Connect with us

Kajian

Belajar dari Perang Badar yang Berlangsung di Bulan Ramadhan

Published

on


Di dalam Surat Al-Anfal: 41 disebutkan bahwa hari berkecamuknya Perang Badar adalah sebagai  yaumul Furqon, atau hari pembeda. Ya, ia membedakan antara dua pasukan yakni pasukan Muslimin Madinah dan Kafir Quraisy Mekkah. Pembeda antara yang haq dan bathil. Namun, untuk lebih mengetahui hal ini, seraya sebagai sarana kita untuk belajar dari sejarah, mengambil mutiara-mutiara di dalam sirah Nabi Muhammad yang penuh berkah, mari kita lihat lebih dekat perbedaan di antara kedua pasukan dan pelajaran apa saja yang bisa kita petik dari sana.

Pada peristiwa Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, kita bisa mengambil garis demarkasi yang jelas antara dua pasukan yang akan bertempur. Di satu sisi, pasukan Madinah terdiri dari 313 pasukan yang berasal dari kaum Muhajirin, suku Aus dan suku Khazraj. Mereka hanya memiliki dua ekor kuda yang dimiliki oleh az-Zubair bin Awwam dan al-Miqdad ibn al-Aswad, 70 ekor unta yang ditunggangi secara bergantian, dan perlengkapan perang yang sangat minim. Di sisi lain, pasukan Mekah terdiri dari sekitar seribu tiga ratus pasukan, membawa lebih dari 100 ekor kuda, 600 baju besi, dan unta yang tidak tahu berapa jumlah persisnya. Setiap harinya, pasukan Mekah menyembelih sembilan sampai sepuluh ekor untuk untuk konsumsi di perjalanan mereka.

Di Tengah perjalanan, keluarga besar Bani Adi yang jumlahnya sekitar 300 orang memutuskan untuk kembali ke Mekah setelah mendapat kabar dari Abu Sofyan tentang keselamatan kafilahnya. Kafilah tersebut mengambil rute pantai menjauh dari intaian tentara Madinah.

Abu Sofyan adalah pemuda yang sangat cerdas dan bijaksana. Dialah pemimpin kafilah yang membawa seribu onta, beragam harta benda, dan dinar yang diperkirakan mencapai 50.000 dinar emas atau menurut catatan Quraisy Shihab berjumlah sekitar 22,75 kg emas. Abu Sofyan di tengah perjalanan tersebut merasa ada yang aneh. Dia merasa ada yang memata-matai perjalanannya. Lalu, dia menemukan kotoran onta, dan setelah melihat dan mempelajari kotoran tersebut, dia mengetahui bahwa onta tersebut, yang memakan dedaunan pohon kurna, berasal dari Madinah, tidak mungkin dari tempat lain. oleh karena itu, dia lalu mengutus Amr ibn Dhamdham Al-Ghifari untuk menyampaikan kabar tersebut ke Mekah agar mengutus bala bantuan untuk mengamankan dagangan mereka. Maka berangkatlah pasukan Mekah di bawah komando Abu Jahal.

Mendengar kabar dari Abu Sofyan agar kembali ke Mekah, Abu Jahal bin Hisyam menolak dengan tegas seraya berkata:

“Demi Allah! kami tidak akan kembali kecuali telah sampai di Badar. Kami akan berpesta, minum anggur, dihibur oleh para biduanita Arab, makan besar, biar semua orang Arab mendengar dan mengetahui kekuatan kita dan menjadi gentar karenanya”

Perkataan Abu Jahal ini diamini oleh kebanyakan dari pasukan Quraisy, dan Allah merekamnya di dalam surat Al-Anfal ayat 47:

“Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka dengan angkuh dan dengan maksud ria terhadap manusia serta menghalangi dari Jalan Allah, padahal Allah meliputi segala yang mereka kerjakan”.

Dari gambaran di atas, kita melihat dengan nyata bagaimana Abu Jahal cs merepresentasikan manusia yang bangga dan menyandarkan kesuksesan dalam perang berdasarkan materi yang mereka miliki: jumlah pasukan yang besar, aliansi, senjata, bekal, dan alat-alat perang lainnya. karena ‘kekuatan’ itu pula mereka menjadi orang-orang yang sombong dan ingin dipuji atau riya’.

Betapa dalam hidup yang singkat ini terkadang kita juga melakukan hal yang sama, bukan? Menyandarkan kesuksesan atas materi, aliansi atau jaringan pertemanan, kekayaan, dan mungkin juga gelar yang kita sandang. Membanggakannya. Padahal, bersandar kepada manusia dan segala yang melekat atasnya tidak lain adalah seperti kita bersandar pada kayu yang rapuh.

Sementara itu, tatkala pasukan Quraisyh sampai di Badar dan mulai berpesta, Nabi Muhammad masih dalam kebimbangan. Awalnya, dia tidak ada niat untuk berperang. Nabi hanya ingin menyergap, mengambil harta dari kafilah Quraisy di mana di dalamnya juga terdapat harta milik orang-orang muhajirin. Pada titik ini, Nabi bermusyawarah dengan para sahabatnya. Merundingkan apakah kita akan maju bertempur atau pulang kembali ke Madinah yang berjarak sekitar 150 kilometer.

Kalangan Muhajirin bersepakat untuk mengikuti dawuh Nabi seandainya beliau menghendaki untuk melawan musuh yang sudah ada di hadapan. Sahabat Miqdad bin Amir, dari kaum Muhajirin, berkata:

“Wahai Rasulullah, kami akan bersama engkau. Kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana Bani Israel berkata kepada Musa ‘pergi engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah. Kami akan duduk menanti di sini saja’” Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andai kata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa memcapai tempat itu”.

Meski demikian, Nabi masih ingin mendapatkan masukan, sikap, dan pendapat dari kaum Anshar. Sebab, kaum muhajirin jumlahnya hanya sedikit, antara 83-86 orang. Sedangkan kekuatan utama pasukan Muslim berada di pihak Anshar. Pada saat inilah kita mendengarkan kata-kata luar biasa dari sahabat Sa’d bin Muadz, pemimpin kaum Anshar:

“Kami telah beriman kepadamu wahai rasulullah. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Majulah terus wahai Rasulullah. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andai engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalamnya, kami pun akan terjun bersama engkau. Tak seorang pun di antara kami yang akan mundur. Kami dikenal sebagai orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau sukai. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah”

Inilah pembeda. Orang-orang musyrik berperang untuk menunjukkan keunggulan mereka, sementara pasukan Muslim dengan visi yang sama: menaati Tuhan dan Rasulnya. Maka, di dalam perjuangan dalam bidang apapun adalah sangat penting untuk menata dan memperbarui niat. Tentu saja perlu latihan secara terus menerus untuk menjadikan Tuhan semata-mata sebagai tujuan. Namun, setidaknya, kita terus berusaha untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan, dicintai, dan dianjurkan-Nya. Paling tidak, sebagaimana kata Gus Baha, setidaknya kita tidak melakukan kemaksiatan.

Pada saat perang mulai berkecamuk, hari Jumat, 17 Ramadhan tahun kedua hijrah, Nabi berdoa. Beliau keluar dari tendanya, berdiri, dan menengadah ke langit seraya berdoa:

Ya Allah laksanakan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah aku bermohon pemenuhan janji-Mu, ya Allah jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini”

Nabi sangat gelisah. Beliau bermohon kepada Tuhan dengan sangat serius dan khusyuk sampai-sampai serban yang dipakainya jatuh ke tanah. Maka, turunlah surat al-Anfal ayat 9 yang memberikan  kabar gembira akan datangnya bala bantuan dari malaikat yang berjumlah ribuan.

Pertolongan Allah adalah satu-satunya penolong pasukan Muslimin. Peristiwa perang Badar sering diulang-ulang di dalam Al-Quran tidak untuk mengunggulkan pasukan Muslim, melainkan untuk merenungkan betapa agungnya pertolongan Allah.

Maka bukanlah engkau yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka. Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar” (Al-Anfal: 17)

Inilah pembeda. Pasukan Muslim mengembalikan kemenangan mereka semata-mata atas kehendak Allah, bukan atas dasar kekuatan, strategi, dan kecerdasan mereka. Pasukan Muslim yang memercayai Tuhan dan Nabinya, tidak bersandar pada kekuatan, aliansi, harta, senjata, dan jumlah pasukan, dan meyakini kekuatan doa. Bahwa ada Tuhan yang siap menolong hamba-hambanya sebagaimana dalam firmannya dalam Al-Baqarah 186:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran

Begitulah Perang Badar. Menewaskan 70 orang Quraisy dan 70 tawanan perang. Sementara di pihak pasukan Muslim yang gugur berjumlah 14 pasukan. Perang Badar telah melambungkan nama Nabi dan umat Islam di Madinah. Mereka, umat Islam, mulai menjadi aktor yang patut diperhitungkan dalam peta politik di Madinah.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Bani Israel: Potret Para Pembangkang yang Diabadikan al-Quran

Published

on

By


Pada mulanya mereka ditindas, diperbudak, dan dizalimi oleh rezim. Dalam rupa yang agak modern, Bani Israel barangkali nyaris serupa dengan korban perang dunia II yang menghuni kamp-kamp konsentrasi Jerman. Sekurang-kurangnya, sentimen yang dimainkan oleh penguasa adalah sama: karena mereka Yahudi, atau minimal Tapol (tahanan politik).

Sejarah memahat, medio 1700 SM keturunan Ibrahim dari jalur Ya’qub bermigrasi ke Mesir. Saat itu, belum ada hukum international yang menjamin hak hidup mereka. Sekitar 1250 SM, situasinya semakin payah. Para imigran yang bermaksud mencari suaka justru diperbudak oleh Firaun. Tapi, ini masih masa kenabian. Musa terpilih sebagai utusan Tuhan yang kelak membebaskan Bani Israel dari cengkraman rezim otoriter.

Jauh sebelumnya, Mesir dilanda wabah mematikan. Uniknya, anak-anak Yahudi selamat. Fenomena ini lalu diabadikan oleh orang Yahudi dalam pesta Passover (Hari Paskah), menandai status mereka sebagai umat pilihan.

Di bawah panji Musa, Bani Israel melawan penguasa. Setelah melewati sekian sekuel yang cukup dramatis, Firaun dan koloninya menemui ajal, tenggelam karena berusaha melawan gelombang kebenaran.

Kini, Bani Israel telah merdeka. Tapi mereka tidak punya warga-negara, alias stateless. Maka, nomaden adalah jalan ninja yang paling masuk akal. Sepanjang perjalanan yang diduga berdurasi 40 tahun itu, Nabi Musa menghadapi pergolakan baru: pembangkangan Bani Israel. Al-Quran memberitahu kita betapa sembrononya permintaan mereka.

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan. Musa melajutkan: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat?” (Q.S. al-A’raf: 138-140)

Permintaan itu ternyata cukup serius. Tidak ada tanda-tanda dark joke di dalamnya. Yang ada hanyalah ilusi. Dipikir, Tuhan harus kasat mata. Padahal, mata manusia sungguhlah terbatas. Berarti, ‘melihat’ Tuhan tidak bisa dengan mata telanjang. Diperlukan mata hati untuk memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya. Sayang, mata hati mereka terlampau buta oleh selubung hasrat materialisme.

Sejurus setelah itu, Nabi Musa memenuhi panggilan Tuhan untuk menerima wahyu. Bani Israel dipasrahkan kepada Harun, asisten Musa yang dipercaya memiliki seni berdebat. Ternyata, Bani Israel tidak cukup puas dengan kekuatan argumen. Mereka telah silau dengan apa-apa yang serba ajaib, efek samping dari mukjizat Musa.

Lalu, datanglah Samiri. Bani Israel dibujuk agar mendonasikan perhiasan mereka, sebuah bahan dasar untuk membuat patung berhala. Propaganda Samiri ternyata sukses.

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim (al-A’raf: 148).

Beres menerima wahyu, Musa mendapati kenyataan pahit. Kaumnya telah melacurkan iman mereka dengan berhala anak lembu. Lebih dari itu, anugerah kebebasan ternyata tidak membuat mereka menjadi tambah syukur.

Malahan, Bani Israel kelewat lancang menikam ajaran dasar Musa. Keinginan mereka berdiri di atas tiang kesenangan dan keuntungan diri. Moralitas mereka kelewat kokoh pada unsur utilitas dan benefit belaka. Tidak ada kata ikhlas, apalagi tulus. Takaran untuk memenuhi kebutuhan adalah melalui kalkulasi rasa senang dan sedih. Bani Israel terjerumus pada sifat yang, di era kiwari, hadir dalam wujud hedonis dan egois.

Memang, Musa telah diberi fasilitas tongkat ajaib. Tapi itu hanya dia gunakan untuk kepentingan taktis melawan Firaun dan tidak lebih. Maka, orang pertama yang ia mintai keterangan adalah Harun. Harun bilang bahwa ia telah mengingatkan Bani Israel (Q.S. Thaha: 90). Meski begitu, Samiri bukanlah lawan yang seimbang. Maka, Harun sekadar bertahan sejauh yang ia bisa, sambil tetap mengajak orang-orang yang masih mau diajak maju.

Rupanya, Bani Israel hanya bebas dari satu perbudakan menuju perbudakan yang lain. Kini, mereka tampil sebagai umat yang semakin cerewet dan banyak maunya. Al-Quran mengabadikan sikap bebal mereka.

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Q.S. al-Baqarah [2]: 61)

Tidak ada sopan-santun, Bani Israel seolah menantang Musa laksana Firaun. Moda sapaan “Tuhanmu” (Robbuka) yang ditujukan kepada Musa dalam ayat di atas secara jelas menegaskan jarak atau batas antara keduanya.

Musa pun jengkel, lalu menukas, “pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Ini kalimat sarkas. Musa hendak menampar kesadaran Bani Israel dengan mafhum muwafaqoh: “kalau ingin mendapati apa yang kalian minta, pergi saja ke kota di mana Firaun dulu menganiaya kalian.”

Begitulah. Nyatanya, kebebasan Bani Israel telah melahirkan dominasi watak Firaun yang dulu sangat mereka benci. Ini barangkali mirip dengan tesis Marx yang bilang kalau perjuangan menuju kebebasan pada derajat tertentu bisa melahirkan perbudakan baru. Masalahnya, ini baru dimungkinkan jika perubahan sosial tidak diikuti oleh pemutusan mata-rantai yang eksploitatif. Lebih dari itu, pertanyaan yang lebih krusial adalah kenapa Bani Israel bisa melawan orang yang dulu membebaskannya? Dan, kenapa mereka malah mengarak dirinya kembali pada mentalitas toxic seperti seorang budak?

Memang, al-Quran bukan Das Kapital. Tapi, Firman Allah itu memberitahu kita bahwa Bani Israel sempat berada dalam fase pebudakan, sampai Musa membebaskannya. Dan, perbudakan itu rupanya berlangsung dalam durasi yang kelewat cukup untuk menanamkan mitos bawah sadar bahwa Tuhan harusnya memiliki rupa. Istilah bekennya adalah berhala. Kesadaran ini terus ditanam, direproduksi, dan dipelihara oleh rezim pengetahuan saat itu. Alhasil, kendati Firaun telah tewas, hegemoni pengetahuan tentang berhala nyatanya mewaris secara sukarela dalam mentalitas Bani Israel. Demikian jika memakai kacamata Gramsci.

Terpisah, Bani Israel secara brutal meminta agar Allah menampakkan diri. Entah apa motivasinya, yang jelas mereka segera mendapat ganjaran berupa sambaran petir (Q.S. an-Nisa [4]: 153-154). Meski begitu, ini sekaligus memendarkan warta bahwa Bani Israel ternyata tidak saja tikipal pembangkang ulung, tetapi mereka juga berusaha untuk mengendalikan apa saja, termasuk Tuhan dan utusan-Nya (Q.S. al-Baqarah [2]: 67-71). Kelak, Nabi Isa dan Nabi Muhammad juga menghadapi umat dengan tipikal serupa, meski intensitasnya tidak setegang sebelumnya.



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Takbir yang Dibenci Rasulullah – Islami[dot]co

Published

on

By


Ada takbir yang dibenci Rasulullah, apakah itu?  Pada dasarnya, lantunan takbir merupakan bagian tak terpisahkan dengan Islam. Dalam shalat, takbir merupakan salah  satu rukun  yang harus diucapkan.

Saat hari raya idul fitri – idul adha disunnahkan memperbanyak takbir, bahkah saat lempar jumrah dianjurkan mengucapkan kalimat takbir. Sepintas, dari itu semua Islam telah mengajarkan pemeluknya betapa pentingnya takbir.

Dalam banyak literatur Islam disebutkan bahwa para sahabat nabi (dan umat Islam pada umumnya) dianjurkan memperbanyak takbir, tasbih dan tahmid untuk mengingat Allah setiap saat. Tidak hanya saat melakukan ibadah saja. Bahkan Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar An-Nawawiyah meriwayatkan bahwa para sahabat saat melakukan perjalanan seringkali membaca takbir.

روينا في “صحيح البخاري” عن جابر رضي الله عنه قال: كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا

Artinya:“Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dari Jabir RA, ia berkata, ‘Bila melintasi jalan menanjak, kami bertakbir. Ketika melewati jalan menurun, kami bertasbih,’” (Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M, h. 190).

Hadis riwayat Jabir ini memperjelas bahwa pada hakikatnya melafalkan takbir merupakan salah satu perbuatan yang disukai Rasulallah dan para sahabatnya. Melafalkan takbir juga tak mensyaratkan ruang dan waktu tertentu. Artinya seorang muslim sah-sah saja melantunkan kalimat takbir kapanpun dan dimanapun.

Bersamaan dengan itu, perlu digaris bawahi bahwa melafalkan takbir bebas nilai. Sehingga pelakunya diperbolehkan mengucapkan takbir bagaimanapun dan untuk apapun. Akan tetapi dalam melafalkan takbir harus dibarengi dengan sopan santun, sifat dan sikap lemah lembut, serta niat dan tujuan yang tepat. Karena pada hakikatnya lafal takbir digunakan untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Maka pelakunya harus memenuhi sifat-sifat dan sikap yang pantas di haribaan Allah.

Maka apalah arti takbir jika dilakukan dengan hentakan yang menakutkan dan disertai dengan caci-maki dan hasutan? Yang demikian justru akan semakin menjauhkan Allah dari pelakunya. Alih-alih ketika takbir digunakan untuk memperseksi orang serta digunakan untuk kepentingan politis. Tentu takbir yang demikian sangat dibenci oleh Allah dan rasul-Nya.

Dalam lanjutan hadis yang dikutip Imam An-Nawawi disebutkan bahwa Rasulallah memarahi sahabatnya yang meneriakkan kalimat takbir.

وروينا في “صحيحيهما” عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم، فكنا إذا أشرفنا على واد هللنا وكبرنا وارتفعت أصواتنا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: “يا أيها الناس اربعوا على أنفسكم، فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا، إنه معكم، إنه سميع قريب”

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari, ia bercerita bahwa bila melewati sebuah lembah, kami saat bersama Rasulullah SAW membaca tahlil dan takbir. Dan suara kami meninggi, lalu Rasulullah SAW mengingatkan, ‘Wahai manusia, bersikaplah yang lembut terhadap diri kalian karena kalian semua tidak sedang menyeru tuhan yang tuli dan ghaib. Dia bersama kalian. Dia maha mendengar, lagi dekat, (Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M], h. 190-191).

Riwayat hadis tersebut menerangkan betapa murkanya Rasullah terhadap sahabatnya yang meneriakkan kalimat takbir. Sebab, menurut Rasulallah kalimat takbir adalah kalimat thayyibah yang secara spesifik digunakan untuk menyeru Allah. Dan Allah itu sendiri sangat dekat bersama manusia. Tentu, menyeru Allah dengan takbir tidak perlu diteriakkan dan apalagi dihentakkan ke muka orang.

Bersamaan dengan itu, dalam hadis itu pula diterangkan bahwa Rasullah menyeru manusia (dalam konteks ini adalah umat muslim) untuk bersikap yang lembut dan penuh sopan santun.  Apalagi sedang menyebut lafat Allah/takbir, mesti harus disertai dengan perbuatan baik, niat yang tulus bukan dibarengi dengan caci-maski, hentakan dan niat politis.

Maka takbir yang dimaksudkan untuk  kasus persekusi atau takbir aktor politik berkedok ustadz sangat dilarang dan dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya.



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Kisah Nabi Isa dalam al-Quran: Melawan Tanpa Pasukan

Published

on

By


Orang boleh berbeda pendapat tentang bagaimana kisah Nabi Isa berakhir, tapi saya kira, semua akan bersepakat jika Isa adalah putra Maryam. Di beberapa tempat, al-Quran mengkonfirmasi hal ini. Selain itu, umat Nasrani juga mengimani hal serupa.

Tetapi mukjizat Allah memang seringnya sulit dipahami. Kelak, Isa tidak saja medapat bantahan dari sisi asal-usul, tetapi juga soal ajarannya yang melawan arus kekuasaan. Yang jelas, ciptaan Allah yang satu ini memang istimewa. Kisahnya kelewat unik ketimbang segenap utusan Tuhan yang lain. Sejak jabang bayi, ia sudah dianugerahi mukjizat. Dan, ketika tiba waktunya, Isa balita mampu menangkis kesangsian publik. Al-Quran memberitahu kita detik-detik dramatis itu.

(Ingatlah) ketika malaikat berkata: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang putra yang Dia ciptakan dengan kalimat dariNya yang bernama al-Masih Isa putra Maryam, yang memiliki kedudukan mulia di dunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Dia berbicara kepada orang-orang dalam buaian dan saat sudah dewasa dan dia termasuk orang-orang shalih.” (Q.S. Ali Imran [3]: 45-46)

Rupanya, bukan saja diberkahi kemampuan bicara sejak balita, tetapi Isa juga memiliki keistimewaan lain dalam meyakinkan orang. Secara terus terang, Nabi Isa mulai menegaskan pembuktian yang mengundang decak kagum masyarakat di zaman itu. Lagi-lagi, Al-Quran mengisahkan kemampuan Isa dalam sebuah aksi di luar batas kemampuan manusia. Atas izin Allah, ia bisa mengubah sesuatu yang kini menjadi tantangan pengetahuan.

Allah mengajarkan kepadanya kitab, hikmah, Taurat dan Injil. Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman. (Q.S. Ali Imran [3]: 48-49)

Sudah tentu, warta tentang mukjizat itu segera melesat ke mana-mana. Makna hakiki mukjizat adalah apa-apa yang melampaui dunia material. Tren waktu itu memang terlampau hedon. Padahal, kekayaan, jabatan, hingga pengaruh sebenarnya dibentuk di atas altar palsu yang bersifat fana dan rawan menjadi alat kesewenang-wenangan. Isa, dengan demikian, seolah hendak mengejek watak materialisme kekuasaan lewat keajaiban yang mampu menjangkau batas-batas fisik pada diri manusia.

FYI, Nabi Isa lahir di tengah kekaisaran Romawi. Sayang, rezim yang memerintah waktu itu tidak bersahabat dengan apa yang hari ini kita sebut prinsip kemanusiaan. Demikian halnya dengan pemuka agama yang malah membebek pada kekuasaan. Maka, terjadilah sebuah koalisi antara penguasa dengan, sebut saja, ulama Yahudi yang telah memonopoli ajaran agama untuk merontokkan kharisma Isa. Itulah masa di mana persekutuan antara agama dan politik menjadi lestari.

Tentu saja Nabi Isa melawan. Tapi perlawanannya tidak dengan senjata, apalagi pasukan. Sebagai seorang utusan, Isa menghadapi umat yang telah mengenal ajaran Nabi Musa. Untuk itu, misinya adalah menghardik sekaligus mengingatkan tentang penyimpangan yang sudah kadung jauh melampaui batas.

Sekali lagi, al-Quran menegaskan keterampilan Nabi Isa dalam membungkam para penentangnya. Ia mampu mengatasi problem sosial yang diabaikan oleh pemerintah. Isa hadir dengan program yang cukup progresif: menyembuhkan orang sakit, memberi makan mereka yang lapar, dan merangkul orang-orang pinggiran (Q.S. Al-Maidah [5]: 110-111).

Rupanya, senarai tindakan kemanusiaan itu mampu menjaring kepatuhan sekaligus pembangkangan. Nabi Isa mulai mendapat pengikut, dan kedatangannya selalu ditunggu-tunggu. Di saat yang sama, penguasa dan para ulama istana semakin gelisah dengan kepopuleran Isa.

Walau begitu, sejumlah pengikut dan orang-orang yang berniat menjadi murid al-Masih semakin cerewet menuntut apa-apa yang berbau keajaiban. Khas Bani Israil. Keinginan mereka tidak saja meminta agar Isa menyembuhkan orang sakit, tetapi juga menurunkan makanan dari langit.

Kendati terdengar sebuah permintaan naif dan ngeyel, nyatanya dialog ini direkam oleh al-Quran (Q.S. Al-Maidah [5]: 112-115). Ini berarti ada pelajaran yang terselubung di dalamnya. Tampak jelas betapa umat Isa pada derajat tertentu tidak ada bedanya dengan manusia hari: pragmatis. Dipikir, ajaran agama hanya berfungsi sebagai pemuas nafsu individu. Tapi, tren pragmatisme itulah yang mengancam para ulama Yahudi. Mereka tidak rela jika Isa memiliki pendukung, sehingga merasa perlu untuk menguji akurasi ajaran Isa.

Ada kisah yang cukup popular menceritakan bilamana para ulama Yahudi menyeret seorang perempuan yang dituduh telah berbuat zina. Taurat memberi perintah bahwa hukuman untuk tukang zina adalah dilempari batu hingga tewas.

Sudah tentu, ajaran itu kontras dengan visi Nabi Isa. Maka, sewaktu ditanyai pendapat tentang bagaimana mestinya memperlakukan perempuan itu, Isa seketika menggenggam sebongkah batu, lalu menukas: “siapapun yang merasa tidak memiliki kesalahan, maka hendaklah ia merajam wanita itu.”

Sontak, semua peserta terdiam dan mengakui kenaifannya. Hukum Tuhan tidak bisa berdiri di atas pilar kekejaman. Hanya kumpulan manusia saleh yang bodoh dan beringaslah yang berani menyelewengkannya. Kelak, ajaran kasih al-Masih yang memilih tidak intervensi terhadap perkara yang abu-abu ini diabadikan oleh al-Quran Surat al-Maidah ayat 118.

Tapi, malam sungguhlah gelap dan penuh dengan teror. Para penentang kebenaran masih tidak mengakui ajaran kasih. Walhasil, disusunlah sebuah rencana untuk menangkap Isa hidup-hidup dan lalu diadili. Diduga, seorang murid bernama Yudas terpilih sebagai agen ganda: di satu pihak ia berguru, tetapi di lain pihak melaporkan pergerakan Isa kepada penguasa.

Di titik ini, kobaran ambisi Yudas menjadi cukup jelas. Bagi dia, agama hanyalah kendaraan untuk meraih kekuasaan. Silau dengan gemilang tahta, Yudas menyilakan penguasa mengetahui lokasi keberadaan Isa dan murid-muridnya yang lain.

Operasi penyergapan pun dimulai. Berkat muslihat para pemuka agama yang mengklaim sebagai pembawa ajaran Musa, maka dihapuskanlah semua karya kemanusiaan dan isi ajaran Isa. Lagi-lagi, seorang utusan Tuhan harus berhadapan dengan kekuasaan yang, celakanya, juga memanfaatkan ajaran Tuhan.

Rupanya, para ulama Yahudi telah meracuni ajaran Musa dengan arogansi dan kesewenang-wenangan. Vonis putusan pun dijatuhkan. Isa kembali ke haribaan Tuhan sebagai penanda betapa tidak mudahnya perjuangan membawa dunia ke arah keselamatan. Al-Quran memberi sebuah petunjuk untuk memungkasi kisah ini.

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. (Q.S. Ali Imran [3]: 55)

Para ulama berbeda pedapat tentang bagaimana akhir dari kisah Nabi Isa. Namun, pasal “mengangkat” (rafi’uka) pada ayat di atas bisa dibaca sebagai peristiwa yang biasa saja. Artinya, pengangkatan di situ bukan berarti mengangkat secara fisik, tetapi lebih kepada maknanya yang filosofis. Di tempat terpisah, al-Quran juga menggunakan redaksi “mengangkat” (yarfa’) untuk menggambarkan derajat orang-orang berilmu (Q.S. al-Mujadilah: 11).

Atau, ini boleh jadi serupa dengan Adolf Hitler yang mau “mengangkat” Jenderal Fredrich von Paulus menjadi Marsekal Lapangan (Field Mashal) jika setia pada misi bunuh diri demi mempertahankan kota Stalingard (sekarang Volgograd) yang telah kembali dikuasai Soviet. Sayangnya, Paulus menolak bunuh diri, karena ia adalah seorang Kristen.

Wa ba’du, menulis kisah Nabi Isa sudah tentu cukup menegangkan. Apalagi jika ia ditulis dalam bahasa yang konsumen utamanya adalah masyarakat Muslim terbesar. Sebetulnya ini bukan masalah yang berarti. Tapi jika melihat sentimen umat Muslim yang lebih memilih berdoa di dalam mobil L300 dan berharap akan terjadi mukjizat ketimbang putar balik saat kena razia Polisi Mudik, saya kok jadi pesimis untuk mengelaborasi lebih jauh tentang kisah Nabi Isa dalam al-Quran. Heuheu…



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved