Connect with us

Feature

Cerita Kebaikan yang Tidak Mengenal Agama dan Mereka yang Berjuang untuk Bertahan Selama Pandemi

Published

on


Perawakannya tidak tinggi, mungkin sekitar 160 cm. Sebut saja namanya Parmin, pria yang mengenakan setelah kaos warna kuning dan celana pendek dengan rambutnya yang sudah beruban namun tetap bugar ini, setiap harinya mangkal di depan stasiun Jombang, Jawa Timur. Ia dan beberapa tukang becak motor lainnya dengan setia menunggu calon, meskipun seringkali tidak ada yang memakai jasa mereka karena kondisi pandemi hingga saat ini.

Siang itu, saya turun dari kereta Yogyakarta-Jombang dan sedang menunggu bus jurusan Jombang-Tuban. Seorang Pria yang lebih muda, kira-kira usia 48 tahun yang juga berprofesi sebagai tukang becak motor mempersilahkan saya untuk menunggu bus sambil berteduh di tempat mangkal; di bawah pohon yang lumayan rindang. Cukup sejuk dan teduh untuk digunakan sebagai tempat mangkal sambil menunggu para penjaja jasa Becak Motor stasisun.

Saya pun akhirnya duduk di sebuah kursi persegi dengan ditemani pak Parmin. Melihat kondisi setahun terakhir dengan kondisi pandemi, saya pun penasaran terkait bagaimana pak Parmin dan kawan-kawannya, para tukang becak motor stasiun, ini mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, terutama di masa pandemi ini.

Dengan nada bicara yang sopan dan menggunakan bahasa Jawa yang halus (kromo) ia menceritakan bagaiaman upaya yang ia lakukan untuk survive selama masa pandemi sambil menunjukkan mimik wajah yang penuh dengan penerimaan atas segala yang terjadi di hidupnya. Kurang lebih, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Parmin mengatakan:

“Ya bagaimana lagi mas, kondisinya sudah seperti ini. Apalagi ada larangan mudik dari pemerintah yang tentu ini juga jelas membuat sepi penumpang. Orang belum ada pandemi saja, penumpang tidak banyak. Kalah sama ojek online. Apalagi ada pandemi, sepi. Belum lagi ada larangan mudik dari pemerintah. ‘Poko’e rasio dijagakno’ (pokoknya tidak bisa diharapkan). Padahal rame-ramenya penumpang tuh harusnya pada saat mudik lebaran.”

Satu hal yang lebih mencengangkan lagi ialah ketika tukang becak motor stasiun yang mengaku sudah berusia 70 tahunan ini mengatakan, bahwa sebenarnya dia dan kawan-kawannya mangkal setiap hari-tidak hanya di stasiun namun berpindah-pindah tergantung situasinya-bukan untuk mencari pelanggan yang bersedia menggguanakan jasanya. Namun, lebih pada mengaharapkan kebaikan orang-orang, khususnya saat bulan Ramadhan ini, yang membagikan sedekah; entah berupa makanan, sembako, ataupun uang.

“Seringnya di stasiun, mas. Tapi terkadang juga pindah-pindah ke tempat-tempat dekat sini yang biasanya ada orang-orang baik ngasih sedekah. Tapi yang seperti itu kan tidak bisa diharapkan juga. Kalau rejeki ya pasti ada jalannya. Cuman kita ini kan juga harus berusaha untuk menemukan jalannya. Intinya harus ‘nriman’, Mas,” tambahnya.

Miris memang ketika mendengarkan cerita demikian yang bisa jadi di luar sana juga banyak parmin-parmin lain yang menjalani kehidupan serupa di tengah kondisi pandemi ini. Apalagi, pak Parmin tentu tidak mencari penghasilan hanya untuk dirinya sendiri, namun ada istri, anak, dan cucunya di rumah yang menunggu hasil dari jerih payah pak Parmin selama seharian.

Lain halnya dengan yang dialami oleh Mukiyar, tetangga saya, seorang pemuda yang tinggal di pelosok desa daerah bantaran sungai Bengawan Solo (Plandirejo) yang masih dalam wilayah kadipaten Tuban. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, Ia tinggal di desa sebelah (Bandungrejo) bersama dengan istri dan mertuanya yang berprofesi sebagai seorang pedagang di pasar tradisional “Pasar Baru Tuban.” Pada saat Razia Covid-19, para pedagang di sana, termasuk mertuanya diminta untuk melakukan test swap di tempat. Singkat cerita, mertuanya dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan tes PCR yang momen tersebut bertepatan beberapa hari setelag hari raya Idul Fitri tahun lalu.

Mengingat Mukiyar tinggal bersama dengan mertuanya, dan pada saat lebaran dia telah berinterkasi dengan beberapa orang, termasuk orang tuanya sendiri. Akhirnya, setelah pemerintah desa mendengar bahwa mertua Mukiyar telah dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani isolasi, pemerintah desa melakukan pendekatan pada Mukiyar yang kebetulan dalam beberapa hari terakhir menginap di sana. Tujuannya tidak lain adalah agar ia dan keluarganya bersedia melakukan isolasi mandiri dan tidak berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Mukiar dan keluarnya pun menuruti saran dari pemerintah desa.

Dari sini lah kemudian cerita tentang orang-orang baik dimulai. Karena Mukiyar dan keluarganya sedang melakukan isolasi mandiri di rumah, tentu hal ini sangat membatasi ruang gerak mereka, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan sekedar kebutuhan untuk masak. Namun, para tetangganya yang mengerti kondisi demikian secara suka rela dan secara bergantin memberi bantuan berupa sayuran dan bumbu masak yang setiap hari mereka taruh di teras rumah Mukiyar agar bisa digunakan untuk memasak oleh Mukiyar dan keluarganya.

Lebih dari itu, para tetangga dan pengurus desa juga menunjukkan empati mereka dengan menjenguk keluarga Mukiyar. Tentu, kisanak sekalian jangan membayangkan jika prosesi menjenguknya dengan masuk ke rumah dan berbincang santai menanyakan kabar ala menjenguk orang sakit pada umumnya. Bukan begitu!

Para tetangga yang menjenguk tetap mematuhi protokol Kesehatan. Mereka berdiri di depan/samping rumah dengan jarak kisaran 3 meter, sedangkan Mukiyar dan keluargnya berada di dalam dan berdiri di balik jendela. Melalui cara ini, para tetangga dapat berbincang dengan Mukiyar atau keluarganya, walau hanya sekedar menanyakan kabar dan mengajak ngobrol santai dan sesekali bercanda untuk menghilangkan kejenuhan Mukiyar dan keluarganya selama isolasi mandiri.

Kesadaran sebagai Sesama Manusia yang Ingin Dimanusiakan

Kondisi pandemi selama setahun terakhir ini memang memberikan dampak yang sangat terasa bagi banyak kalangan tanpa memandang strata sosial, profesi, apalagi identitas. Meskipun demikian, kondisi pandemi ini pula yang kemudian memotivasi dan memunculkan banyak orang baik yang peduli pada sesama dengan memberikan bantuan kepada orang-orang seperti pak Parmin dan Mukiyar.

Kita bisa menyaksikan di media sosial, banyak orang menggalang dana untuk membantu sesama baik berupa kebutuhan pokok, uang, bahkan smarthandphone kepada anak-anak sekolah dengan latar belakang ekonomi keluarga kurang mampu yang memang membutuhkannya agar tetap bisa mengikuti kegiatan belajar via daring.

Pun demikian, kedua kisah di atas menujukkan bahwasannya dalam kondisi sesulit apapun, selalu ada orang baik yang peduli kepada sesamanya. Memang sudah menjadi fitrah manusia jika rasa empati sebagaimana disampaikan oleh Cronbach (1995) merupakan sesuatu yang bersifat being, selalu menempel pada diri setiap manusia secara kodrati. Sedangkan, Carkhuff dalam bukunya yang berjudul Helping and Human Relations (1969) bahkan mengatakan, “without empathy there is no basis for helping” (tanpa empati, tidak ada alasan mendasar untuk menolong).

Secara khusus, bagi masyarakat pedesaan yang terbiasa dengan budaya gotong royong, apa yang mereka lakukan seperti yang terjadi pada cerita Mukiyar di atas, bisa jadi adalah hal yang biasa saja. Mereka hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sesuai dengan norma dan etika masyarakat pedesaan yang ketika tetangganya terkena musibah, mereka akan membantu sebisanya.

Hal ini berjalan begitu saja secara natural tanpa ada yang memberi komando atau perintah. Namun, di balik itu, masyarakat pedesaan tersebut pada dasarnya telah mengekspresikan apa yang disebut oleh Emile Durkheim sebagai sebuah “solidaritas mekanik”.

Solidaritas mekanik ini menurut Durkheim banyak muncul dari kalangan masyarakat pedesaan. Mereka memiliki solidaritas yang didasarkan oleh kesadaran kolektif yang didasari oleh berbagai kesamaan. Misalnya, tinggal di wilayah, profesi kerja, atau bahkan bisa jadi sistem kepercayaan yang sama yang mana tingkat individualismenya tergolong masih rendah. Mereka ini lebih mementingkan kepentingan bersama dibandingkan dengan kepentingan individu.

Maka tidak heran, ketika Mukiyar dan keluarganya sedang menjalani isolasi mandiri, para tetangganya adengan suka rela secara bergiliran memberi bantuan.

Terkait solidaritas mekanik yang muncul dari kesadaran kolektif dan berangkat dari sebuah kesamaan, saya kira kolektifitas itu tidak hanya dibatasi oleh kesamaan yang mendasarkan pada sudut pandang sempit saja; seperti kesamaan-kesamaan yang saya sebutkan sebelumnya. Lebih dari itu, saat ini banyak orang yang telah mempunyai kesadaran akan kesamaan dengan sudut pandang yang lebih luas, yakni kesamaan sebagai sesama manusia dan makhluk Tuhan yang mampir hidup di bumi.

Selain itu, tidak bisa dipungkiri juga bahwa konteks Parmin dan Mukiyar serta orang-orang di sekitarnya merupakan masyarakat Jawa yang memiliki konstruksi budaya dan etika Jawa. Hal tersebut tentu tidak bisa dinafikan pengaruhnya sehingga menjadi wajar jika mereka dengan sukarela memberi bantuan baik kepada Parmin atau Mukiyar. Franz Magnis Suseno, yang mengelaborasi pendapat Hildred Geertz, dalam bukunya, Etika Jawa (1996) mengatakan bahwa ada dua kaidah pokok etika Jawa dalam hal pergaulan masyarakatnya yakni, prinsip kerukunan dan hormat.

Pada kasus ini, prinsip pertama merupakan prinsip yang paling sesuai untuk melihat bagaimana prilaku saling tolong menolong di antara masyarakat kita, khususnya yang tinggal di pedesaan, bisa berjalan secara natural. Karena, pinsip tersebut menghendaki adanya sebuah hubungan harmonis dalam masyarakat yang sekaligus menuntut penghapusan kepentingan-kepentingan individu yang pada perkembangannya kemudian menghasilkan sebuah prilaku yang disebut dengan gotong royong.

Prilaku gotong royong ini lah yang menurut Koentjoroningrat dalam bukunya, Atlas Etnografi Sedunia: dan Pertjontohan Etnografi Sedunia (1969) memilik tiga nilai utama yang salah satunya adalah bersedia untuk saling membantu pada sesama. Aksi saling bantu sesama, termasuk yang terjadi dalam kasus parmin dan Mukiyar, jika dilihat dari kacamata Etika Jawa tentu akan menafikan adanya perbedaan-perbedaan yang ada pada setiap individu. Karena, etika sendiri menurut Suseno adalah “keseluruhan norma dan penilaian yang digunakan oleh masyarakat untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya” dan juga merupakan prinsip moral yang melampaui batas-batas perbedaan, termasuk agama (beyond religion).

Kembali soal kesadaran kolektif yang melihat orang lain sebagai sesama manusia yang ingin “dimanusiakan”, saya melihat bahwa kesadaran ini amat penting untuk dimiliki oleh setiap individu agar tindakan baik saling membantu sesama pun akan semakin meluas dan yang terpenting berjalan dengan natural. Dalam melewati masa pandemi ini jika setiap individu memiliki kesadaran tersebut, saya meyakini bahwa efek yang terjadi karena pandemi akan lebih mudah untuk dilalui bersama.

Pak Parmin dan teman-temannya sesama tukang becak motor akan dengan mudah menemukan orang-orang baik yang bersedia memberinya bantuan meskipun sebenarnya mereka bisa jadi juga terkena dampak pandemi; termasuk bantuan yang lebih bersifat memberdayakan, yakni menggunakan jasa becak motornya. Dengan itu, paling tidak beban Parmin dan kawan-kawan, Mukiyar dan keluarganya akan terasa lebih ringan dengan adanya ekspresi kebaikan-kebaikan yang tumbuh secara natural dari orang-orang di sekililingnya berdasarkan kesamaan sebagai sesama manusia.

Akhirnya, dalam hal saling berbuat baik pada sesama, jika kesadaran yang tertanam adalah kesadaran sebagai sesama manusia yang sama-sama ingin dimanusiakan, sekat-sekat yang bersifat sektoral, kultural, atau bahkan sekat keyakinan akan menjadi hal yang tidak penting lagi untuk dipersoalkan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Gus Dur “Tidak penting apa pun Agama atau Sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Saya sangat meyakini itu, dan saya yakin kisanak yang sedang membaca ini juga. Karena, anda apakah kisanak sekalian bisa membayangkan sroang Parmin saat akan diberi bantuan oleh orang yang tidak dikenal, ia akan bertanya lebih dahulu kepada si pemberi, “sampeyan muslim?



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Feature

Ziarah ke Makam Sunan Tulub Batam: Berziarah Sambil Menikmati Pemandangan Gedung-gedung Singapura

Published

on

By


Perjalanan menuju makam Sunan Tulub tak seperti ziarah pada umumnya. Jika ziarah Wali Songo, cukup ditempuh dengan rute perjalanan darat, seperti mobil atau bus, ziarah ke makam Sunan Tulub tidak demikian. Untuk sampai ke sana, membutuhkan perjalanan yang lumayan panjang. Dari kota Batam, kita perlu menuju pelabuhan feri Sekupang. Pelabuhan ini biasanya digunakan oleh para penumpang yang ingin menyeberang dari Batam ke Singapura.

Namun, untuk menuju pulau Tulub, kapal yang digunakan berbeda. Biasanya dengan menggunakan kapal sampan kecil, berisi sekitar 10-15 orang. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa satu kapal kisaran 400-450 ribu rupiah, tergantung tawar-menawar antara penumpang dan pemilik kapal. Karena kapal ini tidak akan jalan kecuali penuh, maka disarankan rombongan.  Jika berangkat rombongan, maka biaya sewa kapal tersebut bisa cukup terjangkau, alias 40 ribu/orang.

Selama perjalanan menggunakan kapal kecil, kami melewati beberapa pulau hingga akhirnya sampai di pulay Tulub. Makam Sunan Tulub ini tidak seperti makam biasanya, berada di pulau kecil tengah laut, di ujung perbatasan Indonesia. Sehingga saat menempuh perjalanan ke sana, kita akan disuguhi pemandangan gedung-gedung pencakar langit Singapura. Hotel Sand Marina Bay dengan tower kembarnya serta penghubung ala perahu di atasnya lumayan jelas terlihat, begitu pula tower-tower lain di sekitarnya.

Selama perjalanan, siapkan kameramu, karena banyak pemandangan menarik yang sayang untuk dilewatkan. Perjalanan dari pelabuhan Sekupang ke Pulau Tulub membutuhkan waktu 30-45 menit. Kami beruntung, saat sampai di dermaga pulau Tulub, air masih belum pasang, sehingga kami bisa turun di dermaga. Jika pasang, air bisa sampai di serambi masjid.

Suasana dermaga menuju Makam Sunan Tulub

Setali tiga makam

Di pulau Tulub ada tiga makam auliya dan solihin yang bisa diziarahi. Pertama, makam Syekh Syarif Ainun Naim, yang merupakan saudara Sunan Giri. Makamnya berada di atas bukit pulau Tulub kecil. Di Google maps dinamai sebagai Pulau Senang. Kita perlu menapaki puluhan tangga untuk sampai di sana. Makamnya terletak di bangunan mirip musholla. Menapaki tangga memang menguras banyak tenaga, namun saat sudah sampai di depan bangunan makam ini, rasanya capek dan pegal terbayar. Pasalnya, kita dapat merasakan indahnya berada di tengah laut.

Makam Syarif Ainun Naim, saudara Sunan Giri di bukit pulau Tulub

Makam kedua, adalah makam Syekh Maulana Nuh al-Maghribi yang terletak di samping masjid, tepatnya di samping kiri masjid. Pada nisannya tertulis tahun wafatnya: 437 H. Konon, makam ini ditemukan oleh Habib Luthfi Pekalongan. Saat itu, murid Habib Luthfi bernama K.H Nur Hamim Adlan diminta untuk mencari makam tersebut berdasarkan petunjuk sang habib. Walaupun secara tahun wafat lebih tua, namun makam ini ditemukan belakangan, setelah makam Syekh Syarif Ainun Naim. Sedangkan makam ketiga adalah makam Habib Hasan Al Musawa, terletak di pulau Tulub besar.

Pulau Tulub kecil yang terdapat dua makam di sana hanya dihuni satu keluarga: suami, istri dan satu anak. Sehari-hari nampaknya mereka yang mengelola makam ini. Saat saya berkunjung ke sana, saya hanya bertemu dengan mereka. Sebelumnya ada sekelompok peziarah juga dari kota Batam. Sama seperti saya dan rombongan, biasanya mereka pulang menjelang malam.

Sebelum berangkat ke pulau ini, usahakan bawa bekal sendiri, ya. Karena di pulau ini kamu tidak akan bertemu dengan penjual makanan, apalagi minimarket. Jika ada rejeki lebih, usahakan untuk memberi donasi atau sedekah pada keluarga yang tinggal di pulau kecil ini. (AN)



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Orang Bawean dan Masjid Pertama di Vietnam

Published

on

By


Bagi banyak orang di Indonesia, Bawean sepertinya tidak asing lagi. Nama sebuah pulau yang terletak di utara pulau Madura, Jawa Timur. Tapi mungkin masih sedikit yang mengetahui bahwa mereka termasuk salah satu komunitas Muslim yang berpengaruh dalam geliat perkembangan Islam di kota Ho Chi Minh, kota ekonomi terbesar di negara Vietnam bagian Selatan. Konon, orang Bawean merupakan kelompok yang pertama kali menyelesaikan pembangunan masjid di negara komunis ini.

Saya sendiri baru mendengar kisah mereka sekitar empat tahun lalu saat berkunjung ke kota Ho Chi Minh. Suatu pagi, seorang kawan mengajak saya untuk makan Banh Mi (roti sandwich khas Vietnam) halal di depan sebuah masjid, saat itulah ia menceritakan kisah orang-orang yang bermukim di sekitarnya. Mayoritas mereka adalah Muslim dari Indonesia yang telah memasuki generasi ketiga atau keempat. Termasuk yang menjual Banh Mi dan pemilik warung tenda yang menyediakan makanan halal rumahan di sudut depan masjid.

Masjid ini bernama masjid (Cong Dong Hoi Giao) Al Rahim Malaysia-Indonesia. Beberapa kali saya mengunjungi tempat ini untuk berusaha bertegur sapa dengan saudara sebangsa, tapi tidak satupun yang saya temui bisa bertutur dalam Bahasa Melayu, apalagi Indonesia. Komunikasi saya dengan beberapa orang dibantu terjemahan oleh kawan saya. Menurut mereka, meski keturunan Indonesia, sangat sedikit yang bisa berbahasa melayu, kecuali anak-anak mereka yang sempat bersekolah atau kuliah di Indonesia atau Malaysia.

Orang Bawean

Saya berusaha mencari kisah mereka dalam referensi sejarah, namun ternyata sangat sedikit, untuk tidak mengatakan nihil sarjana Indonesia yang membicarakan tentang keberadaan orang Bawean di kota Ho Chi Minh. Imigrasi mereka dari pulau di utara pulau Jawa ke Semenanjung Indocina diceritakan oleh beberapa sarjana luar yang menulis tentang Islam di Indocina.

Salah satu tulisan penting yang merekam kembali jejak historis bagaimana orang bawean bisa sampai ke Ho Chi Minh dan bagaimana dinamika mereka menjadi diaspora di negara komunis ini, dilakukan oleh Malte Stokhof, seorang antropolog dari Belanda.

Menurut Stokhof (2008), kedatangan mereka termotivasi oleh tiga faktor: pertama, sosial-ekonomi, mereka berusaha mencari pekerjaan yang layak, menjauh dari sistem kerja di masa kolonial Belanda; kedua, budaya merantau; dan ketiga karena faktor agama, orang Bawean yang pergi haji akan transit di Singapura, mereka yang mencari pekerjaan di Singapura, banyak di antaranya yang menaiki kapal yang akan berlayar ke semenanjung Indocina untuk bekerja di bawah pemerintahan Prancis saat itu.

Marcel Ner (1937), mengesahkan dan mengisahkan kemungkinan ini, sekitar tahun 1850an, terdapat 300 orang yang menuju ke Saigon, nama kota Ho Chi Minh dulu, yang berangkat dari Singapura. Saat tiba, mereka menjadi pekerja untuk pemerintahan protektorat Prancis. Mereka yang datang, termasuk orang Bawean dikenal sebagai Malais, orang Melayu. Masa itu, pemerintahan Prancis di Indocina memang dikenal memiliki kebijakan terbuka untuk menerima pekerja dari luar.

Masjid Pertama 

Pada saat itulah, orang Bawean mulai mendirikan masjid untuk kepentingan ibadah komunitas mereka, yang dinamakan Chua Ma Lai, Masjid Malaysia. Rie Nakamura, salah satu sarjana yang menulis sedikit tentang Masjid Al Rahim sebagai masjid pertama di kota Ho Chi Minh, menurutnya, mereka mendahului komunitas India dalam penyelesaian masjid.

Meskipun pada awalnya, masjid ini bernama Masjid Malaysia, namun sekitar tahun 1973 nama masjidnya diubah. Didasari oleh kesadaran orang Bawean adalah orang Indonesia, bukan Malaysia. Walau demikian, tidak ditemukan informasi detail nama masjid setelah perubahan tersebut.

Saat ini, seperti yang tertulis, masjid ini bernama Masjid Al Rahim Malaysia-Indonesia, dibangun sejak 1885. Di kalangan masyarakat muslim di Vietnam, masjid ini juga sering disebut dengan masjid Boyan, dari nama Bawean. Penambahan nama Malaysia-Indonesia, lebih karena masjid tersebut dibangun kembali oleh dua pemerintah: Malaysia dan Indonesia, setelah dipugar pada sekitar tahun 2010.

Jika diamati sekilas, masjid Al Rahim merupakan salah satu masjid yang unik, berbeda dari kebanyakan masjid di kota Ho Chi Minh. Umumnya, masjid-masjid lain memiliki corak arsitektur yang mirip dengan masjid di Asia Selatan, India dan Pakistan, namun Al Rahim tampak lebih mirip masjid di Indonesia dan Malaysia.

Masjid ini terletak di tengah hiruk pikuk aktivitas ekonomi. Lokasinya dekat dengan Saigon Sky Deck, Gedung tertinggi di kota ini. Tidak jauh dari Pasar Benh Than, tujuan belanja dan pusat kegiatan para pelancong. Masjid ini terletak di pinggir jalan raya, sementara kiri kanannya dihimpit oleh pemukiman warga muslim, mereka itulah mayoritas orang Bawean. (AN)

 

Oleh: Khaidir Hasram

Alumni Sps UIN Jakarta, meminati kajian minoritas Muslim dan Islam di Indocina 



Sumber Berita

Continue Reading

Feature

Cerita Jadi Muslimah Bekerja: Tidak Berjilbab Dinyinyirin, Kerja Disuruh Berhenti Jika Ingin Hamil (2-Habis)

Published

on

By


Ia memang memilih untuk tidak berjilbab. Di rumah, ia dan suaminya sepakat untuk berbagi beban. Keduanya juga sama-sama bekerja. Suami juga tidak masalah dengan pilihan istri yang ingin mengejar karir. Tapi, suatu ketika ia berkumpul dengan keluarga besar, eh ada yang nyeletuk.

“Itu Sheena kerja terus, kapan hamilnya?” tukas salah seorang saudara.

Sheena—bukan nama sebenernya tentu saja—awalnya terbiasa bilang ‘belum dikasih’ atau paling banter cuma menjawab‘minta doanya atau selemah-lemahnya Cuma bisa tersenyum. Tapi, itu saja teryata masih belum cukup. Ada komenter yang membuat ia sebal juga.

“Kurang-kuranginlah kerjanya. Perbanyak doa biar hamil. Biarin aja suami yang kerja. Toh hidup sudah cukup.”

Ya ya. Hamil tidak segampang itu, Tante-tante. Begitu komentarnya dalam hati. Toh, orang-orang ini tidak tahu perjuangan ia dan suaminya. Mereka pun tidak tahu cita-cita dan terjalnya hidup yang harus dihadapinya.  

“Mungkin karena masih ‘terbuka’. Mulai aja ditutup itu tubuhnya,” tukas yang lain.

Dan, kalimat itu yang bikin kuping ia panas.

Bukan karena fakta ia memilih tidak berjilbab dengan alasan yang benar-benar ia pahami. Tapi, ia jengkel karena celetukan itu datang dari perempuan, sesama muslimah.  Bukankah harusnya sesama perempuan harus lebih peka?

*

Saat itu ia datang bersama suaminya, kawanku, dan ia menceritakan kisah yang ia alami. Saya pesan susu latte dingin, mereka pesan kopi dan pelbagai kudapan. Obrolan kami memang tidak melulu tentang jilbab, rumah tangga maupun segala pernik kehidupan urban yang kami jalani. Tapi, harus diakui, obrolan ini

“Bayangin saja ya, gue kan memang tidak pandai memasak. Eh ada loh yang nyinyir. Perempuan apaan gak bisa masak. Jadi apa keluarganya,” katanya bersemangat,”y ague jawab ‘ya bisa bayar cicilan kartu kreditlah, bisa lebih sering jalan-jalan’ hahaha,” tambahnya.

Saya tersentak. “Beneran bilang gitu?” tanya saya.

Mereka berdua tertawa. “Mana berani dia,” celetuk suami.

“Hahaha, iye Cuma dalam hati. Mana berani jawab kalau ada so called tante-tante di rumah gue udah gitu. Daripada panjang urusan hahaha,” kelakarnya.

“Pasti lu ngalaminlah,” tukas temanku.

Tentu saja, jawabku, meskipun levelnya mungkin tidak sampai kena nyinyir seperti mereka. Apalagi, istri saya pun tidak berjilbab dan itu berdasarkan pilihan kenyamanan dan teologis. Saya percaya, tafsir tentang jilbab ini tidak tunggal. Kami sering membahas pilihan-pilihan ini dan mendiskusikan pelbagai tafsir terkait muslimah dan jilbab ini.

Saya percaya, manusia punya pilihan bebas dan kehendak atas apa pun pilihan hidup yang akan dijalaninya dan bersiap atas segala konsekwensi. Tak terkecuali muslimah. Mereka dalam Islam mendapatkan begitu banyak penghormatan bahkan dalam hadis lebih harus dihormati tiga kali lebih banyak dari seorang ayah, juga harusnya mendapatkan hak untuk mengekspresikan kebebasannya.

Dalam sejarah Islam toh kita melihat nama muslimah-muslimah yang bebas berkehendak hingga akhirnya tercatat dengan tinta emas sebagai pelopor perkembangan Islam. Mulai dari Siti Khadijah yang menjadi pedagang dan supporter utama Rasulullah hingga saintis seperti Aisyah yang juga menjadi kekasih yang paling dicintai Rasulullah.

Baca juga: Cerita Muslimah Jadi Bekerja, Dinyinyirin Masjid di Kantor

Meski begitu, sayangnya di beberapa sebagian muslim kita masih berpendapat bahwa suara muslimah ini terbatas. Ya, terbatas oleh ajaran tafsir agama dan lingkungan. Bahkan, dengan kecenderungan sekarang ini, mereka yang berbeda pendapat seperti soal jilbab terkadang harus mendapatkan nyinyirin dan mungkin diskriminasi.

Sesuatu yang saya bayangkan tidak akan terjadi jika merek lebih mengenal sosok seperti Khadijah, misalnya. Permasalahan itu kian kompleks ketika Gerakan untuk menertibkan tubuh perempuan dan muslimah mulai santer belakangan ini, khususnya di kota-kota besar.

“Apalagi di Grup WA keluarga, yang muda-muda gini harus siap-siap dah diem aja udah jika sudah ngomongin jilbab,” tuturnya.

“Apalagi  gue disuruh berhenti kerja jika ingin hamil. Apa korelasinya? Gue akan stress kali kalau di rumah dan nggak ada kerjaan,” tambah Istri.

Kami bertiga pun hanya bisa tertawa-tawa. Pilihan menjadi muslimah yang bekerja dan anda belum dikasih karunia berupa kehamilan memang terkadang rumit. Apalagi jika berjumpa dengan lingkungan yang tidak asyik seperti yang kami alami. Padahal, jadi perempuan saja menurutku sudah berat: kamu harus mengalami menstruasi bulanan yang sakitnya saya yakin setara dengan sunat bagi laki-laki.

Bedanya, sakitnya disunat itu cuma sekali seumur hidup bagi laki-laki, tapi sakitnya menstruasi bagi perempuan itu terjadi tiap bulan. Sekali lagi, tiap bulan. Belum lagi jika ia sudah hamil dan melahirkan dan terus bekerja demi menafkahi keluarga, demi merengkuh mimpinya sebagai manusia, sebagai perempuan.

Makanya, pilihan bagi muslimah untuk bekerja dan karir adalah sebuah jalan ninja yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya. Dan pilihan terbaik bagi kita sebagai manusia adalah menghormatinya dengan sepenuh-penuhnya penghormatan seperti halnya Nabi begitu menghormati sosok Khadijah yang juga bekerja membangun mimpinya.

 

*Feature ini hasil kerja sama Islami.co dan RumahKitaB*



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved