Connect with us

Telaah

Akibat Penghapusan ‘Syariat Islam’ dalam Pancasila

Published

on


Revisi sila pertama dalam Pancasila melahirkan sejumlah konsekuensi besar. Oleh sebagian pakar, pengubahan itu dipandang sebagai bentuk toleransi keagamaan di Indonesia, sebagian lagi menganggapnya sebagai sikap gegabah Mohammad Hatta. Sementara itu, kelompok lainnya menolak sampai mendeklarasikan perang melawan NKRI.

Ketika dirumuskan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada Juni 1945, sila pertama Pancasila (saat itu naskahnya dikenal dengan Piagam Jakarta) berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Perumusan itu berjalan dengan alot, muncul seiring dengan perdebatan hubungan antara agama dan negara di Indonesia.

Kendati demikian, Panitia Sembilan, badan kecil yang bertugas merumuskan dasar dan ideologi bangsa Indonesia bersepakat untuk menyetujui rumusan sila itu; yang salah satu bunyinya memuat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Di antara sembilan anggota panitia, hanya satu yang non-muslim, yaitu A.A. Maramis. Ia berpandangan bahwa kalimat itu tidak mengikat rakyat Indonesia yang beragama lain, serta penetapannya bukanlah suatu diskriminasi.

Namun, berbeda halnya ketika naskah Piagam Jakarta itu mulai tersebar luas. Sore hari selepas proklamasi kemerdekaan dibacakan, Mohammad Hatta kedatangan seorang opsir Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Di Indonesia masa itu, Kaigun berkuasa di wilayah Indonesia timur dan Kalimantan.

Dalam buku autobiografinya, Mohammad Hatta: Memoir (1979), ia (Hatta) menyatak telah lupa nama utusan Kaigun tersebut. Namun pesannya berujar bahwa “wakil-wakil Protestan dan Katolik, yang [tinggal di wilayah yang] dikuasai Kaigun, sangat berkeberatan terhadap bagian kalimat dalam pembukaan Undang-undang Dasar, yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Tujuh kata itu dinilai amat sensitif dan menyinggung orang-orang non-muslim Indonesia. Hal ini juga ditegaskan oleh Johannes Latuharhary ketika ia menyatakan “kalimat ini bisa juga menimbulkan kekacauan,” protesnya sebagaimana dikutip dari Piagam Jakarta 22 Juni (1981).

Melihat potensi cerai-berainya negara Indonesia yang baru diproklamasikan itu, Moh. Hatta memutar otak, ia pun menerima keberatan penyantuman “syariat Islam” dalam dasar negara yang dapat ditafsirkan sebagai diskriminasi pada golongan minoritas.

Hatta berpandangan bahwa ancaman ini amat serius sehingga “jika diskriminasi itu ditetapkan, mereka [Indonesia timur] lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.”

Apabila ancaman dari utusan Kaigun itu bukan gertakan sambal belaka, maka kondisi Indonesia dalam keadaan berbahaya. Perpecahan itu bisa jadi akan dimanfaatkan Sekutu untuk menerkam Indonesia timur dan mengadu-domba rakyat Indonesia.

Karena itulah, esoknya pada 18 Agustus 1945, Hatta melobi Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim (ada yang menyatakan bahwa Wahid Hasyim tidak hadir), Kasman Singodimedjo, dan Teuku Hasan untuk merevisi Piagam Jakarta tersebut.

Setelah rapat alot, tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapus dan berganti: “Ketuhanan yang Maha Esa”. Ketika disidangkan dalam rapat PPKI, keputusan itu disetujui dengan suara bulat.

Sampai saat ini, utusan yang dianggap Kaigun oleh Mohammad Hatta itu masih menjadi misteri sejarah. Bahkan, ada pakar yang menganggapnya sebagai akal-akalan pemuda di masa itu dan Hatta termakan gertakan sambal (hoaks) sehingga gegabah merevisi sila pertama Pancasila.

Namun, kelima sila yang kita jumpai sekarang adalah sila yang utuh disepakati founding fathers Indonesia. Jikapun dianggap bahwa penghapusan tujuh kata itu adalah bentuk toleransi keagamaan, pemimpin Islam di masa silam sudah bermurah hati melepas kata “syariat Islam” demi persatuan Indonesia, kendati penduduk muslim tercatat sebagai mayoritas 90 persen populasi Indonesia pada 1945.

Negara Islam Indonesia (NII) Menolak Pancasila

Akan tetapi, keputusan itu nyatanya tidak menyenangkan semua kelompok Islam. Seorang tokoh pentolan muslim kala itu, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK) menolak keras pengubahan sila pertama Pancasila. Bahkan, kabarnya SMK juga mengusulkan ide pembentukan negara Indonesia merdeka yang memberlakukan syariat, yang disampaikan melalui wakil-wakilnya seperti Ki Bagus Hadikusumo dan Kiai Ahmad Sanusi dalam sidang BPUPKI.

Bunyi Piagam Jakarta dengan “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” juga lahir dari ide SMK melalui wakil-wakilnya di atas. Karena itulah, ketika kalimat “syariat Islam” dihapuskan, SMK meminta agar Kiai Joesoef Taudjiri memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Namun, permintaan itu ditolak oleh Kiai Joesoef.

Setelah serangan Agresi Militer Belanda I dan II, SMK kian yakin untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). SMK menganggap bahwa revisi Pancasila telah menjadikan Indonesia sebagai negara sekuler atau negara kafir.

Sebagai respons atas hal tersebut, pada 7 Agustus 1949, SMK menerbitkan Maklumat NII No. 7 yang berisi pernyataan bahwa NII telah berdiri. Proklamasi Negara Islam Indonesia (NII) diumumkan di desa Cisampah, Tasikmalaya.

SMK mengangkat dirinya sendiri sebagai imam, panglima tertinggi NII. Ia menganggap bahwa Pancasila adalah jahiliah bentuk baru. Pancasila yang sekuler, dalam pandangan SMK, telah menjadi berhala yang disembah di Indonesia. Ideologi tersebut adalah campuran berbagai paham, seperti Shintoisme Jepang, Animisme Indonesia, Hokkoitjiu atau teori kemakmuran Asia Timur Raya, dan Nasionalisme Indonesia jahil yang bercorak komunisme (Konsep Negara Indonesia Menurut S.M. Kartosoewirjo, 1999: 121).

Akhirnya, setelah 13 tahun memperoleh status pemberontak oleh pemerintah Indonesia, SMK diringkus dan dijatuhi hukum mati dengan ditembak oleh aparat di Kepulauan Seribu (1962). Meskipun sudah dijawab dengan timah panas, rupanya penolakan atas penghapuskan tujuh kata dalam Pancasila belum benar-benar redup.

FPI Menolak Sila I Pancasila

Usaha untuk mengembalikan tujuh kata yang dihapus itu juga dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI). Meskipun saat ini, organisasi FPI sudah dilarang pemerintah dan tidak boleh beroperasi lagi. Namun, ide untuk mengembalikan tujuh kata itu berkali-kali mereka gaungkan. Misalnya, pada 17 Agustus 2003, FPI menuntut MPR/DPR untuk mengubah Pancasila sesuai dengan Piagam Jakarta yang dirumuskan selama sidang BPUPKI.

Tidak hanya itu, pada 2020 lalu, Persaudaraan Alumni (PA) 212 juga meminta agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta kembali dimasukkan sebagai sila pertama Pancasila. Komentar PA 212 itu merupakan tanggapan atas Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang sempat ramai dibahas tahun lalu.

Pengembalian tujuh kata itu dapat dipandang sebagai usaha untuk melakukan dominasi agama dalam negara. Kendati pemimpin Islam di masa silam sudah bertoleransi merelakan tujuh kata itu dihilangkan, namun tidak demikian bagi kelompok Islam yang lain. Upaya-upaya pengembalian “syariat Islam” terus dilancarkan, bahkan mungkin hingga sekarang melalui lobi-lobi politik tertentu.

Namun, yang harus diingat, pengubahan itu sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tokoh Cendekiawan Islam Muhammad Imaduddin Abdulrahim, salah seorang penggagas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menyatakan bahwa kelima sila dalam Pancasila sejatinya adalah saripati ajaran Islam yang digali tokoh pendiri republik ini. Pancasila adalah sumbangsih Islam untuk Indonesia atau juga bagi kemanusiaan yang universal.



Sumber Berita

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Telaah

Membandingkan Ceramah Ustad Khalid Basalamah dengan Buya Yahya Tentang Sholat Perempuan Lebin Baik di Rumah?

Published

on

By


Beberapa waktu lalu, kembali Ustad Khalid Basalamah dalam ceramahnya mengatakan jika perempuan lebih utamanya sholat di rumah. Dalam ceramahnya yang berjudul “Shahih At-Targhib wa At-Tarhib – Anjuran Wanita agar Sholat di Rumah (Hadits 340)”, dirinya mengatakan jika sholat perempuan yang semakin tertutup akan semakin afdol (lebih baik).

Ustad Khalid Basalamah mengutip beberapa hadist sekaligus cerita sebagai penekanan jika perempuan lebih utama sholat di rumah. Pertama, kisah istri Abu Hummayd al-Sa‘idi yang meminta izin kepada Rasulullah untuk selalu shalat berjamaah dengannya, namun Rasulullah mengatakan shalat di rumah lebih baik. Kedua, mengutip pula riwayat al-Bayhaqi (w. 458 H).

Umm Humayd berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, kami sangat senang shalat bersamamu,”

Sebenarnya keadaan ini pun disebarkan oleh banyak kalangan penceramah. Benarnya perempuan lebih utama sholat di rumah? Adakah hadis atau cerita lain tentang keterlibatan dalam sholat berjamaah?

Sebenarnya hadis yang dikutip oleh Ustad Khalid Basalamah terpotong. Ada sepenggal kalimat dari riwayat  al-Bayhaqi (w. 458 H) yang terpotong. Berikut kalimat lengkapnya :

Umm Humayd berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, kami sangat senang shalat bersamamu, tapi suami kami melarangnya’”. (HR: al-Bayhaqi)

Artinya larangan Nabi Muhammad SAW bukan tanpa sebab. Dalam konteks hadist tersebut, Abu Humayd melarang istrinya untuk shalat bersama Nabi SAW dikarenakan rumah mereka jauh dari masjid Nabi. Lebih lengkap bisa membaca tulisan ”Perempuan Lebih Baik Shalat di Masjid atau di Rumah?” (tulisan di islami.co).

Dalam kasus yang sama, Buya Yahya dalam menjelaskan jika tidak setiap rumah menjadi tempat shalat yang khusu’. Buya Yahya mengumpakan jika ada rumah yang dihuni oleh lebih dari satu keluarga, dampaknya rumah tersebut menjadi ramai dan sulit melaksanaan shalat yang khusu’. Buya Yahya pun menganjurkan jika perempuan bisa shalat di masjid.

Dalam kontek ceramah Buya Yahya, tidak menempatkan rumah sebagai ruang yang utama untuk perempuan sholat. Artinya, perempuan bisa memilih shalat di mana pun, baik di rumah atau masjid. Baik secara munfarid atau berjama’ah. Perlu diketahui pula jika Imam Bukhari dalam Sahihnya (no hadist 578 dan 875) cerita tentang Aisyah di mana para perempuan mu’min biasa hadir mengikuti Nabi Muhummad shalat subuh dengan pakaian wol. Berikut hadist lengkapnya :

Dari Urwah bin Zuabir ra, bahwa Aisyah ra Bercerita : “Bahwa kami para perempuan mu’min biasa hadir mengikuti Nabi Muhammad shalat Subuh denga pakaian wol kami, kami akan bergegas pulang ke rumah masing-masing setelah selesai menunaikan shalat. Karena masih pagi buta dan gelap, seseorang masih belum bisa mengenali kami”. (Sahih Bukhari)

Hadist ini menambah catatan mengenai aktivitas perempuan yang selalu shalat berjamaah di waktu subuh. Terdapat dua hal yang digaris bawahi terkait hadist tersebut. Pertama, sholat berjamaah, diperuntukan baik perempuan dan laki-laki. Kedua, sholat berjama’ah secara psikologi baik untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Mengucilkan perempuan di dalam rumah berarti menjauhkan mereka dari segala manfaat psikologi dan sosial. Hal ini tentu saja bertentangan dengan kemaslahatan Islam yang bersifat secara universal.

Dari ceramah yang Ustad Khalid Basalamah kita menangkap jika perempuan masih menjadi objek. Menggunakan potongan hadist sebagai rayuan perempuan untuk menghindari keramaian untuk bersosialisasi. Sama halnya menurut baudrillard lewat tulisannya yang berjudul De la Seduction, menggambarkan bagaimana seluruh aspek kehidupan baik agama, politik, ekonomi dan lainnya memiliki peranan “rayuan” yang penting.

Rayuan menurutnya berada di permukaan, sesuatu yang fenomenal sama halnya dengan perempuan. “Rayuan” untuk perempuan menjadikan dirinya sebagai objek. Sehingga, kita perlu merefleksi konsep manusia yang diungkapkan oleh Richard Schmitt dalam bukunya yang berjudul Introduction to Marx and Engels, menegaskan bahwa arti “manusia menjadikan dirinya sendiri” bukan berarti bahwa manusia secara perseorangan menjadikan “dirinya sebagai seseorang”.

Artinya, laki-laki dan perempuan melalui produksi secara kolektif membuat suatu masyarakat yang nantinya akan membentuk mereka.  Marx berpendapat kondisi material menentukan secara umum proses sosial, politik dan kehidupan intelektual. Bukan kesadaran dir yang menentukan keberadaan sosialnya, melainkan keberadaan sosial yang menentukan kesadaran dirinya.



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Ambiguous Adventure: Sebuah Pergolakan Identitas di Tengah Pusaran Modernitas

Published

on

By


The question is disturbing nevertheless. We reject the foreign school in order to remain ourselves and to preserve for God the place He holds in our hearts. But have we still enough force to resist the school, and enough substance to remain ourselves?

“Apakah kita masih punya cukup kekuatan untuk menolak sekolah (Prancis), dan apakah kita cukup substantif untuk tetap menjadi diri sendiri?” Kutipan menyayat itu disampaikan oleh Thierno, guru sekolah al-Qur’an di Dialloube. Masyarakatnya, tak terkecuali para bangsawan sebagai pemimpin, sedang riuh oleh kebingungan menghadapi gempuran sekolah modern yang dibawa pemerintah kolonial Prancis.

Di satu sisi, mereka tahu betul harga yang akan dibayar ketika mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah modern, alih-alih ke sekolah al-Qur’an sebagaimana tradisi yang telah berabad-abad usianya. Chief Dialloube menimbang-nimbang, “But, learning, they would also forget. Would what they would learn be worth as much as what they would forget? I should like to ask you: can one learn this without forgetting that, and is what one learns worth what one forgets?”

Di sisi lain, mereka juga tidak mampu menahan penetrasi sekolah baru. Apakah sekolah al-Qur’an bisa menahan laju gerak zaman baru? Pertanyaan berat ini menjadi medan pertarungan batin berbagai pihak. Tidak ada yang tahu betul jawabannya. Semua hanya bisa meraba-raba. Apesnya, meski dalam kegelapan, mereka harus tetap mengambil keputusan.

Ambiguous Adventure (L’adventure ambique), novel yang ditulis oleh Cheikh Hamidou Kane asal Senegal dan terbit tahun 1961 ini merekam dilema yang mewarnai pertemuan antara Prancis-Eropa dan Afrika Barat pada masa penjajahan. Lewat perjalanan sosok Samba Diallo dan orang-orang di sekitarnya, Kane menggambarkan kerumitan pertemuan asimetris antara dua peradaban ini dan efeknya bagi subyek Afrika Barat.

Samba Diallo adalah keturunan bangsawan. Sepupunya adalah seorang chief Dialloube, dan ayahnya seorang knight. Samba dilamar khusus oleh guru Thierno sebagai santrinya karena ia melihat bakat spiritual anak ini. Thierno ingin mendidiknya langsung. Di usia enam tahun, orang tua Samba memondokkannya. Dalam konteks ini, itu artinya orang tua menyerahkan dan memercayakan jiwa raga anak ini kepada sang guru untuk dibentuk, ditempa. Demikianlah, Theirno memahat jiwa dan tubuh Samba dengan Kalamullah. Semua orang menerawang, kelak Samba akan menjadi penerus Thierno.

Guru sekolah al-Qur’an bukan peran sembarangan. Sebagai penubuhan dari al-Qur’an itu sendiri, guru al-Qur’an menjadi tempat orang meminta nasihat dan pandangan, mulai dari rakyat jelata sampai bangsawan. Ia adalah jangkar spiritual bagi masyarakatnya.

Di tengah Samba menjalankan pendidikannya di sekolah al-Qur’an, tekanan sekolah modern semakin menguat. Rakyat membutuhkan fatwa, apakah mereka harus mengirimkan anak mereka ke sekolah modern atau tetap ke sekolah al-Qur’an?

Sampai pada suatu ketika, kakak tertua chief yang dikenal dengan The Most Royal Lady, mengambil sikap. Ia berpandangan bahwa mereka harus mengirim anak-anak mereka ke sekolah modern, sehingga anak-anak ini bisa belajar “how they conquer without being in the right,” bagaimana orang-orang Prancis ini bisa menaklukkan meskipun tidak di pihak yang benar.

Pidato the Most Royal Lady begitu menggetarkan. Begini kata dia, “The school in which I would place our children will kill in them what today we love and rightly conserve with care. Perhaps the very memory of us will die in them. When they return from the school, there may be those who will not recognize us…

Ia sebenarnya tahu betul risiko dari keputusan itu. Orang-orang juga tahu bahwa ini lebih efektif dari mesiu, sekolah menjadikan penjajahan kian abadi. Apapun, the Most Royal Lady telah bulat dengan keputusannya itu.

Singkat kata singkat cerita, akhirnya, Sambapun ditarik dari sekolah al-Qur’an untuk dikirim ke sekolah modern. Sampai akhirnya ketika dewasa, ia belajar filsafat di Prancis.

Novel ini bukan hanya merekam pertemuan antara sekolah al-Qur’an dan sekolah modern, tetapi pertemuan antar jantung dua peradaban. Jantung peradaban Afrika Barat adalah spiritualitas. Jantung Prancis-Eropa adalah materialisme. Bagaimana Samba, yang punya memori sebagai santri, atau telah dipahat sebagai santri, dan kini sebagai mahasiswa di Prancis, hidup dengan dua jantung yang berbeda ini? Apakah ia bisa menyelaraskannya? Bisakah ia belajar sesuatu yang baru tanpa melupakan yang lama?

Krisis Identitas

Berikutnya, novel ini merekam bagaimana pertemuan ini melahirkan krisis identitas dan ambiguitas dalam pribadi Samba. Di sampul belakang buku ini tertulis, “Initially Samba Diallo is excited by his contact with Western culture and when he chooses to study philosophy at Paris he sees it as offering the most direct access to the European mind. But he rapidly finds that he is in an ambiguous situation for, while he has become estranged from the simple faith of his people, he is unable to identify with the soulless material civilization he sees in French.” Samba terjebak dalam situasi ambigu. Dia tercerabut dari akar tradisinya, tetapi di sisi lain, dia juga tidak bisa mengasosiasikan dirinya dengan peradaban Prancis yang “tak berjiwa,” “mekanik,” dan “dehumanis.”

Terkait bagaimana sekolah modern membentuk alam pikir baru, salah satu bagian paling menarik adalah ketika Samba begitu gelisah karena mendapati dirinya bisa membayangkan “to live” dan “to pray” sebagai dua kategori yang berbeda. “To live” merujuk kepada kehidupan sehari-hari. “To pray” adalah waktu-waktu sejenak yang dipakai untuk mengingat Tuhan di sela keseharian itu. Pembedaan ini sama sekali tak terbayangkan di masyarakatnya. Bukankah sebagaimana diajarkan gurunya, Thierno, hidup adalah zikir dan zikir adalah hidup? Pemisahan-pemisahan ini memang khas filsafat modern, seperti pembedaan yang sekuler dan agamawi, yang profane dan sacred, ilmu dan amal, atau dikotomi lainnya.

Novel ini adalah meditasi tentang subyek paska-kolonial yang penuh kebingungan. Mau diakui atau tidak, bukankah Samba adalah gambaran dari kita semua? Kitapun perlu menjawab pertanyaan yang menggelisahkan guru Thierno dan para tokoh lain di novel ini: Dalam membentuk diri yang baru, sebagai keniscayaan dari pertemuan dengan zaman baru ini, “apakah kita masih punya substansi untuk menjadi diri kita sendiri?”

Saya mengenal novel ini lewat Rudolph Ware III alias Bilal Ware, penulis buku The Walking Qur’an: Islamic Education, Embodied Knowledge, and History in West Africa. Rupanya, novel ini menjadi salah satu inspirasi Bilal Ware menulis buku tersebut. Seperti halnya buku ini, Ware berkisah tentang sekolah al-Qur’an di Afrika Barat, Senegal, dan bagaimana ia menghadapi gempuran imajinasi baru orang modern (Cartesian) tentang apa itu ilmu dan bagaimana ilmu mesti ditransmisikan, apakah lewal reason atau akal semata, atau juga lewat tubuh, juga isu-isu lain.

Pertanyaan mendasar novel dan buku ini bisa menemani siapapun untuk merenungkan kembali dunia pendidikan di Indonesia. Sekali lagi, bukankah kita punya kisah yang mirip dengan Samba? Atau, jangan-jangan kita adalah generasi setelah Samba yang bahkan tidak tahu apa yang sudah kita lupakan?



Sumber Berita

Continue Reading

Telaah

Apa Itu Syafaat? Inilah Syafaat al-Udzma, Bukti Cinta Rasul pada Umatnya

Published

on

By


Salah satu keistimewaan Nabi Muhammad SAW adalah memiliki hak untuk memberikan sebuah syafaat kepada umatnya. Lalu, apa itu syafaat? Secara bahasa, Syafaat bermakna permintaan dan perantara. Sedangkan secara ‘urf (kebiasaan) syafaat adalah permintaan dan perantara  dari satu orang pada orang yang lain untuk memperoleh kebaikan. Dengan demikian yang dimaksud syafaat Nabi di hari kiamat adalah sebuah permintaan pertolongan kepada Allah yang diberikan oleh Nabi Muhammad kepada umatnya.

Hal ini didasari dengan  Firman Allah dalam al-Qur’an:

عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا ﴿٧٩﴾

Artinya: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79)

Menurut mayoritas ulama, yang dikehendaki dalam kalimat ‘maqaman mahmuda’ dalam ayat tersebut adalah maqam syafaat Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA ketika Rasulullah ditanya mengenai maksud Maqaman mahmuda, Rasulullah menjawab itu adalah syafaatnya.

Syafaat nabi yang disebut Syafaat al-Udzma. Apa itu syafaat al-udzma? Syafaat ini merupakan syafaat yang paling agung, sebagaimana artinya, dan hanya dimiliki oleh Nabi Muhammad. Syafaat ini pun berlaku bagi semua umat manusia, mulai zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya: Ketika semua manusia berondong-bondong mengadukan nasibnya kepada para Nabi. Mereka semua justru tidak mendapatkan kabar gembira, yang ada para nabi tersebut merekomendasikan kepada Nabi lainnya. Hingga satu-satunya Nabi yang bisa memberikan syafaat adalah Nabi Muhammad SAW. Inilah yang dimaksud dengan syafaat al-Udzma.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari mengutip pendapat Imam An-Nawawi yang menyatakan bahwa syafaat di hari kiamat nanti terdapat lima macam. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Qadhi Iyadh dalam As-Syifa:

Pertama, syafaat yang khusus dimiliki Rasulullah ﷺ, yaitu memberikan keringanan dan ketenangan bagi seluruh makhluk dari kegetiran dan ketakutan di padang mahsyar yang menggetirkan. Syafaat inilah yang dimaksud ulama sebagai “syafaat al-udzhma” karena meliputi seluruh makhluk, baik manusia maupun jin, baik yang mukmin maupun yang kufur.

Kedua, Syafaat Rasulullah SAW untuk memasukkan sekelompok orang ke dalam surga tanpa hisab.

Ketiga, syafaat untuk sekolompok orang agar tidak disiksa. Kelompok ini sebenarnya telah dihisab. Sedangkan hasilnya menunjukkan bahwa mereka seharusnya masuk neraka untuk disiksa. Namun berkat syafaat Nabi, mereka tidak jadi mendapatkan siksaan.

Keempat, syafaat untuk mengeluarkan pelaku maksiat dari dalam neraka.

Kelima, Syafaat Rasulullah SAW untuk mengangkat derajat sekelompok orang di dalam surga. Tidak ada dalil Al-Quran dan hadits yang menerangkan kekhususan syafaat ini untuk Rasulullah SAW. Tetapi Imam An-Nawawi menganggap hal itu mungkin.

Dari kelima macam syafaat diatas, yang secara khusus hanya dimiliki nabi adalah nomor satu dan dua. Sedangkan sisanya dimiliki oleh para malaikat, para nabi dan orang-orang yang sholih.

Syafaat sendiri merupakan salah satu bentuk kecintaan Rasulullah SAW yang amat besar kepada umatnya. Rasulullah tidak tega ketika melihat umatnya nanti pada hari kiamat menderita dan kesusahan. Oleh sebab itu, Rasulullah meminta kepada Allah agar diberi ‘hak’ khusus untuk memberi pertolongan kepada umatnya -tentunya setelah mendapat izin dari Allah. Mengenai hal ini Rasulullah pernah bersabda. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْـوَةٌ مُسْـتَجَابَةٌ فَتَعَجَّـلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَـهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْـوَتِى شَــفَاعَةً لأُمَّـتِى يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ فَهِىَ نَائـِلَةٌ إِنْ شَـاءَ اللَّهُ مَنْ مَـاتَ مِنْ أُمَّـتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. (HR. Muslim)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asyari Rasulullah SAW bersabda:

خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِى الْجَنَّةَ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ لأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى أَتُرَوْنَهَا لِلْمُؤْمِنِيْنَ الْمُتَّقِينَ؟ لاَ, وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِينَ

“Saya diberi pilihan (oleh Allah) untuk memilih antara syafaat atau separuh umatku akan dimasukkan surga. Maka saya memilih syafaat, karena syafaat itu lebih umum dan lebih banyak. Apakah kamu sekalian melihat bahwa syafaat itu hanya untuk orang-orang mukmin yang bertaqwa?. Tidak, akan tetapi syafaat itu untuk orang-orang yang berdosa, penuh kesalahan, dan banyak kotoran”. (HR. Ibnu Majah)

(AN)

Wallahu a’lam.

Referensi: Fath al-Bari vol 11 [437], Ad-Durrul Mandzud [122], Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah [23] Khasais Ummat Muhammadiyah [313] As-Syifa Bita’rifi Huquq al-Musthofa vol. 1 [172]



Sumber Berita

Continue Reading

Trending Artikel

Copyright © 2021 BagyaNews.com. . All Rights Reserved