Connect with us

Telaah

Ambiguous Adventure: Sebuah Pergolakan Identitas di Tengah Pusaran Modernitas

Published

on


The question is disturbing nevertheless. We reject the foreign school in order to remain ourselves and to preserve for God the place He holds in our hearts. But have we still enough force to resist the school, and enough substance to remain ourselves?

“Apakah kita masih punya cukup kekuatan untuk menolak sekolah (Prancis), dan apakah kita cukup substantif untuk tetap menjadi diri sendiri?” Kutipan menyayat itu disampaikan oleh Thierno, guru sekolah al-Qur’an di Dialloube. Masyarakatnya, tak terkecuali para bangsawan sebagai pemimpin, sedang riuh oleh kebingungan menghadapi gempuran sekolah modern yang dibawa pemerintah kolonial Prancis.

Di satu sisi, mereka tahu betul harga yang akan dibayar ketika mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah modern, alih-alih ke sekolah al-Qur’an sebagaimana tradisi yang telah berabad-abad usianya. Chief Dialloube menimbang-nimbang, “But, learning, they would also forget. Would what they would learn be worth as much as what they would forget? I should like to ask you: can one learn this without forgetting that, and is what one learns worth what one forgets?”

Di sisi lain, mereka juga tidak mampu menahan penetrasi sekolah baru. Apakah sekolah al-Qur’an bisa menahan laju gerak zaman baru? Pertanyaan berat ini menjadi medan pertarungan batin berbagai pihak. Tidak ada yang tahu betul jawabannya. Semua hanya bisa meraba-raba. Apesnya, meski dalam kegelapan, mereka harus tetap mengambil keputusan.

Ambiguous Adventure (L’adventure ambique), novel yang ditulis oleh Cheikh Hamidou Kane asal Senegal dan terbit tahun 1961 ini merekam dilema yang mewarnai pertemuan antara Prancis-Eropa dan Afrika Barat pada masa penjajahan. Lewat perjalanan sosok Samba Diallo dan orang-orang di sekitarnya, Kane menggambarkan kerumitan pertemuan asimetris antara dua peradaban ini dan efeknya bagi subyek Afrika Barat.

Samba Diallo adalah keturunan bangsawan. Sepupunya adalah seorang chief Dialloube, dan ayahnya seorang knight. Samba dilamar khusus oleh guru Thierno sebagai santrinya karena ia melihat bakat spiritual anak ini. Thierno ingin mendidiknya langsung. Di usia enam tahun, orang tua Samba memondokkannya. Dalam konteks ini, itu artinya orang tua menyerahkan dan memercayakan jiwa raga anak ini kepada sang guru untuk dibentuk, ditempa. Demikianlah, Theirno memahat jiwa dan tubuh Samba dengan Kalamullah. Semua orang menerawang, kelak Samba akan menjadi penerus Thierno.

Guru sekolah al-Qur’an bukan peran sembarangan. Sebagai penubuhan dari al-Qur’an itu sendiri, guru al-Qur’an menjadi tempat orang meminta nasihat dan pandangan, mulai dari rakyat jelata sampai bangsawan. Ia adalah jangkar spiritual bagi masyarakatnya.

Di tengah Samba menjalankan pendidikannya di sekolah al-Qur’an, tekanan sekolah modern semakin menguat. Rakyat membutuhkan fatwa, apakah mereka harus mengirimkan anak mereka ke sekolah modern atau tetap ke sekolah al-Qur’an?

Sampai pada suatu ketika, kakak tertua chief yang dikenal dengan The Most Royal Lady, mengambil sikap. Ia berpandangan bahwa mereka harus mengirim anak-anak mereka ke sekolah modern, sehingga anak-anak ini bisa belajar “how they conquer without being in the right,” bagaimana orang-orang Prancis ini bisa menaklukkan meskipun tidak di pihak yang benar.

Pidato the Most Royal Lady begitu menggetarkan. Begini kata dia, “The school in which I would place our children will kill in them what today we love and rightly conserve with care. Perhaps the very memory of us will die in them. When they return from the school, there may be those who will not recognize us…

Ia sebenarnya tahu betul risiko dari keputusan itu. Orang-orang juga tahu bahwa ini lebih efektif dari mesiu, sekolah menjadikan penjajahan kian abadi. Apapun, the Most Royal Lady telah bulat dengan keputusannya itu.

Singkat kata singkat cerita, akhirnya, Sambapun ditarik dari sekolah al-Qur’an untuk dikirim ke sekolah modern. Sampai akhirnya ketika dewasa, ia belajar filsafat di Prancis.

Novel ini bukan hanya merekam pertemuan antara sekolah al-Qur’an dan sekolah modern, tetapi pertemuan antar jantung dua peradaban. Jantung peradaban Afrika Barat adalah spiritualitas. Jantung Prancis-Eropa adalah materialisme. Bagaimana Samba, yang punya memori sebagai santri, atau telah dipahat sebagai santri, dan kini sebagai mahasiswa di Prancis, hidup dengan dua jantung yang berbeda ini? Apakah ia bisa menyelaraskannya? Bisakah ia belajar sesuatu yang baru tanpa melupakan yang lama?

Krisis Identitas

Berikutnya, novel ini merekam bagaimana pertemuan ini melahirkan krisis identitas dan ambiguitas dalam pribadi Samba. Di sampul belakang buku ini tertulis, “Initially Samba Diallo is excited by his contact with Western culture and when he chooses to study philosophy at Paris he sees it as offering the most direct access to the European mind. But he rapidly finds that he is in an ambiguous situation for, while he has become estranged from the simple faith of his people, he is unable to identify with the soulless material civilization he sees in French.” Samba terjebak dalam situasi ambigu. Dia tercerabut dari akar tradisinya, tetapi di sisi lain, dia juga tidak bisa mengasosiasikan dirinya dengan peradaban Prancis yang “tak berjiwa,” “mekanik,” dan “dehumanis.”

Terkait bagaimana sekolah modern membentuk alam pikir baru, salah satu bagian paling menarik adalah ketika Samba begitu gelisah karena mendapati dirinya bisa membayangkan “to live” dan “to pray” sebagai dua kategori yang berbeda. “To live” merujuk kepada kehidupan sehari-hari. “To pray” adalah waktu-waktu sejenak yang dipakai untuk mengingat Tuhan di sela keseharian itu. Pembedaan ini sama sekali tak terbayangkan di masyarakatnya. Bukankah sebagaimana diajarkan gurunya, Thierno, hidup adalah zikir dan zikir adalah hidup? Pemisahan-pemisahan ini memang khas filsafat modern, seperti pembedaan yang sekuler dan agamawi, yang profane dan sacred, ilmu dan amal, atau dikotomi lainnya.

Novel ini adalah meditasi tentang subyek paska-kolonial yang penuh kebingungan. Mau diakui atau tidak, bukankah Samba adalah gambaran dari kita semua? Kitapun perlu menjawab pertanyaan yang menggelisahkan guru Thierno dan para tokoh lain di novel ini: Dalam membentuk diri yang baru, sebagai keniscayaan dari pertemuan dengan zaman baru ini, “apakah kita masih punya substansi untuk menjadi diri kita sendiri?”

Saya mengenal novel ini lewat Rudolph Ware III alias Bilal Ware, penulis buku The Walking Qur’an: Islamic Education, Embodied Knowledge, and History in West Africa. Rupanya, novel ini menjadi salah satu inspirasi Bilal Ware menulis buku tersebut. Seperti halnya buku ini, Ware berkisah tentang sekolah al-Qur’an di Afrika Barat, Senegal, dan bagaimana ia menghadapi gempuran imajinasi baru orang modern (Cartesian) tentang apa itu ilmu dan bagaimana ilmu mesti ditransmisikan, apakah lewal reason atau akal semata, atau juga lewat tubuh, juga isu-isu lain.

Pertanyaan mendasar novel dan buku ini bisa menemani siapapun untuk merenungkan kembali dunia pendidikan di Indonesia. Sekali lagi, bukankah kita punya kisah yang mirip dengan Samba? Atau, jangan-jangan kita adalah generasi setelah Samba yang bahkan tidak tahu apa yang sudah kita lupakan?



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Mimpi Bercerai, Tandanya Apa? Ini Tafsir Mimpinya Menurut Ulama!

Published

on

By


Mimpi bercerai kadang membuat orang galau, bagaimana tafsirnya?

Pernikahan merupakan momen yang selalu ditunggu oleh setiap insan sebagai babak baru setelah masa lajang antara kedua pasangan. Namun dalam berumah tangga kadangkala jalannya tak semulus yang diduga. Pasangan yang selalu diidam-idamkan ternyata tak sesuai harapan dan berujung pada perceraian.

Mendengar kata cerai, seseorang akan terlintas di benaknya betapa usaha keras dalam membangun rumah tangga hancur menjadi sia-sia. Agama memperbolehkan perceraian saat kedua pasangan sudah tak bisa disatukan kembali walau demikian Allah kurang menyukai perceraian.

Makna Mimpi Bercerai

Syekh Abdul Ghani An Nablusi dalam kitab Ta’thirul Anam fi Ta’biril Manam menjelaskan makna mimpi perceraian.

(ﻃﻼﻕ) ﻫﻮ ﻟﻷﻋﺰﺏ ﻓﻲ اﻟﻤﻨﺎﻡ ﻓﺮاﻗﻪ ﻟﻤﺎ ﻫﻮ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻴﺮا ﺃﻭ ﺷﺮا ﻭﻃﻼﻕ اﻟﻤﺘﺰﻭﺝ ﺑﻄﻼﻥ ﻣﻌﻴﺸﺘﻪ ﺃﻭ ﻣﻮﺗﻪ ﺧﺼﻮﺻﺎ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﺮﻳﻀﺎ ﻓﺎﻟﺜﻼﺙ ﺑﺘﺎﺕ ﻻ ﺭﺟﻌﺔ ﻟﻪ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭاﻟﻮاﺣﺪ ﺭﺟﻮﻉ ﻟﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻭ ﻳﺼﻄﻠﺢ ﻣﻊ ﻣﻌﺎﺩﻳﻪ.

Bila seseorang lajang bermimpi talak (perceraian) maka hal tersebut berarti perpisahan terhadap hal yang baik ataupun buruk bagi dirinya. Sedangkan orang yang sudah menikah bila bermimpi cerai maka maknanya kehidupannya berantakan atau bisa kematian menjemputnya lebih-lebih saat dirinya sedang sakit.

Lebih lanjut, Syekh Abdul Ghani An Nablusi menjelaskan

ﻭﻣﻦ ﺭﺃﻯ) ﺃﻧﻪ ﻃﻠﻖ اﻣﺮﺃﺗﻪ اﺳﺘﻐﻨﻰ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻭﺇﻥ ﻳﺘﻔﺮﻗﺎ ﻳﻐن اﻟﻠﻪ ﻛﻼ ﻣﻦ ﺳﻌﺘﻪ

Barangsiapa yang bermimpi dirinya mencerai istrinya maka ia akan tercukupi. Hal ini seperti ayat (Al-Nisa: 130)

ﻭﺇﻥ ﺭﺃﻯ ﺃﻧﻪ ﻃﻠﻖ اﻣﺮﺃﺗﻪ ﺭﺟﻌﻴﺔ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺘﺮﻙ ﺣﺮﻓﺘﻪ ﻭﻋﻤﻠﻪ ﺃﻳﺎﻣﺎ ﻭﻳﻨﻮﻱ اﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻓﺈﻥ ﻃﻠﻘﻬﺎ ﺑﺎﺋﻨﺔ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺘﺮﻙ ﺣﺮﻓﺘﻪ ﻭﻻ ﻳﻨﻮﻱ اﻟﺮﺟﻮﻉ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻓﺈﻥ ﻃﻠﻘﻬﺎ ﻃﻼﻕ اﻟﺴﻨﺔ ﺣﺘﻰ ﺃﺗﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺛﻼﺛﺔ ﻗﺮﻭء ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺘﺮﻙ اﻟﺤﺮﻓﺔ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻐﻨﻲ ﻋﻨﻬﺎ

Jika ia mencerai talak raj’i maka ia akan melepas profesi pekerjaannya beberapa hari kemudian berniat kembali lagi. Sedangkan bila ia bermimpi mentalak bain istrinya maka ia akan kehilangan pekerjaannya dan tak bisa kembali mendapatkan pekerjaan tersebut.

(ﻭﻣﻦ ﺭﺃﻯ)

 ﺃﻧﻪ ﻃﻠﻖ اﻣﺮﺃﺗﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻔﺎﺭﻕ ﻣﻠﻜﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻌﻪ ﻭﻗﻴﻞ ﺇﻧﻪ ﻳﻌﺰﻝ ﻋﻦ ﺳﻠﻄﺎﻧﻪ ﻭاﻟﻄﻼﻕ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ اﻟﻔﻘﺮ ﻷﻥ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﺳﻠﻄﺎﻥ اﻟﺮﺟﻞ ﻭﺩﻧﻴﺎﻩ

Barangsiapa yang bermimpi dirinya mencerai istrinya, maka hal ini berarti ia akan berpisah dengan raja yang bersamanya. Ada juga yang mengatakan ia akan dilengserkan dari kekuasaannya. Pada dasarnya talak berarti kefakiran karena perempuan diibaratkan sultannya suami dan kemewahannya.

ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ اﻣﺮﺃﺓ ﻣﺮﻳﻀﺔ ﻭﺭﺃﻯ ﺃﻧﻪ ﻃﻠﻘﻬﺎ ﻃﻼﻕ اﻟﺒﺘﺎﺕ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺗﻤﻮﺕ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺇﺫا ﺑﺎﻋﻬﺎ ﺃﻭ ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ ﻭﺇﻥ ﻃﻠﻘﻬﺎ ﻃﻼﻕ اﻟﺮﺟﻌﺔ ﻳﺮﺟﻰ ﻟﻬﺎ اﻟﻌﺎﻓﻴﺔ.

Barangsiapa yang memiliki istri yang sedang sakit kemudian ia bermimpi menceraikannya dengan talak ba’in maka maknanya istrinya akan mati. Begitu juga bila suami bermimpi menjual atau memerdekakan istrinya serta dalam mimpi tersebut ia mentalak raj’i maka istrinya akan sembuh kembali.

Tafsir Mimpi Bercerai dengan pasangan menurut Syekh Abu Bakar Al Ihsa’i

Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh Abu Bakar Al Ihsa’i dalam kitab Jami’ Tafsiril Ahlam menyatakan bahwa,

ﻭﺃﻣﺎ اﻟﻄﻼﻕ ﻓﻤﻦ ﺭﺃﻯ ﺃﻧﻪ ﻃﻠﻖ اﻣﺮﺃﺗﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺴﺘﻐﻨﻲ ﻭﻗﻴﻞ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﺎﺣﺐ اﻟﺮﺅﻳﺎ ﺫا ﻣﻨﺼﺐ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻌﺰﻝ ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﺃﻧﻪ ﻃﻠﻖ اﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﻟﻴﺲ ﻣﻌﻪ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺰﻭﻝ ﻋﻦ ﺷﺮﻓﻪ ﻭﻋﺰﻩ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ اﻟﻨﺴﻮﺓ ﺃﻭ اﻟﺠﻮاﺭ ﻓﺈﻧﻪ ﻧﻘﺼﺎﻥ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ

Orang yang bermimpi mencerai istrinya maka ia sudah merasa cukup. Ada juga yang mengatakan bahwa bila orang yang bermimpi memiliki kedudukan maka ia akan terlepas dari jabatannya. Sebagian ulama berpendapat bahwa barangsiapa yang bermimpi menceraikan istrinya padahal ia tak memiliki istri lain maka kemuliaan dirinya akan hilang. Bila ia memiliki istri lain atau budak maka berarti ia akan kehilangan dari beberapa istrinya tersebut.

Secara spesifik, Syekh Abu Bakar Al Ihsa’i memberikan gambaran bahwa

ﻭﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﺃﻧﻪ ﻃﻠﻖ اﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ اﻣﺮﺃﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻗﺮﺏ ﺃﺟﻠﻪ ﻭﻗﻴﻞ ﻣﻦ ﺭﺃﻯ ﺃﻧﻪ ﻃﻠﻖ اﻣﺮﺃﺗﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻃﻼﺏ اﻵﺧﺮﺓ اﻧﻘﻄﻊ ﻋﻦ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭاﺷﺘﻐﻞ ﺑﺎﻵﺧﺮﺓ

Barangsiapa bermimpi menceraikan istrinya padahal ia tak memiliki istri maka berarti ajalnya sudah dekat. Ada yang mengatakan bahwa barangsiapa yang menceraikan istrinya padahal ia termasuk orang yang fokus dalam urusan akhirat maka ia sudah tak tergiur dunia dan lebih menyibukkan diri kepada akhirat.

Penjelasan ini bukan menakut-nakuti kita, tetapi seharusnya menjadi pelajaran berharga kepada kita supaya lebih berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan pasangan serta mengurangi konflik yang mengarah kepada perceraian. (AN)





Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Nanggung!! Selain Statuta Jabatan Rektor, Sekalian Aja Presiden Jokowi Ubah Tagline UI

Published

on

By


20 Juli 2021, Presiden Jokowi mengubah statuta Universitas Indonesia melalui Peraturan Pemerintah No.75 Tahun 2021. Statuta yang mulanya tidak membolehkan rektor menjabat jabatan apapun di instutusi pendidikan lain, badan usaha milik swasta ataupun pemerintah, partai politik, jabatan di instansi pemerintah pusat/daerah, dan jabatan lain yang bertentangan di dalam internal UI, kini berubah.

Pertama, rektor dan wakil rektor boleh menjabat jabatan apapun selain direksi di badan usaha milik swasta/negara. Kedua, boleh merangkap jabatan non-struktural di instansi pemerintah daerah/pusat. Peraturan Pemerintah tersebut tidak lain adalah respon lanjutan atas sorotan publik yang melihat rektor UI, Ari Kuncoro, juga memegang jabatan komisaris di Bank BRI.

Publik menilai itu tidak etis. Namun alih-alih terbesit rasa bersalah, atau meminta maaf, masalah administrasi tersebut justru diselesaikan oleh tangan Presiden Jokowi dengan mengubah statuta universitas.

Universitas yang seharusnya tunduk pada kebenaran, kejujuran, ketakberpihakan, dan etika, justru kini semakin condong pada ketertundukan terhadap kekuasaan, partisanship dan kapital. Situasi ini muncul tidak lain karena tingginya kehendak kuasa dalam menginstrumentalisasi institusi pendidikan, atau bahkan ilmu pengetahuan itu sendiri untuk kepentingan rezim.

Tendensinya telah muncul secara berurutan, dari mulai pengadaan dewan pengawas untuk BRIN, tren pemberian gelar honoris causa bagi politisi, hingga modifikasi aturan dasar kampus. Melalui persuasi struktural, rezim sebenarnya sedang melakukan penaklukan menyeluruh dari institusi tertinggi pemegang otoritas ilmu pengetahuan.

Jalin-menjalin antara kekuasaan dan petinggi kampus dapat memberikan peluang bagi resiko praktik maladministrasi ataupun distribusi kapital yang lebih besar. Tapi juga memberikan keleluasan lebih signifikan dalam mendistorsi arah, orientasi, atau bahkan hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri, khususnya ilmu sosial yang memang telah memiliki riwayat pendistorsian sejak lama.

Langkah yang diambil Presiden Jokowi patut disesalkan karena selain resiko-resiko di atas, langkah itu juga akan meninggalkan pengaruh terhadap iklim universitas khususnya dan iklim ilmu-ilmu sosial umumnya, yang belakang sedang mulai memulihkan diri dari belenggu orientasi ataupun pengaruh sisa Orde Baru. Walaupun kekebalan terhadap tawaran kuasa ataupun pasar belum sepenuhnya terkonsolidasi, namun perlawanan terhadapnya kini menunjukkan riak dari sebagian ilmuan-ilmuan.

Langkah yang diambil Presiden Jokowi, secara psikologis menyimpan potensi pembelahan di tubuh universitas. Antara mahasiswa, ilmuan tingkat menengah yang punya komitmen terhadap ilmu pengetahuan, dan petinggi kampus yang tunduk pada kuasa, dapat saling bergesekan dan pada gilirannya menuntut energi yang sebenarya jauh lebih bermanfaat jika diarahkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan, dibanding untuk gesekan internal.

Potensi lain yang muncul adalah, timbulnya efek berantai atas tauladan sikap yang abai terhadap etika dan penghormatan kepada ilmu pengetahuan. Idealnya, aturan dibuat untuk memitigasi hal-hal yang tidak diinginkan dan mencegah hal-hal yang dapat mencoreng sakralitas ilmu pengetahuan. Namun Indonesia punya idealitas lain yang lebih ditentukan oleh prinsip negosiasi dan keberpihakan, yang justru memperluas pencorengan lebih leluasa dilakukan.

Veritas, Probia, Iustitia. Kebenaran, kejujuran dan keadilan. Presiden Jokowi sepertinya lupa, kalau langkah yang diambilnya itu harusnya juga disertai revisi terhadap tagline UI tersebut, agar antara tindakan dan ucapan dapat lebih ‘selaras’.

 





Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Memahami Fenomena dr. Lois dan Mereka yang Denial Corona

Published

on

By


Kita hidup di sebuah dunia yang di dalamnya terdapat semakin banyak informasi tetapi semakin sedikit makna,” Jean Baudrillard.

Bayi yang menangis tidak selalu berarti haus. Begitu pula judul berita atau beragam radiasi informasi tentang Covid-19 yang merangsek ke medsos kamu, mereka tidak selalu mencerminkan isi yang sesungguhnya. Di dalam praktik representasi, itu semua disebut simulasi.

Berapa waktu lalu saya membaca berita dengan judul cukup ngehe setamsil “Waduh! Tim Pemakaman di Klaten, Mengubur Peti Kosong Tanpa Jenazah” (13/7); lalu, “Tim Covid di Klaten Kubur Peti Kosong, Kok Bisa?” (12/7); dan, “Kacau betul, peti Mati Kosong dikuburkan, Kepala Desa: Diantar Oleh Kepala Desa Rumah Sakit” (14/7).

Untuk diketahui, tiga berita itu memuat kejadian yang sama dengan nama media dan jadwal tayang yang berbeda-beda. Dua di antaranya termasuk media (daring) arus utama di Indonesia. Dari sisi ekonomi politik, berita itu—jika masih layak disebut berita—secara benderang dimaksudkan untuk menarik pembaca dan khotmilnya adalah untuk menggaet pengiklan.

Setelah saya membaca utuh, isinya sebetulnya biasa saja, yaitu mis-koordinasi di level lapangan. Walakin, tiga berita dengan judul sensasional itu bisa saja memiliki makna lain di tengah merebaknya “hoaks ambulans kosong”. Di sini, pertanyaan yang relevan adalah: siapa yang bisa menjamin orang akan membacanya secara utuh dan tidak berhenti di judul?!

Melihat rendahnya tingkat literasi di Indonesia kok saya jadi pesimis. Lebih dari itu, tiga berita tersebut saya dapat dari WA Grup yang berbeda-beda dengan kepsyen yang tak kalah bedebah.

Di belahan platform media baru lainnya, nama Lois Owien, seorang dokter yang surat tanda registrasi (STR) nya sudah tak berlaku sejak 2017, mendadak jadi perbincangan publik. Pemantiknya, ia menyangkal adanya Covid-19.

Menurut dokter kecantikan yang tak pernah menangani pasien corona ini, 66 ribu kematian dalam 1,5 tahun terakhir terjadi karena interaksi obat dalam penanganan covid, alih-alih disebabkan virus itu sendiri. Dengan dalih itu, Lois menolak untuk percaya terhadap keberadan virus corona.

***

Dua fenomena di atas secara jelas menunjukkan adanya ekstasi komunikasi. Ekstasi komunikasi merupakan konsep Jean Baudrillard (1987) untuk menggambarkan situasi batin masyarakat yang dijejali berbagai tanda, kode, dan simbol dalam proses komunikasinya. Akibatnya, kondisi perasaan dan emosi masyarakat cenderung menjadi berlebihan bahkan di luar kontrol.

Bagi industri media, Lois adalah komoditas yang bisa mendatangkan profit. Bagi orang seperti Lois, informasi yang dia bagikan adalah exercise of power dari kuasa pengetahuan untuk memuaskan dahaga eksistensi. Padahal, hanya karena seseorang bergelar dokter, bukan berarti ia akan akurat bicara Covid-19.

Di luar sana, di puskesmas-puskesmas, di RS-RS rujukan, dan di banyak tempat lainnya, segenap tenaga medis dan relawan semakin kewalahan menghadapi pandemi. Di saat yang sama, aktivitas orang mulai terbatas. Manusia butuh tidur, makan, beli buku, bayar token listrik, piknik, dan kebutuhan lifestyle lainnya. Lah, virus corona hanya butuh inang untuk inkubasi. Kok enak betul ada yang menganggap covid sebagai tidak ada, sambil diam-diam menikmati popularitas temporal.

Persis di titik inilah Lois merupakan agen dari apa yang Baudrillard sebut sebagai simulasi. Berbeda dengan TV atau film, dalam ruang bernama media sosial siapa saja bisa menghasilkan ‘karya’ yang secara langsung dapat dinikmati orang lain. Siapa saja secara tiba-tiba bisa menjadi “kepala suku” untuk para pengikut (followers) yang setia dan pada derajat tertentu kelewat militan.

Dalam mekanisme simulasi, manusia terjebak di dalam satu ruang yang dianggap nyata, padahal sesungguhnya semu belaka. Di sini, identitas tidak lagi ditentukan dari dalam diri seorang subjek. Identitas kini lebih ditentukan oleh cermin konstruksi relasi berbagai tanda, citra, dan kode yang membentuk hubungannya dengan orang lain.

Lewat media sosial, dunia simulasi tampil secara sempurna. Lois menyebarkan gagasannya (kalo masih bisa disebut gagasan) lewat cuitan di Twitter. Terdaftar menjadi pengguna Twitter sejak Desember 2020, akun @LsOwien telah memiliki pengikut sebanyak 23.1K. Lebih dari itu, Lois diundang untuk bicara oleh sejumlah kanal YouTube, dan juga mengisi acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi swasta.

Dan, here we are!!

Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi, reproduksi. Semuanya seolah telah melebur menjadi satu dalam sengkarut tanda. Perbedaan antara yang nyata dan yang fantasi, atau yang asli dan yang palsu menjadi semakin ngeblur. Sebuah pesan tidak lagi disampaikan sebagai informasi, tetapi lebih karena nilai-tanda dan nilai-simbol yang dibawanya. Akibatnya, informasi yang beredar dalam ruang simulakra-media cenderung berlebih, meledak-ledak, sekaligus banal dan miskin makna.

Kenyataannya, media sosial sebagai artefak kebudayaan adalah sama meyakinkannya dengan pelajaran sejarah atau khutbah keagamaan sebab mereka sama-sama menawarkan informasi yang membentuk pandangan serta gaya hidup manusia. Orang lalu menjadi bingung menghadapi pergumulan berbagai topik dan informasi yang saling berjalin-berkelindan sekaligus menunjukkan kontras.

Siapakah pihak yang benar di tengah krisis kesehatan, atau krisis ekonomi, atau krisis kepercayaan, atau krisis informasi ini? Atau, siapa yang lebih sahih antara dokter Lois dengan dokter Tirta? Siti Fadhilah Supari yang pernah korupsi atau Budi Gunadi yang sedang berjibaku mengentaskan krisis kesehatan? Jerinx atau Agus Mulyadi?

Memang, membuat orang jadi percaya kepada hal-hal yang tak kasat mata itu sepenuhnya butuh kesabaran dan effort yang tidak mudah. Buat umat Muslim, adalah sangat aneh jika mereka percaya hari akhir, tapi resisten terhadap virus corona.





Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved

VERIFIED & SECURED
BY: R3
SSL Valid: Jun 21, 2021 - Sep 19, 2021