Connect with us

Telaah

Babi Ngepet, Setan, dan Inferioritas Warga +62

Published

on


Berita penangkapan babi ngepet hoaks di Depok pada Ramadan kali ini benar-benar di luar akal sehat. Ketika penyebar hoaks Adam Ibrahim sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka, bukannya introspeksi diri, ia malah menyalahkan setan yang menggodanya untuk menyebarkan kabar bohong. Mirisnya, banyak yang sudah percaya pada babi jadi-jadian tersebut dan menuduh tetangganya melakukan pesugihan.

Pengakuan Adam Ibrahim itu kian menegaskan sifat-sifat buruk manusia Indonesia seperti yang disampaikan Mochtar Lubis pada 1997. Empat dari enam sifat manusia Indonesia, sebagaimana disampaikan Mochtar Lubis, yaitu munafik, enggan bertanggung jawab, percaya takhayul, serta watak dan karakter yang lemah, semuanya komplit ada pada diri Adam Ibrahim, serta dipercayai banyak warganet dan sebagian masyarakat Indonesia.

Dalam video viral yang disebarkan di media sosial itu terlihat bahwa oknum Ustaz Adam Ibrahim menyampaikan wejangan penangkapan babi ngepet. Fenomena itu dipercayai banyak masyarakat di Kelurahan Bedahan, Depok. Bahkan, ketika diunggah di media sosial, banyak warga yang mengamini bahwa mereka juga mengalami kehilangan uang yang diyakini karena praktik pesugihan babi ngepet.

Sementara itu, ada cara konyol lainnya untuk menangkap babi ngepet. Syaratnya, warga yang mengejarnya harus bugil atau telanjang bulat. Kabarnya, penangkapan itu dilakukan bapak-bapak kompleks Bedahan.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang ibu-ibu juga menyatakan bahwa ia sudah mengintai salah seorang tetangga ia lihat tidak bekerja, namun banyak uangnya. Tetangga tersebut diyakini sebagai penganut pesugihan babi ngepet sehingga bisa makmur, kendati hanya leha-leha.

Menurut pengkuan warga juga, tubuh babi ngepet yang ukurannya sekitar 50 cm itu terus mengecil bentuknya, lalu berubah menjadi manusia. Babi itu pun dibunuh, lalu dikuburkan.

Selepas dikebumikan, polisi yang ingin membuktikan keberadaan babi ngepet itu pun membongkar kuburan hewan malang tersebut. Nyatanya, tubuhnya tetap berbentuk babi dan ukuran tubuhnya tetap 50 cm, dengan lebar 25 cm. Tidak ada perubahan apa pun.

Kenapa Mitos Babi Ngepet Bisa Dipercaya?

Kepercayaan takhayul babi ngepet sebenarnya punya sejarah panjang. Fenomenanya bisa dilacak hingga zaman kolonial Belanda. Mitos ini dipercaya sebagai jalan pintas orang miskin untuk bisa memperbaiki hidupnya yang serba melarat.

Dalam buku Muslim Tanpa Masjid (2008), Kuntowijoyo menuliskan bahwa kepercayaan terhadap pesugihan yang menjadikan orang cepat kaya tanpa bekerja, termasuk takhayul babi ngepet awalnya ada pada masyarakat pertanian di masa penjajahan.

Pada masa tanam paksa (cultuurstelsel) sejak 1830-1870, penduduk setempat begitu sengsara. Bahkan orang Sunda memiliki ungkapan satir: “Orang lahir, kawin, dan mati di ladang tom”.

Karena itulah, ketika ada orang bumiputra yang kaya dan sejahtera, orang-orang sekitarnya yang miskin malah merasa iri. Diembuskanlah desas-desus bahwa orang kaya itu memelihara tuyul, pesugihan, babi ngepet, dan lain sebagainya.

Orang-orang sejahtera itu dilabeli sebagai penggandrung dunia gaib. Mereka berkeyakinan bahwa orang bisa kaya dengan cara memiskinkan orang lain. Masyarakat Jawa kala itu memandang bahwa orang kaya, baik itu pedagang ataupun usahawan bisa berhasil karena ada perjanjian dengan setan.

Seseorang yang sukses di antara para bumiputra, khususnya pengusaha, bukannya dihargai, namun malah dipandang jelek karena dianggap melakukan pesugihan (Ong Hok Ham dalam Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong, 2002).

Lantas, bagaimana bisa orang mempercayai takhayul?

Dalam kajian psikologi, orang percaya takhayul karena secara instingtif otak manusia menggiring pada pola keteraturan, sebagaimana disebutkan Bruce Hood dalam buku Supersense: Mengapa Kita Percaya Hal Tak Masuk Akal (2020).

Misalnya, dalam kasus Jawa di masa lalu, orang-orang bumiputra tidak menemukan kejelasan bagaimana orang (yang kelihatan) tidak bekerja sekeras mereka (kerja paksa) bisa kaya dan sejahtera, sementara mereka tetap miskin dan menderita.

Dalam kasus babi ngepet, sebagaimana ungkapan salah seorang ibu-ibu, ia menuduh tetangganya yang kelihatan menganggur, tapi banyak duit. Kebingungan itu menggiringnya pada persepsi bahwa orang tersebut pasti melakukan pesugihan. Baginya tidak masuk akal orang punya uang, sementara tidak bekerja.

Self-Serving Bias dan Enggan Bertanggung Jawab

Mirisnya, penggiringan pada tuduhan takhayul itu menunjukkan inferioritas manusia Indonesia. Ada anggapan bahwa orang bisa kaya dan sejahtera karena sudah memiskinkan orang yang lain. Jika tidak ada penjelasan logisnya, maka takhayul dan praktik pesugihan menjadi jalan pintas untuk melontarkan tuduhan.

Demikian juga yang dialami okmum ustaz tersebut. Ketika Adam Ibrahim ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka penyebar hoaks oleh polisi, nyatanya ia masih berkilah dan tidak langsung mengakui kesalahannya.

“Iman saya lemah, iman saya turun. Setan masuk ke dalam diri saya sehingga saya mempunyai suatu pikiran yang sangat-sangat jahat dan sangat-sangat tidak masuk akal,” ujar Adam Ibrahim, Kamis (29/4).

Dalam kajian psikologi, orang yang sudah salah, namun enggan mengakui kekeliruannya, malah menyalahkan orang lain, atau situasi eksternal itu dikenal dengan sebutan self-serving bias.

Orang dengan self-serving bias biasanya mengatribusikan keberhasilan pada dirinya sendiri, sementara itu menyalahkan kesalahan atau kegagalannya pada situasi eksternal. Dalam kasus Adam Ibrahim, ketika tak ada lagi yang bisa disalahkan, ia menyalahkan setan yang sudah menggodanya.

Padahal, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Ketika masuk Ramadan maka setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Lantas, kenapa bisa Ustaz Adam Ibrahim menyalahkan setan, padahal setan dibelenggu selama Ramadan?

Hal ini kian mengamini pidato Mochtar Lubis, yang kemudian dibukukan dengan tajuk Manusia Indonesia (2001) yang menyatakan bahwa salah satu sifat manusia Indonesia adalah enggan bertanggung jawab. Kendati jelas-jelas ia yang salah, setan yang katanya dibelenggu pada Ramadan yang malah disalahkan.

Sifat-sifat manusia Indonesia yang lain, menurut Mochtar Lubis, adalah munafik, berperilaku feodal, berbakat seni (dalam kasus Adam Ibrahim, ia bermain peran mengenai adanya babi ngepet), berwatak lemah, dan percaya takhayul.

Setan yang Dibelenggu pada Ramadan

Penafsiran hadis di atas, jika ditilik secara majazi, orang yang berpuasa seharusnya mencegah mereka dari perbuatan maksiat (perilaku setan). Sementara itu, jika ditinjau secara tekstual, setan hakiki bisa jadi memang dibelenggu, namun setan yang merupakan sifat manusia tidak serta merta terkekang.

Hawa nafsu manusia yang seharusnya ditekan tidak lantas tunduk, sebagaimana disebutkan dalam surah An-Nas (114: 6) bahwa (sifat) setan ada pada diri jin dan manusia.

Karena itulah, sikap seseorang untuk menyebarkan hoaks atau berita bohong berasal dari inferiorotas dia sendiri. Sifat setan yang bersemayam pada diri manusia. Studi yang dilakukan Robert Fieldman yang dimuat di Journal of Basic and Applied Psychology (2010) menyebutkan bahwa orang yang kepercayaan dirinya terancam, ia akan mudah berbohong, membuat hoaks.

Hal ini sesuai dengan tindakan Adam Ibrahim yang menyatakan bahwa tujuannya menyebarkan hoaks babi ngepet agar ia memiliki pengaruh di daerah tersebut. Selama ini, ia dianggap sebagai agamawan yang kurang dikenal.

Melihat keluhan banyak warga yang kehilangan uang, Adam Ibrahim memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menangguk pengaruh, sebagai strategi agar ia dihargai oleh masyarakat setempat. Dalihnya, ada babi ngepet dan orang lain pun menjadi korban tuduhan pesugihan dalam balutan agama.

Mochtar Lubis memang tidak salah, (banyak) manusia Indonesia rupanya memang percaya takhayul, apalagi jika dikaitkan dengan agama, maka mudah saja percaya dengan hasutan Adam Ibrahim. Buktinya, bapak-bapak kompleks rela bugil, telanjang bulat untuk menangkap babi malang dan tak berdosa yang dituduh sebagai babi jadi-jadian.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Membandingkan Ceramah Ustad Khalid Basalamah dengan Buya Yahya Tentang Sholat Perempuan Lebin Baik di Rumah?

Published

on

By


Beberapa waktu lalu, kembali Ustad Khalid Basalamah dalam ceramahnya mengatakan jika perempuan lebih utamanya sholat di rumah. Dalam ceramahnya yang berjudul “Shahih At-Targhib wa At-Tarhib – Anjuran Wanita agar Sholat di Rumah (Hadits 340)”, dirinya mengatakan jika sholat perempuan yang semakin tertutup akan semakin afdol (lebih baik).

Ustad Khalid Basalamah mengutip beberapa hadist sekaligus cerita sebagai penekanan jika perempuan lebih utama sholat di rumah. Pertama, kisah istri Abu Hummayd al-Sa‘idi yang meminta izin kepada Rasulullah untuk selalu shalat berjamaah dengannya, namun Rasulullah mengatakan shalat di rumah lebih baik. Kedua, mengutip pula riwayat al-Bayhaqi (w. 458 H).

Umm Humayd berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, kami sangat senang shalat bersamamu,”

Sebenarnya keadaan ini pun disebarkan oleh banyak kalangan penceramah. Benarnya perempuan lebih utama sholat di rumah? Adakah hadis atau cerita lain tentang keterlibatan dalam sholat berjamaah?

Sebenarnya hadis yang dikutip oleh Ustad Khalid Basalamah terpotong. Ada sepenggal kalimat dari riwayat  al-Bayhaqi (w. 458 H) yang terpotong. Berikut kalimat lengkapnya :

Umm Humayd berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, kami sangat senang shalat bersamamu, tapi suami kami melarangnya’”. (HR: al-Bayhaqi)

Artinya larangan Nabi Muhammad SAW bukan tanpa sebab. Dalam konteks hadist tersebut, Abu Humayd melarang istrinya untuk shalat bersama Nabi SAW dikarenakan rumah mereka jauh dari masjid Nabi. Lebih lengkap bisa membaca tulisan ”Perempuan Lebih Baik Shalat di Masjid atau di Rumah?” (tulisan di islami.co).

Dalam kasus yang sama, Buya Yahya dalam menjelaskan jika tidak setiap rumah menjadi tempat shalat yang khusu’. Buya Yahya mengumpakan jika ada rumah yang dihuni oleh lebih dari satu keluarga, dampaknya rumah tersebut menjadi ramai dan sulit melaksanaan shalat yang khusu’. Buya Yahya pun menganjurkan jika perempuan bisa shalat di masjid.

Dalam kontek ceramah Buya Yahya, tidak menempatkan rumah sebagai ruang yang utama untuk perempuan sholat. Artinya, perempuan bisa memilih shalat di mana pun, baik di rumah atau masjid. Baik secara munfarid atau berjama’ah. Perlu diketahui pula jika Imam Bukhari dalam Sahihnya (no hadist 578 dan 875) cerita tentang Aisyah di mana para perempuan mu’min biasa hadir mengikuti Nabi Muhummad shalat subuh dengan pakaian wol. Berikut hadist lengkapnya :

Dari Urwah bin Zuabir ra, bahwa Aisyah ra Bercerita : “Bahwa kami para perempuan mu’min biasa hadir mengikuti Nabi Muhammad shalat Subuh denga pakaian wol kami, kami akan bergegas pulang ke rumah masing-masing setelah selesai menunaikan shalat. Karena masih pagi buta dan gelap, seseorang masih belum bisa mengenali kami”. (Sahih Bukhari)

Hadist ini menambah catatan mengenai aktivitas perempuan yang selalu shalat berjamaah di waktu subuh. Terdapat dua hal yang digaris bawahi terkait hadist tersebut. Pertama, sholat berjamaah, diperuntukan baik perempuan dan laki-laki. Kedua, sholat berjama’ah secara psikologi baik untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Mengucilkan perempuan di dalam rumah berarti menjauhkan mereka dari segala manfaat psikologi dan sosial. Hal ini tentu saja bertentangan dengan kemaslahatan Islam yang bersifat secara universal.

Dari ceramah yang Ustad Khalid Basalamah kita menangkap jika perempuan masih menjadi objek. Menggunakan potongan hadist sebagai rayuan perempuan untuk menghindari keramaian untuk bersosialisasi. Sama halnya menurut baudrillard lewat tulisannya yang berjudul De la Seduction, menggambarkan bagaimana seluruh aspek kehidupan baik agama, politik, ekonomi dan lainnya memiliki peranan “rayuan” yang penting.

Rayuan menurutnya berada di permukaan, sesuatu yang fenomenal sama halnya dengan perempuan. “Rayuan” untuk perempuan menjadikan dirinya sebagai objek. Sehingga, kita perlu merefleksi konsep manusia yang diungkapkan oleh Richard Schmitt dalam bukunya yang berjudul Introduction to Marx and Engels, menegaskan bahwa arti “manusia menjadikan dirinya sendiri” bukan berarti bahwa manusia secara perseorangan menjadikan “dirinya sebagai seseorang”.

Artinya, laki-laki dan perempuan melalui produksi secara kolektif membuat suatu masyarakat yang nantinya akan membentuk mereka.  Marx berpendapat kondisi material menentukan secara umum proses sosial, politik dan kehidupan intelektual. Bukan kesadaran dir yang menentukan keberadaan sosialnya, melainkan keberadaan sosial yang menentukan kesadaran dirinya.



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Ambiguous Adventure: Sebuah Pergolakan Identitas di Tengah Pusaran Modernitas

Published

on

By


The question is disturbing nevertheless. We reject the foreign school in order to remain ourselves and to preserve for God the place He holds in our hearts. But have we still enough force to resist the school, and enough substance to remain ourselves?

“Apakah kita masih punya cukup kekuatan untuk menolak sekolah (Prancis), dan apakah kita cukup substantif untuk tetap menjadi diri sendiri?” Kutipan menyayat itu disampaikan oleh Thierno, guru sekolah al-Qur’an di Dialloube. Masyarakatnya, tak terkecuali para bangsawan sebagai pemimpin, sedang riuh oleh kebingungan menghadapi gempuran sekolah modern yang dibawa pemerintah kolonial Prancis.

Di satu sisi, mereka tahu betul harga yang akan dibayar ketika mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah modern, alih-alih ke sekolah al-Qur’an sebagaimana tradisi yang telah berabad-abad usianya. Chief Dialloube menimbang-nimbang, “But, learning, they would also forget. Would what they would learn be worth as much as what they would forget? I should like to ask you: can one learn this without forgetting that, and is what one learns worth what one forgets?”

Di sisi lain, mereka juga tidak mampu menahan penetrasi sekolah baru. Apakah sekolah al-Qur’an bisa menahan laju gerak zaman baru? Pertanyaan berat ini menjadi medan pertarungan batin berbagai pihak. Tidak ada yang tahu betul jawabannya. Semua hanya bisa meraba-raba. Apesnya, meski dalam kegelapan, mereka harus tetap mengambil keputusan.

Ambiguous Adventure (L’adventure ambique), novel yang ditulis oleh Cheikh Hamidou Kane asal Senegal dan terbit tahun 1961 ini merekam dilema yang mewarnai pertemuan antara Prancis-Eropa dan Afrika Barat pada masa penjajahan. Lewat perjalanan sosok Samba Diallo dan orang-orang di sekitarnya, Kane menggambarkan kerumitan pertemuan asimetris antara dua peradaban ini dan efeknya bagi subyek Afrika Barat.

Samba Diallo adalah keturunan bangsawan. Sepupunya adalah seorang chief Dialloube, dan ayahnya seorang knight. Samba dilamar khusus oleh guru Thierno sebagai santrinya karena ia melihat bakat spiritual anak ini. Thierno ingin mendidiknya langsung. Di usia enam tahun, orang tua Samba memondokkannya. Dalam konteks ini, itu artinya orang tua menyerahkan dan memercayakan jiwa raga anak ini kepada sang guru untuk dibentuk, ditempa. Demikianlah, Theirno memahat jiwa dan tubuh Samba dengan Kalamullah. Semua orang menerawang, kelak Samba akan menjadi penerus Thierno.

Guru sekolah al-Qur’an bukan peran sembarangan. Sebagai penubuhan dari al-Qur’an itu sendiri, guru al-Qur’an menjadi tempat orang meminta nasihat dan pandangan, mulai dari rakyat jelata sampai bangsawan. Ia adalah jangkar spiritual bagi masyarakatnya.

Di tengah Samba menjalankan pendidikannya di sekolah al-Qur’an, tekanan sekolah modern semakin menguat. Rakyat membutuhkan fatwa, apakah mereka harus mengirimkan anak mereka ke sekolah modern atau tetap ke sekolah al-Qur’an?

Sampai pada suatu ketika, kakak tertua chief yang dikenal dengan The Most Royal Lady, mengambil sikap. Ia berpandangan bahwa mereka harus mengirim anak-anak mereka ke sekolah modern, sehingga anak-anak ini bisa belajar “how they conquer without being in the right,” bagaimana orang-orang Prancis ini bisa menaklukkan meskipun tidak di pihak yang benar.

Pidato the Most Royal Lady begitu menggetarkan. Begini kata dia, “The school in which I would place our children will kill in them what today we love and rightly conserve with care. Perhaps the very memory of us will die in them. When they return from the school, there may be those who will not recognize us…

Ia sebenarnya tahu betul risiko dari keputusan itu. Orang-orang juga tahu bahwa ini lebih efektif dari mesiu, sekolah menjadikan penjajahan kian abadi. Apapun, the Most Royal Lady telah bulat dengan keputusannya itu.

Singkat kata singkat cerita, akhirnya, Sambapun ditarik dari sekolah al-Qur’an untuk dikirim ke sekolah modern. Sampai akhirnya ketika dewasa, ia belajar filsafat di Prancis.

Novel ini bukan hanya merekam pertemuan antara sekolah al-Qur’an dan sekolah modern, tetapi pertemuan antar jantung dua peradaban. Jantung peradaban Afrika Barat adalah spiritualitas. Jantung Prancis-Eropa adalah materialisme. Bagaimana Samba, yang punya memori sebagai santri, atau telah dipahat sebagai santri, dan kini sebagai mahasiswa di Prancis, hidup dengan dua jantung yang berbeda ini? Apakah ia bisa menyelaraskannya? Bisakah ia belajar sesuatu yang baru tanpa melupakan yang lama?

Krisis Identitas

Berikutnya, novel ini merekam bagaimana pertemuan ini melahirkan krisis identitas dan ambiguitas dalam pribadi Samba. Di sampul belakang buku ini tertulis, “Initially Samba Diallo is excited by his contact with Western culture and when he chooses to study philosophy at Paris he sees it as offering the most direct access to the European mind. But he rapidly finds that he is in an ambiguous situation for, while he has become estranged from the simple faith of his people, he is unable to identify with the soulless material civilization he sees in French.” Samba terjebak dalam situasi ambigu. Dia tercerabut dari akar tradisinya, tetapi di sisi lain, dia juga tidak bisa mengasosiasikan dirinya dengan peradaban Prancis yang “tak berjiwa,” “mekanik,” dan “dehumanis.”

Terkait bagaimana sekolah modern membentuk alam pikir baru, salah satu bagian paling menarik adalah ketika Samba begitu gelisah karena mendapati dirinya bisa membayangkan “to live” dan “to pray” sebagai dua kategori yang berbeda. “To live” merujuk kepada kehidupan sehari-hari. “To pray” adalah waktu-waktu sejenak yang dipakai untuk mengingat Tuhan di sela keseharian itu. Pembedaan ini sama sekali tak terbayangkan di masyarakatnya. Bukankah sebagaimana diajarkan gurunya, Thierno, hidup adalah zikir dan zikir adalah hidup? Pemisahan-pemisahan ini memang khas filsafat modern, seperti pembedaan yang sekuler dan agamawi, yang profane dan sacred, ilmu dan amal, atau dikotomi lainnya.

Novel ini adalah meditasi tentang subyek paska-kolonial yang penuh kebingungan. Mau diakui atau tidak, bukankah Samba adalah gambaran dari kita semua? Kitapun perlu menjawab pertanyaan yang menggelisahkan guru Thierno dan para tokoh lain di novel ini: Dalam membentuk diri yang baru, sebagai keniscayaan dari pertemuan dengan zaman baru ini, “apakah kita masih punya substansi untuk menjadi diri kita sendiri?”

Saya mengenal novel ini lewat Rudolph Ware III alias Bilal Ware, penulis buku The Walking Qur’an: Islamic Education, Embodied Knowledge, and History in West Africa. Rupanya, novel ini menjadi salah satu inspirasi Bilal Ware menulis buku tersebut. Seperti halnya buku ini, Ware berkisah tentang sekolah al-Qur’an di Afrika Barat, Senegal, dan bagaimana ia menghadapi gempuran imajinasi baru orang modern (Cartesian) tentang apa itu ilmu dan bagaimana ilmu mesti ditransmisikan, apakah lewal reason atau akal semata, atau juga lewat tubuh, juga isu-isu lain.

Pertanyaan mendasar novel dan buku ini bisa menemani siapapun untuk merenungkan kembali dunia pendidikan di Indonesia. Sekali lagi, bukankah kita punya kisah yang mirip dengan Samba? Atau, jangan-jangan kita adalah generasi setelah Samba yang bahkan tidak tahu apa yang sudah kita lupakan?



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Apa Itu Syafaat? Inilah Syafaat al-Udzma, Bukti Cinta Rasul pada Umatnya

Published

on

By


Salah satu keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah memiliki hak untuk memberikan sebuah syafaat kepada umatnya. Lalu, apa itu syafaat? Secara bahasa, Syafaat bermakna permintaan dan perantara. Sedangkan secara ‘urf (kebiasaan) syafaat adalah permintaan dan perantara  dari satu orang pada orang yang lain untuk memperoleh kebaikan. Dengan demikian yang dimaksud syafaat Nabi di hari kiamat adalah sebuah permintaan pertolongan kepada Allah yang diberikan oleh Nabi Muhammad kepada umatnya.

Hal ini didasari dengan  Firman Allah dalam al-Qur’an:

عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا ﴿٧٩﴾

Artinya: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79)

Menurut mayoritas ulama, yang dikehendaki dalam kalimat ‘maqaman mahmuda’ dalam ayat tersebut adalah maqam syafaat Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA ketika Rasulullah ditanya mengenai maksud Maqaman mahmuda, Rasulullah menjawab itu adalah syafaatnya.

Syafaat nabi yang disebut Syafaat al-Udzma. Apa itu syafaat al-udzma? Syafaat ini merupakan syafaat yang paling agung, sebagaimana artinya, dan hanya dimiliki oleh Nabi Muhammad. Syafaat ini pun berlaku bagi semua umat manusia, mulai zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya: Ketika semua manusia berondong-bondong mengadukan nasibnya kepada para Nabi. Mereka semua justru tidak mendapatkan kabar gembira, yang ada para nabi tersebut merekomendasikan kepada Nabi lainnya. Hingga satu-satunya Nabi yang bisa memberikan syafaat adalah Nabi Muhammad SAW. Inilah yang dimaksud dengan syafaat al-Udzma.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip pendapat Imam An-Nawawi yang menyatakan bahwa syafaat di hari kiamat nanti terdapat lima macam. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Qadhi Iyadh dalam As-Syifa:

Pertama, syafaat yang khusus dimiliki Rasulullah ﷺ, yaitu memberikan keringanan dan ketenangan bagi seluruh makhluk dari kegetiran dan ketakutan di padang mahsyar yang menggetirkan. Syafaat inilah yang dimaksud ulama sebagai “syafaat al-udzhma” karena meliputi seluruh makhluk, baik manusia maupun jin, baik yang mukmin maupun yang kufur.

Kedua, Syafaat Rasulullah SAW untuk memasukkan sekelompok orang ke dalam surga tanpa hisab.

Ketiga, syafaat untuk sekolompok orang agar tidak disiksa. Kelompok ini sebenarnya telah dihisab. Sedangkan hasilnya menunjukkan bahwa mereka seharusnya masuk neraka untuk disiksa. Namun berkat syafaat Nabi, mereka tidak jadi mendapatkan siksaan.

Keempat, syafaat untuk mengeluarkan pelaku maksiat dari dalam neraka.

Kelima, Syafaat Rasulullah SAW untuk mengangkat derajat sekelompok orang di dalam surga. Tidak ada dalil Al-Quran dan hadits yang menerangkan kekhususan syafaat ini untuk Rasulullah SAW. Tetapi Imam An-Nawawi menganggap hal itu mungkin.

Dari kelima macam syafaat diatas, yang secara khusus hanya dimiliki nabi adalah nomor satu dan dua. Sedangkan sisanya dimiliki oleh para malaikat, para nabi dan orang-orang yang sholih.

Syafaat sendiri merupakan salah satu bentuk kecintaan Rasulullah SAW yang amat besar kepada umatnya. Rasulullah tidak tega ketika melihat umatnya nanti pada hari kiamat menderita dan kesusahan. Oleh sebab itu, Rasulullah meminta kepada Allah agar diberi ‘hak’ khusus untuk memberi pertolongan kepada umatnya -tentunya setelah mendapat izin dari Allah. Mengenai hal ini Rasulullah pernah bersabda. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْـوَةٌ مُسْـتَجَابَةٌ فَتَعَجَّـلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَـهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْـوَتِى شَــفَاعَةً لأُمَّـتِى يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ فَهِىَ نَائـِلَةٌ إِنْ شَـاءَ اللَّهُ مَنْ مَـاتَ مِنْ أُمَّـتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. (HR. Muslim)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asyari Rasulullah SAW bersabda:

خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِى الْجَنَّةَ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ لأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى أَتُرَوْنَهَا لِلْمُؤْمِنِيْنَ الْمُتَّقِينَ؟ لاَ, وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِينَ

“Saya diberi pilihan (oleh Allah) untuk memilih antara syafaat atau separuh umatku akan dimasukkan surga. Maka saya memilih syafaat, karena syafaat itu lebih umum dan lebih banyak. Apakah kamu sekalian melihat bahwa syafaat itu hanya untuk orang-orang mukmin yang bertaqwa?. Tidak, akan tetapi syafaat itu untuk orang-orang yang berdosa, penuh kesalahan, dan banyak kotoran”. (HR. Ibnu Majah)

(AN)

Wallahu a’lam.

Referensi: Fath al-Bari vol 11 [437], Ad-Durrul Mandzud [122], Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah [23] Khasais Ummat Muhammadiyah [313] As-Syifa Bita’rifi Huquq al-Musthofa vol. 1 [172]



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved