Asal-usul Munculnya Teologi Islam - Kilas Balik - Bagyanews.com
Connect with us

Kilas Balik

Asal-usul Munculnya Teologi Islam – Kilas Balik

Published

on



Diskursus ke-Tuhan-an selalu menjadi hal yang menarik untuk diutarakan dalam suatu komunitas kajian-masa kini- bahkan sejak zaman Herodotus, karena memang pada dasarnya manusia adalah homo religius mahluk yang memiliki naluri religius.

Disebutkan dalam A History of God bahwa manusia sejak dahulu kala telah banyak menyembah Dewa-dewa yang mereka yakini, ini menunjukan bahwa manusia selalu mengamini adanya kekuatan absolut di balik alam semesta ini (Karen Amstrong, A History of God, hal 13).

Masih menururt Amstrong, Agama yang tercatat pertama kali di dunia ini adalah apa yang pernah dibawa oleh Baginda Nabi Ibrahim, dimana Ia manusia yang pertama kali membawa ajaran monoteisme, dan yang menjadi cikal-bakal mewujudnya triagama Yahudi, kristen, Islam. Pada giliran para pemeluk politeistik secara bertahap mulai tersingkirkan, sejalan dengan nalar insan dengan keadaan zamanya yang telah dikehendaki Allah SWT (Abu Daqiqoh, al-Qoul al- Sadid, hal 149).

Dengan mangkatnya Ibrahim, menyisakan satu problematik pada penerus agama Abrahamik-Yahudi, Kristen, dan Islam-yaitu untuk saling mengklaim, bahwa agama mereka adalah yang paling benar di antara para pemeluk masing-masing agama. Mereka saling beradu argumen dengan merumuskan satu konsep yang pada nantinya kita kenal dengan “Teologi” (Teologi Negatif Ibn Arobi, M. Fayyadl, hal 3).

Sebuah tradisi baru pun muncul, semula keimanan yang dihasilkan lewat pencarian mulai dirumuskan dan dibakukan sedemikian rupa, sehingga bisa menjadi satu pedoman utuh dalam membangun dasar keimanan-secara khusus-dan beragama-secara umum-.

Kita kesampingkan teologi selain islam, bahwa teologi dalam islam-Ilmu Kalam-tidak lahir begitu saja, banyak problematik yang mengiringi lahirnya fan ilmu ini. Karena justru problem seperti adanya qodo’dan qodar, pelaku dosa besar, dan ru’yatulloh (melihat Allah) menjadi poin besar dalam tumbuh-kembang ilmu kalam.

Iklan – Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Darinya, muncul beberapa kelompok yang mencoba membahas isu-isu tersebut dan mencoba mengklaim bahwa kelompok merekalah yang berhasil memahami isu-isu tersebut dengan benar, tentunya dengan corak metodologisnya masing-masing.

Pada dasarnya, isu krusial ini sudah pernah ada sejak zaman Nabi SAW dan para sahabatnya, namun memuncak ketika dunia islam kehilangan Nabinya. Barulah islam mulai terpecah-belah dan memulai babak baru dalam perkembangan peradaban islam. (Tarek al-Madzahib al-Islamiyah, Muhamad Abu Zahroh, hal 105).

Sejarah berhasil mencatat kelompok Muktazilah-dengan coraknya yang khas rasional murni-yang pertama berhasil mempertahankan posisi islam pada abad ke-2 dari syubhat-syubhat yang coba dilontarkan oleh islam, setelah runtuhnya Bani Umayah dan bergantinya posisi kekhalian dari Damaskus menuju Baghdad. Mereka mencoba menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani atas perizinan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur, untuk kemudian dijadikan senjata dalam berdialektika dengan musuh-musuh islam pada waktu itu. (Abu al-hasan al-Asa’ry, Dr. Hamudah Ghorobah, hal 42).

Lantas, ketika kekuasaan Abbasiyah dipegang oleh al-Makmun, al-Mu’tasim dan al-Watsiq, kelompok Muktazilah mendapatkan tempat khusus di dalam istana, dan berhasil mendoktrin ajaran-ajaran Muktazilah, sehingga pada waktu itu—otoritas di tangan mereka—banyak orang-orang yang dipersekusi. Dan ini membuat umat muslim membenci kelompok ini.

Tidak lama setelah itu, muncullah kelompok Hanabilah yang khas dengan tekstualis murninya, hadir sebagai antitesis dari Muktazilah. Orang-orang dari kelompok inilah, para Fuqoha’ dan Muhaditsin, menjadi bulan-bulanannya Muktazilah. Yang termasyhur adalah insiden al-Mihnah. Pada taraf inipun umat muslim masih dirundung rasa galau, karena mereka masih mejadi korban kedua dari kelompok Hanabilah yang terlalu mengedepankan teks—tanpa sedikitpun memberikan ruang kepada akal.

Pada masa tersebut, umat Islam mendambakan sosok yang bisa mengelaborasikan antara rasio dan teks, sehingga menjadi suatu metodologi yang moderat yang tidak ekstrem kanan ataupun kiri, bertepatan dengan berakhirnya era Muktazilah dengan kursi kekuasaan dipegang oleh Khalifah al-Mutawakkil. Maka Allah SWT sudah menakdirkan tiga hambanya yang akan mengemban tugas tersebut. Pada giliranya, abad ke-3 menjadi babak baru bagi dunia peradaban islam, dengan Imam al-Asy’ari membawa Asy’airohnya di Basroh, dan Imam al-Maturidy dengan Maturidiyahnya di Samarqond, serta Imam at-Tohawi dengan Aqidah Tokhawiyahnya di Mesir (Islam dan Akal, SAS Center Mesir, hal 78). Wallahhu a’lam.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kilas Balik

Islam dan Negeri di Bawah Angin

Published

on

By



Pengaruh Hindu-Budha merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter masyarakat Nusantara karena dari sini sistem politik, ekonomi, sosial dan keagamaan terhubung dengan proses yang terjadi di dunia Internasional. Berikutnya muncullah kerajaan-kerjaan mulai Kutai di Kalimantan, Tarumanegara, Melayu, Sriwijaya dan berbagai kerjaan-kerjaan lainya di Bali, hingga sampai dengan Majapahit.

Proses masuknya Islam di mulai dari abad VII hingga ke Abad XIII tidak terlepas dari beberapa faktor. Dalam buku yang ditulis oleh Bahtiar Effendy dan Fachry Ali mengatakan, “Sebagaimana awal masuknya Islam di Sumatra Utara yang menggunakan jalan, laut penyeberan di kepulauan Indonesia lainya menggunakan jalan serupa: melalui perdagangan jalan laut. Pada abad kelima belas Masehi, para pedagang arab dan negara-negara lain mendarat di Jawa.”

Berkembangnya perdagangan laut yang dilakukan oleh kelompok muslim tidak terlepas dari perannya sebagai Sufi. Selain itu, Uka Tjandrasasmita dalam makalah Seminar on Islam in Southets Asia, Jakarta, 1982 yang berjudul The Arrival and Exspansion of Islam in Indonesia. Beliau mengatakan bahwa, “Terdapat kontak dagang yang dilakukan tiga dinasti kuat, yakni Umayyah (660-749) di Asia Barat, Kerajaan Sriwijaya (abad 7-14)  di Asia Tenggara, dan Dinasti T’ang (613-907) di Asia Timur.”

Dalam perjalanan sejarahnya komunitas muslim tidak hanya sebatas berdagang dan berdakwah namun juga membawa sebuah perubahan sosial-budaya, sehingga komunitas muslim membentuk struktur pemerintahan. Dalam buku Ulama dan Kekuasaan yang ditulis oleh Jajat Burhanuddin disebutkan bahwa Islam Nusantara masa pra-kolonial, ketika ulama memainkan peranan penting guna memperkuat pelaksanaan Islam di dalam kerajaan.

Proses penyebaran Islam di Sumatra Utara menjadi pondasi awal terbentuknya kerajaan Samudra Pasai, hingga pamor dari kedua kerajaan besar mulai luntur, yakni Sriwijaya dan Majapahit. maka situasi yang demikian ini kelompok umat Muslim juga menyebarkan luas jaringan pedagangannya hingga kepedesaan dan juga mambentuk sebuah struktur pemerintahan sehingga melahirkan banyak kerajaan Islam.

Terlepas dari latarbelakang sejarah perkembangan Islam di Nusantra. Islam sejak awal lahir sebagai jalan alternatif untuk menyelesaikan segala persoalan umat manusia sehingga melahirkan nilai yang universal, tentu hal ini berkaitan dengan sifatnya yang lebih fleksibel yang dalam artian tidak menuntut diluar jangkauan manusia.

Alam pikiran masyarakat Nusantara pra Islam memiliki daya pikiran yang menarik terbukti dalam banyak manuskrip yang menjadi bukti dari khazanah pemikiran yang membentuk struktur sosial-masyarakat yang mapan. Hal ini dapat kita lihat bagaimana Kerajaan sriwijaya menjadi pusat pendidikan pada masa silam.

Dalam hal ini pembentukan kerajaan Islam yang dilakukan oleh komunitas muslim tentunya disertai oleh gagasan, meminjam istilah yang disebutkan oleh Prof. Jajat Burhanuddin dalam bukunya Ulama dan Kekuasaan mengatakan adanya gagasan berkeyakinan Sufi atau yang disebut dengan Insan Kamil. Sebab ide Insan Kamil sesuai dengan gagasan politik berorientasi dengan raja di Nusantara sehingga merumuskan raja sufi.

Kehadiran Islam di bumi Nusantara bukan merubah budaya yang ada, akan tetapi Islam hadir di Nusantara mencoba mencari sintesis yang cocok dengan masyarakat Nusantara. Adapun hal yang menjadi isu penting yang membawa perkembang Islamisasi yang cepat, seperti yang dikatakan, Prof. Jajat Burhanuddin, “Salah satu isu penting dalam pembentukan kerajaan adalah perumusan ideologi politik yang berhubungan dengan meningkatnya jumlah pemeluk Islam.”

Jaringan perdagangan global melahirkan kota-kota tepian di Nusantara menjadi pusat perdagangan diantara kota-kota tepian yang menjadi pusat perdagangan yang memainkan peran penting yakni, Malaka dan Banten. Dua kota tersebut membawa Nusantara dalam arus utama dalam perdagangan Internasional.

Berdasarkan peneliti Fatimi (1963: 121-140) terdapat dua surat-menyurat antara dua Dinasti besar Sriwijaya yang dipimpin oleh Sri Indrawarman dengan Dinasti Umayah yang dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz. Hal ini menjadi bukti kuat adanya awal kontak dengan timur tengah dan sekaligu bahwa istilah Arab sudah akrab pada masyarakat nusantara.

Kontak awal dengan timur tengah membawa titik puncak hubungan tersebut. Terbukti bahwa para ulama nusantara membentuk Komunitas Jawi di Mekkah. Karya Azyumardi Azra yang berjudul Jaringan Ulama Nusantara abad ke 17 dan 18. Menyebutkan sejumlah tokoh ulama antara lain al-Ranniri (wafat. 1608), Abdurrauf al-Sinkili (1615-1693), dan Yusuf al-Maqassari (1627-1699). Meraka bertanggung jawab mendifinasikan perkembangan pemikiran Islam ke Nusantara.

Mekkah yang menjadi metting point para ulama nusantara yang sedang melakukan studi memainkan peran penting dalam membentuk kembali isu tasawuf atau istilah ini disebut oleh Fazlur Rahman mendefinisikan dengan Neo-Sufisme. Istilah ini baginya untuk membangun sebuah kerangka yang utuh dan bersifat menyeluruh serta mencerminkan nilai-nilai al-Qur’an dan teladan Nabi, sehingga mampu merespon zaman modern.

Dalam konteks ulama Nusantara, pemikiran Neo-sufisme ini bersifat untuk membangun kerajaan sebagai pusat dimana ulama terlibat dalam bidang sosio-relegius dan politik. Hal ini terlihat bagaimana ulama menjadi penasihat raja dan hakim. Sehingga menciptakan arah politik kerajaan Islam nusantara.



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Alegori Asal-Usul Adonan Fiqh – Kilas Balik

Published

on

By



Kalau hendak disebutkan secara lengkap, ‘judul’ tulisan ini kira-kira seperti ini: alegori asal-usul adonan fiqh dan sedikit catatan tentang sosok Abu Hanifah.

Dengan demikian, catatan pendek ini hanya ingin menyinggung dua hal. Pertama, tentang alegori asal-usul fiqh. Kedua, tentang salah satu sosok yang tercantum dalam deretan tokoh yang bersumbangsih dalam rangkaian asal-usul fiqh, yaitu Abu Hanifah — bagaimana sosok dan karakter beliau sebagai seorang faqih.

Alegori asal-usul fiqh digambarkan serupa ‘cecukulan’ (tetumbuhan, sekaligus tahapan-tahapan berikutnya hingga menjadi suguhan yang siap dihidangkan) sebagaimana deskripsi dalam dua untaian bait/nazam berikut:

الفقه زرع ابن مسعود وعلقمة ● حصاده ثم إبراهيم دواس

نعمان طاحنه يعقوب عاجنه ● محمد خابز والآكل الناس

Dua nazam ini masih agak kurang clear, agak sulit untuk ditangkap artinya. Biar lebih mudah dan lebih lengkap, saya kutipkan deskripsi dalam bentuk natsar (prosa; kebalikan nazam):

الفقه زرعه عبد الله بن مسعود، وسقاه علقمة، وحصده إبراهيم النخعي، وداسه حماد، وطحنه أبو حنيفة، وعجنه أبو يوسف، وخبزه محمد بن الحسن، فسائر الناس يأكلون من خبزه

“Fiqh ditanam oleh Sahabat Abdullah bin Mas’ud, disirami oleh Alqomah, dipanen oleh Ibrahim al-Nakho’i, ditebah oleh Hammad, ditumbuk oleh Abu Hanifah, diuli/dibuat adonan oleh Abu Yusuf, dibikin roti oleh Muhammad bin al-Hasan, lahirlah ‘roti fiqh’ yang kemudian ‘dikonsumsi’ oleh seluruh anak manusia.”

Alegori asal-usul fiqh di atas ternyata juga menggambarkan silsilah keilmuan Abu Hanifah, baik ke atas (yang terhubung dengan Sahabat Abdullah Mas’ud) maupun ke bawah, yaitu munculnya dua nama (yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan) dalam alegori asal-usul fiqh, yang nota bene keduanya adalah murid dari Abu Hanifah.

Berikut adalah silsilah sanad keilmuan Abu Hanifah: beliau belajar kepada Hammad; Hammad belajar kepada Ibrahim al-Nakho’i; Ibrahim al-Nakho’i belajar kepada ‘Alqomah; ‘Alqomah belajar kepada Abdullah bin Mas’ud.

Abu Hanifah, sebagaimana kita tahu, adalah pendiri Mazhab Hanafi, yang banyak dianut di Iraq, Syam, India, Mesir, Turkistan, Brazil, dll.

Di samping sebagai pendiri mazhab, Abu Hanifah juga punya andil dalam kerja melahirkan ‘roti fiqh’, yang pada fase berikutnya, kerja melahirkan ‘roti fiqh’ ini diteruskan oleh dua orang yang juga punya keterkaitan dengan beliau (Abu Hanifah), yaitu dua murid beliau: Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan.

Menurut pendapat yang masyhur, Abu Hanifah termasuk generasi tabi’ut tabi’in. Ada sebagian mu’arrikh atau sejarawan yang mengatakan bahwa Abu Hanifah masuk dalam generasi tabi’in, sebab beliau (Abu Hanifah) masih sempat meriwayatkan hadis dari beberapa Sahabat Nabi, dan sempat berjumpa dengan Anas bin Malik, Abdullah bin Abi Aufa, Sahal bin Sa’ad, dan Abu Thufail bin Wa’ilah.

Suatu hari Abu Hanifah pernah ditanya apakah pernah berjumpa dengan sahabat Kanjeng Nabi. Jawab beliau, “Ya, saya pernah bertemu dengan sekurangnya delapan sahabat Kanjeng Nabi.” Beliau ditanya lagi, “Seperti apa gambaran sosok sahabat Kanjeng Nabi.” Jawab beliau, “Kalau Anda lihat mereka (sahabat Kanjeng Nabi), mereka seperti ‘orang gila’ (penampilan mereka kusut, kumal, tidak gebyar seperti penampilan orang-orang ahli dunia yang kaya).

Kita akan merasakan segi kemenarikan nama Abu Hanifah, jika kita ingat kembali perkataan Imam Syafi’i tentang Abu Hanifah, berikut:

الناس، في الفقه، عيال على أبي حنيفة

“Dalam urusan fikih, payung besarnya adalah Abu Hanifah.”

Coba kita tengok juga perkataan Sufyan al-Tsauri kepada orang yang berkata kepadanya (Sufyan) bahwa ia (orang tadi) baru saja berjumpa dengan Abu Hanifah:

جئت من عند أفقه أهل الأرض

“Kamu baru saja berjumpa dengan orang ter-faqih di sepenjuru bumi ini.”

Dan yang mengherankan, sedemikian tingginya ke-faqih-an Abu Hanifah, akan tetapi tak dijumpai sama sekali karya beliau dalam fann (bidang/disiplin) fikih. Kitab yang disebut-sebut sebagai karya beliau dan judul kitabnya mengandung unsur kata “fiqh”, justru adalah kitab dalam fann akidah, yaitu kitab “al-Fiqhul Akbar”. Satu versi pendapat mengatakan bahwa kitab “al-Fiqhul Akbar” ini adalah kitab dalam fann fikih, yang di dalamnya terkandung 60 ribu masalah fikih, bahkan lebih. Namun, hingga sekarang, tak ditemukan kitab “al-Fiqhul Akbar” dengan kandungan isi ilmu fikih; yang dapat dijumpai adalah kitab “al-Fiqhul Akbar” dalam fann akidah. Kitab lain karya Abu Hanifah yang berhasil sampai ke generasi setelahnya, adalah: Risalatul ‘Alim wal Muta’allim dan al-Raddu ‘Ala al-Qodariyyah.

Di masa awal Islam dulu, makna kosakata fiqh mencakup al-ahkam al-syar’iyyah (hukum-hukum syara’/agama) secara mutlak, meliputi ahkam yang terkait akidah, ahkam yang terkait a’malul ‘ibad (amal-amal badaniah manusia), dan akhlak. Belakangan, makna kosakata fikih meng-kerdil, hanya bermakna: hukum-hukum yang terkait amal badaniah manusia saja. Dugaan kuatnya, Abu Hanifah memberi nama kitabnya dengan nama “al-fiqhul akbar”, dengan memaksudkan arti kosakata “fiqh” sebagaimana maknanya yang lengkap, utuh, komprehensif seperti di masa-masa awal Islam.

Aspek lain yang sangat menarik dari sosok Abu Hanifah, adalah nama Abu Hanifah itu sendiri. Sebab dari nama Abu Hanifah ini kita mendapatkan gambaran sosok Abu Hanifah sekaligus karakter beliau. Selalu ada kisah di balik setiap nama.

Terdapat dua versi pendapat dalam menjelaskan arti dari nama Abu Hanifah. Pertama, nama Abu Hanifah diambil dari kata الحنف, yang berarti condong kepada kebenaran; orang yang hatinya tak bisa berpaling dari kebenaran. Hal ini mengingatkan kita pada pribadi-pribadi hanif (al-hunafa’) di masa-masa sebelum datangnya Islam. Ada satu sosok ber-karakter-kan seorang al-hanif bernama Zaid bin Amr bin Nufail yang mendapatkan komentar luar biasa dari Kanjeng Nabi:

يبعث يوم القيامة أمة وحده

“Dia (Zaid) akan dibangkitkan di hari kiamat sebagai umat tersendiri”. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani (atau Habib Ali al-Jufri atau Syaikh Muhammad Sa’id Ramadlan al-Buthi, saya lupa persisnya; atau bisa jadi saya dapatkan dari sumber bacaan saya yang lain lagi) memberikan pemaknaan atas frasa “ummatan wahdahu”, bahwa semua karakter baik yang ada pada kumpulan banyak orang yang disebut ummat, berhasil dirangkum dalam diri satu orang, yaitu Zaid bin Amr bin Nufail.

Versi kedua, Hanifah dalam istilah orang Irak berarti الدواة, al-dawat (tinta; Jawa: mangsi) atau al-mahbaroh (wadah tinta). Beliau dijuluki Hanifah (Abu Hanifah) karena selalu membawa tinta atau pena.

‘Value’ yang bisa kita ambil dari informasi tentang arti nama Abu Hanifah ini adalah: ada dua karakter mendasar agar seseorang layak masuk dalam keluarga besar “ahlul ‘ilmi” dan orang yang faqih (ingat makna fiqh di masa awal Islam yang komprehensif dan utuh mencakup tiga dimensi sekaligus: akidah, fikih dan akhlak; sebenarnya ada satu dimensi lagi yang sudah dilupakan oleh banyak orang, yaitu dimensi “asyrotus sa’ah” (أشراط الساعة); perlu tulisan tersendiri lagi untuk membahas dimensi ini). Dua karakter itu adalah: ke-hanif-an (hati yang tak bisa berpaling dari kebenaran) dan ke-tinta-an (simbol dari rasa cinta yang dahsyat kepada ilmu).

Sudah pas dan benar jika nama Abu Hanifah (dengan karakter ke-hanif-an dan ke-tinta-an, sebagaimana tersimbolkan dalam nama Abu Hanifah itu sendiri) masuk dalam alegori asal-usul yang memasak dengan mendalam atas ilmu agama ini.

Wallahu a’lam.

 



Sumber Berita

Continue Reading

Kilas Balik

Menuju Akhir Kolonialisasi Inggris di Negeri “Vrindavan” India

Published

on

By



Abad ke-19 merupakan pergolakan politik berkebabasan yang luar biasa kuat bagi neger-negeri dalam kungkungan penjajahan bangsa Eropa. Ruh zaman kebangkitan nasionalisme yang melanda benua Asia tidak hanya di Indonesia pada awal abad ke-20, akan tetapi juga menjangkiti negeri “Vrindapan” (julukan India dari generasi milenial Indonesia) yang dijajah oleh Inggris semenjak abad ke-17 hingga abad ke-20.

Saat Kesultanan Mughal memasuki situasi lemah  pada 1761, perusahaan Inggris EIC (East India Company) memiliki kekuatan angkatan bersenjata melawan pemerintah Kesultanan Mughal. Peperangan terjadi cukup lama, sampai akhirnya Syah Alam membuat perjanjian damai berupa penyerahan wilayah Oudh, Bengal, dan Orisa kepada Inggris. Kemudian pada tahun 1806 di masa Sultan Akbar II, berkonsolidasi dengan perusahaan Inggris (EIC).(Yatim, 2011, pp. 161–162)

Perubahan besar pada politik kolonial Inggris ketika Lord Wellesley (1798-1805) menjadi gubernur jendral EIC di India. Dengan mencanangkan kebijakan subsidiary Alliances (raja-raja India bersekutu dengan Inggris harus menyerahkan urusan politik luar negerinya kepada Inggris, membayar upeti dan mengusir perwira-perwira Eropa selain Inggris).

Melalui kebijakannya itu , Wellesley berhasil menjadikan EIC bagian kekuatan terbesar di India dengan menguasai Bengala, Bihar, Orissa, Mysore, Oudh, dan Maratha. Tetapi kekuasaan kolonial benar-benar kokoh pada pertengahan abad ke-19, setelah berhasil menganeksasi Punjab dan mengalahkan Kerajaan Sikh (Hindu). Panikkar menyebutkan tahun 1848 sebagai tahun dipersatukannnya kawasan anak benua India oleh Inggris.(Suwarno, 2012, p. 107)

Berlanjut pada masa Lord Ripon (1880-1884), memiliki pencapaian terbesarnya yakni perluasan wilayah kekuasaan dan mengurusi pemerintahan lokal mereka masing-masing di kota-kota madya yang mana dibawah naungan Kolonial Inggris. Lord Ripon memberikan kuasa kepada setiap kota madya tersebut untuk mengurusi distrik masing-masing.(Musidi, 2012, p. 123)

Inggris di India telah membuat perekonomian India mengalami perkembangan. Terbukti adanya pembuatan jalur kereta api, saluran irigasi di Sungai Indus dan Gangga, UU Perburuhan, dan sebagainya.(Suwarno, 2012, p. 111)  Perkebunan teh dimulai oleh Inggris di Assam dan konsesi-konsesi diberikan kepada para pengusaha perkebunan Inggris untuk menanam kopi di pegunungan Nilgiri di Selatan.(Musidi, 2012, p. 118)

Biarpun begitu, adanya kebijakan yang demikian tidaklah baik memang bagi masyarakatnya. Yang mana hasil sumber daya alam  mereka dieksploitasi oleh Inggris, dan kemudian akibat itu pula, terjadi wabah kelaparan selama abad ke-19 yang tercatat lebih dari 32,5 juta orang mati secara mengenaskan.(Suwarno, 2012, p. 114)

Keuntungan dari industri tersebut pastinya sangat besar. Namun, penduduk pribumi hanya memperoleh sedikit dari keuntungan industri tersebut. Pada satu sisi Inggris juga membangun sebuah jaringan jalan kereta api, yang menghubungkan wilayah satu dengan wilayah lainnya. Akan tetapi, jalan tersebut diperuntukkan kepentingan transportasi hasil produksi Inggris saja, bukan untuk kepentingan rakyat India.

Berdasarkan atas penderitaan moral dan materil yang diberikan oleh Inggris terhadap rakyat India sehingga membuat semarak perjuangan terjadi melalui strategi diplomatik untuk kemerdekaan di anak benua India. Fenomena penting ini terjadi di India saat menjelang berakhirnya abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, ialah bangkitnya nasionalisme dengan berdirinya organisasi All India National Congress (Partai Kongres) pada tahun 1885 dan All Indian Muslim League (Liga Muslim) tahun 1906.

Majumdar mencatat bahwa fenomena tersebut disebabkan oleh  liberalisme melanda Inggris selama abad ke-19 dan telah mempengaruhi kaum pelajar India (mayoritas Hindu) dengan gebrakan semangat demokrasi dan patriotisme nasional. Kaum terpelajar tersebut ingin menyaksikan India bersatu secara bulat dan rakyat mendapatkan hak untuk memerintah diri mereka sendiri.(Suwarno, 2012, p. 116)

Pemimpin Partai Kongres yakni Mahatma Gandhi memiliki dasar perjuangan sebagai berikut: Ahimsa (dilarang membunuh), gerakan anti-perang. Hartal, yaitu gerakan  rakyat India dalam  bentuk aksi tiada berbuat sesuatu. Mereka tetap masuk bekerja ke kantor,  pabrik dan sebagainya. Satyagraha, yaitu gerakan rakyat India untuk tidak kerjasama dengan kolonial inggris. Swadesi, yaitu gerakan rakyat india untuk memproduksi bahan-bahan buatan negeri sendiri.

Kemudian kontribusi perjuangan dari Liga Muslim yang didirikan pada Desember 1906 oleh Viqarul Mulk dan Nawab di Dacca yang bertujuan untuk: 1) untuk memperbesar rasa kesetiaan kaum muslim terhadap pemerintahan kolonial Inggris dan menghilangkan kesalah pahaman yang mungkin timbul; 2) untuk menjaga dan memajukan hak-hak dan kepentingan-kepentingan politik orang Islam; 3) untuk mencegah timbulnya rasa permusuhan dari kaum muslimin kepada golongan masyarakat lain.(Suwarno, 2012, p. 121)

Pada 1928, Kongres dan Liga Muslim bekerja sama menyelanggarakan All India Confrence. Konferensi ini memilih Pandit Motilal Nehrru sebagai ketua panitia, yang mana utama dari tujuan dibuat adalah untuk menuntut dominion bagi benua India atas kolonial Inggris. Namun hal tersebut tidaklah berjalan baik karena ada pertikaian antara kongres dan Liga Muslim, walaupun Inggris sudah beri’tikad baik dengan membuat Government of India Act (1935) yang tetap dibawah naungan Britania Inggris seusai Perang Dunia I.

Perang Dunia II dan Kekuasaan Jepang di Burma adalah titik awal mulainya memudar kekuasaan Inggris di India, sejak saat itu Kongres mengeluarkan resolusi agar Inggris segera keluar dari benua India dan Kongres menuntut kemerdekaan penuh atas Inggris. Kemelut politik terjadi diantara Imperium Inggris, Liga Muslim dan Kongres. Tiada tampak adanya kerja sama antara mereka. Inggris pun tidak dapat menyelesaikan konflik antara kedua organisasi pergerakan tersebut.

Setelah beberapa tahun berjalan, tepat Februari 1947 pada akhirnya Inggris membuat keputusan bulat akan meninggalkan India sebelum bulan Juni 1948. Menjelang kemerdekaan India, pemerintah Inggris memerintahkan Lord Mountbatten untuk menjabat Raja Muda (Viceroy) di India, atas kesepakatan bersama antara kongres diwakili Gandhi dan Liga Muslim diwakili Ali Jinnah mendirikan dua negara yakni Pakistan dan India.yang mana India merdeka tahun 15 Agustus 1947 dan Pakistan merdeka 14 Agustus 1947.(Lapidus, 1999, p. 298)



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved