Connect with us

Kalam

Al-Quran Menghargai Bahasa dan Keragamannya

Published

on



loading…

DALAM Buku Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, M Quraish Shihab menulis bahwa Al-Quran menegaskan dalam surat Al-Rum (30) :

“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, adalah penciptaan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu, dan warna kulitmu …”

Baca juga: Wawasan Kebangsaan Dalam Al-Quran (3): Pengelompokan Berdasarkan Keturunan

Al-Quran demikian menghargai bahasa dan keragamannya, bahkan mengakui penggunaan bahasa lisan yang beragam.

Perlu ditandaskan bahwa dalam konteks pembicaraan tentang paham kebangsaan, Al-Quran amat menghargai bahasa, sampai-sampai seperti yang disabdakan Nabi SAW:

Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad dengan riwayat yang berbeda-beda tetapi dengan makna yang sama).

Pengertian “tujuh bahasa” antara lain adalah, tujuh dialek. Menurut sekian keterangan, ayat-ayat Al-Quran diturunkan dengan dialek suku Quraisy, tetapi dialek ini –ketika Al-Quran turun– belum populer untuk seluruh anggota masyarakat. Sehingga apabila ada yang mengeluh tentang sulitnya pengucapan atau pengertian makna kata yang digunakan oleh ayat tertentu, Allah menurunkan wahyu lagi yang berbeda kata-katanya agar menjadi mudah dibaca dan dimengerti. Sebagai contoh dalam Al-Quran surat Al-Dukhan (44): 43-44 yang berbunyi, “Inna syajarat al-zaqqum tha’amul atsim, pernah diturunkan dengan mengganti kata atsim dengan fajir, kemudian turun lagi dengan kata al-laim. Setelah bahasa suku Quraisy populer di kalangan seluruh masyarakat, maka atas inisiatif Utsman bin Affan (khalifah ketiga) bacaan disatukan kembali sebagaimana tercantum dalam mushaf yang dibaca dewasa ini.

Baca juga: Wawasan Kebangsaan Dalam Al-Quran (2): Persatuan Bukan Penyatuan

Pengertian lain dari hadis tersebut adalah Al-Quran menggunakan kosa kata dari tujuh (baca: banyak) bahasa, seperti bahasa Romawi, Persia, dan Ibrani, misalnya kata-kata: zamharir, sijjil, qirthas, kafur, dan lain-lain.

Menurut Quraish untuk menghargai perbedaan bahasa dan dialek, Nabi SAW tidak jarang menggunakan dialek mitra bicaranya. Semua itu menunjukkan betapa Al-Quran dan Nabi SAW sangat menghargai keragaman bahasa dan dialek.

“Bukankah seperti yang dikemukakan tadi, Allah menjadikan keragaman itu bukti keesaan dan kemahakuasaan-Nya?” tutur Quraish.

Nah, bagaimana kaitan bahasa dan kebangsaan? Tadi telah dikemukakan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir berkaitan dengan Salman, Bilal, dan Suhaib.

Pada hakikatnya, bahasa memang bukan digunakan sekadar untuk menyampaikan tujuan pembicaraan dan yang diucapkan oleh lidah. Bukankah sering seseorang berbicara dengan dirinya sendiri? Bukankah ada pula yang berpikir dengan suara keras. Kalimat-kalimat yang dipikirkan dan didendangkan itu merupakan upaya menyatakan pikiran dan perasaan seseorang? Di sini bahasa merupakan jembatan penyalur perasaan dan pikiran.

Karena itu pula kesatuan bahasa mendukung kesatuan pikiran. Masyarakat yang memelihara bahasanya dapat memeliara identitasnya, sekaligus menjadi bukti keberadaannya. Itulah sebabnya mengapa para penjajah sering berusaha menghapus bahasa anak negeri yang dijajahnya dengan bahasa sang penjajah.

Baca juga: Wawasan Kebangsaan Dalam Al-Quran (1): Apakah Sya’b, Qaum, atau Ummah?

Al-Quran menuntut setiap pembicara agar hanya mengucapkan hal yang diyakini, dirasakan, serta sesuai dengan kenyataan. Karena itu, tidak jarang Kitab Suci ini menggunakan kata qala atau yaqulu (dia berkata, dalam arti meyakini), seperti misalnya dalam surat Al-Baqarah (2): 116:

Mereka berkata, “Allah mengambil anak”. Mahasuci Allah, dengan arti mereka meyakini bahwa Allah mempunyai anak.

Salah satu sifat Ibadur Rahman (hamba-hamba Allah yang baik) yang dijelaskan dalam surat Al-Furqan (25): 65 adalah:

Mereka yang berkata, “Jauhkanlah siksa jahanam dari kami”. Sesungguhnya azab-Nya adalah kebinasaan yang kekal



Berita Selengkapnya

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kalam

Lebaran Warga Indonesia di Kota Granit Aberdeen Skotlandia

Published

on

By



loading…

JAKARTA – Di tengah suasana pandemi Covid-19, umat Islam di dunia tetap merayakan Idul Fitri 1442 Hijriyah dalam suasana penuh kegembiraan dan kekeluargaan, termasuk warga negara Indonesia (WNI) di Aberdeen, Skotlandia.

Lebaran di Aberdeen tahun ini terasa sangat spesial dan unik. Sebab untuk kali pertama WNI diberikan kesempatan untuk mengorganisir salat Idul Fitri khusus untuk WNI sendiri di Masjid Jami Syed Syah Mustafa, masjid terbesar dan tertua di Kota Aberdeen.

Masjid Jami Syed Syah Mustafa merupakan satu dari tiga masjid di Aberdeen. Lokasinya di tengah-tengah kota, berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan berdampingan langsung dengan Gereja Episkopal Santo Yohanes yang memberikan izin salah satu ruangannya untuk digunakan untuk menyelenggarakan salat tarawih, salat Jum’at dan salat Id lantaran terbatasnya kapasitas ruangan masjid.

Baca juga: Suka Cita Prajurit TNI Rayakan Idul Fitri di Wilayah Konflik Kongo

Hubungan baik yang sangat harmonis ini adalah simbol ukhuwah insaniyah yang terjaga sangat baik antara umat muslim dan umat kristiani di Aberdeen. Cerminan toleransi ini tentunya mengingatkan kita antara mesjid Istiqlal dan gereja Katedral di Indonesia yang lokasinya juga berdekatan.

Di masjid Jami Syed Syah Mustafa, salat Idul Fitri dilaksanakan bergiliran lantaran adanya ketentuan batas maksimal kerumunan. Jamaah khusus WNI mendapatkan giliran paling akhir, yaitu pukul 11.30 sampai 12.30 waktu setempat.

Khutbah Idul Fitri pun disampaikan dalam Bahasa Indonesia dan ditranslasikan ke dalam Bahasa Inggris mengingat adanya warga Indonesia yang memiliki pasangan yang belum bisa berbahasa Indonesia dengan lancar.

Ustaz Rahmat Sifaurahman yang bertindak sebaga khatib menyampaikan ceramah dengan tema Pentingnya Persatuan Umat dan Ukhuwah Islamiyah. Ustaz Rahmat Sifaurahman adalah imam dan khatib dua mesjid di Aberdeen, yaitu di Syed Shah Mustafa dan Aberdeen Mosque and Islamic Centre (AMIC).

Dalam ceramahnya, Ustaz Rahmat menyampaikan bahwa persatuan umat adalah kunci keberhasilan dalam meraih tujuan untuk membangun negri yang baldatun thayyibatun wa robbun ghafur. Tema ini diangkat mengingat saat ini mudahnya umat dipecah-belah oleh isu-isu yang tidak signifikan sehingga umat Islam pada khususnya berselisih diantara satu dengan lainnya.

Alquran dan sunnah Rasulullah adalah pemersatu utama umat muslim yang harus dipegang teguh bersama-sama dan mengesampingkan ego pribadi dan golongan serta menumbuhkan budaya saling memahami dan memaafkan.

Baca juga: Klaten Gempar, Ustaz Juriono Meninggal Dunia Saat Beri Khotbah Usai Salat Idul Fitri

”Setidaknya terdapat sekitar 80 orang WNI yang hadir pada pelaksanaan salat Idul Fitri tahun ini, sudah sesuai dengan batas maksimum kerumunan keagamaan yang diizinkan oleh pemerintah setempat di masa pandemi,” ungkap Lesmana Djayapertapa, ekspatriat sekaligus tokoh WNI di Aberdeen.

Ahli computational fluid dynamics ini mengatakan, kesempatan menyelenggarakan salat Idul Fitri di Masjid Syed Shah Mustafa dengan jamaah khusus hanya bagi WNI merupakan suatu keistimewaan tersendiri bagi komunitas warga Indonesia.

”Kepercayaan ini merupakan bukti bahwa komunitas Muslim Indonesia yang sangat terbuka dan mudah berbaur dengan komunitas Muslim di Aberdeen lainnya terutama bagi komunitas Muslim Pakistan-Bangladesh yang menjadi pengurus dari masjid ini,” ungkap lelaki yang akrab dipanggil Mono ini.

Selama Ramadhan tahun 2021, Komunitas Muslim Indonesia memiliki beberapa program, di antaranya penggalangan dana dengan cara penjualan kurma yang keuntungannya disumbangkan untuk Palestina, Yaman, dan Rohingya bekerjasama dengan Dates Project, sebuah lembaga kemanusiaan internasional. Selain itu, komunitas Muslim Indonesia juga berpartisipasi dalam menyediakan makanan buka puasa (iftar) berciri khas Indonesia sekitar 1000 kotak makanan selama bulan ramadhan tahun ini yang didistribusikan melalui mesjid-mesjid setempat.

Baca juga: Tahun Ketiga Lebaran Tanpa Ani Yudhoyono, SBY Didoakan Sehat

Pengalaman Tak Terlupakan

Miftah Hidayat, salah satu mahasiswa program doktor di Aberdeen sangat berkesan bisa mengikuti salat Idul Fitri bersama para WNI di negara lain. Berkumpul lebaran bersama dengan sesama warga negara Indonesia di luar negeri tentunya menjadi pengalaman yang tak terlupakan. “Lebaran tahun ini menjadi pengalaman paling berkesan dibandingkan lembaran beberapa tahun sebelumnya” ungkap Miftah.

Selama pandemi dengan kebijakan lockdown di seluruh wilayah Skotlandia membuat intensitas pertemuan antara WNI di Aberdeen semakin berkurang. “Setidaknya berkumpulnya kita melalui lebaran ini membuat silaturrahim antara warga dan pelajar terjalin kembali yang sempat terputus akibat pandemi,” ungkap pria berkacama yang sekaligus ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Aberdeen tersebut.

Pada momentum Idul Fitri ini, PPI mengorganisir kegiatan potluck, kumpul-kumpul bersama dengan membawa makanan yang selanjutnya digabung untuk dinikmati secara bersama, yang dirangkaikan dengan halal bi halal outdoor antar pelajar di Aberdeen. Kegiatan dilaksanakan selepas salat Id dengan tetap mematuhi protocol kesehatan covid-19 dari pemeritah setempat. Kegiatan potluck ini menyajikan beranekaragam ciri khas makanan Indonesia, termasuk coto makassar, opor ayam, rendang, bakso dan mie Aceh.

(muh)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Waktunya Puasa Sunnah 6 Hari Syawal, Berikut Keutamaan dan Niatnya

Published

on

By



loading…

Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah telah kita lalui kemarin, Kamis (13/5/2021) dengan penuh sukacita. Jangan merasa puas dulu, karena masih ada amalan penting yang dianjurkan setelah Ramadhan, yaitu puasa 6 hari Syawal.

Saat ini kita memasuki hari ke-2 bulan Syawal 1442 Hjriyah. Puasa Syawal merupakan puasa sunnah yang merupakan penyempurna dari puasa Ramadhan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa 6 (enam) hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti puasa setahun penuh.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Baca Juga: Bacaan Niat Puasa 6 Hari Syawal dan Keutamaannya

Keutamaan Puasa 6 Hari Bulan Syawal
Berikut keutamaan puasa sunnah 6 hari Syawal yang perlu diketahui kaum muslimin. Sebagaimana dalam Kitab “Nihayatuz Zain” Hal 197disebutkan:

( و ) الرابع صوم ( ستة من شوال ) لحديث من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ولقوله أيضا صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وتحصل السنة بصومها متفرقة منفصلة عن يوم العيد لكن تتابعها واتصالها بيوم العيد أفضل وتفوت بفوات شوال ويسن قضاؤها
نهاية الزين ص ١٩٧

Artinya:
Puasa sunah enam hari di bulan Syawal berdasarkan hadits, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, ia seakan puasa setahun penuh.” Hadits lain mengatakan, puasa sebulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa (wajib) setahun penuh. Keutamaan sunnah puasa Syawal sudah diraih dengan memuasakannya secara terpisah dari hari Idul Fithri. Hanya saja memuasakannya secara berturut-turut lebih utama. Keutamaan sunah puasa Syawal luput seiring berakhirnya bulan Syawal. Tetapi dianjurkan mengqadhanya.

Tetapi orang yang berpuasa di luar tanggal itu sekalipun tidak berurutan tetap mendapat keutamaan puasa Syawal seakan puasa wajib setahun penuh. Hitungannya adalah 30 Hari + 6 Hari = 36 Hari. Allah Ta’ala menjadikan kebaikan dengan 10 kali lipat, maka 30 x 10 = 300 dan 6 x 10 = 60. Apabila ditambahkan nilai kedua puasa tersebut maka jumlahnya adalah 360.

Bahkan orang yang mengqadha puasa atau menunaikan nadzar puasanya di bulan Syawwal tetap mendapat keutamaan seperti mereka yang melakukan puasa sunah Syawwal.

وإن لم يصم رمضان كما نبه عليه بعض المتأخرين والظاهر كما قاله بعضهم حصول السنة بصومها عن قضاء أو نذر
حاشية الباجوري ج ١ ص ٢١٤

Artinya:
Puasa Syawal tetap dianjurkan meskipun seseorang tidak berpuasa Ramadhan -seperti diingatkan sebagian ulama muta’akhirin-. Tetapi sebagian ulama mengatakan seseorang mendapat keutamaan sunnah puasa Syawal dengan cara melakukan puasa qadha atau puasa nadzar (di bulan Syawwl). (Hasyiyatul Baijuri ‘ala Syarhil ‘Allamah Ibni Qasim Juz I, Hal 214)

Niat Puasa Sunnah 6 Hari Syawal

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ِﺳﺘَﺔٍ ِﻣﻦْ ﺷَﻮَﺍﻝٍ ﺳُﻨَﺔً ِﻟﻠَﻪ ﺗَﻌَﺎﻟَﻲ

Nawaitu Shouma Ghadin ‘Ansittatin Min Syawaali Sunnatan Lillaahi Ta’aalaa.
“Aku niat berpuasa sunnah 6 Hari bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”

Baca Juga: Puasa 6 Hari Syawal Bagi Perempuan, Syawal Dulu atau Qadha Dulu?

(rhs)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Kalam

Sejarah Munculnya Istilah Halal Bihalal di Indonesia

Published

on

By



loading…

Ustaz DR Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur’an,
Pensyarah Kitab Dalail Khairat

Di negara Arab dikenal istilah “Kullu am wa antum bil kheir” atau “Kullu sanah wa antum Thayyibin” yang makna dan artinya sebagai doa, harapan dan tahniah serta ucapan Selamat Hari Raya.

Sedangkan di Indonesia, kita mengenal dua istilah berbahasa Arab “Minal Aidin wal Faidzin” dan “Halal Bihalal”. Meski keduanya berbahasa Arab, ternyata kedua istilah tersebut bukanlah istilah yang dikenal di negeri Arab dan dapat dipahami oleh orang-orang Arab.

Seperti istilah Halal Bihalal, misalnya punya sejarah tersendiri yang hanya dikenal di Indonesia, bahkan uniknya istilah ini diciptakan oleh seorang ulama di Indonesia untuk menyebut istilah khusus dari “Silaturahim” yang bertepatan pada momentum hari Raya Ied Fitri.

Halal Bihalal berasal dari akar kata “Halla-Yahillu” yang berarti singgah, memecahkan, melepaskan, menguraikan, mengampuni. Halal Bihalal kini menjadi istilah lain dari silaturrahim. Beda antara keduanya ialah “Halal Bihalal” hanya digunakan untuk mengiringi kepergian bulan suci Ramadhan, sedangkan silaturrahim berlaku secara universal, menerobos batas waktu dan tempat.

Istilah Halal Bihalal muncul sekitar pertengahan Ramadhan pada 1948.Ketika itu, Presiden Soekarno tengah dihadapkan dengan permasalahan disintegrasi bangsa yang kian memanas pasca-pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dan PKI di Madiun. Di tengah situasi pelik itu, para elit politik pada saat itu justru saling bertengkar dan tak mau duduk bersama mencari solusi.

KH Wahab Chasbullah, yang dimintai pendapat oleh Bung Karno, kemudian menyarankan acara silaturrahim di antara elit politik dengan memanfaatkan momentum Idul Fitri. Meski sepakat dengan usulan itu, tapi Bung Karno merasa kurang cocok dengan penggunaan kata silaturahim untuk mendinginkan suhu politik saat itu. Menurutnya, istilah itu terlalu biasa dan harus dicari istilah lain agar pertemuan itu jadi momentum dan mengena bagi para elit politik yang hadir.

Makna Ucapan “Minal Aidin Wal Faizin” berarti saling memaafkan saling menghalalkan KH Wahab Chasbullah kemudian menjelaskan sebuah alur pemikiran yang menjadi kunci pada penemuan istilah ‘halal bihalal’. Diawali dengan penjelasan situasi para elit politik yang saling serang dan menyalahkan satu sama lain, KH Wahab menjelaskan hukum saling menyalahkan dalam Islam.

Beliau menyebut bahwa saling menyalahkan adalah dosa dan hukumnya haram. Agar elit politik terlepas dari dosa (haram), maka di antara mereka harus dihalalkan. Caranya, para elit politik harus duduk satu meja, berbicara satu sama lain, saling memaafkan, dan saling menghalalkan.

KH Wahab Chasbullah menyebut acara itu sebagai ‘Thalabu Halal bi Thariqin Halal’, maksudnya adalah mencari penyelesaian masalah atau keharmonisan hubungan dengan cara memaafkan kesalahan.

Alur pemikiran itu kemudian membawa KH Wahab pada sebuah istilah yang hingga saat ini dikenal luas di Indonesia, yaitu Halal Bihalal. Bung Karno pun menerima baik usulan itu. Saat Idul Fitri tiba, ia mengundang seluruh tokoh politik ke Istana untuk mengikuti acara Halal Bihalal.

Sejak saat itu, acara tatap muka, berbincang-bincang serta saling bersalam-salaman tersebut diikuti oleh instansi pemerintah hingga masyarakat luas hingga saat ini.

Sejak itu, Halal Bihalal menjadi populer dan diterima semua pihak, karena berisi pesan integrasi bangsa. Melalui acara Halal Bihalal jangan lagi ada dendam antara satu sama lain. Lapangkan dada dan hilangkan warna-warni perbedaan lokal di hadapan kebesaran Allah.

Halal Bihalal ialah menjalin dan lebih mempererat kembali silaturrahim antara sesama umat Islam (ukhuwwah Islamiyyah), sesama warga bangsa (ukhuwwah wathaniyyah), dan sesame umat manusia (ukhuwwah basyariyyah).

Mari kita membuktikan bahwa amaliah Ramadhan kita berhasil meraih predikat “Mabrur” dan “Mabruk” dengan mengubah perilaku kita yang kurang baik menjadi lebih baik. Insya Allah.

Baca Juga: Kisah Keluarga Rasulullah Makan Gandum Basi di Hari Idul Fitri

(rhs)



Berita Selengkapnya

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved