Connect with us

Kalam

Antara Rezeki dan Keimanan

Published

on



loading…

Bagi orang yang tahu pembagi rezeki adalah Allah Subhanhu wa ta’ala, bahwa kita ini sudah lengkap dengan rezekinya. Kita tidak disuruh mencari rezeki tetapi menjemput rezeki.

Baca juga: Inilah Kisah-kisah Penting yang Terjadi di Bulan Dzulhijjah

Menurut Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid KH Abdullah Gymnastiar, yang dicari itu adalah keberkahannya , karena rezekinya sudah ada tetapi belum tentu diberi keberkahan. Kenapa jadi tidak berkah? Karena niatnya salah dan caranya salah, jadi hilang berkahnya. Berikut tausiyah dai yang akrab disapa Aa Gym in, kemarin di Daarut Tauhid :

Baca juga: 5 Amalan Sunnah Bagi Muslimah di Hari Raya Idul Adha

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Baca juga: Berkurban Atas Nama Orang Tua atau Orang Lain, Bagaimana Pahalanya?

Semuanya sudah ada rezekinya dan sesuai dengan porsinya tidak kurang dan tidak lebih. Jika mengambil rezekinya dengan cara takwa, nanti akan Allah bimbing akan ketemu dengan rezeki yang terbaik, jika mengambil rezekinya dengan cara yang bathil, maka akan dipertemukan oleh Allah dengan rezekinya yang akan menjadi bencana untuk dia. Bahkan boleh jadi Istidjraj, maka jangan pernah takut untuk tidak punya rezeki.

Yang perlu ditakuti adalah pertama tidak berkah dan kedua tidak syukur. Maka jemputlah rezeki dengan taqwa, maka Allah tuntun kita dengan rezeki terbaik kita, karena kita niatnya lurus, caranya bagus, dan ikhtiarnya maksimal. “Kita harus selalu meyakini kalau rejeki kita Allah yang atur. Dan percayalah kalau kita akan beruntung jika bisa menjadi jalan rejeki bagi orang lain.”

Baca juga: Idul Adha Tak Surutkan Penyekatan, 5 Perbatasan di Tangsel Tetap Dijaga

Allah Ta’ala berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7).

Baca juga: Kasus Covid-19 Tinggi, AS Keluarkan Peringatan ‘Jangan Berkunjung’ ke Inggris

Seperti cerita yang sering diungkapkan “Cicak, cicak makananya nyamuk, nyamuk punya sayap sedangkan cicak tidak punya sayap, apakah cicak merasa stres? Tidak. Coba lihat siapa yang mendekati cicak? Ya nyamuk, sebab kalau cicak yang mencari nyamuk ini akan repot.

Maka tugas kita selain dari harus menjemput rezeki dengan niat yang lurus dan cara yang baik, kita juga harus senantiasa memperbaiki kualitas iman kita kepada Allah bahwa semua ciptaannya sudah Allah sediakan rezekinya, dan dari iman yang kuat akan tumbuh juga rasa selalu bersyukur terhadap rezeki yang kita dapatkan.

Baca juga: Erick Thohir Angkat Kepala Staf Angkatan Udara Jadi Komut PTDI

Wallahu A’lam

(wid)



Berita Selengkapnya

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalam

Ketika Abu Hanifah Berdebat dengan Seorang Khawarij dan Kelompok Sesat

Published

on

By



loading…

Nu’man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah dikenal pandai dan cerdas. Kepandaian dan kecerdasannya ini banyak diunjukkan dalam berbagai kasus.

Baca juga: Takut Kiamat: Ini Doa Abu Hanifah yang Selalu Diulang-ulang Saat Sholat Malam

Suatu ketika ada seorang Khawarij bernama adh-Dhahak asy-Syari pernah datang menemui Abu Hanifah dan berkata, “Wahai Abu Hanifah, bertaubatlah Anda.”

“Bertaubat dari apa?” ujar Abu Hanifah balik bertanya.

“Dari pendapat Anda yang membenarkan diadakannya tahkim antara Ali dan Mu’awiyah,” jawab Ad-Dhahak.

“Maukah Anda berdiskusi dengan saya dalam persoalan ini?” ajak Abu Hanifah.

“Baiklah, saya bersedia,” ujar Adh-Dhahak.

Abu Hanifah berkata: “Bila kita nanti berselisih paham, siapa yang akan menjadi hakim di antara kita?”

Adh-Dhahak: “Pilihlah sesuka Anda.”

Abu Hanifah menoleh kepada seorang Khawarij lain yang menyertai orang itu lalu berkata: “Engkau menjadi hakim di antara kami.” Selanjutnya kepada orang pertama beliau bertanya: “Saya rela kawanmu menjadi hakim, apakah engkau juga rela?”

“Ya saya rela,” jawab Adh-Dhahak.

Abu Hanifah: “Bagaimana ini, engkau menerima tahkim atas apa yang terjadi di antara saya dan kamu, tapi menolak dua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertahkim?”

Maka orang itu pun mati kutu dan tak sanggup berbicara sepatah kata pun.

Baca juga: Kisah Imam Syafi’i Ngalap Berkah di Kuburan Imam Abu Hanifah

Contoh yang lain lagi, bahwa Jahm bin Sofwan, pentolan kelompok Jahmiyah yang sesat, penyebar bid’ah dan ajaran sesat di bumi pernah mendatangi Abu Hanifah seraya berkata, “Saya datang untuk membicarakan beberapa hal yang sudah saya persiapkan.”

Abu Hanifah: “Berdialog denganmu adalah cela dan larut dengan apa yang engkau bicarakan berarti neraka yang menyala-nyala.”

Jahm: “Bagaimana bisa Anda memvonis saya demikian, padahal Anda belum pernah bertemu denganku sebelumnya dan belum mendengar pendapat-pendapat saya?”

Abu Hanifah: “Telah sampai kepada saya berita-berita tentangmu yang telah berpendapat dengan pendapat yang tidak layak keluar dari mulut ahli kiblat (muslim).”

Jahm: “Anda menghakimi saya secara sepihak?”

Abu Hanifah: “Orang-orang umum dan khusus sudah mengetahui perihal Anda, sehingga boleh bagiku menghukumi dengan sesuatu yang telah mutawatir kabarnya tentang Anda.

Jahm: “Saya tidak ingin membicarakan atau menanyakan apa-apa kecuali tentang keimanan.”

Abu Hanifah: “Apakah hingga saat ini kamu belum tahu juga tentang masalah itu hingga perlu menanyakannya kepada saya?”

Jahm: “Saya memang sudah paham, namun saya meragukan salah satu bagiannya.”

Abu Hanifah: “Keraguan dalam keimanan dalam kufur.”

Jahm: “Anda tidak boleh menuduh saya kufur sebelum mendengar tentang apa yang menyebabkan saya kufur.”

Abu Hanifah: “Silakan bertanya!”

Baca juga: Imam Syafi’i, Meramu Pendapat Fikih Imam Malik dan Imam Abu Hanifah

Jahm: “Telah sampai kepadaku tentang seseorang yang mengenal dan mengakui Allah dalam hatinya bahwa Dia tak punya sekutu, tak ada yang menyamai-Nya dan mengetahui sifat-sifat-Nya, lalu orang itu mati tanpa menyatakan dengan lisannya, orang ini dihukumi mukmin atau kafir?”

Abu Hanifah: “Dia mati dalam keadaan kafir dan menjadi penghuni neraka bila tidak menyatakan dengan lidahnya apa yang diketahui oleh hatinya, selagi tidak ada penghalang baginya untuk mengatakannya.”

Jahm: “Mengapa tidak dianggap sebagai mukmin padahal dia mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya?”

Abu Hanifah: “Bila Anda beriman kepada Al-Quran dan mau menjadikannya sebagai hujjah, maka saya akan meneruskan bicara. Tapi jika engkau tidak beriman kepada Al-Quran dan tidak memakainya sebagai hujjah, maka berarti saya sedang berbicara dengan orang yang menentang Islam.”

Jahm: “Bahkan saya mengimani Al-Quran dan menjadikannya sebagai hujjah.”

Abu Hanifah: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan iman atas dua sendi, yaitu dengan hati dan lisan, bukan dengan salah satu saja darinya. Kitabullah dan hadis Rasulullah jelas-jelas menyatakan hal itu:

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?’

Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).” (QS. Al-Maidah: 83-85)

Karena mereka mengetahui kebenaran dalam hati lalu menyatakannya dengan lisan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkannya ke dalam surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir karena pernyataan keimanannya itu. Allah Ta’ala juga berfirman:

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’.” (QS. Al-Baqarah: 136)

Allah menyuruh mereka untuk mengucapkan dengan lisan, tidak hanya cukup dengan ma’rifah dan ilmu saja. Begitu pula dengan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ucapkanlah, Laa ilaaha ilallah, niscaya kalian akan beruntung.”

Maka belumlah dikatakan beruntung bila hanya sekadar mengenal dan tidak dikukuhkan dengan kata-kata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan dikeluarkan dari neraka barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah..”

Dan Nabi tidak mengatakan, “Akan dikeluarkan dari api neraka barangsiapa yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kalau saja pernyataan lisan tidak diperlukan dan cukup hanya dengan sekadar pengetahuan, niscaya iblis juga termasuk mukmin, sebab dia mengenal Rabbnya, tahu bahwa Allahlah yang menciptakan dirinya, Dia pula yang menghidupkan dan mematikannya, juga yang akan membangkitkannya, tahu bahwa Allah yang menyesatkannya. Allah Ta’ala berfirman tatkala menirukan perkataannya:

“Saya lebih baik daripadanya: “Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Kemudian:

“Berkata iblis: ‘Ya tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan’.” (QS. Al-Hijr: 36)

Juga firman Allah Ta’ala:

“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus’.” (QS. Al-A’raf: 16)

Seandainya apa yang engkau katakan itu benar, niscaya banyaklah orang-orang kafir yang dianggap beriman karena mengetahui Rabbnya walaupun mereka ingkar dengan lisannya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka mayakini (kebenaran)nya.” (QS. An-Naml: 140

Padahal mereka tidak disebut mukmin meski meyakininya, justru dianggap kafir karena kepalsuan lisan mereka.

Abu Hanifah terus menyerang Jahm bin Shafwan dengan hujjah-hujjah yang kuat, adakalanya dengan Al-Quran dan adakalanya dengan hadis-hadis. Akhirnya orang itu kewalahan dan tampaklah raut kehinaan dalam wajahnya. Dia enyah dari hadapan Abu Hanifah sambil berkata, “Anda telah mengingatkan sesuatu yang saya lupakan, saya akan kembali kepada Anda.” Lalu dia pergi untuk tidak kembali.

(mhy)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Doa Singkat Ini Bisa Diamalkan di Masa Pandemi, Berikut Faedahnya

Published

on

By



loading…

Doa adalah sumber kekuatan bagi orang beriman. Ada satu doa singkat memiliki faedah agung yang bisa kita amalkan di masa pandemi ini.

Doa ini disebut di dalam Kitab Riyadhus Shalihin yang bersumber dari Hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Redaksinya memang pendek, namun kandungannya luar biasa karena mencakup segala kebaikan dan perlindungan dari segala keburukan.

Baca Juga: Doa Memohon Perlindungan dari Wabah agar Pandemi Segera Pergi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kalimat ‘Afiyah dalam doa ini. Beliau meminta kepada Allah berupa ‘Afiyah di dunia dan akhirat.

‘Afiyah merupakan hal yang tidak ada bandingannya. Barangsiapa yang diberikan ‘Afiyah di dunia dan akhirat maka sungguh telah disempurkan kebaikan dalam jumlah yang besar padanya.

Diceritakan, Al-Abbas (paman Nabi) pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu padaku yang dengannya aku berdoa kepada Allah? Nabi Sallam menjawab: “Mintalah (berdoalah) kepada Allah mintalah ‘Afiyah”.

Kemudian Al-Abbas tidak bertemu beliau selama beberapa hari lalu datang lagi menemui Nabi dan bertanya: “Wahai Rasulullah, ajarkanlah sesuatu padaku yang dengannya aku berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Lalu beliau menjawab: “Wahai Paman Rasulullah, berdoalah kepada Allah mintalah ‘Afiyah pada urusan dunia dan akhirat.

Berikut Doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى دِينِى وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

Allahumma innii As Alukal ‘Afwa wal ‘Aafiyah Fii Diini wad Dun-Yaa wal Akhirah.

Artinya:
Yaa Allah aku memohon kepada-Mu kemaafan dan ‘Afiyah dalam urusan agamaku, duniaku dan akhiratku.

Banyak beranggapan doa ini pendek, mari perhatikan kandungannya. ‘Afiyah artinya menyelamatkan diri dari semua kesusahan yang menimpa.

Untuk menjadi sehat, kita perlu berada di dalam ‘Afiyah. Untuk mempunyai uang yang cukup, kita harus berada di dalam ‘Afiyah. Untuk terus hidup sejahtera, kita harus berada di dalam ‘Afiyah.

Agar anak-anak dilindungi, kita perlu berada di dalam ‘Afiyah. Dan jika kita sudah diampuni dan tidak dihukum, kita berada dalam ‘Afiyah.

Jadi, hakikatnya ‘Afiyah itu sama dengan memohon: “Ya Allah, lindungilah aku dari segala kesakitan, kesusahan dan penderitaan baik di dunia maupun di akhirat.”

Sayyidina Abbas berfikir tentang ini dan kemudian datang kembali kepada Nabi lalu berkata: “Ya Rasulullah, doa ini sepertinya sedikit pendek. Saya minta sesuatu yang lebih panjang.”

Nabi berkata: “Wahai pamanku yang dikasihi, mohonlah kepada Allah untuk ‘Afiyah, maka tidak ada pemberian yang lebih baik daripada ‘Afiyah. Ia adalah satu doa yang mudah namun terbaik.

Setiap doa yang kita panjatkan seperti memohon keselamatan, dijauhkan dari kesusahan, kesulitan, kesedihan, bahaya (musibah). Semua itu masuk di dalam doaAllahumma Inni As Alukal ‘Aafiyah“. Semoga kita dapat mengamalkan doa ini baik dalam sholat maupun di luar sholat.

Wallahu A’lam

Baca Juga: Doa-doa Harian yang Dibaca Rasulullah, Faedahnya Luar Biasa

(rhs)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Tadabur Surat Ar-Rahman Ayat 9-12 Bercerita Tentang Buah Kurma

Published

on

By


loading…

Ustaz Mukhlis Mukti Al-Mughni
Yayasan Pustaka Afaf

Berikut lanjutan tadabur Surah Ar-Rahman, surah ke-55 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 78 ayat. Surah Ar-Rahman disebut juga pengantin surat-surat. Seperti dijelaskan dalam hadis: “Segala sesuatu ada pengantinnya, dan pengantin Al-Qur’an adalah Surat Ar-Rahmaan.”

Kandungan Surah Ar-Rahman banyak bercerita tentang aneka nikmat Allah yang sering terlupakan untuk kita renungi dan syukuri. Berikut tadaburnya.

Surah Ar-Rahman Ayat 9:

وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ

“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Ar-Rahman Ayat 9)

Pesan dan Hikmah:
1. Ayat ini mempertegas kembali agar jangan curang dalam menimbang. Tegakkan keadilan dalam menimbang.

2. Ada satu surat ancaman terhadap pelaku kecurangan dalam timbangan, yaitu Surat Al-Muthafifiin.

3. Semakna dengan maksud neraca adalah istilah ummatan wasathan. Umat pertengahan. Sebaik-baik sikap dalam suatu urusan adalah yang pertengahan. Karena posisi tengah bisa melihat kiri dan kanan. Sikap tengah ini amat penting agar kita tidak menjadi ektsrem kiri dan ekstrim kanan.

Surah Ar-Rahman Ayat 10:

وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِۙ

“Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya).” (Ar-Rahman:10)

Pesan dan Hikmah:
1. Nikmat dan kekuasaan Allah berikutnya adalah bumi yang diratakan Allah. Artinya, Allah bentangkan agar mudah diletakkan segala sesuatu di atas bumi yang rata itu seperti gunung, bukit, hutan, sungai, lautan dan lain sebagainya.

2. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tujuan Allah meratakan bumi agar segala sesuatu yang diciptakan Allah bisa hidup stabil dan aman di atasnya.

Surah Ar-Rahman Ayat 11:

فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِۖ

“Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.” (Ar-Rahman: 11)

Pesan dan Hikmah:
1. Di antara manfaat diratakannya bumi adalah ditumbuhkannya buah-buahan yang beraneka bentuk, warna, rasa dan aromanya.

2. Menunjukkan kemuliaan buah kurma yang tentunya memiliki banyak khasiat, baik kuma basah maupun kering. Juga kandungan gula dan mineral yang dimiliki kurma cukup tinggi. Ibnul Qayyim saat sakit di musim haji, beliau mengobati dirinya dengan mengonsumsi kurma dan air zam-zam.

3. Disebutkan kelopak mayang juga menunjukkan fungsinya yang luar biasa, mulai dari melindungi buah hingga membuatnya matang dan mengering.

4. Kurma menjadi makanan favorit Rasulullah dan masyarakat Arab. Bahkan penghuni surga.

Surah Ar-Rahman Ayat 12:

وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُۚ

“Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.” (Ar-Rahman:12)

Pesan dan Hikmah:
1. Allah menyebutkan bentuk nikmat dan kekuasaan dalam menciptakan biji-bijian yang berkulit seperti gandum, padi, jagung dan kacang-kacangan. Semua itu nikmat yang luput untuk kita syukuri. Betapa Allah melibatkan banyak peran untuk bisa menghadirkan sepiring nasi di meja hidangan kita, mulai dari petani, pedagang, pemasak sampai pemakannya.

2. Karenanya di antara usaha yang dipuji oleh Rasulullah adalah bercocok tanam. Seperti dalam sabdanya, “Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman lalu hasilnya dimakan oleh burung, binatang dan manusia melainkan itu menjadi sedekah untuknya.” Petani disebut dengan Al-Fallah yang artinya orang yang beruntung, untung materi dan untung pahala.

3. Allah pun menciptakan bunga-bunga untuk memperinndah dan mempercantik dunia dengan aneka warna dan bentuk serta aromanya.

Wallahu A’lam

Baca Juga: Tadabur Surat Ar-Rahman Ayat 5-8, Berikut Hikmahnya

(rhs)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved

VERIFIED & SECURED
BY: R3
SSL Valid: Jun 21, 2021 - Sep 19, 2021