Atas Nama Prokes Ketat, MUI Sumbar Bolehkan Shalat Idul Adha Meski PPKM Darurat? - Bagyanews.com
Connect with us

Telaah

Atas Nama Prokes Ketat, MUI Sumbar Bolehkan Shalat Idul Adha Meski PPKM Darurat?

Published

on


Sudah dua tahun pandemi berjalan dan dilema-dilema kehidupan sudah mulai menampakkan fase yang lebih jauh. Di Sumatra Barat, MUI setempat menolak anjuran peniadaan selebrasi Idul Adha dengan alasan ada ketidak-adilan pembatasan yang dilakukan pemerintah terhadap kegiatan ekonomi dan kegiatan keagamaan.

Berbeda dengan kebijakan Kementerian Agama soal Idul Adha, MUI Sumatra Barat mengeluarkan maklumat untuk tetap merayakan Idul Adha dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat.

Penolakan itu secara tidak langsung menyiratkan bentuk protes atas pilihan-pilihan dilematis yang selama ini telah menguras banyak energi. Persoalannya, energi siapa? Bagi kelompok beragama, pembatasan kegiatan keagamaan adalah menguras energi. Orang dituntut sabar untuk tidak berkerumun. Begitu juga pendidikan dengan kegiatan edukatifnya, dan perniagaan dengan jual-belinya. Namun bagi oligarki, matinya ekonomi nasional dan matinya bisnis-bisnis mereka, adalah menguras energi.

Paradoks muncul ketika tiba di sektor ekonomi menengah-atas. Objek seperti mall misalnya, jadi bulan-bulanan kelompok beragama karena tempat ini merepresentasikan kegiatan duniawi, sedangkan kegiatan akhirat, dibatasi. Situasi pandemi menarik orang atau kelompok pada benturan yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Sebagian ada yang pecaya bahwa semakin kita dekat dengan Allah (otomatis diiringi dengan semangat ibadah yang lebih rajin) maka semakin terhindar atau semakin cepat pandemi ini berakhir. Sebagian lain ada yang percaya bahwa, semakin kita taat dengan anjuran pemerintah dan pendekatan sains, maka semakin cepat pandemi ini selesai.

Apapun cara pandangnya, sah. Walaupun seseorang dapat mengatakan bahwa salah satu dari cara pandang itu terdengar egois, namun ketika pengalaman hidup sudah diwarnai oleh wafatnya orang terdekat, tutupnya mata pencaharian, dan beberapa orang ada yang curiga atas prosedur fasilitas kesehatan, maka memercayai salah satu dari cara padang itu tidaklah berlebihan secara psikologis, meskipun secara logika―entah itu logika moral ataupun logika material―dapat diperdebatkan sengit.

Akan tetapi, cara pandang apapun yang digunakan akan tetap tak signifikan kalau kedisiplinan dan konsistensi telah absen dari budaya suatu negara. Apa yang terjadi pada MUI Sumatra Barat adalah ekspresi kejengahan atas ketimpangan antara pemenuhan rohani dan pemenuhan jasmani (ekonomi). Hal ini juga dapat didebat sampai akar oleh banyak pihak dengan latar yang berbeda, soal seberapa jauh jenis ekonomi yang diperbolehkan.

Di fiqh pun aturan mainnya jelas: kalau sudah menyangkut hidup-mati, maka yang dipilih adalah opsi yang paling kecil bahayanya. Aturan fiqh mungkin banyak menuntut kedisiplinan dan konsistensi dalam menjalankan opsi yang dipilih. Namun aturan fiqh tetap bisa jadi lentur ketika ia tiba di suatu daerah dengan kultur optimisme toksik yang kental.

Berapapun angka kasus dan korban pandemi, kalimat “sesuai protokol kesehatan” adalah kata sakti baru yang dapat memberikan keamanan semu. Masalahnya hanya soal oleh siapa dan untuk apa kata ini digunakan. Di tahun 2020, petinggi gugus tugas penanganan covid-19, Wiku Adi WIcaksono menggunakan kata sakti ini untuk membuka bioskop. Menjelang Idul Adha 2021, MUI Sumatra Barat pun menggunakan kata sakti yang sama.

Namun apapun polemiknya, pandemi di Indonesia mirip dengan eksperimen massal yang belum pernah diuji sebelumnya: manakah yang akan mengentaskan pandemi? Seribu doa yang konsisten namun tanpa kebijakan yang konsisten? Atau kebijakan yang konsisten tanpa seribu doa yang konsisten? Idealnya, kebijakan dan doa sama-sama konsisten. Namun kita dapat menilai mana yang terjadi di Indonesia. Tentu, pasca-pandemi ini akan ada banyak orang yang mengalami redefinsi tentang apa itu iman, materil, dunia, akhirat, agama, pemerintah, dan lain sejenisnya.

Akan tetapi, benturan pandangan tersebut terlalu dikotomis. Pada kenyatannya, ada aspek lain seperti perilaku (behavioral) atau budaya. Di tengah pasang surutnya kedisiplinan dan konsistensi (meski fase surut lebih lama dibanding fase pasang) di ranah apapun, dan di tengah mayornya jumlah umat Islam di Indonesia, mungkin tidak ada yang lebih baik selain memberikan tauladan kedisiplinan dan konsistensi ketika pihak elit sering menauladankan ucapan dan praktik yang berbeda.

Tanpa mengurangi kesakralan Hari Raya Idul Adha, kiranya bukan hal yang sulit kalau dengan tetap dirumah dan libur solat Ied sebentar, dapat menyelamatkan nyawa banyak orang. Santai aja, Gusti Allah sampun ngerti~





Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Keharaman Candi Borobudur dan Problem Eksklusifitas Umat Islam

Published

on

By


Baru-baru ini, ada sebuah video di Youtube tentang seorang pendakwah bernama Sofyan Chalid Ruray. Ia mengatakan bahwa berwisata ke Candi Borobudur merupakan sesuatu yang haram karena itu sama saja dengan persetujuan kepada peribadatan umat Budha. Menurutnya, Umat Islam tidak boleh duduk dengan mereka yang menghina dan mengolok-ngolok agama Allah. Umat Islam, katanya, boleh mengunjungi Candi Borobudur hanya dengan satu tujuan, yaitu membubarkan mereka yang beribadah kepada selain Allah.

Dakwah Ustadz Sofyan Chalid tersebut sebenarnya sudah diunggah 3 tahun silam, tepatnya pada 2018. Namun belakangan ini ceramahnya menjadi viral, sehingga Sofyan Chalid kembali mengunggah penggalan ceramahnya dengan penjelasan yang lebih komprehensif di kanal Youtube pribadinya.

Dalam ceramahnya, Sofyan Chalid menggunakan tiga dalil al-Qur’an, yaitu QS. at-Taubah: 65-66, QS. an-Nisa: 140, dan QS. al-Anfal: 25. Di tambah dengan hadis tentang anjuran Muslim untuk melawan kemunkaran dengan tangannya, lisannya, atau hatinya. Sofyan Chalid juga mengutip qaul Umar bin Khattab “Janganlah kamu menemui kaum musyrikin di gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah mereka, karena sesungguhnya murka Allah akan turun kepada mereka (Riwayat Al-Baihaqi dalam Kitab As-Sunnan).

Secara umum, Sofyan Chalid mempermasalahkan tiga hal, pertama, kerentanan aqidah umat Islam jika masuk ke dalam tempat Ibadah umat Muslim. Kedua, jikapun umat Islam cukup kuat untuk menjaga imannya, paling tidak kehadiran umat Islam di Candi Borobudur justru berpotensi memotivasi orang Buddha untuk terus mempertontonkan agamanya agar orang lain tertarik. Ketiga, diamnya orang Muslim ketika ada orang yang berbuat maksiat kepada Allah, seperti praktik kemusyrikan misalnya, maka hal itu sama saja dengan persetujuan akan kemaksiatan itu.

Jika membincang tentang Candi Borobudur, maka kita sedang membincang simbol-simbol umat agama Budha. Jika menggunakan kaca mata Sofyan Chalid, jelas sekali bahwa segala sesuatu yang berada di luar Islam akan dihitung sebagai kemusyrikan yang harus dimusnahkan atau dirubah.

Padahal, di sisi lain, Allah melarang umat Islam mencela simbol-simbol sakral agama lain. Allah menegaskan hal itu secara tersirat dalam QS. al-Hajj: 40 dan secara tersurat pada  QS. al-An’am: 106. Dalam surat yang disebut terakhir, misalnya:

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Agama-agama selain Islam juga harus mendapatkan penghormatan yang sama dari komunitas kaum muslim. Tempat-tempat ibadah mereka, simbol-simbol agama yang mereka sakralkan juga harus mendapatkan penghormatan.

Berkaitan dengan hukum kehadiran umat Islam di tempat ibadah orang lain, tidak ada satupun dari empat ulama madzhab yang mengharamkan secara mutlak umat Islam yang memasuki rumah ibadah non-muslim. Pendapat yang mendekati haram disampaikan oleh ulama madzhab Hanafi, seperti misalnya yang tertulis dalam kitab Syekh Ibnu Abidin, Raddul Muhtar Alad Durril Mukhtar,

يُكْرَهُ لِلْمُسْلِمِ الدُّخُولُ فِي الْبِيعَةِ وَالْكَنِيسَةِ

“Bagi seorang Muslim, memasuki sinagog dan gereja hukumnya makruh.” (Lihat: Muhammad Amin Ibnu Abidin, Raddul Muhtar Alad Durril Mukhtar, juz 1, h. 380).

Menurut mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i hukumnya boleh, sedangkan menurut sebagian ulama lain dari mazhab Syafi’i hukumnya tidak boleh, kecuali ada izin dari mereka (non-muslim).

Mengapa tidak ada satupun fatwa keharaman mutlak keluar dari empat madzhab besar tersebut? Hal itu karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang mampu menakar motif dan niat orang lain dalam melakukan sesuatu, termasuk ketika memasuki rumah ibadah agama lain. Di sisi lain, fatwa madzhab-madzhab tersebut berdasar pada kepercayaan mereka terhadap kualitas iman umat Muslim yang tidak mungkin terpengaruh begitu saja hanya karena memasuki wilayah peribadatan orang lain.

Dalil tersebut jelas menyebut sinagog dan gereja sebagai tempat yang secara spesifik berfungsi sebagai tempat ibadah. Berbeda dengan Candi Borobudur. Memang benar bahwa Candi Borobudur merupakan tempat ibadah umat Buddha terutama ketika  hari raya Waisak. Namun, di sisi lain, Borobudur menyimpan sejarah megah peradaban Nusantara masa lalu. Hal inilah yang kemudian menjadikan Borobudur sebagai cagar alam dan situs warisan dunia yang kaya akan cerita. Jika seorang Muslim pergi ke Borobudur dengan niat mengikuti ibadah umat Buddha dan menyukutukan Allah, tentu hal itu sangat dilarang dalam Islam.

Namun bagaimana jika orang-orang berwisata ke sana untuk kepentingan ilmiah, misalnya, atau sekedar untuk menambah wawasan tentang sejarah peradaban Buddha yang notabene menghuni Nusantara jauh sebelum Islam datang. Bagaimana bisa ceramah-ceramah “ustadz-ustadz” itu justru mengerdilkan semangat orang-orang untuk menuntut ilmu dan menambah pengetahuan. Lagipula, Buddha bukanlah agama misionaris seperti Kristen, Islam, dan Yahudi. Meskipun mengajarkan dharma,  Buddha tidak bermaksud mencari pengikut ataupun mengubah keyakinan atau cara hidup seseorang, dharma hanya berujuan untuk menunjukkan jalan melenyapkan permasalahan kehidupan, dan membantu semua makhluk terbebas dari penderitaan

Dalam videonya, Sofyan Chalid menyebutkan bahwa dengan berwisata ke Candi Borobudur, kita secara otomatis akan melihat peribadatan umat Buddha di sana, apalagi ketika hari raya Waisak, di mana perayaan seremonial keagamaan menjadi daya tarik utama wisatawan ke Borobudur. Menurut Sofyan Chalid beserta pemahamannya  terhadap dalil-dalil tersebut, melihat peribadatan umat agama lain tanpa adanya intensi untuk merubahnya atau membubarkannya berarti sepakat dengan kemusyrikan yang mereka lakukan.

Di sisi lain, dalam Tafsir al-Qurthuby dijelaskan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. pernah menerima sejumlah pembesar delegasi dari Kristen Najran untuk bertamu di Masjid Nabawi. Ketika sampai saatnya untuk beribadah, Rasulullah saw. memberi kesempatan kepada mereka untuk beribadah. Bahkan, dengan senang hati Nabi
saw. mengizinkan delegasi tersebut untuk beribadah di Masjid Nabawi.

Jika mengacu pada logika ajaran Sofyan Chalid, Nabi terlihat telah melakukan kesalahan. Bagaimana bisa Nabi membiarkan orang Kristen Najran beribadah di Masjid Nabawi, dan bahkan Rasulullah sendiri yang menawarkan tempat itu. Mestinya, Nabi tidak akan membiarkan ada praktik kemusyrikan di sekitar dirinya, bahkan di dalam masjid, tempat paling sakral dalam keyakinan umat Islam.

Sama halnya ketika Umar bin Khattab radhiallahu’anhu menaklukkan Yerussalem Palestina. Beliau menjamin warganya agar tetap bebas memeluk agama dan mengenakan salib-salib mereka. Umar tidak memaksakan mereka memeluk Islam dan menghalangi mereka untuk beribadah, asalkan mereka tetap membayar pajak kepada pemerintah Muslim. Dua sirah tersebut nampaknya cukup menggambarkan batasan interaksi dan toleransi  antara umat Islam dan non-muslim.

Islam pernah berada di zaman keemasan di bawah dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Zaman keemasan yang berlangsung sampai pada tahun 1258 M itu ditandai dengan keterbukaan umat Islam bergaul dengan umat agama lain. Peradaban itu benar-benar dirancang secara cerdas, diawali dengan penerjemahan buku buku filsafat dan sains yang berasal dari Yunani, Persia, India dan Cina yang notabene bukan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu, jangan sampai Islam menjadi sangat terbelakang hanya karena pemikiran-pemikiran sempit dan sifat eksklusif. Secara muamalah, interaksi antara Islam dan agama lain sangat dibolehkan, akan tetapi menghakimi kaum Muslim berdasarkan niatnya bukanlah sesuatu yang dibenarkan, karena satu-satunya Dzat yang memiliki otoritas untuk menilai niat dan kualitas iman seseorang adalah Allah swt.

Wallahu a’lam bis shawab…





Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Ketika Seorang Brandal Menjadi Wali

Published

on

By


Wali Brandal Tanah Jawa adalah buku yang berkaitan dengan masyarakat muslim Indonesia, tapi bukan tentang keramaian ibadah di masjid, perkembangan sekolah-sekolah Islam, atau tentang perda-perda bernuansa Islam di berbagai daerah. Buku ini juga bukan tentang gerakan radikalisme Islam atau terorisme yang belakangan ini mendominasi gelanggang riset ilmu sosial dan riset keislaman, yang hasilnya kerap membuat kita cemas dan risau.

Buku ini tentang tradisi ziarah di tanah Jawa, dari ujung barat hingga hingga ujung timur, dan menyeberang ke tanah madura. Tradisi ziarah itu meningkat pesat dan berkembang semarak, yang memberikan impresi yang lebih adem dan tenang tentang masyarakat Islam Indonesia. Ziarah kubur, dengan berbagai motifnya, praktiknya, cerita-cerita yang mengiringi dan melingkupinya, berlangsung senyap, tapi bergerak pasti, menancapkan pengaruh dan jejaknya pada masyarakat Islam yang lebih toleran, menghargai perbedaan dan sadar pada kebinekaan. Tepat sekali jika George Quinn mengatakan, tradisi ziarah ini adalah arus berseberangan dengan pengerasan Islam yang disebut dengan berbagai nama oleh para peneliti dan pengamat. Judul asli bukunya How Java’s Eccentric Saints are Challenging Fundamentalist Islam in Modern Indonesia, sudah menunjukkan hal Itu. Tetapi dalam Bahasa Indonesia entah mengapa subjudul ini dihilangkan.

George Quinn mengunjungi puluhan makam atau situs yang dikeramatkan, selama hampir tiga dasawarsa. Beberapa situs ia kunjungi berkali-kali. Tetapi dalam catatan saya, ia hanya menuliskan 23 makam dan situs tersebut, memberikan catatan deskriptif berdasarkan pengamatan dan obrolan dengan para penziarah, juru kunci atau pedagang sekitar, dan menelusuri cerita dan citra sang wali yang makamnya diziarahi, pola-pola invensi yang dibangun dan sebagainya. Dan yang paling menarik adalah ‘usahanya mengalami’ bagaimana ziarah itu dilakukan dengan misalnya sudi naik bis yang panas, penuh debu dan bau, ikut berlelah payah rombongan para penziarah mendaki gunung di tengah malam yang dingin, didebat dan diajak masuk Islam, dll.

Makam-makam ini, terentang dari makam-makam wali arus utama dan telah lama menjadi situs penziarahan kalangan santri seperti Makam para wali misal makam Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Pamijahan dll, dan makam-makam yang bisa disebut dari tokoh-tokoh kalangan abangan, yang melalui proses yang ajaib, telah mengalami “islamisasi” dan kini juga menjadi situs penziarahan baru kalangan santri seperti Mbah Jugo Gunung Kawi, istana erucakra, dll. Mengapa terjadi ‘islamisasi’ ini, di buku tak dijelaskan, tapi saya punya hipotesis: ini strategi untuk tidak diserang kalangan muslim puritan. Dengan menjadikannya ‘sebagai makam tokoh suci Muslim’, maka ia telah mendapat suaka kultural-politis yang kuat.

Dengan demikian, yang dipaparkan sebenarnya adalah ziarah orang abangan dan ziarah santri. Tetapi pembagian ini dari saya, bukan dari penulis, setelah menelusuri buku ini, karena pada kenyataannya ada karakter, sifat, tujuan, dan gaya yang khas berziarah keduanya. Namun di lapangan karakter ini hablur dan tak tampak. Demikian juga dalam ‘deskripsi mendalam’ –meminjam istilah Geertz– penulis, hal ini sebenarnya juga kelihatan. Bahkan di tempat ziarah yang notabene wali Islam seperti makam Sunan Bayat, itu ada dua model penziarah antara penziarah santri dan penziarah abangan.

Ziarah kubur adalah praktik keagamaan dan kebudayaan yang kompleks. Di dalamnya termuat banyak makna yang saling beririsan, berhimpitan, tumpang tindih, bersilangan, dan tak jarang sebenarnya bertabrakan, tetapi semuanya tetap ditampung dan tertampung, melalui berbagai kompromi dan negosiasi makna ‘ziarah’ itu sendiri, yang rupanya memang luas bak lautan. Justru karena ziarah di dalam dirinya memang disadari sebagai praktik yang rumit, tidak mudah, yang menuntut pemahaman dan keyakinan yang khas Jawa. Salah satu contohnya adalah transformasi sosok yang semula bajingan, brandal, preman, dll., seperti Sunan Kalijaga, lalu menjadi wali.
Tetapi bukan hanya Sunan Kalijaga, ada juga Maling Gentiri, juga ada Syekh Domba (yang terakhir ini tak disebut George Quinn), dll.

Barangkali karena itu di dalam narasinya kita menemukan simpati, kekaguman, keheranan, tapi kadang juga semacam ejekan yang dibalut dalam sinisme. Di lain pihak ada juga semacam semangat romantisme.

George Quinn menuliskan hasil risetnya secara naratif, dengan gaya bercerita yang renyah. Dialog-dialognya menarik sehingga kita seperti membaca novel. Tulisannya dibalut kekuatan empati, rasa humor, dan juga kritisisme ala seorang periset. Tak jarang secara terbuka, George mengemukakan ketidakpercayaannya secara terbuka sembari pada saat yang sama terus berupaya menelusuri kisah-kisah, baik lisan maupun tulis, untuk mencoba memahami fenomena di balik realitas yang dilihatnya atau pemikiran respondennya. Obyektivitas pada buku ini adalah kejujuran George Quinn untuk menyatakan ketidaksetujuan dan ketidakpercayaannya secara terbuka, bahkan di bagian awal ia telah mengaku sebagai seorang ateis. Bagaimana bisa seorang ateis meneliti tradisi ziarah di makam-makam orang yang dianggap suci?

Dengan segala itu semua, ziarah dan makam yang diziarahi plus peristiwa-peristiwa sosial-politik keagamaan yang baru-baru ini hadir melingkupinya, menimbulkan paradoks-paradoks dan kontradiksi. Semangat dari beberapa tulisan Quinn dalam buku ini memunculkan hal itu, misal tentang tokoh Sunan Kalijaga yang diyakini berperan meletakkan arah kiblat masjid Demak dengan akurat, ternyata oleh pengetahuan modern belakangan yang diperkenalkan oleh MUI, arah tersebut terbukti meleset. Tapi para jamaah masjid Demak sekitar tetap bersikeras menggunakan arah kiblat yang diyakini dibuat oleh Sunan Kalijaga itu. Kuasa agama lokal versus kuasa agama pusat tarik-menarik. Juga ketika terjadi kerusuhan di makam Mbah Priuk, masyarakat setempat pendukung makam bukan hanya berhadapan dengan pemerintah dan Pelindo, tapi juga dengan MUI yang datang dengan hasil riset bahwa tak ada makam Mbah Priuk di situ, dan tokoh Mbah Priuk hanya omong kosong saja. Contoh berikutnya adalah diangkatnya makam Maling Gentiri, seorang brandal dan preman, sebagai makam keramat, yang ramai diziarahi. Makam ini sendiri direhab oleh seorang tokoh teras Pemuda Pancasila (ia tak boleh disebut namanya hehehe), sehingga terbayangkan oleh kita bahwa si tokoh adalah perwujudan kontemporer dari Maling Gentiri dan karena itu kenapa tidak nanti makamnya juga dikeramatkan dan diziarahi.

Menjadi pertanyaan: mengapa tiba-tiba terjadi semacam ledakan orang berziarah ke makam? Ada dua jawaban yang dikembangkan. 1. Sejak PKI dihabisi pada tahun 1965, dan gerakan nasionalis juga dipinggirkan, maka kalangan abangan kehilangan tempat bernaung dan berlindung, termasuk dalam hal ritual. Nah di sinilah ‘makam’ dan segala ritus di dalam dan sekitarnya, menjadi semacam ‘suaka’ bagi mantan orang-orang abangan ini. Maka makam, dengan demikian, menjadi semacam oposisi terhadap masjid, tempat Islam yang lebih formal dan relatif murni dikembangkan; 2. Adanya semacam ‘komersialisi ziarah.’ Ini ditunjukkan dengan berdirinya banyak perusahaan agen perjalanan mengelola ziarah ke berbagai makam tersebut lengkap dengan layanan catering, seragam dan bimbingan doanya.

Pendapat pertama tentu bisa dipertanyakan, namun ia seperti menemukan akurasinya, jika fenomena ziarah ini dikaitkan dengan Jawa saja. Betul bahwa di Jawa praktik ziarah memang sangat unik, massif dan luar biasa. Seorang teman dari Aceh pernah tercengang ketika berkunjung ke Jombang dan diajak ziarah ke makam Gus Dur pada malam hari. Lebih tercengang lagi ia karena melihat makam demikian ramai. Baginya itu aneh sekali, karena makam-makam di Aceh pada sore hari umumnya sudah sepi.

Tetapi itu bukan berarti di luar Jawa fenomena ini tidak ada dan tidak ada perkembangan baru juga. Dalam hal ini, saya ingin mengingatkan dua tradisi ziarah di luar Jawa, yakni di Kalimantan Selatan dan di Pariaman, Sumatera Barat.

Di Jawa memang ada banyak makam keramat, dan ramai diziarahi di sepanjang waktu. Kendati demikian, mungkin tak ada ziarah yang lebih besar dalam suatu tempat dan waktu sekaligus, dalam suatu hentakan, yang menyetarai ziarah ke makam Tuan Guru H. Zainie Ganie, atau dikenal sebagai ‘Guru Sekumpul’ di Martapura, Kalimantan Selatan pada hari haulnya. Yang menarik, ini adalah makam yang relatif masih baru dan tokoh yang disemayamkan di sana masih sezaman dengan kita. (Mirip dengan Gus Dur, oh dua sosok ini sudah saya tulis di buku saya, beli ya, sudah cetakan ke-4 lho). Makam Guru Sekumpul sangat bersih, megah, dan rapi.

Yang kedua, makam Syekh Burhanuddin Ulakan, di Tanjung, Ulakan, Padangpariaman. Sekitar sepuluh tahun lalu, saya berziarah ke sana, persis pada saat ‘basapa’. Basapa atau ‘bersafar’ adalah hari peringatan wafatnya sang wali pada bulan Safar, atau haul, yang pengenangannya kemudian menjadi acara basapa. Acara ini menghadirkan ratusan ribu penziarah (dan tentu juga pengunjung yang datang hanya untuk menonton, berbelanja, melihat keramaian, dll).

Pada malam terakhir, saya duduk bersimpuh dekat makam, ketika para penziarah ramai meminta pasir yang telah dimasukkan ke botol bekas air mineral. Kebetulan makam Syekh Burhanuddin tak jauh dari pantai yang banyak pasirnya. Pasir itu jika ditaburkan di sawah, kebun atau ladang, diyakini akan memberikan kesuburan. Pasir itu dengan demikian berfungsi seperti pupuk. Katakanlah pupuk spiritual. Tentu saja dengan mengambil barokah sang wali, yang dikenal sebagai mursyid dan guru tarekat syatariah.

Setiap penziarah hanya mendapat satu botol pasir dan membayar mahar secukupnya. Nah saat itu ada penziarah yang ingin mendapat lebih dari satu botol. Dia bilang sawahnya sangat luas, tidak cukup kalau hanya satu botol. Pengelola makam menolak menambahkannya karena peraturan satu orang hanya satu botol. Tetapi si penziarah itu terus meminta dan bernegosiasi. Sampai akhirnya berhasil.

Sungguh itu suatu adegan yang memikat dan mencengangkan, yang khas dan tidak akan Anda temukan di tempat lain. Apalagi di Saudi Arabia sana. Nusantara banget pokoknya.

Makam dan berbagai tradisi ziarah yang mengiringinya, serta pandangan dunia para penziarah ini, para ‘kaum sarkub’ ini, kata George Quinn, membuat Nusantara ini seperti ‘Andalusia’. Berada di dalamnya orang tidak merasa asing, nyaman dan aman, dan ingin menjadi bagiannya.

Yuk ziarah yuk!

 

*) Hairus Salim, Direktur LKiS

*) Ini catatan diskusi buku Wali Brandal Tanah Jawa, yang diadakan PPM Aswaja Nusantara, bersama dengan penulis George Quinn, pada 29 April 2021.





Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Memahami Geliat Dakwah Seleb Hijrah

Published

on

By


Medio 2019, Uki (eks gitaris) Noah mengaku telah hijrah. Salah satu alasannya adalah ingin memperdalam ilmu agama. Fesyen dan lifestyle-nya pun ikutan berubah. Mula-mula dia mengubah nama menjadi (Uki) Muhammad Kautsar Hikmat. Dia kemudian berdakwah.

Memang, dakwah merupakan tugas setiap umat muslim. Nabi Muhammad sendiri yang bilang bahwa ballighu anni walau ayah (sampaikanlah apapun dariku, kendati tidak musti ndakik-ndakik). Tapi Nabi Muhammad menyampaikan hal itu kepada para sahabatnya, atau generasi Islam awal.

Para Sahabat Nabi lalu menangkap dan menafsir sunnah (habit) Rasul sesuai kapasitas storage yang mereka punya. Ada yang utuh, ada pula yang separuh. Itulah kenapa Nabi Muhammad selalu toleran menyikapi keberagaman umatnya.

Dari para sahabat, risalah dan sunnah Nabi itu mewaris ke para tabi’in, lalu ke tabiut tabi’in, lalu ke pengikut tabi’ut tabi’in, lalu ke ulama. Dalam berdakwah, para ulama memiliki pendekatan teknis yang berbeda-beda. Dan, namanya ulama, dia pastilah seorang yang alim. Alim berarti pintar, atau tangkas, atau cerdas. Karenanya, SOP para ulama ketika berdakwah adalah sama, yaitu bil hikmah, wal mau’idhotil hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan.

Bil hikmah berarti kebijaksanaan. Tetapi kata ‘hikmah’ di sini bisa kita artikan sebagai kebudayaan. Demikian keterangan mendiang Kuntowijoyo dalam buku Muslim Tanpa Masjid. Jadi, dakwah bil hikmah adalah dakwah yang tidak tercerabut dari kebudayaan. Itulah kenapa jika Anda berkunjung ke Masjid Kauman di Yogyakarta atau Masjid Menara Kudus, bentuk arsitekturnya beda dengan Masjid Al-Jihad atau Masjid Al-Ittihad, atau masjid-masjid Al-lainnya.

Baik. Kembali ke Uki Noah. Di media sosial, pernyataan Uki terkait musik mendapat sorotan. Bagi dia, musik adalah haram. Alasannya, musik merupakan pintu maksiat. Uki kemudian mengaku gerah jika mendengar musik di mall dan pesawat.

Pernyataan Uki mungkin saja mengandung kebenaran. Tetapi ia tidak sepenuhnya tepat. Perbedaan pendapat di antara para ulama terkait musik adalah pendapat yang valid. Mu’tabar. Benar bahwa ada dalil yang mensiyalir keharaman musik. Namun, di antara para Sahabat Nabi sendiri, musik rupanya tidak selamanya dihindari.

Abdullah bin Jakfar bin Abi Thalib, umpamanya, pernah mendirikan majelis di dekat para pembantu wanita yang bersenandung dengan alat musik. Bayangkan!! Seorang Sahabat Nabi!! Tinggal di Mekah. Plus, suami dari Sayyidah Zainab, putrinya Rasulullah.

Lalu, kenapa musik bisa haram?

Jadi di masa lalu, umumnya pentas musik adalah identik dengan miras dan skandal sosial. Itulah kenapa jumhur ulama empat mazhab dari kalangan ahlus sunnah wal jama’ah berpendapat bahwa letak keharaman musik bukan pada alatnya, tetapi pada efek yang ditimbulkannnya. Begitu keterangan dari Habib Ali al-Jufri, cucunda Nabi Muhammad.

Jadi, musik itu memang haram kalau orangnya gak bisa main, atau bisa main tapi dimaksudkan untuk ngebunuhin orang kayak Strachmen Apoo. Meski begitu, ada sedikitnya dua hal yang bisa kita catat dari fenomena Uki Noah.

Pertama, dia bukan orang baru di lingkaran selebriti yang mengaku hijrah. Medio 2000-an, Sakti, gitaris Sheila on 7, telah lebih dulu putar balik dari gemerlap industri musik. Saat itu, istilah hijrah belum semeriah hari ini, kendati yang dilakukan oleh Sakti adalah sama secara esensial.

Terus terang, saya kurang tau kapan persisnya istilah hijrah bermula. Meski begitu, terminologi hijrah menjadi semakin populis setelah pasangan selebriti, Teuku Wisnu dan Shiren Sunkar, mengaku bahwa jiwanya gersang sehingga ingin lebih jauh mendalami ilmu agama. Keduanya pun menjadi ideal selebriti hijrah lainnya.

Sejurus kemudian, nama-nama seperti Zaskia Sungkar, Irwansyah, Fenita Arie, Arie Untung, Virgoun, Fahira, Primus, Ricky Harun, Herfiza Novianti, Tommy Kurniawan, Sahrul Gunawan, Dude Herlino, Alyssa Soebandono, wa akhwatuha turut menyemarakkan panggung religiusitas publik figur.

Kedua, baik Uki Noah atau seleb hijrah lainnya pada mulanya adalah anak kandung dari era kapitalisme lanjut. Citra mereka di hadapan publik lahir dari layar kaca dan budaya populer. Ada yang pernah menjadi musisi, pemain sinetron, bahkan pelawak. Bisa dibilang bahwa masa lalu mereka telah kenyang dalam melayani kepentingan pasar.

Di sini, hijrahnya para selebriti bisa kita baca dalam kerangka bahwa mereka sebetulnya masih melayani ideologi yang sama, kendati dengan wajah yang berbeda. Para selebriti itu boleh saja mengaku lebih agamis, tetapi mereka akan sungkan berhijrah jika urusannya adalah terasing dari followers. Maka, dakwah menjadi semacam field of battle baru untuk menguji sekaligus mengejawantahkan kapital simbolik (baca: popularitas) yang mereka punya.

Biasanya, konten-konten kajian dakwah seleb hijrah berisi ceramah tentang persoalan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengklaim bahwa materi dakwahnya merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad. Lebih dari itu, konten berupa fragmen pengalaman dan proses hijrah tak lepas dari menu utama mereka. Dan, penggunaan berbagai platform media baru seperti Instagram dan Youtube dalam aktivitas dakwah menjelaskan pasar utamanya, yaitu masyarakat muda (kelas menengah) muslim urban.

Pertanyaannya, apa yang sebetulnya diharapkan dari aktivitas dakwah seleb hijrah?

Kalau alasannya adalah mendakwahkan Islam semata, tentu saja jawaban ini sepertinya kurang memuaskan. Sederhana saja, populasi umat Islam di Indonesia sudah kelewat melimpah ruah.

Maka, alternatif jawaban yang lebih make sense di sini adalah bahwa dakwah seleb hijrah itu sebetulnya sedang merepresentasikan corak keislaman tertentu, sehingga keberadaan mereka bisa kita baca sebagai upaya untuk meramaikan panggung berebut tafsir keislaman. Dan, persoalan ini sebetulnya pernah didiskusikan oleh Ariel Heryanto saat mendedah topik “islamisasi” di buku Identitas dan Kenikmatan.

Islamisasi, oleh Ariel, dimengerti sebagai sebuah proses yang kompleks, melibatkan berbagai kelompok muslim yang berbeda dan belum tentu saling setuju dalam banyak hal. Uniknya, tidak ada satu pun pihak yang mengendalikan secara penuh proses islamisasi tersebut.

Dalam konteks dakwah seleb hijrah, mereka berada di sebuah arena yang sebetulnya terlalu ‘berisiko’. Keberadaan para pegiat dakwah yang menggunakan platform media baru—baik dari kalangan selebriti hijrah maupun pendakwah mualaf—secara tidak langsung sedang menantang otoritas keagamaan konvensional yang telah ada sebelumnya dan berbasis di majelis-majelis pengajian luring atau pesantren. Tegangan antara keduanya pun menjadi niscaya.

Apa yang dikatakan oleh Uki Noah berkaitan dengan hukum musik di awal tulisan ini adalah salah satu contohnya. Atau, tegangan serupa juga sempat terjadi ketika 2015 lalu Teuku Wisnu mengatakan bahwa mengirim Al-Fatihah untuk mayit hanyalah bid’ah yang diada-adakan.

Meski begitu, adanya fenomena seleb hijrah yang kemudian menjadi pendakwah ini sekaligus menunjukkan gejala lain, yaitu mencairnya otoritas keagamaan di level media baru. Sekarang, umat tau kalau ulama itu ada. Tapi ulama ada di mana-mana. Ulama ada di Youtube, di Spotify, di Facebook, di Instagram, di Twitter, di televisi, di radio, di baliho (iklan umroh), dan di masjid.

Jadi, kata kunci penting dalam menentukan sukses tidaknya dakwah hari ini adalah seberapa jauh orang bisa menciptakan apa yang oleh Bourdieu disebut sebagai ‘dominasi simbolik’. Ilustrasi ekstremnya mungkin begini: di masa depan, umat akan tidak lagi peduli terhadap latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi seorang pendakwah, tetapi yang pertama-tama dilihat adalah berapa “K” followers dan subscribers akun medsosnya, atau apakah akun medos si pendakwah centang biru atau tidak.





Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved