa adalah orang yang selalu mendapatkan karunia Allah dari jalan yang tidak terhingga, yang tidak terlintaskan sedikit pun di dalam hati dan sanubari. “Orang yang bertakwa juga adalah orang yang apabila dia melakukan kesalahan, langsung dia ucapkan astaghfirullah,” pungkasnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved