Connect with us

Kajian

Bani Israel: Potret Para Pembangkang yang Diabadikan al-Quran

Published

on


Pada mulanya mereka ditindas, diperbudak, dan dizalimi oleh rezim. Dalam rupa yang agak modern, Bani Israel barangkali nyaris serupa dengan korban perang dunia II yang menghuni kamp-kamp konsentrasi Jerman. Sekurang-kurangnya, sentimen yang dimainkan oleh penguasa adalah sama: karena mereka Yahudi, atau minimal Tapol (tahanan politik).

Sejarah memahat, medio 1700 SM keturunan Ibrahim dari jalur Ya’qub bermigrasi ke Mesir. Saat itu, belum ada hukum international yang menjamin hak hidup mereka. Sekitar 1250 SM, situasinya semakin payah. Para imigran yang bermaksud mencari suaka justru diperbudak oleh Firaun. Tapi, ini masih masa kenabian. Musa terpilih sebagai utusan Tuhan yang kelak membebaskan Bani Israel dari cengkraman rezim otoriter.

Jauh sebelumnya, Mesir dilanda wabah mematikan. Uniknya, anak-anak Yahudi selamat. Fenomena ini lalu diabadikan oleh orang Yahudi dalam pesta Passover (Hari Paskah), menandai status mereka sebagai umat pilihan.

Di bawah panji Musa, Bani Israel melawan penguasa. Setelah melewati sekian sekuel yang cukup dramatis, Firaun dan koloninya menemui ajal, tenggelam karena berusaha melawan gelombang kebenaran.

Kini, Bani Israel telah merdeka. Tapi mereka tidak punya warga-negara, alias stateless. Maka, nomaden adalah jalan ninja yang paling masuk akal. Sepanjang perjalanan yang diduga berdurasi 40 tahun itu, Nabi Musa menghadapi pergolakan baru: pembangkangan Bani Israel. Al-Quran memberitahu kita betapa sembrononya permintaan mereka.

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan oleh kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan. Musa melajutkan: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat?” (Q.S. al-A’raf: 138-140)

Permintaan itu ternyata cukup serius. Tidak ada tanda-tanda dark joke di dalamnya. Yang ada hanyalah ilusi. Dipikir, Tuhan harus kasat mata. Padahal, mata manusia sungguhlah terbatas. Berarti, ‘melihat’ Tuhan tidak bisa dengan mata telanjang. Diperlukan mata hati untuk memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya. Sayang, mata hati mereka terlampau buta oleh selubung hasrat materialisme.

Sejurus setelah itu, Nabi Musa memenuhi panggilan Tuhan untuk menerima wahyu. Bani Israel dipasrahkan kepada Harun, asisten Musa yang dipercaya memiliki seni berdebat. Ternyata, Bani Israel tidak cukup puas dengan kekuatan argumen. Mereka telah silau dengan apa-apa yang serba ajaib, efek samping dari mukjizat Musa.

Lalu, datanglah Samiri. Bani Israel dibujuk agar mendonasikan perhiasan mereka, sebuah bahan dasar untuk membuat patung berhala. Propaganda Samiri ternyata sukses.

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim (al-A’raf: 148).

Beres menerima wahyu, Musa mendapati kenyataan pahit. Kaumnya telah melacurkan iman mereka dengan berhala anak lembu. Lebih dari itu, anugerah kebebasan ternyata tidak membuat mereka menjadi tambah syukur.

Malahan, Bani Israel kelewat lancang menikam ajaran dasar Musa. Keinginan mereka berdiri di atas tiang kesenangan dan keuntungan diri. Moralitas mereka kelewat kokoh pada unsur utilitas dan benefit belaka. Tidak ada kata ikhlas, apalagi tulus. Takaran untuk memenuhi kebutuhan adalah melalui kalkulasi rasa senang dan sedih. Bani Israel terjerumus pada sifat yang, di era kiwari, hadir dalam wujud hedonis dan egois.

Memang, Musa telah diberi fasilitas tongkat ajaib. Tapi itu hanya dia gunakan untuk kepentingan taktis melawan Firaun dan tidak lebih. Maka, orang pertama yang ia mintai keterangan adalah Harun. Harun bilang bahwa ia telah mengingatkan Bani Israel (Q.S. Thaha: 90). Meski begitu, Samiri bukanlah lawan yang seimbang. Maka, Harun sekadar bertahan sejauh yang ia bisa, sambil tetap mengajak orang-orang yang masih mau diajak maju.

Rupanya, Bani Israel hanya bebas dari satu perbudakan menuju perbudakan yang lain. Kini, mereka tampil sebagai umat yang semakin cerewet dan banyak maunya. Al-Quran mengabadikan sikap bebal mereka.

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (Q.S. al-Baqarah [2]: 61)

Tidak ada sopan-santun, Bani Israel seolah menantang Musa laksana Firaun. Moda sapaan “Tuhanmu” (Robbuka) yang ditujukan kepada Musa dalam ayat di atas secara jelas menegaskan jarak atau batas antara keduanya.

Musa pun jengkel, lalu menukas, “pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Ini kalimat sarkas. Musa hendak menampar kesadaran Bani Israel dengan mafhum muwafaqoh: “kalau ingin mendapati apa yang kalian minta, pergi saja ke kota di mana Firaun dulu menganiaya kalian.”

Begitulah. Nyatanya, kebebasan Bani Israel telah melahirkan dominasi watak Firaun yang dulu sangat mereka benci. Ini barangkali mirip dengan tesis Marx yang bilang kalau perjuangan menuju kebebasan pada derajat tertentu bisa melahirkan perbudakan baru. Masalahnya, ini baru dimungkinkan jika perubahan sosial tidak diikuti oleh pemutusan mata-rantai yang eksploitatif. Lebih dari itu, pertanyaan yang lebih krusial adalah kenapa Bani Israel bisa melawan orang yang dulu membebaskannya? Dan, kenapa mereka malah mengarak dirinya kembali pada mentalitas toxic seperti seorang budak?

Memang, al-Quran bukan Das Kapital. Tapi, Firman Allah itu memberitahu kita bahwa Bani Israel sempat berada dalam fase pebudakan, sampai Musa membebaskannya. Dan, perbudakan itu rupanya berlangsung dalam durasi yang kelewat cukup untuk menanamkan mitos bawah sadar bahwa Tuhan harusnya memiliki rupa. Istilah bekennya adalah berhala. Kesadaran ini terus ditanam, direproduksi, dan dipelihara oleh rezim pengetahuan saat itu. Alhasil, kendati Firaun telah tewas, hegemoni pengetahuan tentang berhala nyatanya mewaris secara sukarela dalam mentalitas Bani Israel. Demikian jika memakai kacamata Gramsci.

Terpisah, Bani Israel secara brutal meminta agar Allah menampakkan diri. Entah apa motivasinya, yang jelas mereka segera mendapat ganjaran berupa sambaran petir (Q.S. an-Nisa [4]: 153-154). Meski begitu, ini sekaligus memendarkan warta bahwa Bani Israel ternyata tidak saja tikipal pembangkang ulung, tetapi mereka juga berusaha untuk mengendalikan apa saja, termasuk Tuhan dan utusan-Nya (Q.S. al-Baqarah [2]: 67-71). Kelak, Nabi Isa dan Nabi Muhammad juga menghadapi umat dengan tipikal serupa, meski intensitasnya tidak setegang sebelumnya.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Jika Allah Maha Penyayang, Mengapa Masih Ada Penderitaan?

Published

on

By


Allah SWT ‘digambarkan’ sebagai Yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Penyayang, sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Hijr (15): 86.)

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Mulk (67): 1.)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. al-Hasyr (59): 22.)

Dengan demikian, berarti Allah yang Maha Mengetahui, maka Allah tahu bahwa kita menderita. Allah yang Maha Kuasa, berarti Allah bisa menghentikan penderitaan kita. Allah yang Maha Penyayang, berarti Allah tidak ingin kita menderita. Namun, pada kenyataannya, kita masih menderita. Apakah Allah tidak benar-benar memiliki sifat-sifat tersebut?

Tidak sedikit orang yang religius, shalatnya rajin, akan tetapi nasibnya apes melulu, sementara dia yang berfoya-foya hingga lupa shalat malahan tajir melintir dan merasa senang sekali kehidupannya. Seorang mahasiswa yang jujur jadinya tidak lulus-lulus, sementara dia yang menyontek bisa lulus malahan dapat A. Apa salahnya orang Palestina sehingga dari dulu hingga sekarang masih saja diberi serangan-serangan yang amat kejam dari Israel? Tega sekali.

Pembahasan mengenai problem-problem tersebut dalam dunia filsafat dinamakan “Teodisi”. Istilah tersebut dimunculkan pada tahun 1710 oleh filsuf Jerman, Gotfried von Leibniz, dalam sebuah karya berbahasa Prancis. Tujuan esai itu untuk menunjukkan bahwa kejahatan di dunia yang menjadikan lahirnya penderitaan itu tidak bertentangan dengan kebaikan Allah. Meskipun banyak kejahatan, dunia tetap dalam kondisi paling indah dan menyenangkan, begitulah ungkapnya.

Problem mengenai kejahatan tersebut diinspirasi oleh filsuf dari zaman Hellenistik yaitu Epicurus dengan ungkapkannya sebagaimana berikut.

“Apakah Tuhan mau, tapi tidak mampu melenyapkan kejahatan? Berarti Tuhan tidak Maha Kuasa. Apakah Tuhan mampu, tapi tidak mau melenyapkan kejahatan? Berarti Tuhan tidak Maha Penyayang atau Maha Baik. Jika Tuhan mampu dan mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih ada kejahatan? Atau jika Tuhan tidak mampu dan tidak mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih disebut Tuhan?”

Untuk menunjukkan bahwa kejahatan di dunia yang menjadikan lahirnya penderitaan itu tidak bertentangan dengan kebaikan Allah, Leibniz berasumsi bahwa Allah itu tidak akan menciptakan dunia yang sempurna sebab hanya Dia-lah yang sempurna. Sedangkan yang diciptakan Allah adalah “Dunia terbaik yang mungkin ada”. Dunia ini sudah pas bagi manusia, sudah porsional dan proporsional, lebih atau kurang dari ini sudah tidak baik lagi. Baginya, tidak ada sesuatu yang benar-benar jahat, segala hal ada alasannya. Selalu ada hikmah dibalik segala sesuatu yang terjadi di dunia ini yang menjadikan kita lebih baik lagi ke depannya.

David Hume, filsuf Inggris masa pencerahan, membantah argumen tersebut. Model Leibniz, dengan keimanannya, kalau Allah Maha Baik diasumsikan kalau Allah pasti punya dasar baik, punya alasan yang baik. Mungkin seolah-olah logis, padahal tidak. Kejahatan dengan sifat-sifat Tuhan itu jelas sangat kontras. Kalau kita meyakini kejahatan itu ada, berarti kita harus menerima kalau Tuhan itu Tidak Maha Kuasa atau Tidak Maha Penyayang.

Tokoh filsuf sekaligus teolog di era skolatik, Thomas Aquinas, setuju akan adanya kejahatan secara logis membawa kepada kesimpulan tidak kuasanya Allah tidak penyayangnya Allah. Meskipun demikian, kalau Hume menjadi ateis, Aquinas tetap beriman kepada Tuhan. Alasannya, argument logis itu hanya valid kalau kita menerima konsep kebaikan Tuhan yang tidak terbatas sebagai bagian dari definisi tentang Tuhan, dan saat kita berbicara tentang kebaikan Tuhan, kita menunjuk kepada kebaikan manusia.

Kita meyakini Allah itu Maha Baik, kebaikan Allah itu seperti apa? Itu lah kata kuncinya. Kita memahami kebaikan, itu ya versi manusia. Versi Allah sendiri mungkin berbeda. Lihatlah pada sesuatu yang versi kita tidak baik, sementara versi hewan baik, juga berlaku sebaliknya. Contohnya bagi kita, membunuh itu tidak baik, akan tetapi laba-laba setelah kawin pasti yang jantan dibunuh, itu hukum alamnya dan mungkin memang baik bagi laba-laba itu sendiri.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah (2): 216)

Allah Sang Pencipta segalanya, Dia Maha Kuasa lagi Maha Penyayang, mengapa ada kejahatan yang menderitakan, pertanyaannya adalah manusia itu bebas, bukan? Saat dia memilih untuk melakukan kejahatan, mengapa Allah harus bertanggung jawab? Kalau manusia diberi kebebasan memilih, maka harus ada pilihan. Sungguh tidak mungkin hanya yang baik saja yang tersedia. Kebebasan untuk memilih mau yang baik, yang sangat baik, yang biasa-biasa saja, yang buruk, atau yang keji. Kalau kebebasan dikatakan ada, tanpa adanya opsi untuk dipilih, ya, sama saja bohong. Bukan begitu?

Tanpa adanya kejahatan, tidak akan ada yang namanya kebaikan. Berterimakasihlah pada yang jelek sehingga menjadikan kita cakep; andaikata tidak ada mereka, kita ya biasa saja; kasarannya semacam itu. Ketika bohong tidak ada, maka kejujuran tidak ada nilainya. Kejujuran, ketulusan, kedermawanan, dan lain sebagainya yang dikonotasikan sebagai yang baik menjadi berharga sehingga kita diusahakan untuk bisa bersifat demikian itu baik oleh diri sendiri atau tekanan norma dalam hidup bersama, karena ada sebaliknya. Lantas bagaimana dengan bencana alam, sehalnya COVID-19 yang tak kunjung tuntas?

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Baqarah (2): 29.)

Alam semesta didedikasikan untuk manusia dan sebagai media menuju kesempurnaan moral manusia. Hadirnya COVID-19, merupakan ujian menuju kesempurnaan moral bagi yang mengalami. Karena ketika kita sedang enak mungkin dengan mudahnya kita mengklaim lillahi ta’ala dan qona’ah atas segala yang diberikan Allah, namun saat kita susah apakah kita tetap teguh atau malah akan merengek-rengek?

Selain itu, secara umum hadirnya bencana alam merupakan moral-warning, peringatan dan pembelajaran bagi yang tidak mengalaminya. Kadang kala bencana alam datang sebagai hukuman bagi mereka yang durhaka dan tidak bermoral.

Dengan demikian, kita ketahui bahwa dalam kehidupan itu harus ada kekacauan, kejahatan, yang semua itu membawa pada penderitaan bahkan kesengsaraan, setelah semua itu selesai maka lahirlah keseimbangan yang menuju kebaikan yang lebih dari sebelumnya. Dan karena manusia terbatas dengan aksesnya, Allah-lah yang bisa melihatnya secara holistik. Dunia ini pun berawal dari kekacauan, bukan? Atau maukah kita hidup berbarengan dengan dinosaurus?

Allah tahu, berkuasa, dan sayang kepada kita semua atas penderitaan itu, akan tetapi jangan lupa bahwa Allah itu bijaksana. Dengan hukum alam atau sunatullah yang diciptakan-Nya semua itu menggambarkan keteraturan dan keharmonisan yang indah. Tetap adanya penderitaan itu supaya manusia dengan kesadarannya menyadari bahwa dirinya itu terbatas. Allah bisa sewaktu-waktu intervensi terhadap hukumnya itu. Maka, ayolah lebih-lebih mendekat lagi pada Allah!  (AN)

Wallahu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Panduan Ringkas Memahami Konsep Tawakal

Published

on

By


Di dalam Alquran surat Al-Hudd ayat 6 Allah berfirman, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,

Kata Dãbbatin dalam ayat tersebut, di dalam beberapa tafsir, biasanya diterjemahkan menjadi hewan melata. Beberapa saat lalu saat sowan ke KH. Ahmad Fatah, pengasuh pesantren Sunni Darussalam dan dosen di Jurusan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, mengartikan kata tersebut dengan ‘makhluk yang bergerak’. Dengan pengertian seperti ini, lanjutnya, meskipun setiap makhluk telah ditetapkan kadar rezekinya oleh Allah, tetapi sang makhluk wajib untuk bergerak menjemput rezeki tersebut. Sehingga rezeki tidak akan menyapa bagi mereka yang hanya berpangku tangan.

Beliau kemudian menghubungkan ayat tersebut dengan hadis Nabi:

Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezekinya burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang

Dalam hal ini, Nabi mencontohkan agar kita bertawakal sebagaimana burung yang berangkat pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang. Tawakal, dengan demikian, tidak seperti yang dipahami sebagian orang selama ini bahwa tawakal dilakukan  setelah berusaha, bukan. Melainkan semenjak kita berniat melakukan sebuah usaha, ketika berusaha, dan setelah berusaha.

Pada kesempatan lain beliau mencontohkannya dengan ayam. Pada pagi hari sang induk ayam mulai keluar dari kandang bersama anak-anaknya, berjalan ke halaman dan kebun, menceker-ceker tanah, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.

Dan Allah, sambungnya, akan menilai proses selama kita berusaha tersebut. Seringkali, banyak di antara kita yang mengabaikan hal ini. Tidak jarang dari kita yang bekerja berorientasi target atau hasil sehingga melakukan berbagai cara, termasuk yang diharamkan, dalam prosesnya.

Beliau kemudian mencontohkan. Seorang guru pada acara halal bihalal mengisahkan tentang perjalanan karirnya. Sang guru besar itu mengatakan bahwa dirinya hanya melakukan yang terbaik atas apa yang ditugaskan kepadanya. Ketika ada undangan untuk konferensi, dia menulis dengan sungguh-sungguh papernya. Mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Begitu juga ketika ada jadwal untuk memberikan khutbah Jumat. Dia tidak pernah menyangka bahwa cara kerjanya itu kemudian membawanya mengisi perkuliahan di Amerika dan Eropa, mewakili Indonesia dalam dialog lintas-iman, dan menempati berbagai jabatan di kementerian.

Singkat kata, sang guru besar itu telah memiliki dua kriteria penting dalam dunia kerja: kinerja yang prima dan trust, kepercayaan alias dapat dipercaya. Jika kamu ingin bekerja sama dengan orang lain bukankah kedua hal itu yang diperlukan? Buat apa kinerjanya bagus tapi tidak dapat dipercaya bukan? Tidak sedikit juga orang yang bisa memegang teguh kepercayaan, tetapi kerjanya asal-asalan.

Contoh lain: Seorang tukang bangunan dengan gaji seratus ribu sehari. Ya, dia telah mengetahui bahwa dia akan dibayar dengan nominal segitu. Namun, karena telah mengetahui jumlah bayarannya, dia berangkat ke tempat kerja dengan performa asal-asalan saja. Yang penting adalah kehadiran, prinsipnya. Parahnya lagi, ada juga pekerja yang justru mengulur waktu agar bisa mendapatkan uang yang lebih banyak. Mengerjakannya diperlambat agar ada tambahan waktu yang itu berarti akan semakin menambah penghasilannya. Ya, itulah yang dinilai oleh Allah. Kinerjanya tidak baik dan nilai trust-nya juga rendah.

Wes to, hidup ini Tuhan yang mengatur. Tugas kita adalah melakukan kinerja terbaik dalam setiap helaan nafas kita. Beliau lalu menceritakan perjalanan kawannya yang mendapatkan beasiswa ke Mesir. Layaknya proses seleksi beasiswa, maka nilai tertinggilah yang akan lolos dalam seleksi tersebut. Sang kawan itu berada di nomor empat sehingga tidak ada kemungkinan untuk diberangkatkan ke Mesir. Namun, inilah skenario Tuhan tersebut:

Kandidat yang mendapatkan nilai terbaik pertama tidak jadi berangkat. Sebab, istrinya sedang hamil besar dan tidak memberikan izin kepadanya. Peringkat terbaik kedua diajukan. Sayangnya, kalau dia berangkat maka dia tidak jadi menikah karena keluarga mempelai istri tidak menginginkan pernikahan putrinya ditunda dalam jangka waktu yang lama. Peringkat ketiga maju. Eh, ternyata umurnya sudah 50 tahun ke atas. Maka, berangkatlah dia ke Mesir! Siapa yang menyangka skenario seperti ini bakal terjadi kan?

Lalu bagaimana dengan cara kita menjemput rezeki?



Sumber Berita

Continue Reading

Kajian

Adakah Sahabat Nabi yang Masih Hidup Hingga Sekarang?

Published

on

By


Terdapat banyak sekali keutamaan para sahabat Rasulullah Saw. Mereka adalah orang-orang generasi awal yang menegakkan Islam, menemani Nabi Muhammad ketika dihina, disiksa, dan direndahkan oleh kafir Quraisy. Mereka mengorbankan harta benda, kedudukan, dan meninggalkan keluarga mereka demi perjuangan Islam.

Saking mulianya kedudukan para sahabat, Allah Swt menempatkan posisi mereka sebagai generasi terbaik dan dijanjikan surga di akhirat. Kendati telah berlalu ratusan tahun lampau, sebenarnya masih ada satu sahabat Rasulullah Saw yang masih hidup dan belum meninggal hingga sekarang. Siapakah dia?

Kemuliaan para sahabat ini tergambar dalam firman Allah surah Al-Anfal ayat 62: “Dan jika mereka hendak menipumu [Muhammad], maka sesungguhnya cukuplah Allah [menjadi pelindung] bagimu. Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan [dukungan] orang-orang mukmin,”(QS. Al-Anfal [8]: 62).

Kata “orang-orang mukmin” di ayat di atas merujuk pada para sahabat Rasulullah. Allah Swt menjadikan mereka pendukung dan penopang dakwah Islam, bahkan mereka rela mengorbankan nyawa demi tegaknya kalimat Allah Swt.

Lantas, siapa itu sahabat Rasulullah? Secara definitif, sahabat Nabi Muhammad Saw adalah “orang yang pernah berjumpa dengan Nabi Saw dalam keadaan beriman kepadanya, serta meninggal dalam keadaan Islam,” sebagaimana dikutip dari kitab Al-Ishabah fi Tamyizi As-Sahabah (1995) yang ditulis oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Berdasarkan definisi di atas, terdapat tiga kategori seseorang dapat dianggap sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw.

Pertama, orang itu harus pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw secara nyata, minimal sekali seumur hidupnya. Orang-orang yang menyatakan bermimpi bertemu beliau Saw tidak bisa dikategorikan sebagai sahabat karena pertemuan itu terjadi di alam bawah sadar (mimpi), serta tidak berlaku dalam kategori ini.

Kedua, para sahabat harus dalam keadaan beriman. Karena itulah, orang-orang yang mempunyai simpati ke Islam dan mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw, namun tidak beriman, tidak bisa dianggap sebagai sahabat.

Sebagai misal, pamannya Nabi Muhammad, Abu Thalib adalah sosok pelindung dakwah beliau Saw. Ia bersimpati dan mendukung langkah Rasulullah. Sayangnya, hingga Abu Thalib meninggal, ia tidak mengucapkan kalimat syahadat dan belum beriman kepada Allah Swt.

Ketiga, seorang sahabat harus meninggal dalam keadaan muslim. Di masa kenabian, terdapat sejumlah orang yang memeluk Islam dan berjuang bersama Rasulullah, namun di akhirnya hayatnya, mereka keluar dari Islam. Di antara mereka yang murtad adalah Ubaidullah bin Jahsy dan istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan.

Keduanya merupakan bagian dari orang-orang yang memeluk Islam di periode Makkah dan berhijrah ke Habasyah atau Etiopia. Sayangnya, sesampainya di Habasyah, keduanya malah berpindah keyakinan dan memeluk agama Nasrani. Kendati pernah berjuang bersama Nabi Muhammad Saw, namun karena murtad dan meninggal dalam keadaan kafir, maka mereka tidak bisa disebut sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw.

Sahabat Rasulullah Saw yang Masih Hidup Hingga Sekarang

Berdasarkan definisi sahabat di atas, terdapat seorang mukmin mulia yang bisa dikategorikan sebagai sahabat Nabi Muhammad Saw, yaitu Nabi Isa AS. Sebab, Nabi Isa pernah bertemu Rasulullah di peristiwa Isra dan Mi’raj dan belum meninggal sampai sekarang.

Ketika diangkat ke langit dalam kejadian Isra dan Mi’raj, Rasulullah Saw bertemu dengan para nabi sebelum beliau, kemudian para nabi dan rasul itu juga menjadi makmum ketika Rasulullah mengimami salat dua rakaat. Selanjutnya, ketika Malaikat Jibril mengajak Rasulullah mengunjungi surga, beliau Saw juga berjumpa langsung dengan Nabi Isa.

Hal ini tergambar dalam hadis riwayat Abdullah bin Abbas, ia bercerita mengenai kisah Isra dan Mi’raj Rasulullah:

“Malam saat Nabi Muhammad Saw Isra, beliau diajak [Malaikat Jibril] memasuki surga. Beliau mendengar ada suara di sampingnya. Nabi bertanya, ‘Hai Jibril, apa itu?’. ‘Itu adalah Bilal sang muadzin,’ jawab Jibril. Nabi Saw. bersabda di tengah khalayak, ‘Sungguh beruntung Bilal. Aku melihatnya demikian dan demikian.’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Kemudian beliau berjumpa dengan Musa AS. Musa menyambut beliau dengan gembira. Ia berkata, ‘Selamat datang Wahai Nabi yang Buta Huruf’. Kata Ibnu Abbas, ‘Musa adalah seorang yang sedang tingginya. Rambutnya lurus terurai hingga kedua telinganya, atau di atasnya. Nabi bertanya, ‘Siapa ini hai Jibril?’ ‘Ini adalah Musa AS’, jawab Jibril,’

Ibnu Abbas melanjutkan, ‘Beliau berlalu. Kemudian berjumpa dengan Isa. Nabi Isa menyambut beliau dengan gembira. Nabi bertanya, ‘Siapa ini Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini Isa’. Kemudian beliau berlalu. Beliau berjumpa dengan orang tua yang berwibawa. Ia menyambut nabi dengan gembira. Mengucapkan salam kepadanya. Dan mereka semua mengucapkan salam padanya. Nabi bertanya, ‘Siapa ini Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah ayahmu, Ibrahim’,” (HR. Ahmad).

Penyebutan julukan sahabat Rasulullah atas Nabi Isa ini tertuang dalam kitab Tajrid Asma As-Sahabah (2008) yang ditulis oleh Imam Az-Zahabi. Nabi Isa diangkat oleh Allah Swt ke langit dan belum meninggal hingga sekarang, ia beriman kepada ajaran Nabi Muhammad, bertemu langsung dengan beliau Saw, dan kelak akan diturunkan lagi ke bumi sebelum hari Kiamat.

Ketika Nabi Isa turun ke bumi, ia akan menyampaikan syariat Islam dari ajaran Nabi Muhammad Saw. Penurunan Nabi Isa ke bumi adalah salah satu tanda kiamat besar. Nabi Isa akan membunuh Dajjal dan membersihkan penyimpangan agama Islam di muka bumi ini. Wallahua’lam



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved